"Selamat pagi. Perkiraan cuaca hari ini menurut pakar—,"
Satu sentuhan ringan dan televisi plasma yang memenuhi dinding menampilkan layar hitam pekat.
Abe berguling dari sisi ranjang ke ranjang lain. Ranjang berukuran besar ini satu-satunya benda mencolok di dalam kamar. Kamar seorang pria lajang khas pada umumnya. Nuansa monokrom mendominasi. Dinding dengan cat putih bersih, pada bagian bawah dilapisi cat hitam pekat, bagian langit-langit dengan aksen lampu tidur dan lampu utama.
Perabotan yang mendominasi warna mati memang menarik perhatian. Warna cerah hanya akan membuat matanya sakit, pikir Abe naif suatu hari. Karena memang nuansa kamar yang gelap sesuai gayanya.
Ketika ia bangun, dihadapkan pada jam dinding kamar yang menampilkan pukul enam pagi. Rumah sakit baru benar-benar akan hidup pukul delapan. Memulai hari dengan kegiatan sibuk, memeriksa para pasien dan memberi mereka nasihat singkat, serta memeriksa barang lain. Pekerjaan yang sepele, namun cukup melelahkan.
Sepasang kakinya membawa dirinya untuk pergi ke dapur. Sebagai pria lajang yang mandiri, memasak bahan remeh bukan perkara sulit. Kalau ia tidak sempat, hanya menghubungi pihak restoran dan meminta mereka mengantarnya sampai ke depan pintu.
Hidup sudah sulit, manusia tidak perlu membuat segalanya menjadi rumit.
Seperti kegiatan pagi yang berlangsung secara tiga tahun berturut-turut dan monoton, mesin pemberitahu pesan suara berdenging. Abe terbiasa mendapati penawaran tidak penting dari bank terkait, Karin dan terkadang perawat yang memberitakan hal genting. Dokter Abe bukan tipikal yang mau mengangkat telepon jika itu bukan keadaan mendesak.
Kearoganan yang sudah mendarah daging.
"Abe, ini aku. Kabari aku jika kau senggang."
Selai kacang pada roti terasa hambar. Abe terpaku, merenung mendengar pesan singkat yang membuat gerakan mengunyah terhenti.
Matanya secara singkat memandang datar pada kulkas dua pintu di samping rak piring. Kemudian berpaling, memandang alat berbentuk pipih seakan iblis baru saja bersemayam di sana.
Sapaan pagi Daffa sukses membuat nafsu makannya berkurang. Abe menunduk, menghirup napas dalam-dalam saat dia menyugar rambut. Membereskan anak rambut lebatnya yang kusut, menyisirnya dengan jemari tangan.
Gerakannya semakin kasar dan yang terasa selanjutnya adalah rasa sakit. Pertemuan mereka secara tidak terduga di pemakaman mampu menggoyahkan hatinya yang terlanjur dingin.
Abe melamun. Sayup-sayup yang terdengar adalah kicauan burung di pagi hari selepas Tokyo dilanda badai semalam suntuk. Taman mungil dibelakang rumahnya terlihat basah dan lembab. Bunga-bunga liar yang ia tanam secara acak merekah, menyongsong mencari matahari dengan senyum cerah.
Paginya yang monoton berantakan. Biasanya sekretaris Conan akan mengirim pesan, meminta agar Abe menemui ayahnya secepat yang ia bisa. Dan tentu saja Abe menolak. Bertemu Conan adalah kesalahan. Satu-satunya keluarga yang ia kenal hanya saat ibunya ada.
Abe mendengus kasar. Bangun dari kursi untuk mencari gelas baru, menuang air putih dari dispenser dan mencuci gelas. Ia hanya memperkerjakan asisten rumah tangga paruh waktu, orang yang bersedia membersihkan kolam ikan sekaligus taman dengan bayaran yang sesuai. Selebihnya tidak ada. Rumahnya adalah satu-satunya pelarian. Abe terlalu selektif. Bahkan Karin pun tidak diizinkan. Abe tidak pernah melarang Karin berkunjung ke rumah lama, saat ibunya masih bernapas. Tapi sekarang, semua sudah berubah.
Lalu satu pesan suara mampir memenuhi ruangan yang terlanjur senyap.
"Selamat pagi, dokter. Saya akan mengingatkan jadwal operasi pukul sembilan waktu setempat. Keluarga pasien telah mempersiapkan segala risiko dengan sebaik mungkin."
Abe memberi reaksi berupa dengusan bosan nan singkat.
***
"Lima kopi latte dengan tiga potong kue red velvet dan satu tiramisu roll. Oh, untuk yang terakhir lychee tea iced. Semua sudah lengkap?"
"Semua sudah sesuai pesanan," kata salah satu staf rumah sakit yang memesan minuman bersama kue melalui via delivery setelah menghubungi nomor yang tertera di papan menu dalam kafe. "Terima kasih banyak. Ini uangnya."
Bianca lekas memberi senyum lebar. "Tidak. Aku yang seharusnya berterima kasih. Nikmati minuman kalian. Aku permisi."
Kembali Alya, si perawat yang menyatakan diri sebagai pengagum rahasia Dokter Abe menjadi bahan bulan-bulanan rekan seprofesi. Saat Alya tidak lagi memesan kopi yang sama untuk sang dokter. Tahu persis kalau usahanya sia-sia saja.
Bianca pamit pergi dengan melalui pintu lain. Bukan pintu utama yang sama dengan pasien baru datang untuk mengurus pendaftaran.
Motornya terparkir di parkiran belakang. Saat dirinya menghitung semua total uang, memeriksa semua pesanan siang ini selesai. Karena jarak rumah sakit dengan kafe tidak terlalu jauh, Bianca mengantar pesanan para pegawai rumah sakit ke tujuan terakhir. Baru kembali ke kafe untuk kembali bekerja.
Mengantar pesanan sudah menjadi tugasnya. Aisha yang bertugas di kafe untuk melayani pembeli lain. Atau kadang-kadang mereka bertukar peran. Tetapi Bianca lebih senang bekerja sembari mengantar pesanan orang-orang. Melegakan melihat mereka puas dengan pelayanan yang mereka terima.
Mendengar suara alas sepatu bergesekan dengan aspal kasar, Bianca lantas mendongak. Melihat sang dokter muda di sana, bersandar pada tembok rumah sakit yang besar, memandang langit yang sedikit mendung.
Bianca bisa melihat Dokter Abe menginjak batang rokoknya yang nyaris habis. Bagian kecil itu mengusiknya. Bersamaan dengan asap samar yang melingkupi sekitar sepatu mahal sang dokter.
Ketika mata mereka bertemu, Bianca lagi-lagi dirundung perasaan bersalah. Matanya menaut mata tajam sang dokter, merasa terintimidasi sekaligus terbebani.
Sang dokter tidak mengucapkan sepatah kata pun. Saat sosoknya mendekat, Bianca belum mampu beranjak pergi. "Sudah berapa lama kau melakukannya?" Sapaan basa-basi yang membuat Bianca bingung.
"Cukup lama. Kadang-kadang bergantian dengan sahabatku. Tapi untuk kasus ini, aku lebih suka mengantarnya sendiri."
"Aku tidak tahu kalau kau sering datang kemari," kata Abe datar. Kedu tangannya bersembunyi di dalam celana kain hitam mahal. "Juga yang membawa pesanan kopi Alya dan lainnya."
Bianca menghela napas. Apa Dokter Abe akan menyalahkan Alya karena diam-diam memberikannya perhatian kecil?
"Aku tidak tahu kalau Alya memesankan kopi untukmu," aku Bianca apa adanya. "Lagi pula, dia hanya memberi kopi, bukan hal aneh."
"Hanya kopi." Abe mengulang kalimatnya tanpa ekspresi. "Aku nyaris lupa kalau kau mentraktirku dua kali."
"Dua kali?"
"Restoran ramen dan segelas kopi kemarin. Apa aku perlu merasa tersanjung?"
Bianca tidak akan menanggapi kalimat itu sebagai sindiran hanya karena dokter satu ini terlalu dingin atau tidak bersahabat sama sekali. Kemarin murni karena memang ia ingin, tanpa maksud apa-apa. Dan untuk restoran ramen, itupun sama. Tidak ada maksud apa pun yang berujung pada dirinya mencoba mengesankan sang dokter atau menarik perhatiannya.
"Apa kau tersinggung?"
"Sedikit. Tetapi aku akan berterima kasih." Abe menyahut ringan, matanya mengitari sepanjang parkiran yang sepi. Kembali pada gadis di depannya, bersama motor matic simpel yang cocok dengan tumpangannya.
"Aku melakukan itu tanpa maksud apa pun," papar Bianca mencoba meyakinkan. Kalau-kalau sang dokter punya pikiran naif pada dirinya. "Serius. Itu hanya sebagai traktiran biasa."
Alis rapi Abe terangkat naik. "Aku tahu. Kau tidak perlu menjelaskannya."
"Begitu." Napasnya berembus lega.
"Tetapi aku pastikan tidak akan ada lain kali," timpal Abe dingin. Memandang Bianca yang hanya sebatas dagunya dengan tatapan tajam. "Aku hargai kebaikanmu."
"Itu cuma-cuma."
Abe mendengus pelan.
"Aku harus pergi." Bianca menipiskan bibir, mengamati sang dokter tanpa suara. Kemudian menggeleng untuk menyalakan mesin motor. Dia harus secepatnya pergi. Ini rasanya aneh. Melihat sang dokter seperti siap menyemburkan api dari matanya dan Bianca bergidik karena memikirkan hal konyol tersebut.
***
Lonceng kecil berbunyi. Dengung kecilnya menyapa Abe yang diam. Realita baru saja membawanya dalam harapan-harapan palsu yang pernah singgah. Saat matanya menangkap bayangan Akram Daffa dewasa, senyum yang semula melebar penuh alasan kini tiada. Ia menyadari benar, waktu merubah banyak hal.
Bahu sang kakak tampak merosot dan rapuh. Abe yang acuh tidak lagi mau peduli atas asas apa pun bernama keluarga. Ini berlaku setelah kematian ibunya. Ia melepas segalanya untuk sesuatu yang lebih berguna untuk dijalankan walau terasa monoton.
Daffa memilih tempat yang sepi dan lebih privasi untuk mereka berdua bicara. Ini kali pertama Abe mau menemui sang kakak. Entah alasan apa yang merasuki logikanya, ia membalas pesan Daffa berupa isian singkat, mengiakan ajakan untuk bertemu.
"Kau datang."
Abe menyadari kalau kakaknya membunuh waktu dengan melamun. Sementara dirinya memakan waktu untuk merenung, berpikir tindakan untuk menemui sang kakak kebenaran atau kesalahan.
"Ingin pesan sesuatu? Aku yang akan membayar."
Basa-basi itu sama sekali tidak merubah ekspresi apa pun. Kontras yang menjulang baru saja terbangun di antara keduanya. Daffa terlihat lega, sedangkan Abe tertekan.
"Aku tidak punya banyak waktu," ujarnya dingin. "Jadwal operasi dimajukan satu jam lebih awal."
"Aku tahu." Daffa berusaha santai, memanggil pelayan dan membuat pesanan untuk dirinya sendiri. "Kau bisa membawa makan siang itu ke rumah sakit." Abe ternyata salah. Kakaknya ikut memesan untuk dirinya, meminta agar pesanan itu dibungkus dan pastikan masih hangat.
"Kau terlihat baik. Aku senang melihatnya. Selama ini aku mendengar kabarmu dari Karin," kata Daffa sebagai pembuka. "Aku ingin mendengarnya sedikit darimu."
"Ayah tidak katakan apa pun?"
"Dia tahu kau tidak pernah setuju untuk hal yang dia perbuat. Abe, kalau kau tertekan karena pernikahan ini, mengapa kau hanya diam?"
Si dokter muda diam. Daffa menjalin tangannya di atas meja, mengamati Abe tanpa suara.
"Aku tidak diberi pilihan apa pun," balasnya tertatih. Menyadari nada suaranya berubah, Abe mengambil napas keras. "Tidak ada kesempatan. Satu-satunya hanya Karin, dan aku tidak bisa mengharapkannya."
"Karena Karin mencintaimu, sedangkan kau tidak."
Abe mendongak, membiarkan matanya mengamati raut sang kakak yang hangat. Daffa tidak akan lekang oleh waktu. Senyumnya masih sama. Walau guratan letih dan kantung mata itu menebal seiring waktu.
"Aku punya cara untuk mengulur waktu. Tetapi terkadang Conan mengacau," ujar Abe sinis. "Kapan pria tua itu tidak pernah berhenti mencampuri urusan orang lain? Seharusnya kursi roda membuatnya bungkam, bukan bertindak semaunya."
Daffa menghela napas. Abe menyadari waktu memakan habis kepercayaan sang kakak yang pernah setinggi langit. Satu-satunya sosok optimis yang ia kenal hanya Daffa, kakaknya. Ibunya banyak menaruh harapan pada si sulung yang mudah depresi di masa muda.
Tetapi Abe menyadari, Daffa banyak berkorban.
"Aku bukan kau."
Saat mata mereka bertemu, Daffa tahu apa yang ia bicarakan. "Aku tidak akan membiarkan pria itu mengacau. Berapa banyak korban yang terluka lagi? Ibu sudah tiada. Istrimu. Dan dia ingin membuatku hancur?"
"Aku tidak pernah memaksamu," sahut Daffa lirih. Membiarkan jeda terbentang ketika pelayan membawa masuk minuman bersama makanan hangat yang dipesan. "Tidak akan pernah mau memaksamu."
"Lantas?"
Bibir Daffa menipis. Saat Abe melihat sudut bibir itu tertarik membentuk seurai senyum pahit, Daffa membuang pandangannya pada bunga hias yang tergantung di dinding restoran.
"Aku merasa tidak punya kesempatan apa pun untuk membela diri layaknya dirimu. Orang-orang menaruh harapan pada diriku. Ibu, termasuk ayah. Diriku tidak biss menghancurkan kepercayaan itu. Aku bukan dirimu."
"Apa kau—,"
"—kau berani. Kau berani mengambil setiap risiko yang berat. Meski tantangan itu selalu ada. Rintangan tidak pernah berhenti sampai di sini. Orang-orang tidak pernah berharap apa pun padamu, tapi aku sebaliknya. Aku berharap kau bebas. Aku berharap kau lepas dan bahagia. Bukan seperti aku."
Abe diam. Otaknya meresapi semua yang Daffa ucapkan tanpa melewatkan satu kata sedikitpun.
"Andai saja aku punya banyak waktu untuk bicara, aku ingin duduk dan mendengarmu berceloteh soal harimu yang sial. Itu lucu, dan kau terasa lebih hidup daripada aku."
Senyap melintasi ruang dengan melesat cepat.
"Tetapi aku sadar, seandainya aku memaksamu terlalu keras, kau akan semakin membenciku."
Napasnya berhamburan dengan gambaran konyol mereka semasa muda. Daffa tidak lebih dari sekadar remaja kesepian yang kesulitan membangun relasi. Tetapi sang ibu memberinya harapan, sama halnya pada Abe kecil yang memandang dunia sebagai permen manis. Tanpa tahu kejutan penuh duka yang bersembunyi dalam balutan langit biru cantik.
"Kadang-kadang, saat aku melamun di tengah sepi, aku berpikir banyak hal. Satu-satunya yang tidak pernah kembali adalah kenangan, dirimu dan istriku."
Kalimat-kalimat yang hendak meluncur tertahan di tenggorokan. Abe terdiam, menatap Daffa yang gemetar memegang garpu.
"Ayah menyakitimu?"
Daffa hanya diam.
"Kenapa kau tidak pergi?"
Kepala sang kakak hanya menggeleng. Singkat. Jawaban yang tidak Abe harapkan dari manusia yang pernah bersamanya di saat suka dan duka.
Daffa tidak lagi sanggup menahan diri. Ketika ia menaruh garpunya dengan desakan keras. Menyadari dirinya tidak sanggup lagi menahan diri, matanya yang kelam memandang sang adik penuh perhatian.
"Bisakah aku meminta satu permintaan padamu?"
Abe mengangguk tanpa suara. Yang membuat Daffa menghela napas, mencoba terus menatap matanya saat perlahan-lahan yang menyesakkan, sepasang matanya nampak basah.
"Tolong, jangan membenciku."
Mungkin saja ibunya di surga sedang menangis sekarang, pikir Abe pilu.
"Aku tidak tahu ikatan di antara kita berarti untukmu atau tidak. Karena bagiku, semua tentangmu dan ibu berharga. Kita keluarga, walau kau mencoba menepisnya."
Daffa mendorong bungkus makan siangnya dengan seulas senyum samar. "Ini makan siangmu. Sesibuk apa pun, kau harus memerhatikan dirimu sendiri. Tetaplah sehat, Abe. Aku sudah baik-baik saja melihatmu sekarang. Adikku tumbuh besar dengan semestinya."
Ketika mata mereka bertemu, Daffa menunduk untuk menekan kedua matanya sendiri yang berair. Sementara Abe beralih, mengepalkan tangan menahan bahu yang bergetar secara perlahan.