Cuaca tiba-tiba berubah. Dari yang semula mendung dan para pakar ramai-ramai memberi kabar kalau akan ada hujan, secara pasti langit memberi kesempatan bagi penduduk bumi menatap keajaiban bulan dan bintang malam ini.
Sama halnya dengan Bianca. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berjalan-jalan malam selepas bekerja. Membeli banyak camilan dan es krim manis yang ia beli di pinggir jalan. Mencari tempat untuk duduk, menikmati bulan dan akan tidur setelahnya. Ia harus mencari udara segar. Sekadar menjernihkan isi kepalanya yang penuh.
Satu-satunya tempat yang menarik perhatiannya adalah taman. Taman ini tidak terlalu ramai seperti taman di kota. Tetapi tempatnya yang sepi dan lampu-lampu jalan seakan menarik perhatiannya. Ada beberapa orang yang menghabiskan waktu di sana. Seakan menciptakan dunia mereka sendiri.
Ketika matanya mencari, sebuah ayunan menarik minatnya. Ada seseorang yang menempati ayunan lain. Sosoknya dalam gelap tidak begitu terlihat. Dan Bianca berniat duduk, membuka es krim untuk menemaninya melepas penat.
"Kebetulan yang aneh."
Sebuah suara sinis mengejutkannya. Saat kepalanya beralih, menemukan siapa sosok misterius berbalut mantel bagus dengan topi hitam mencolok.
"Dokter?"
Abe menghela napas pendek. "Aku tidak memakai pakaian kerja apa pun selain kemeja ini."
"Tidak sopan memanggilmu hanya dengan nama." Bianca membalas ringan, membuka penutup es krim cokelatnya dengan santai. "Lagi pula, kita tidak akrab. Biasakan saja."
"Aku tidak mengerti."
Bianca mendesah pendek. "Lupakan."
"Kenapa kau ada di sini?"
"Rumahku di dekat sini. Kalau berjalan kaki, tidak terlalu jauh. Tidak dua kali ongkos bis," kata Bianca serius. "Kau sendiri?"
"Ini taman yang mengingatkanku akan masa kecil. Ibuku dibesarkan di sini," balas Abe acuh. Memainkan kakinya agar ayunan ini bergerak, tidak statis. "Apa yang kau makan?"
"Es krim. Kau mau?"
"Tidak. Terlalu manis."
"Ini tidak manis. Biasa saja. Takaran gulanya sudah pas."
"Semua es krim manis." Abe menyetujui pendapatnya. Semua anak-anak berpendapat hal yang sama. Es krim makanan dingin yang terbaik. Sebagai penghibur yang bisa diandalkan.
"Kau tidak bisa berkomentar kalau belum mencoba." Bianca menyodorkan sebuah es krim yang masih terbungkus pada Abe. Dan sungguh, respon dokter sinis itu membuatnya sedikit jengkel. "Ini, coba saja."
"Berapa?"
"Apa?"
"Aku akan memberimu uang tunai."
"Aku tidak berjualan di depanmu," Bianca terburu-buru melempar es krim itu ke pangkuan sang dokter. Kemudian meringis, berbisik kecil karena lancang. "Aku tidak sengaja."
Abe hanya diam. Menunduk menatap es krim dengan pandangan mencolok tajam. Seakan ada bayi alien yang baru saja jatuh ke atas pangkuannya. "Green tea? Rasanya pasti seperti minyak kayu putih."
Bianca nyaris tersedak es krimnya sendiri. "Ya Tuhan. Kau pernah mencicipi rasa minyak kayu putih?"
"Tidak."
Jemari itu perlahan mencoba membuka bungkusan. Secara hati-hati yang menarik perhatian Bianca dalam kebisuan. Ketika bentuk es krim muncul, Abe sama sekali tidak memberi reaksi apa pun. Dan Bianca terkesan karena wajah lempeng dokter itu benar-benar harga mati.
"Aromanya tidak terlalu enak."
"Kau ingin menukarnya dengan rasa strawberry?" Bianca membuka bungkusan plastiknya. "Biar aku yang habiskan itu."
"Punyamu belum habis."
"Aku bisa makan dua sekaligus," balas Bianca semangat.
"Menyantap terlalu banyak makanan manis tidak begitu baik untuk tubuh," tegur Abe dingin. Mencoba mencicipi rasa es krim itu perlahan, bersama tatapan penasaran Bianca yang mengekori.
"Enak?"
"Belum kutelan," sahut sang dokter jengkel. "Rasa cokelat mungkin lebih baik dari rasa aneh ini." Komentar Abe membuat Bianca mengerang kecil.
"Kau belum menelan es krimnya."
Abe menoleh, menautkan alis saat Bianca mengulum bibir, ingin tersenyum tapi terlalu takut dengan ekspresi dingin itu. "Aku punya permen s**u. Kalau kau mau, coba satu."
"Menyantap terlalu banyak makanan manis—,"
"Kau tidak akan disuntik insulin hanya karena mengonsumsi satu es krim dan dua permen s**u. Penyakit bernama diabetes masih harus rebahan di ranjangnya. Santai saja."
Kening Abe berkerut. Memandang Bianca yang membuang muka. Ia baru saja menjadi guru di depan pria itu. Yang punya gelar lebih baik darinya. Sebagai manusia awam, pengetahuan Bianca tentang penyakit sungguh sangat dangkal. Ia bisa mengartikan demam sebagai tipes. Padahal itu karena flu biasa. Diagnosis yang sering salah kaprah.
"Kau cukup paham untuk kasus itu ternyata."
"Soal apa? Insulin? Diabetes?" Bianca tertawa sendiri. "Aku tahu itu. Musuh utama dari terlalu banyak mengonsumsi makan manis dan berwarna lain. Aku bekerja untuk sebuah kafe. Pengunjung yang sering mampir tahu risikonya. Kau juga sama."
Kepala Abe berpaling. Ia memilih untuk diam, mengamati rembulan di atas sana bersama bintang-bintang sebagai sahabat yang menemani.
"Aku terkadang penasaran. Bagaimana menjadi seorang dokter? Kau harus dihadapkan pada darah dan segala jenis organ-organ manusia lain."
Alis rapi Abe tertaut naik. "Aku menduga kau takut darah." Matanya yang gelap memandang sisi wajah Bianca. "Kau memang takut darah."
"Kau masih ingat ternyata," ringisannya muncul. "Aku takut darah. Kalau hanya sebagian kecil, mungkin bukan masalah. Tapi untuk kasus yang besar, aku kehilangan tenaga. Lemas dan seperti mau mati."
Sang dokter tidak memberi reaksi. Saat Bianca menoleh, mengamati raut datar itu penuh tanya. "Kadang-kadang aku mendengar jeritan di rumah sakit. Tangisan dan airmata. Aku sempat trauma kala itu. Tapi sekarang tidak lagi. Apa menurutmu itu hal yang biasa?"
Abe diam. Menunduk menatap es krimnya yang tersisa separuh. "Terlalu biasa. Tetapi aku tidak hadir di sana untuk menghibur mereka. Setiap pasien memiliki risikonya sendiri."
"Bahkan mungkin jika sebelumnya baik-baik saja?"
Bianca tidak paham mengapa ia bertanya. Rumah sakit sama halnya seperti rumah duka. Tidak semua orang bisa kembali meraih kesempatan untuk hidup menjadi pribadi baru.
"Rumah sakit lekat dengan kematian. Kabar buruk dan baik kerap silih berganti. Kami selalu memberikan kemungkinan-kemungkinan yang berarti, walau harus memanipulasi banyak hal untuk memberi energi positif pada si penderita."
"Kau mencoba membantu pasienmu. Itu terdengar masuk akal." Bianca mendesah pendek. Menyadari tugas seorang dokter tidak sesepele jalan pikirannya.
"Hanya menjalankan tugas semestinya."
Ketika mereka memilih untuk tetap berada dalam jalan pikiran masing-masing, Bianca mengenang kekasihnya dengan cara baik. Hanya saja rumah sakit membuatnya hilang akal. Chayim kalah dengan semangat hidupnya. Ia harus menelan pil pahit itu sebagai cambukan pedih. Bianca merasa hidupnya tidak lagi sama semenjak itu.
Langit perlahan-lahan menyembunyikan eksistensi bulan. Bianca menyadari malam semakin larut. Es krim strawberry miliknya akan mencair sebentar lagi.
"Nah, sudah malam. Aku harus pulang."
Ketika Bianca menunduk, sang dokter masih melamun menyantap es krimnya tanpa suara. Sosoknya yang terlihat muda dan kekinian membuat Bianca meringis. Hal yang sangat wajar jika Dokter Abe memiliki penggemar dan dia akan melepas masa lajangnya sebentar lagi.
"Dokter, aku harus kembali."
Bianca menyapa untuk sekadar basa-basi. Ia tidak berharap Abe mau meladeninya. Namun saat kepalanya berpaling, mata mereka bertemu, Bianca membeku.
"Terima kasih untuk es krimnya."
Rasa geli membanjirinya luar biasa. Saat ia mengangguk, memberi Abe sebuah senyum lebar. "Santai saja. Bukan masalah. Selamat malam."
Lalu pergi tanpa berniat lagi menoleh ke belakang.