4. Wanita Cantik Yang Salah Paham

2159 คำ
Pagi itu, seperti biasa, Adrian sedang membawa kudanya untuk berkeliling peternakan. Hal itu sudah menjadi rutinitasnya selama beberapa tahun terakhir semenjak dirinya tinggal di sini. Pada awalnya, Adrian yang biasa mengisi rutinitas paginya dengan berolahraga, entah itu di gym atau berlari mengelilingi kota, merasa aneh saat hanya melihat hamparan rumput hijau sejauh matanya memandang. Tidak ada gedung-gedung tinggi, tidak ada klakson mobil yang bersahutan riang, juga tidak ada teriakan marah orang-orang yang ingin pergi buru-buru. Di sini, semua terasa terlalu sunyi. Hanya ada lenguhan kuda, sapi, kotekan ayam, juga angsa yang bersahutan di setiap pagi. Namun, lambat laun, Adrian seakan menemukan kedamaian yang selama ini ia cari. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mencintai tempat ini. Seharusnya, Adrian pergi lebih cepat ke sini. Seharusnya, ia tidak pindah ke Perancis mengikuti Adrienne dan langsung pergi kemari. Mungkin, seandainya ia melakukan itu sejak lama, tidak akan ada ruang kosong yang terlalu besar di hatinya. Akan tetapi, Adrian juga tahu jika itu tidak akan pernah merubah keadaan. Adrienne selalu ada di hatinya, tidak peduli sejauh apa dirinya pergi. Kenapa mencintai seseorang terasa sesulit ini? Bukankah seharusnya cinta itu tidak menyakitkan? Bukan cinta adalah anugrah seperti yang selalu banyak orang agungkan di luar sana? Yah, bagi sebagian orang, mungkin cinta bisa menjadi anugrah. Sayangnya, Adrian tidak termasuk sebagian itu. Ia adalah kelompok orang yang tidak beruntung tentang cinta. Dan hal itu, membuat Adrian takut untuk jatuh cinta lagi. Terutama, ketika ia masih tidak bisa melupakan Adrienne. Ia adalah orang yang paling tahu tentang sakitnya cinta yang tidak terbalas dan Adrian tidak ingin melakukan hal seperti itu kepada orang lain. Biarkan saja ia hidup seperti ini. Setidaknya, Adrian bahagia di sini. Ia benar-benar berada di tempat seharusnya dirinya berada. Adrian menghela kudanya agar berjalan lebih cepat. Itu adalah tugas rutin untuk memeriksa property yang dimilikinya setiap pagi. Biasanya, malam sebelumnya, ia, Patrick, dan Jack akan berbagi tugas untuk memeriksa setiap area. Dengan luasnya lahan yang dimilikinya, Adrian tidak mungkin melakukan itu seorang diri. Siapa yang menyangka jika ia yang awalnya tidak tahu apapun tentang peternakan, bisa menjadi seorang koboi di tanah yang asing seperti ini? Dan yang lebih mengherankan lagi, tanah asing seluas ribuan hektar itu adalah miliknya. Lengkap dengan puluhan kuda, sapi, dan ratusan ayam. Ia yang buta sama sekali tentang dunia kuda dan sekitarnya, akan mengahabiskan, mungkin, seluruh hidupnya di tempat ini. Berjuang agar tempat ini tetap ada dan bisa menjadi sumber mata pencaharian orang-orang yang sudah bekerja cukup lama untuk nenek kakeknya. Dan Adrian beruntung karena semua orang di sini menerimanya dengan tangan terbuka. Bahkan tidak keberatan mengajari apapun yang Adrian tidak tahu. Ia yang awalnya tidak tahu apa-apa, sekarang hampir sama ahlinya dengan Patrick. Setelah beberapa lama berkuda, Adrian sampai di sungai kecil yang menjadi pembatas propertinya dengan lahan milik keluarga Westfield. Ia harus memeriksa lahannya setiap pagi untuk memastikan tidak ada hewan liar yang masuk ke peternakan dan mengincar piaraannya. Juga, untuk memastikan tidak ada penyusup yang mencoba untuk mencuri. Meskipun tidak banyak rumah di sekitarnya, beberapa pencuri ternak kadang datang ke daerah itu. Adrian sudah pernah kehilangan satu kuda terbaiknya selama dirinya tinggal di sini. Saat itu, ada salah satu pagar di dekat kandang kuda yang dirusak secara paksa, dan kuda terbaik yang seharusnya dijual hilang dan tidak pernah kembali lagi. Semenjak itulah, setiap pagi dan sore, ia dan para anak buahnya berbagi tugas untuk memeriksa setiap pagar, lahan, dan batas properti mereka. Memastikan semuanya aman agar hal yang tidak mereka inginkan tidak terjadi lagi. Sekarang ini, peternakan miliknya adalah termasuk salah satu pertenakan paling sukses di Texas. Tidak hanya melatih kuda pacuan, Adrian juga mengembiakkan kuda unggulan Amerika. Usaha itu kini bahkan memberikan hasil yang lebih besar lagi daripada usaha ternak yang sudah menjadi pekerjaan kakek neneknya selama puluhan tahun. Yeah, ia memiliki bakat bisnis yang cakap dari ayahnya. Meskipun dunia peternakan adalah hal yang sama sekali baru baginya, tidak sulit bagi Adrian untuk mengembangkan bisnis barunya ini. Semenjak perternakan ini berada di tangannya, Adrian bisa menaikkan upah para pekerja lebih banyak dua kali lipat daripada yang mereka terima selama ini. Belum lagi tawaran investasi dari para pengusaha di negara bagian lain. Itulah yang membuat Adrian bahagia. Setidaknya, apa yang ia lakukan bisa membuat orang lain menjadi bahagia juga. Adrian percaya bahwa sebuah usaha, apapun itu bentuknya, bergantung pada kondisi para pegawainya. Jika mereka semua bahagia, menerima gaji yang layak, dan tidak terlalu banyak ditekan, mereka akan bekerja dengan bahagia. Dan hal itu tentu saja akan berdampak pada kemajuan bisnis yang sedang dijalani. Adrian tahu ia tidak akan ada apa-apanya tanpa Patrick, Jack, Lorensa, dan juga para pekerjanya yang lain. Mereka semua bahu membahu mengurus perternakan ini bahkan sejak Adrian belum berada di sini. Adalah tugas Adrian untuk membuat mereka betah dan nyaman bekerja di peternakannya. Setelah memastikan semua propertinya aman dari jejak hewan liar dan perusakan, Adrian melintasi jembatan kecil di ujung sungai dan memasuki lahan properti milik keluarga Westfield. Ada pagar kayu membentang di sekitar lahan untuk mencegah hewan-hewan ternak mereka keluar dari property, tetapi ada pintu pagar yang bisa dibuka untuk para pekerja keluar masuk. Ketika Adrian datang pertama kali, hubungan keluarga Duncan dan keluarga Westfield tidak pernah baik selama puluhan tahun. Ia juga tidak tahu seperti apa persisnya, tetapi Patrick berkata jika Duncan tua, yang adalah kakek buyut Adrian, merasa jika Westfield tua mengambil beberapa bagian lahannya. Sungai yang tadi menjadi pembatas itu, seharusnya lebih mundur beberapa kilo lagi dari letaknya sekarang. Sejak itu, hubungan dua peternakan yang bertetangga itu tidak pernah membaik meskipun para tetua sudah wafat dan digantikan oleh anak-anaknya. Adrian juga sebenarnya tidak terlalu ingin memperbaiki hal tersebut. Lagipula, ia sama sekali tidak mengenal orang lain selain yang ada di peternakannya saat itu. Ia tidak akan peduli tentang permusuhan itu karena hal tersebut sama sekali bukan urusannya. Akan tetapi, satu hari, Adrian menemukan satu ternak milik keluarga Westfield yang hampir mati di seberang sungai. Kuda kecil itu berusaha untuk menerobos ke luar pagar dan badannya terjepit selama semalaman. Ia yang saat itu sedang mengecek lahannya seperti biasa, menemukan kuda malang itu kedingingan dan hampir mati kehabisan napas. Walaupun hubungan kedua keluarga tidak pernah baik, Adrian tidak bisa membiarkan seekor kuda meregang nyawa. Terlebih, kuda itu masih sangat muda. Masa depan kuda berwarna coklat itu masih sangat panjang. Jadi, Adrian memanggil Patrick dan para pekerja lainnya, juga dokter hewan yang selalu ada di pertenakannya, untuk menarik hewan malang itu keluar dari pagar dan memeriksanya. Semenjak itu, permusuhan keluarga yang telah terjadi selama puluhan tahun itu menguap. Hubungan mereka menjadi jauh lebih baik daripada sebelumnya. Adrian bahkan bekerja sama dengan mereka untuk bisnis pengembangbiakkan kudanya. Semua menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Atau, itu menjadi mudah karena sudah tidak ada lagi tetua yang tersisa. Adrian tidak memiliki nenek kakek lagi, dan di Westfield Ranch hanya tersisa Catherine Wesfield sebagai orangtua. Mereka bukan lagi manusia kuno yang saling menembak dan mengatakan hal-hal buruk hanya karena lahan. Apapun yang terjadi di masa lalu, Adrian tidak akan mempermasalahkan apapun lagi. Toh, itu tidak membuatnya jatuh miskin hanya karena kehilangan beberapa ratus meter lahan. Sekarang, hampir setiap pagi, Adrian selalu mampir ke rumah utama untuk sekedar meminum kopi atau mengobrol bersama Kate. Suami Kate sudah meninggal bertahun-tahun lalu, dan ia tinggal di situ bersama seorang keponakannya dan pekerjanya yang lain. Kate tidak memiliki anak sehingga semua urusan peternakan itu menjadi urusan Jake, keponakannya. Seperti biasa, Adrian menghentikan kudanya di area berumput tempat kuda-kuda Westfield juga biasa untuk merumput dan mengikatkan talinya di sebuah pohon yang ada di sana. Ia tersenyum dan mengangguk saat seorang pegawai yang baru saja melepaskan kudanya untuk merumput, menyapanya. Adrian lebih suka meninggalkan kudanya di sini daripada lebih dekat lagi ke rumah. Berjalan kaki di hamparan rerumputan adalah hal lain yang ia sukai setelah tinggal di sini. “Apa Sky sudah melahirkan?” tanya Adrian saat ia melangkah bersama Hunter, pegawai yang tadi menyapanya. “Sepertinya hari ini atau paling lambat besok. Jake sudah sangat cemas melihatnya.” Adrian tertawa. Ia bisa merasakan apa yang Jade alami itu karena ia juga selalu seperti itu setiap kali ada salah satunya kudanya yang akan melahirkan. Terlebih, para kuda biasanya melahirkan saat malam atau dini hari yang membuat kekhawatiran mereka menjadi berlipat-lipat. Beruntung bagi Adrian, Molly melahirkan saat pagi hari terakhir di musim semi lalu. Ketika sampai di jalan yang mengarah ke rumah utama dan ke kandang, mereka berpisah. Adrian menuju ke rumah untuk menemui Kate, sementara Hunter kembali ke kandang untuk membawa kudanya yang lain merumput. Adrian tersenyum saat melihat asap yang mengepul dari cerobong di bagian atas rumah. Kate sangat pandai memasak dan apapun yang ia buat selalu bisa membuat Adrian meneteskan air liurnya meskipun ia sudah sarapan di rumah. Bukan berarti masakan Lorensa tidak seenak masakan Kate, tetapi ada sesuatu yang berbeda setiap kali ia menyantap masakan Kate. Apa mungkin itu karena Kate jauh lebih ramah dan murah senyum daripada Lorensa sehingga masakannya menjadi lebih enak? “Selamat pagi, Kate.” Adrian membuka pintu dan menyapa Kate seperti biasa, tetapi keningnya berkerut saat ia menemukan wanita yang masih cukup muda di dapur Kate. Adrian memandang berkeliling dapur Kate yang luas itu untuk mencari wanita gemuk dan cerewet itu, tetapi hanya ada wanita tersebut di sana. “Halo, selamat pagi,” sapa wanita itu dengan senyum yang cemerlang. Wanita itu sangat cantik dengan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai melewati punggungnya yang feminine dan ramping. Wajahnya juga tampak cantik meskipun kantong matanya tampak sedikit menghitam. “Kau ketinggalan sarapan? Teman-temanmu sudah sarapan sejak tadi.” Lanjut wanita itu kemudian. “Duduklah. Masih ada yang bisa kusediakan untukmu. Astaga, aku tidak tahu jika nafsu makan para koboi sangat besar.” Adrian tersenyum dan duduk di meja makan. Tidak merasa perlu untuk meralat dugaan wanita itu yang mengiranya adalah pekerja di pertenakan ini. Siapa wanita ini? Apa koki baru yang Kate pekerjakan? Tetapi, wanita itu tampak terlalu ‘kaya’ untuk menjadi seorang pelayan. Tidak mungkin ada wanita secantik dan semodis itu yang mau bekerja di peternakan yang panas dan berdebu. Lihat saja gaun yang ia kenakan itu. Adrian tahu itu bukan gaun murahan yang bisa dibeli di took diskonan di sudut jalan kota sana. Itu pasti keluaran butik terkenal. Kulitnya juga tampak sangat halus dan mulus. Wanita ini pasti tidak pernah bekerja kasar seumur hidupnya. “Di mana Kate?” tanya Adrian sambil meletakkan topinya di kursi sampingnya. “Dia akan turun sebentar lagi. Aku sedang membiasakan dirinya dengan kekacauan yang akan menjadi temannya selama tiga bulan ini,” jawab wanita cantik itu tanpa menoleh. Kekacauan? Hal semacam apa yang dibawa wanita cantik ini yang bisa menimbulkan kekacauan? Hewan peliharaan baru? Anjing? Adrian tahu jika anjing Kate yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun mati beberapa bulan lalu. Mungkin wanita ini datang dan membawa anjing baru untuk menemani Kate. Apa dia membawa jenis Afghan Hound yang keras kepala dan susah diatur? Ia kembali memandang wanita itu. Bukan tidak mungkin wanita semodis itu membawa Afghan Hound ke rumah ini. Seseorang yang terlihat mewah seperti itu tidak akan mungkin membawa seekor bulldog. Wanita itu terlihat seperti supermodel yang sangat cocok menggandeng anjing berbulu panjang dan lebat di sampingnya. Suara lengkingan terdengar dari lantai atas diikuti teriakan nyaring yang jelas-jelas bukan lengkingan seorang anjing. Itu manusia. Adrian tidak mungkin salah membedakan dengkingan anjing dan seorang manusia. Wanita itu mendekati Adrian seraya menyerahkan setumpuk daging asap lengkap dengan bacon dan sosis, sambil tersenyum meminta maaf kepada Adrian. “Itulah kekacauan yang aku maksud.” “Manusia?” tanya Adrian tanpa sadar yang disambut pelototan wanita itu. “Tentu saja manusia! Memangnya kau pikir aku membawa apa?” Adrian meringis saat melihat wanita itu melotot dan berkacak pinggang. “Aku pikir kau membawa anjing baru untuk menggantikan anjing Kate yang mati.” “Anjing??” Lalu wanita itu tertawa terbahak-bahak hingga membuat Adrian memandangnya dengan heran. Suara berisik dari tangga, disertai gumaman kesal Kate membuat Adrian menoleh kea rah pintu. Tidak lama, pintu menjeblak terbuka dan tubuh gemuk Kate memasuki dapur dengan wajah bersungut-sungut. “Astaga, Andrea, aku tidak menyangka jika gadis itu adalah anakmu! Dia benar-benar keras kepala! Jika dia tidak mau keluar juga sampai siang nanti, aku akan menyuruh Hunter dan Jake mendobrak kamarnya!” kemudian Kate melihatnya dan berseru, “oh, Adrian! Kau di sini!” Adrian tersenyum dan bangkit dari duduknya untuk mengecup pipi Kate sekilas. “Pagi yang cukup sibuk?” “Pagi yang akan membuatku gila selama tiga bulan,” sahut Kate dengan suara kesal. “Kau sudah sarapan?” mata Kate memandang piring yang masih penuh itu. “Dia ketinggalan sarapan. Hanya itu yang bisa kusajikan dengan cepat,” sahut wanita muda itu sebelum Adrian menjawab. “Para pegawaimu makan dengan buas. Aku tidak yakin itu akan cukup mengenyangkan untuknya. Apa kau ingin menu lain? Tetapi mungkin kau harus menunggu.” “Andrea...dia...” Adrian menggeleng dan tersenyum pada Kate. “Aku akan menikmati sarapanku di kandang dan bekerja. Terima kasih sarapannya, Ma’am.” Adrian meraih piring yang masih penuh itu dan keluar dari dapur, kemudian terkekeh. Sial, ia tidak pernah mengalami pagi seperti ini sebelumnya!
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม