15

1336 คำ
Kembalinya Miura Karen  dari pencarian panjang tanpa kabar membuat seisi Istana Bunga gempar.  Para dewan yang melihatnya segera berlari dari ruangan dan pergi menuju  balkon untuk melihat kondisi. Begitu juga para selir yang ramai-ramai  pergi ke luar untuk melihat sosok Karen yang dengan terhormat dijemput  oleh sang raja dari tempatnya bersembunyi. "Bagaimana bisa?" salah satu selir bertanya pada selir lainnya. Hana dan Nisaka ikut  berlari dari dapur saat mendengar berita kembalinya Karen. Mereka  menerobos kerumunan dan berusaha mencari Karen di mana wanita itu  berada. Karen menatap Azada  yang sedang berbicara dengan tiga prajurit itu. Dengan lelah, dibalikkan  badannya, Karen berjalan menuju Istana Bunga dengan tatapan dari para  selir dan dewan yang diabaikannya. Masih memakai penutup kepalanya,  mereka yang melihat jelas tahu siapa yang berjalan gontai menuju Istana  Bunga saat ini. "Wah, suatu kehormatan bertemu denganmu." Langkah Karen terhenti  ketika telinganya mendengar sapaan yang tidak asing untuknya. Dengan  senyum yang secara terang-terangan Karen berikan, dia mengangkat  kepalanya. Menurunkan tudung kepalanya dan menatap Selir Parviz dingin. "Ah, pasti kau kecewa, ya, mendapatiku masih hidup dan sehat di depanmu?" Karen tidak bisa menahan senyumnya saat Selir Parviz menggeram marah. Hana menutup mulutnya  saat melihat Karen berhadapan dengan Selir Parviz di jalan masuk  Istana Bunga. Dia baru saja ingin menghampirinya, Nisaka menahan  tangannya. Kedua mata peraknya melihat penampilan Karen yang seperti  rakyat miskin biasa. Rambutnya yang indah hanya disisir rapi dan memakai  jepit kecil seadanya. Tetapi tidak mengurangi kecantikannya sama  sekali. Wajah itu bahkan tidak terpoles riasan apa pun. Wajah Karen apa  adanya. Sama seperti ketika wanita itu bangun tidur. "Senang melihatmu  kembali, Selir Miura," Selir Parviz berjalan agar lebih dekat dengan  Karen. Dia memutuskan jarak di antara mereka berdua tanpa ada rasa  takut di mata Karen ketika mata mereka berdua bertemu. "Kematian lain  siap menjemputmu. Kali ini, aku yang akan memastikannya sendiri." Satu tamparan berhasil  Karen layangkan pada Selir Parviz yang kini menatapnya marah dengan  tangan memegang pipinya. Karen menatapnya dengan mata menyipit tajam.  "Berhentilah seolah-olah kau bisa melakukannya, pengecut! Sekali iblis  tetaplah iblis." Mungkin Selir Parviz  akan melayangkan jemarinya untuk menggaruk pipi Karen sampai ada tangan  lain menahan tangannya. Membuat Karen terhuyung mundur ke belakang dan  menatap punggung itu dalam-dalam. "Tidak lagi, Cheara,"  Azada menepis tangan itu kasar. "Berhentilah kekanakkan dengan  memberikan mereka tontonan gratis darimu." Nada suara Azada mendingin  dan Cheara melepas tangannya. Dia menatap Azada lekat-lekat meminta  sesuatu dari tatapannya dan Azada tidak menatapnya demikian. Azada melirik Karen yang menunduk. Dia berbalik menghadap para dewan yang menontonnya dari Istana Kerajaan. "Dengar, mulai saat ini, Selir Miura akan tinggal di Istana Putih." Kepala Karen terangkat sempurna. Dia hendak melayangkan protes tetapi Azada menahannya dengan tatapan tajam. "Itu artinya,  keselamatannya ada di bawah kekuasaanku. Tidak lagi. Tidak akan ada lagi  yang terjadi setelah ini padanya." Azada berbalik, dia menarik tangan  Karen masuk ke dalam tanpa memberi Karen kesempatan untuk bicara.  Karen berlari mengikuti langkahnya dengan gerutuan sepanjang jalan. Nisaka dan Hana saling  melempar pandang. Hana segera berlari mengikuti Karen diikuti Nisaka  dan Selir Parviz yang kembali masuk ke Istana Bunga setelah berteriak  keras karena pengumuman mendadak dari sang raja. Jenderal Kelas Satu,  Zidan Parviz menyunggingkan senyum tipisnya. Azada baru saja menabrak  protokol kerajaan dengan menggandeng tangan Karen di depan umum.  Mungkin anggota dewan akan membicarakannya dan berniat mendebat Azada  setelah ini. Setelah pengumuman sepihak darinya yang membawa Karen ke  Istana Putih. Di mana istana itu hanya diperuntukkan untuk permaisuri  yang benar-benar sah. . . Malamnya, Karen  berjalan menyusuri lorong di Istana Kerajaan. Langkahnya tertahan saat  para dayang menunduk hormat padanya. Karen mendesah berat, dia berlutut  dan membuat para dayang itu berseru panik. "Selir Miura," panggil dayang kerajaan itu dengan lirih. "Aku bukan calon  permaisuri," lirih Karen lelah. "Berhenti perlakukanku seperti ini,"  desahnya berat. Karen berdiri dibantu para dayang itu dan mereka saling  melempar pandang. "Di mana jalan menuju Istana Bunga jika melewati pintu istana sebelah timur?" tanya Karen. "Maaf, Selir Miura, kami tidak diperbolehkan memberitahumu. Kami hanya bisa memberi jalan menuju Istana Putih." Sialan, Maritz Azada! "Maaf, Selir Miura, ada  sesuatu yang harus kami urus. Dua prajurit di belakang istana menemukan  mayat Putri Gazala terpotong menjadi delapan bagian," ucap dayang itu.  Mata Karen melebar  ketika mereka berbicara dan menunduk. Setelah itu tubuhnya bergetar  hebat. Karen harus memberitahu Azada sebelum Selir Parviz semakin  ganas menyerang para selir lainnya untuk aksi sihir gilanya. Dengan  wajah menahan tangis, Karen berlari menuju lorong di mana kamar Azada  berada. Sepanjang jalan dia mengusap sudut matanya. Kalut. Pikirannya  kacau tidak bisa berpikir benar saat dia berlari dan hampir tersandung  pakaian tidurnya sendiri. "Penyihir gila!  Seharusnya, Selir Parviz melawan raja penyihir itu. Seharusnya dia  melawan Azada saja!" geram Karen sembari mengusap sudut matanya yang  berair. Belum sempat Karen  mengetuk. Dua prajurit itu membuka pintu kamar sang raja lebar. Karen  menatap keduanya dengan bingung dan dia menggeleng mengabaikannya.  Langkahnya masuk ke dalam kamar, mendapati Azada berdiri di balkon  memunggunginya dengan katana di tangannya. "Gazala terbunuh, kau tahu!" teriak Karen. "Dan kau tahu ulah siapa itu? Kau tahu!?" Karen menutup wajahnya  dan menangis. Tidak lagi tertahankan. Dia tertekan. Dia menderita.  Sungguh. Dia menderita. Tidakkah raja bodoh ini tahu penderitaannya? Azada mendekati Karen  yang mengusap air matanya kasar. Wajahnya memerah dan sisa air mata itu  masih basah di kedua pipinya. Karen menatapnya tak kenal takut walau  tubuhnya bergetar. "Lebih baik kau  membunuhku sekarang. Hentikan kegilaan Selir Parviz," Karen menatap  katana Azada. "Dia benar-benar penyihir! Dia iblis!" "Penyihir?" Karen menatap Azada dengan wajah memerah. "Ya! Sama sepertimu. Kalian berdua ... penyihir!" Mata Azada menyipit  saat Karen menutup bibirnya. Dia menatap Azada dengan pandangan  bersalah kemudian menghela napas. Menyeka sudut matanya kembali. "Kalian  pasangan cocok. Satu sedang belajar ilmu sihir, dan satu lagi ahli  sihir," Karen mendesah dengan isak kecil. "Aku tidak bisa memikirkan  bagaimana keturunan kalian. Anak kalian mungkin iblis berkekuatan  sihir." "Berhenti katakan itu." "Aku berbicara  kenyataan!" Karen lagi-lagi membentaknya. Dia menatap Azada tanpa tahu  derajat pria itu jauh di atasnya. Karen berlutut kemudian, menyesali  perbuatannya. "Aku kacau, Yang Mulia. Maafkan aku. Kematian Gazala ... pikiranku kosong saat ini." Kepala Karen terangkat  saat dia melihat Azada mengulurkan kalung berwarna perak dengan lambang  kipas sebagai hiasannya. Lambang kipas itu berbalut perak yang  mengkilap tertimpa sinar lilin di dalam kamar Azada. Karen mengerutkan  dahinya menatap kalung itu dan dia berdiri. "Apa ini?" "Kalung. Ini milik ibuku." "Apa maksudnya?" "Pakailah," Azada  membuka telapak tangan Karen dan menaruh kalung itu di sana. "Jika kau  memakainya, kau akan aman. Kau bilang aku seorang penyihir, dan kalung  itu akan melindungimu. Dari sihir mana pun," satu seringai timbul di  wajah Azada. " ... kecuali diriku." Karen menatap kalung  itu dalam-dalam. Tidak ada ekspresi apa pun di wajahnya saat mata itu  menatap kalung cantik di genggaman tangannya. Karen menggenggam kalung  itu erat-erat dan hendak melemparnya ke atas ranjang tetapi Azada  mencegahnya. Katana itu menekan lengannya. "Jangan kau coba." Karen menggeser ujung  katana itu ke lehernya. Sedikit menekannya. "Seharusnya di sini, Yang  Mulia," ada senyum putus asa di wajahnya. "Jika kau benar menyukaiku,  kau harus mau mengakhiri penderitaanku dan membayar janjimu padaku." "Membebaskan adikku. Kembalikan dia ke keluargaku. Tidak sulit, bukan?" Karen mengulurkan  tangannya dan menunduk. Menaruh kalung cantik itu di atas meja dan  kembali berdiri. Menggoreskan sedikit ujung katana Azada pada lehernya  hingga darah perlahan-lahan keluar dari luka itu. Membasahi pakaian  tidurnya. "Aku tidak ingin mati di  tangan Selir Parviz," Karen berucap lirih. "Aku rasa, jauh lebih baik  mati di tanganmu. Setidaknya aku mati sebagai tawananmu dan membiarkan  orang lain membenciku karena melakukan kejahatan padamu." Katana itu terlempar  jauh dan Karen mengerutkan dahinya. Belum sempat bicara untuk bertanya  saat Azada menarik tangannya yang bebas mendekat, memutus jarak di  antara mereka berdua. Terlalu rapat. Terlalu dekat. Membuat napas Karen  memberat kala napas pria itu membaur menjadi satu dengannya. Mata Karen meredup  meskipun tidak menutup saat Azada menundukkan wajahnya, mengeliminasi  jarak di antara mereka berdua dengan ciuman panjang. Tidak menuntut dan  terburu-buru. Hanya ciuman seperti ... melepas rindu? Azada manjauhkan  bibirnya. Tidak terlalu jauh karena Karen masih bisa merasakan bekas  ciuman itu di bibirnya. Rasa panas itu masih membakarnya. "Kau tidak tahu betapa  aku ..." Azada tidak lagi melanjutkan ucapannya dan kembali menciumnya.  Kali ini tergesa-gesa dan menuntut. Seolah hanya ciuman itu adalah  harapan hidupnya. Ciuman itu menggantung harapan-harapan yang ada. Karen memejamkan  matanya. Melingkarkan tangannya di leher pria itu dan balas menciumnya.  Membuat dadanya tiba-tiba berdetak tak menentu. Rona kemerahan yang  semula hanya ada di garis pipinya menjalar ke seluruh wajahnya. Membuat  tubuhnya merasa panas dan terbakar. Jangan. Jangan biarkan aku jatuh cinta padanya.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม