ribuan bintang

1045 คำ
Bianca menyadari, bahwa selama lima tahun setelah kepergian Chayim untuk selamanya, bumi benar-benar berotasi pada porosnya. Barangkali ia berduka untuk sebentar saja, manusia dipaksa untuk terus bangkit, menjalani hidup tanpa pamrih sekali lagi. Kesedihan bukan perkara biasa. Semesta masih menyisakan kejutan-kejutan kecil sebagai penentu masa. Makam Chayim tidak lagi sama seperti lima tahun lalu. Ia akan berterima kasih pada dirinya sendiri karena masih setia, mengunjungi lelaki yang mengisi relung hatinya sampai detik ini. Posisi yang Chayim duduki masih menjadi teratas. Belum ada—tak akan pernah ada. Bianca mampir untuk berdoa di makam Ama. Perempuan malang yang punya hati sedalam samudera. Kalau Bianca bisa belajar banyak arti tentang persoalan hidup, Ama memberinya banyak jawaban yang memuaskan. Bianca perlahan-lahan berhenti menyalahkan langit. Langit biru membuka pagi. Saat Bianca bernapas, berembus lirih di semilir angin yang mengusik malas anak rambutnya. Kedua matanya kembali berair. Kadang-kadang, airmata muncul tanpa alasan. Ketukan ranting pada daun menjadi musik pengiring. Pemakaman terlalu sunyi—senyap yang mencekam. Bianca merasa damai, tenteram. Seakan memang kematian pada diri manusia tercipta terlalu lekat. Ketika kepalanya mendongak, sosok yang mungkin tidak lagi asing ada kurang dari lima puluh meter di depannya. Pemakaman ini adalah tempat umum. Satu-satunya pemakaman terbesar yang ada di kota. Bianca termenung. Mengamati punggung tegap si dokter muda yang terkenal tanpa ekspresi. Seakan karakter Abe yang dingin dan sinis memang tercipta berkat ucapan orang-orang. Sebagian besar yang memilih menjaga jarak, memilih untuk tidak terlalu dekat. Membiarkan benteng itu sebagai pemisah. Batas antara rekan kerja. Dokter Abe memakai mantel sebatas lutut. Ujungnya yang lembut berterbangan, anak rambutnya terayun lembut. Sama seperti dirinya, sang dokter khidmat menikmati suasana tanpa suara. Seakan-akan memandang nisan itu berarti dengan melepas penat. Bianca terdiam. Mengetahui bahwa ada kerabat sang dokter yang sudah terpendam di dalam tanah. Karena tidak lama setelahnya, Abe memberi jarak untuk mundur. Menyembunyikan kedua tangannya pada saku mantel, masih memasang tampang datar yang maskulin. Seolah memang paras itu sebagai harga mati. Pandangan Bianca mengekori. Satu-satunya eksistensi yang membuatnya penasaran adalah sang dokter bersikap seperti manusia biasa. Walau ia tidak mendengar kalimat apa pun, tidak menemukan ekspresi apa pun, perasaannya merasakan sebaliknya. Aneh. "Aku pergi." Bianca memberi senyum dan kecup jauh. Setelah mengusap kedua nisan orang kesayangan, ia baru bergerak pergi. Menuruni anak tangga yang terbuat dari bebatuan, menyusuri hati-hati. "Di sini kekasihmu dimakamkan?" Sang dokter menyapa tanpa basa-basi. Bianca mendongak, menipiskan bibir dengan anggukan. "Ya." Tanpa ragu membalas. "Kau sering berkunjung?" "Ya. Sebelum pergi ke kafe, aku akan menyempatkan diri untuk mampir. Dia pantas mendengarkan hariku yang panjang." Abe hanya diam. Sorot matanya yang tajam benar-benar mengintimidasi. Bianca berdeham, menyingkirkan anak rambutnya yang lepas dari ikatan. "Aku harus pergi. Semoga pagimu menyenangkan." "Sebentar." "Hm?" "Aku belum tahu namamu," kata sang dokter tiba-tiba. Bianca membeku. Berbalik dengan kening mengernyit kemudian tersenyum geli. "Bianca." "Bianca," Abe dengan lamat mengulang namanya. Bianca kembali tersenyum, menyadari perubahan pada wajah si dokter muda. "Aku tidak tahu nama gadis yang memberiku es krim rasa kayu putih." "Kau menghabiskannya, dokter." Bianca membalas jenaka, memutar mata. "Kapan-kapan kau harus mencobanya lagi." "Aku tidak berjanji." Bianca mengangkat bahu. Merapatkan mantelnya dengan senyum samar. Kemudian berbalik, berjalan menjauhi area pemakaman dengan langkah ringan. Masih punya waktu untuk bersantai sebelum bis membawanya pada kafe dan memulai hari untuk bekerja. *** "Dia hanya belum menunjukkan apa-apa padamu, Karin. Bersabarlah sebentar lagi." Suara Conan yang mantap mencetuskan ide buruk baru pada isi kepala Karin yang berkelana. Undangan sarapan bersama tentu saja bukan hal yang pantas ia tolak. Selagi dia bisa bertemu Conan dan Daffa, berbincang hangat bersama. "Aku rasa memang Abe tidak punya perasaan apa-apa padaku," balas Karin pesimis. Conan menatapnya datar, sementara Daffa menaruh perhatian berupa belas iba yang nyata. "Belum. Aku sudah bicara padamu, belum. Anak itu memang tidak peka terhadap perasaannya sendiri. Satu-satunya bukti nyata perasaannya hanya pada ibunya," sahut Conan datar. Sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan mengancam dari si putra sulung. "Kau hanya perlu bersabar. Pernikahan akan berjalan sesuai rencana awal. Kau hanya perlu menunggu." "Aku tidak bisa menunggu terlalu lama," ujar Karin tanpa ekspresi. Menunduk menatap daging asap bakar yang terasa hambar. Selera makannya telah menguap bersamaan topik tentang Abe yang mengudara. "Perempuan pada dasarnya memang membutuhkan penjelasan, bukan?" "Ya." Daffa bersuara, menyela kalimat yang hendak Conan ucapkan. "Perempuan butuh kepastian. Tapi Abe tidak pernah memberi harapan pada siapa pun dan dalam bentuk apa pun." "Daffa," suara menegur itu berhasil membuatnya bungkam. Karin menghela napas. Memainkan pisau dengan garpu di atas piring. Bermain-main membentuk pola acak. "Abe tidak membenciku. Tetapi seandainya pernikahan ini tetap berjalan, ia akan melakukannya." Conan mendesah. Pengacara senior satu itu memang tidak terlalu suka topik mendetail yang membuatnya bosan. Termasuk kelakuan putra bungsunya, pikir Karin simpatik. "Kalau saja dia berani melakukannya, kau hanya perlu bicara." "Kekerasan dilarang dalam bentuk apa pun," timpal Daffa dingin. "Walau Abe membencimu, dia tidak akan membuatmu terluka. Secara fisik, tentu saja. Tetapi hati jelas berdarah." "Daffa." "Aku hanya meminta semua orang berpikir rasional. Pernikahan bukan tempat bermain. Ini bukan arena judi untuk mencoba-coba," tegas Daffa tajam. Sorot matanya menajam saat bertemu dengan sepasang manik serupa sang ayah. "Kita tentunya tidak mau Abe dan Karin bercerai, bukan?" Conan menggeleng keras. "Itu memalukan. Tidak akan ada perceraian. Seumur hidupku, menangani kasus itu membuat kepala sakit. Bukan karena perkara itu sendiri, tetapi drama yang berlarut-larut di antara kedua belah pihak. Aku mencemaskan mental Karin." "Dan tidak peduli terhadap perasaan putramu sendiri?" "Abe bisa mengurus dirinya sendiri," tukas Conan tajam. "Apa yang dia tahu soal perasaan? Adikmu terlalu mati rasa untuk peduli terhadap eksistensi orang lain." "Aku yang terlalu banyak berharap." Karin memotong pembicaraan tanpa menatap keduanya. Ia memilih memandang lurus pada gelas air putih yang terisi penuh. "Abe hanya melihatku sebagai teman baik, bukan sebagai wanita pada umumnya." "Jangan pesimis, Karin. Semua akan membaik. Perasaan manusia bisa berubah seiring waktu. Abe hanya perlu waktu," hibur Conan ramah. Sementara Karin hanya membisu. Matanya menatap Daffa yang menunduk, berpura-pura sibuk menyantap sarapannya sendiri. Saat suster pribadi Conan menarik kursi roda, membiarkan Conan berjemur di pagi hari selepas sarapan. Membiarkan meja makan dihiasi sepi. Karin tidak bersuara, dan sepertinya Daffa pun enggan membuka topik. "Karin." Si pemilik nama menoleh. "Ada ribuan bintang di langit, mengapa kau hanya berharap pada satu yang bersinar?"
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม