"Kapan dia sadar, nenek?"
Wanita paruh baya itu, Hanami, memandang sang cucu dengan senyum sayang. Dia membelai rambut hitam cucunya dengan lembut lalu berkata. "Sebentar lagi, mungkin? Jika obatnya bekerja , dia akan segera sadar. Atau jika luka itu benar-benar dalam, kurasa membutuhkan waktu untuk sadar lebih lama."
Hani menatap Karen dengan wajah sedih. "Kasihan sekali putri ini ..." Hani menatap lekat-lekat wajahnya. "Dia sangat cantik," pujinya dengan tawa geli dan sang nenek yang ikut tersenyum karena mendengar tawanya.
Hani mengerjapkan matanya terkejut saat Karen mengeluarkan suara gumaman lemah. Jemari wanita itu bergerak-gerak mencoba menggapai sesuatu dan matanya mulai terbuka. Hani berdiri diikuti sang nenek yang membawa wadah obatnya dan memberikannya pada Karen setelah dia sadar.
Karen duduk dibantu sang nenek dan Hani yang duduk di tepi ranjang. Memegang tangannya dengan lembut dan memijitnya pelan. Karen meminum obat di dalam mangkuk batok kelapa dengan pelan dan tersenyum pada wanita tua itu. Mata hijaunya jatuh pada gadis kecil yang menatapnya dengan senyum, salah satu tangannya yang bebas mencubit pipi gembul Hani dengan gemas.
"Hai, kita bertemu lagi." Sapanya.
Hani mengangguk menahan tangis dan menggenggam jemari Karen lebih erat. Membuat Hanami menatap cucunya dengan peringatan di matanya tetapi Karen mengabaikannya, dia mendekatkan tangannya untuk mengusap rambut lembut Hani.
"Aku tidak apa-apa, terima kasih," Karen menatap wanita paruh baya yang ia kenal adalah pedagang aksesoris rambut beberapa hari lalu dia beli. Dan Hani, oh jelas dia mengingat anak manis yang bertemu dengannya di pasar bersama dua teman laki-lakinya.
"Panggil aku Hanami," ucap wanita itu mengenalkan diri.
"Aku Karen. Miura Karen," ucap Karen.
"Bibi Karen ... kau berasal dari keluarga kerajaan?"
Karen tersenyum. Tidak menjawab.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Hanami dengan nada sedih. Karen menghela napasnya dan dia menceritakan keseluruhannya pada mereka yang mendengarkan dengan baik dan tenang.
.
.
Sepuluh cambukan cukup membuat punggung Parviz Zidan membekas dengan luka lebam yang membiru dalam dan berdarah karena tali itu keras dan tajam. Darah mengalir hingga membasahi celana putihnya. Kondisi tangan terikat di atas tiang tidak bisa membantu Zidan bertindak lebih selain pasrah karena amukan Azada.
Dua prajurit itu melepas ikatan Zidan dan membiarkan Zidan jatuh terduduk di atas ruangan yang gelap dan jendela sedikit terbuka agar cahaya matahari masuk ke dalam. Menerangi ruangan yang sepenuhnya tertelan kegelapan dan kekosongan.
"Kau tahu Zidan berapa lama aku harus menahan untuk tidak menghabisi klanmu," Azada melepas cambuk itu dari lilitan pergelangan tangannya. Menatap punggung Zidan yang dipenuhi darah dan lebam.
Zidan tertawa pelan. Dia memutar tubuhnya. Tetap duduk. "Azada, kau sendiri tidak tahu betapa marahnya aku pada keluarga besarku sendiri," lirihnya. "Aku bersumpah untuk menjaga Cheara agar mereka tidak melukai Nisaka."
Azada melempar cambuk itu dari tangannya. Menatap Zidan dingin. "Karena rasa terima kasihku pada Jenderal Besar Julian, aku menghormati mereka. Klan yang mampu memberi pertahanan lebih saat kerajaan ini membutuhkannya."
"Jalanku berat ..." desis Zidan saat luka di punggungnya terasa nyeri. "Aku mencintai Nisaka," ada tawa sedih yang meluncur bebas darinya. "Tetapi klanku tidak menyetujuinya. Nisaka kelas rendah. Menjijikan dan reputasi klannya yang hanya sebagai petani dan berkebun membuat mereka meremehkannya. Aku harus bertahan."
"Jalanmu salah, Zidan."
"Bagaimana denganmu?" Zidan mengangkat kepalanya. Menatap Azada dengan senyum pedih. "Kau ... ingin melenyapkan Karen, bukan? Kenapa tidak kau biarkan gadis itu mati membusuk di sungai? Dendammu terpenuhi, Azada. Tidak akan ada keturunan dari Miura yang hidup. Kau bisa menyuruh sahabatmu satu itu untuk membunuh Ayyara. Semua selesai. Kau hanya tinggal membunuh Ezra yang terbilang mudah," Zidan terbatuk dengan kasar. "Caramu juga salah. Sama sepertiku. Kau menyuruh Karen mencintaimu agar kau bisa menyakitinya lebih dalam lagi."
"Juga denganku," Zidan mencoba berdiri berpegangan pada tiang. "Aku menjaga Nisaka dengan caraku sendiri. Melindungi wanita yang kucintai dengan kekuatanku. Walau aku harus mengorbankan hidupku sendiri."
Pintu terketuk keras. Azada mengangguk saat prajurit itu masuk mengucapkan salam karena tabib akan membawa Zidan pergi ke kamarnya dan mengobatinya. Azada menatap kepergian Zidan bersama tiga anak buahnya. Azada menunduk, menatap lantai yang dingin dengan helaan napas panjang.
.
.
"Nenek lihat!"
Sudah dua hari Karen tinggal bersama keluarga Hanami dan Hani di dalam gubuk sempit yang hanya memiliki satu kamar tidur dan beralaskan tikar kasar sebagai alas tidur mereka. Karen menutup pintu dan menguncinya. Karena posisi rumah yang cukup jauh dari pemukiman, Karen tidak ingin ada sesuatu bisa menyakiti keluarga kecil ini. Lagipula sejak tadi mendung, sebentar lagi mungkin akan hujan. Mereka aman jika sudah di dalam.
Hanami duduk bersama cucunya dan Karen setelah menyalakan pemanas agar suasana ruangan lebih hangat. Karen berdiri dari jendela dan mengintip ke luar saat hujan mulai turun perlahan-lahan dan mulai deras.
"Apa ini?" tanya Hanami saat melihat Hani mencoba baju barunya.
"Kakak Karen membelikannya untukku!" jawabnya riang. Dengan lucu, Hani mencoba sepatu barunya. Memakai aksesoris rambut berwarna peraknya dan pakaian cantik yang Karen belikan untuknya.
Karen ikut duduk di samping Hanami. Tersenyum lebar saat mendapati semua barang yang ia belikan untuk Hani terlihat pas di tubuh mungilnya. Hani memutar tubuhnya, dengan tawa lepas karena mendapatkan hadiah yang luar biasa.
"Aku juga belikan ini," Karen membuka dua bungkus ayam rebus dan daging sapi panggang. Hanami menatap makanan yang masih panas itu dengan kedua mata berkaca-kaca. Hani mendekatinya setelah melipat baju barunya. Kedua tangan kecilnya memeluk sang nenek.
"Jangan menangis, nenek. Bibi Karen terlalu baik membelikan kita makanan yang belum pernah kita makan sebelumnya," Hani menjelaskan. "Ayo, nenek harus mencicipinya."
Hanami mengambil satu potong ayam di dalam bungkusan dan mencicipinya. Karen tersenyum saat senyum itu timbul di wajah tuanya. "Bagaimana?" tanya Karen.
"Ini enak." Karen tersenyum lebar mendengarnya. Tidak peduli bagaimana derasnya hujan di luar sana.
"Kakak Karen ... tinggal di istana, bukankah menyenangkan?"
Karen tersenyum hangat. "Tidak juga. Menyenangkan karena apa pun yang kau mau, mudah didapatkan. Tapi tidak enak rasanya," Karen mengerucutkan bibirnya. "Kau tidak bisa bebas bermain bersama teman-temanmu."
Hani menunduk. Dia menggeleng setelahnya. "Aku tidak mau hidup di istana."
Hanami menatap Karen lekat-lekat. Dia mengusap sudut bibirnya dan Karen yang melihat ada tatapan itu segera menoleh. "Apa ... kau selir di Istana Bunga?"
Karen mengangguk. Hanami menutup mulutnya.
"Kau kesayangan Raja Maritz?"
Karen menggeleng cepat. Dia mengunyah potongan ayamnya dengan wajah memerah. "Oh, tidak, tidak, bukan aku. Itu Selir Parviz. Aku hanya selir biasa."
Hanami mengangguk dengan d**a berdebar. "Aku banyak mendengar kekejaman Raja Maritz dari pedagang lainnya. Banyak kabar mengatakan dia membunuh selir setelah malam panasnya. Kuharap itu terjadi padamu."
"Ah, sejauh ini aku belum melihatnya secara langsung," ucap Karen. Hanami menatapnya dengan anggukan kepala. "Jangan percaya kabar yang belum tentu kebenarannya. Dia ... maksudku, Raja Maritz orang yang baik. Memang tampangnya seram, tapi percayalah, dia memikirkan kalian sebagai rakyatnya."
Hani mengunyah sepotong daging dengan senyum lebar saat menatap Karen. "Aku berharap kau bisa menjadi ratu nanti. Menjadi permaisuri untuk mendampingi sang raja, kak Karen."
Karen menatap Hani yang masih menatapnya dengan senyum sampai kedua matanya menyipit. Hanami mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda setuju. Terbesit rasa menyesal di hati Karen karena berkata yang baik tentang raja sialan itu. Karen hanya tersenyum dan kemudian menunduk. Merutuki kebodohannya.
.
.
Kerajaan Maritz yang jatuh di tangan Kerajaan Miura.
Mata Hana dan Nisaka melebar kala tulisan itu terpampang jelas di sudut halaman tengah dari buku yang Nisaka pinjam di perpustakaan. Karena mereka terus mendapat kabar tak pasti dan bungkamnya para petinggi istana tentang kematian Miura Karen membuat Hana dan Nisaka harus menelan bulat-bulat rasa kecewa dan sedih mereka. Maka dari itu, mereka mencari tahu asal-usul kerajaan ini dengan jelas. Mencari potongan puzzle yang belum sempurna dan belum mereka ketahui secara pasti.
"Ini ..." Nisaka tertelan rasa bingungnya sendiri. "Kenapa halamannya kosong?"
Hana menggeleng. Dia menggeser halaman lain dan nihil. Mereka tidak menemukan apa pun. Nisaka menghela napas. Sudah dua hari kepergiaan Karen dan jika benar Karen mati, seharusnya mereka bisa melihat mayat wanita itu dibawa ke kerajaan dan bersama-sama memberi penghormatan terakhir.
"Selir Parviz benar-benar membuatku muak!" ucap Nisaka dengan tangan memukul meja. Hana menunduk sedih dan menutup bukunya. Dia menatap Nisaka yang terus memukul meja dengan tangan terkepal sampai memerah.
"Jika aku bisa aku akan meracuninya! Aarrh!"
Hana mendesah berat.
"Dia juga yang membuat Zidan menerima hukumannya," ujarnya sedih. Nisaka kembali menundukkan kepalanya. Mengusap sudut matanya yang basah saat dia mendengar ketukan di pintu kamarnya. Hana terlonjak kaget dan segera menyimpan buku itu ke bawah ranjang Nisaka. Dengan cepat, Hana kembali duduk di kursi. Nisaka berdeham setelah Hana kembali di tempatnya dan membuka pintunya.
"Jenderal?"
Tatapan Zidan jatuh pada belakang punggung Nisaka di mana Hana ada di sana. Duduk setelah memberi salam padanya. Zidan mengangguk singkat. Nisaka yang mengerti arti tatapan itu segera menoleh pada Hana dan menutup pintu kamarnya.
Zidan berdiri bersandar pada tiang di depan kamar Nisaka. Setelah menutup pintunya, Nisaka mendekati Zidan. Dalam gerakan tangan cepat, Zidan menarik tangannya. Memeluk Nisaka dalam dekapan panjang dan hangat.
"Apa yang terjadi?" tanya Nisaka pelan.
Zidan belum mau melepas pelukannya. Nisaka mengusap punggung yang terluka itu dengan tatapan sedih. Saat Zidan melepasnya, mereka bertatapan lama.
"Selir Miura masih hidup."
Mata Nisaka melebar terkejut.
"Raja tahu dimana Miura Karen tinggal saat ini. Tinggal menunggu waktu sampai Karen kembali pulang. Kembali ke sini. Sampai itu terjadi, kumohon padamu, jangan katakan pada siapa pun," ucap Zidan.
"Walau pada Hana?"
"Pengecualian untuk dayang pribadinya. Hana berhak tahu. Kalian berdua adalah harta yang Karen punya di sini," Zidan menatap jepit rambut berwarna putih yang ia berikan pada Nisaka dua tahun yang lalu. "Kau memakainya," katanya dengan senyum saat tangannya terulur menyentuh jepitan itu. Wajah Nisaka memerah sempurna dan Zidan tertawa pelan.
"Berhenti mencemaskanku. Aku baik-baik saja. Juga berhenti mengganggu anak buahku hanya karena bertanya tentang kondisiku," senyum Zidan timbul saat Nisaka menunduk dengan wajah memerah dan menyesal. "Raja membebaskanku karena mengetahui Karen masih hidup dan itu bukan kesalahanku. Mungkin setelah ini posisi Selir Parviz tidak lagi aman."
Zidan tiba-tiba berwajah sedih. "Apa pun yang terjadi. Kalian harus tetap berada di sisi Karen. Apa pun," Zidan menggenggam tangan Nisaka erat. "Kalian berdua adalah penopangnya dan aku ... sebisa mungkin akan berdiri di belakang kalian. Aku janji aku akan melindungi kalian."
Nisaka menggeleng dengan wajah bingung. "Tidak, Jenderal," Nisaka menutup bibirnya saat Zidan membalasnya tajam. "Maksudku, Zidan, tidak. Jangan lakukan apa pun untuk membela kami. Putri Karen selalu maju untukku dan Hana. Dia orang yang pemberani. Aku rasa dia akan baik-baik saja di sini selama Raja Maritz bersamanya?"
Zidan mendesah berat. "Kita tidak pernah tahu masa depan, Nisaka. Kerajaan bukan surga. Kita harus terus waspada, bukan?"
Nisaka mengangguk lemah. "Aku akan tetap bersama Selir Miura jika itu yang kau khawatirkan. Terima kasih karena kebaikanmu hari ini." Nisaka menepuk pipi Zidan dan Zidan memeluknya panjang sebelum dia berlalu pergi menuju kamarnya sendiri. Nisaka menatap kepergian Jenderal Kelas Satu itu dengan wajah sedih sebelum akhirnya dia berbalik menuju kamarnya. Ditemuinya Hana yang berdiri gelisah di depan pintu. Membuat Nisaka mengerutkan alisnya.
"Apa yang terjadi?"
Hana menarik napas panjang dan membuangnya kasar. "Aku melihat bagian buku itu yang robek. Ada tulisan kecil yang hampir terlewat mataku," ucapnya gusar.
Nisaka menatap Hana tajam. Mencoba tetap tenang saat bibirnya kembali terbuka untuk meneruskan kalimatnya.
"Dendam."
Kerutan di dahi Nisaka semakin jelas.
"Bagaimana jika Raja Maritz menawan Miura Karen karena dendam?"
Tubuh Nisaka membeku sempurna.
"Apakah Miura Karen akan mati di tangan Maritz Azada?"
.
.
Karen menggandeng tangan Hani yang terus melompat menyusuri jalan berbatu dan licin. Nenek Hanami sudah lebih dulu pergi ke pasar untuk berdagang dan siangnya akan pergi menyusul Hani serta Karen untuk melihat pawai yang melewati perbatasan.
Karen tertawa saat Hani melempar candaan untuknya sampai langkah panjangnya tidak terasa membawanya sampai ke pasar yang ramai karena penduduk yang ingin melihat pawai.
"Sebentar lagi," ucap Hani. Tangan mungilnya menarik Karen untuk menemui dua teman laki-lakinya. Chiro dan Daisuke. Karen mengikuti langkahnya, berjongkok saat dia menyapa dua anak laki-laki tampan itu. "Hai, kalian berdua."
"Dia?" ucap Chiro dan Hani tertawa lebar. "Aku bersama Kak Karen hari ini. Kita akan melihat pawai bersama," jawab Hani riang.
Karen menutup rambutnya dengan tudung jubah yang baru saja dibelinya kemarin. Setelah meninggalkan kalung dan gelangnya untuk Hanami dan Hani, saat ini Karen pergi tanpa perhiasan apa pun yang mencolok kalau dia berasal dari kalangan bangsawan. Karen hanya memakai pakaian rakyat biasa dan menggerai rambutnya. Hanya menjepit poninya agar tidak mengganggu.
"Ayo, anak-anak sebentar lagi pawai dimulai."
Hani segera menggandeng tangan Chiro dan Daisuke dengan kedua tangannya. Lalu Karen mengawasinya dari belakang. Menjaga mereka saat para warga berdesak-desakkan dengan kasar agar bisa melihat pawai di barisan terdepan.
Mereka bisa melihat dari dekat saat Karen berada di barisan ketiga. Tinggi Karen yang cukup bisa membuatnya melihat dengan jelas. Hani dan Chiro ada di barisan depan bersama anak-anak lainnya. Sedangkan Daisuke bertemu ibunya dan pergi melihat pawai dari sisi lain bersama sang ibu.
Karen tersenyum saat pawai itu dimulai dengan rombongan berkuda. Senyumnya makin berkembang saat dia melihat wanita-wanita itu membawakan bunga di dalam keranjang untuk dibagikan para warga. Mata Karen menyipit saat dia melihat seseorang menyamar dengan menunggang kuda hitam dan memakai jubah. Bergabung bersama rombongan kuda yang berpakaian sama dengan lainnya.
"Kenzo?" lirihnya.
"Ada prajurit kerajaan datang!" ucap salah satu dari warga yang melihat. Karen menoleh ke belakang. Matanya melebar kala dia melihat empat penunggang kuda berpakaian baja datang mendekat. Dengan cepat, Karen berpindah ke sisi lainnya agar sosoknya yang terlihat menonjol tidak membuat prajurit kerajaan curiga.
Karen benar-benar melihat jelas kalau itu Kenzo. Kepala pria itu menggeleng tengah mencari seseorang di antara warga lainnya. Secercah harapan timbul di diri Karen saat dia mencoba memanggil Kenzo dengan suara lirih.
"Yahi--"
Karen menutup matanya saat ada tarikan tangan lain di belakangnya. Membuatnya terhuyung mundur dengan cepat dan segera sang pelaku menutup mulutnya. Mencegahnya untuk tidak berteriak. Karen membuka matanya, meronta-ronta saat sosok itu membawanya ke lorong yang sepi dan sempit.
Tudung kepala Karen terlepas saat sosok itu melepas paksa tudungnya. Karen membuka mulutnya untuk berteriak saat pelaku itu melepas tangannya dari mulutnya dan terhenti saat kedua oniks itu menatapnya tajam.
"Azada?" Kepala Karen menggeleng menyadari kesalahannya. "Yang Mulia?"
Azada mendorongnya agar masuk ke dalam lorong lebih jauh lagi. Menyadari dia ada di luar kerajaan dan tidak membawa persiapan apa-apa selain katananya, itu bisa berbahaya untuknya. Terlebih dengan wanita di depannya.
"Bagaimana bisa?" ucap Karen tak percaya.
"Siapa yang coba kau panggil?" tanyanya dengan mata menyipit.
Mata Karen ikut menyipit. "Aku meminta tolong," balasnya dingin. Karen tahu dia tidak bisa lagi pergi saat matanya melirik tiga penunggang kuda itu menghalang jalan satu-satunya masuk ke lorong.
"Dengan siapa kau meminta tolong?"
Dahi Karen mengernyit. "Bukan urusanmu."
Azada menatapnya dingin dan kemudian wajah itu luluh saat dia menggandenga tangan Karen pergi dari sana menuju kudanya.
"Aku tidak seharusnya kembali," Karen hendak melepas pegangan tangan itu tapi diurungkannya saat Azada menatapnya tajam.
"Aku ingin melihat pawai!"
Azada menyipit dan kepala itu menggeleng kemudian.
"Menyebalkan!" umpat Karen.