Miura Ezra menatap lukisan keluarganya. Lukisan ini dibuat sebelum kematian kedua orang tuanya. Kedua adiknya yang beranjak dewasa dan juga dirinya yang berdiri gagah dan maskulin dengan pakaian bangsawan yang melekat di tubuhnya.
Seulas senyum tipis tercetak di wajah tampannya. Ada pancaran mata lelah dan kerutan samar di dahi dan bawah matanya. Kehilangan kedua adiknya sama saja memukulnya telak. Menamparnya dari dalam dan membuat dadanya terasa sesak tidak menentu. Mimpi malamnya menjadi buruk dan Ezra kehilangan jam tidurnya yang panjang karena memikirkan kedua adiknya.
Helaan napasnya terdengar berat. Matanya jatuh pada sosok Ayyara, adik kecilnya. Terpaut usia yang cukup jauh darinya tidak membuat Ayyara terlihat seperti gadis kebanyakan. Dia adalah gadis yang kuat dan pemberani. Orang tuanya merawat Ayyara sama seperti mereka mengasuh Karen dulu.
Bayi mungil bernama Tashi Ayyara ditemukan ibunya saat pergi ke sungai cadaver. Saat itu ibunya pergi untuk melihat kondisi rakyatnya sebelum malam perayaan seribu lampion diadakan. Dan betapa terkejutnya saat dirinya menemukan keranjang bayi hanyut dan membentur pinggir sungai. Tidak ada suara tangisan karena bayi bermata biru laut itu tertidur pulas.
Sang ibu membawanya ke dalam gendongan. Menimang bayi kecil yang tidak berdosa itu dan memeluknya. Pakaian bayi Ayyara basah karena terkena air sungai. Tetapi tampaknya mimpi indah memeluk bayi itu hingga tidak merasakan apa pun sampai ada dua tangan hangat yang memeluknya.
Di dalam selimut bayi itu tertulis marga sang anak. Tashi. Jelas sekali terlhat marga itu dalam bentuk jahitan kecil berwarna kuning pucat. Miura Livia memeluknya, memerintahkan prajurit untuk melindunginya saat dirinya bergegas pergi ke istana untuk membersihkan noda bayi mungil ini dan mengurusnya dengan baik. Untuk mengurangi infeksi atau bekas-bekas aroma tidak menyenangkan yang melekat pada bayi mungil tidak berdosa ini.
Dan saat itu tiba, saat Tashi Ayyara dibawa ke istana. Marganya berubah. Bayi kecil itu tidak pernah tahu kalau dirinya bukan dari darah yang sama dengan Karen dan Ezra. Biarkan ini menjadi rahasia mereka serta rakyat yang tidak tahu kalau putri panutan mereka bukan berasal dari klan yang sama. Juga Karen yang memilih untuk tidak pernah menceritakan masa lalu Ayyara dan Ezra yang bersumpah menjaga dan mengasihinya sama besarnya dengan adik kandungnya. Tidak akan berpilih kasih dan mengayomi mereka selayaknya keluarga sedarah yang sebenarnya.
Lagi. Napas Ezra memberat saat dia berbalik untuk menjauhi lukisan di ruang keluarga. Di istana ini ruang keluarga adalah satu-satunya tempat untuk melepas penat jika masalah tengah mendominasi kepalanya. Dia bisa bersantai sejenak. Memandangi kenangan yang tertinggal dan melepas bebannya. Walau sebentar, dia bisa mendapatkan kekuatannya kembali. Menatap masalah itu dengan lebih baik.
"Salam, Yang Mulia."
Ezra mengangguk saat Saverin datang menghadap.
"Pangeran Kenzo datang untuk menghadap."
Ezra berjalan cepat menuju ruang pertemuan. Pintu terbuka lebar saat dirinya masuk dan Kenzo segera berdiri memberi salam. "Ezra,"
"Duduklah, Kenzo."
Kenzo duduk tepat di seberang Ezra yang memilih tempat bersebrangan dengannya. Saveri berdiri di sudut ruangan. Diam-diam mengamati.
"Ada pawai yang diselenggarakan di istana dan berkeliling ke beberapa daerah besar," Kenzo membuka percakapan. "Aku melewati perbatasan daerah Maritz Azada dan aku melihat Karen di sana."
Tatapan Ezra menajam saat nama adiknya disebut. "Juga adik kecilmu, Ayyara. Aku tidak bisa mengejar Karen karena dia tiba-tiba menghilang dari barisan. Saat aku melewati perbatasan Matteo Sai, aku melihat Ayyara bersama dayangnya. Seperti yang kau bilang, pawai selalu menarik perhatian mereka." Kenzo berujar dengan senyum.
"Ini waktu yang bagus untuk kita mengambil Ayyara," bisik Kenzo. "Sai sedang pergi berperang karena pemberontak mulai melancarkan aksi anarkis mereka terang-terangan. Dia turun tangan untuk menumpas habis para pemberontak itu. Terhitung sudah dua hari dia pergi. Aku menduga Sai cukup lama di tempat perang. Mungkin sekitar lima sampai enam hari? Kita harus memanfaatkan situasi ini."
Ezra mengangguk. Dia memanggil Saverin untuk mendekat guna membicarakan strategi baru menyelamatkan adik kecilnya.
"Untuk Karen ..."
Kenzo melanjutkan ucapannya dengan mantap. "Aku punya rencana. Saat ini info yang kudapat tentang Miura Karen sangat sedikit. Maritz Azada benar-benar memenjarakan adikmu dengan kekuatannya. Aku tidak bisa menembusnya untuk membawa adikmu kembali secepat itu."
"Kita bisa memikirkan Karen nanti setelah Ayyara kembali," Ezra menjelaskan dalam kondisi tenang. Dia sudah merasa lebih baik dan sedikit hidup kala dia punya rencana untuk menjemput adik kecilnya pulang. "Jika Ayyara ada di rumah dan baik-baik saja. Kita harus mengirimkan surat untuk Karen diam-diam. Karen itu pintar, dia akan memikirkan seribu cara untuk lari dari cengkraman penguasa bengis itu."
Kenzo mengangguk menyetujui ucapan Ezra.
.
.
"Aku pergi ke gudang sebentar. Kau tunggu di sini, oke?"
Ayyara memerintahkan dayangnya untuk tetap berada di pintu. Melempar tatapan tajam pada para prajurit yang mengawasinya diam-diam dari balik topeng besinya, Ayyara meledek mereka. Kebebasan yang Sai berikan padanya akan ia gunakan sebaik mungkin. Gudang adalah tempat terbaik untuk bertemu orang di luar istana. Info sedikit saja bisa dia gunakan untuk meloloskan diri.
Ayyara sedikit berlari menembus rerumputan liar karena belakang istana yang kotor sedikit menyulitkan langkahnya. Dengan cepat ia melihat sekumpulan orang-orang memindahkan gandum dan botolan s**u ke dalam gudang. Senyumnya mengembang ketika dia berhasil mencapai pintu dan orang-orang di sana menatapnya aneh.
"Aku ingin melihat tumpukan gandum di dalam sana," sapa Ayyara dengan senyum malu setelah dia menutup tudung kepalanya. Mereka mengangguk setelah mengetahui kalau wanita di depannya adalah kesayangan raja mereka. Dengan hati-hati mereka menyingkir guna memberi jalan masuk pada Ayyara.
"Saveri?"
Saveri menoleh dengan senyum lega. Surat yang ia sampaikan pada Ayyara sampai di tangannya dengan baik. Berhari-hari dia melakukan tugas ini agar Ayyara bisa menemuinya dan dia bisa menjalankan rencananya membebaskan wanita ini.
"Senang melihatmu, Putri."
Ayyara terkekeh geli. Tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya melihat tangan kanan kakaknya ada di sini. Tepat di depan matanya. "Aku yang senang melihatmu di sini," bisik Ayyara. "Terasa seperti sebentar lagi aku akan melihat surga," ucapnya.
Ayyara mengikuti Saveri setelah memasang tudung kepalanya kembali. Dia sengaja mengikat rambut pirangnya agar panjang rambutnya tidak membuatnya kesulitan mengendap-endap. Dan penata rambutnya adalah seorang gadis muda yang polos. Ayyara bisa memanipulasinya dengan baik.
"Ada karung gandum dan botolan s**u dalam jumlah banyak," Saveri membuka penutup gerobak itu. "Aku sudah menyiapkan tempat untukmu bersembunyi, Putri jika para prajurit ingin melihat barang bawaanku." Saveri menilai situasi di sekitarnya dan mengangguk. Dia menggendong Ayyara yang sudah siap dan memasukkannya ke dalam gerobak. Ayyara menundukkan kepalanya dalam-dalam saat tutup gerobak itu ditutup rapat oleh Saveri.
Mata birunya bisa menangkap ada lubang di dekat karung gandum ketiga. Saveri mengintip dari celah itu dan Ayyara tersenyum. Mengatakan dirinya baik-baik saja dan Saveri segera pergi menuju kuda yang membawa gerobak itu. Mengusapnya dengan lembut dan pergi.
"Aaaaa pencuri gandum!"
Salah satu laki-laki muda berteriak lantang saat dia melihat ada tiga pria mencuri tiga gandum dan berlari cepat menembus barisan yang membawa gandum itu dari gudang. Para prajurit mengejar mereka dengan kecepatan penuh dan Saveri segera memacu kudanya untuk berjalan tenang di tengah kekacauan.
Sebelum dia berhasil membawa gerobak itu menjauh, Saveri tersenyum bangga pada tiga prajurit yang terkapar di atas tanah dan berhasil dia ikat setelah melumpuhkan mereka. Sebagai panglima perang yang hebat, sudah seharusnya Saveri berbangga diri dengan kemampuan bertarungnya. Dipacunya kuda itu dengan cepat. Menjauh dari istana itu sejauh mungkin.
.
.
Karen menatap kalung itu dengan pandangan kosong. Begitu juga dengan Hana dan Nisaka yang melempar pandang karena sejak tadi Karen tidak mengeluarkan satu kata pun untuk memecah keheningan di dalam kamar. Saat ini mereka berada di Istana Merah. Istana di mana para selir memadu kasih dengan sang raja. Karen ada di kamar ini. Karena Azada tidak mengizinkannya kembali ke Istana Bunga.
"Aku tidak mengerti dengan sikap raja satu itu," desah Karen berat. Dia memalingkan wajahnya ke jendela dan menghela napas. "Aku seperti diambang antara hidup dan mati bersamanya. Dasar penyihir gila," geramnya.
"Selir, kau baik-baik saja sekarang. Tetaplah kuat. Aku rasa posisi permaisuri benar-benar ..."
"Tidak, Hana!" Karen menjambak rambut panjangnya sendiri. "Aku tidak ingin menjadi permaisuri di kerajaan ini!"
"Kenapa tidak?" tanya Nisaka.
"Nisaka, tidakkah kau tahu, kalian tahu kalau aku tidak mencintai raja kalian. Aku tidak menyukainya. Aku tidak bisa bersama dengan pria yang tidak kucintai. Aku tidak bisa," Karen menunduk, menyimpan rasa sedihnya sendiri. "Jika aku di istana, Ezra pasti mengerti kalau aku akan menikah dengan seseorang yang kucintai."
Hana melempar tatapannya pada Nisaka yang dibalas anggukan gadis itu. Nisaka mengambil sesuatu dari keranjang buahnya. Karen menatapnya dengan alis terangkat. Nisaka tetap menutup mulutnya rapat-rapat saat dia menaruh buku itu di pangkuan Karen dan tersenyum.
"Ada sesuatu yang harus kau tahu, Karen."
Hanya itu. Karen mengerutkan alisnya. Dia membuka buku itu halaman demi halaman dan Hana membantunya ke halaman yang sudah ia hapal. Karen membaca judul itu dalam diam dan wajahnya memucat seketika. Nisaka memalingkan wajahnya, tidak sanggup menatap mata Karen yang meredup.
"Ini ..."
Hana menggeleng dengan wajah bersalah. Telunjuknya menunjuk sesuatu pada bagian terkecil di buku itu. "Dendam dan sumpah."
Tangan Karen terkepal di atas buku itu. Iris hutannya menatap Hana dan Nisaka bergantian dengan sorot mata dingin yang tiba-tiba. Membuat Nisaka menelan ludahnya gugup dan Hana memilih untuk menundukkan kepalanya.
"Dia akan membunuhku?"
Karen tidak membutuhkan jawaban dari kedua sahabatnya karena dia sendiri sudah mengetahui jawabannya. Dengan kasar, disingkapnya gaunnya dan pergi ke luar kamar dengan Hana dan Nisaka yang mengikutinya setelah Nisaka memasukkan kembali buku itu ke dalam keranjang buahnya.
.
.
Ezra menatap peta di dinding ruangannya dengan mata menajam. Fokusnya saat ini hanya ada pada Saveri dan adiknya. Sudah dua hari ia lakukan pengintaian dan Saveri selalu kembali dengan tangan kosong.
"Kakak?"
Kenzo menoleh bersamaan Ezra yang fokusnya terpecah saat mendengar suara lirih dari ambang pintu ruangannya. Saveri menunduk memberi hormat dan Ayyara tersenyum lebar saat Kenzo mendekatinya dengan usapan hangat di rambutnya.
"Hei, anak manis ini sudah kembali," ucap Kenzo saat Ezra melangkah mendekatinya. Ezra berjalan dan berhenti dua langkah di depan Ayyara. Menilai penampilan sang adik yang tidak terkurang satu apa pun di tubuhnya. Ezra mendekatinya dan Ayyara tersenyum lebar. Dia bahkan memperlihatkan tangannya yang masih bersih dan putih. Tidak terluka sedikit pun.
"Aku baik-baik saja," ucap Ayyara lirih. Bibirnya terus tersenyum tetapi kedua matanya berkaca-kaca saat mendapati ada kerutan yang samar di dahi dan bawah mata sang kakak. Pastinya Ezra merasa tertekan dan putus asa memikirkan cara menyelamatkan dirinya dan Karen yang tertawan di kerajaan lain. Ezra membuka tangannya dan Ayyara berlari masuk ke dalam pelukannya.
Kenzo tersenyum tipis melihat keluarga kecil yang saling melepas rindu itu. Matanya terpaku pada Saveri yang diam-diam ikut tersenyum. Satu lagi, hanya tersisa satu lagi dan keluarga itu akan utuh. Kenzo mendekat, menepuk bahu Saveri dan tersenyum. Memujinya dalam tatapan hangat kalau dia menghargai perjuangan Saveri menyelamatkan Ayyara dari jeratan Matteo Sai dan itu pasti melelahkan untuknya.
"Karen ..." suara Ayyara berubah sedih. "Kau juga akan menyelamatkannya, bukan?"
Ezra mengangguk dengan senyum. "Tentu saja. Aku sudah memikirkan cara bersama Kenzo untuk membawa Karen kembali. Ke rumah dan berkumpul kembali," balas Ezra.
Ayyara mengangguk, tidak bisa menyembunyikan wajah takutnya. "Dia bersama Maritz Azada. Dia ... bukan lawan yang mudah untuk kalian berdua." Ayyara menatap Kenzo yang terdiam, juga Ezra yang memilih untuk tetap menutup mulutnya.
"Dia bisa bertarung dengan tangan kosong,"
Ezra menatap Ayyara.
"Kemampuan pedangnya benar-benar mengerikan,"
Kenzo ikut menatap Ayyara.
"Dia juga tidak punya belas kasihan pada musuhnya," Ayyara mendesah berat. "Aku banyak mendengar dari cerita Raja Matteo. Azada ... bukan tandingan kalian."
"Jika kami bersatu dan mengumpulkan pasukan, kami pasti bisa menghancurkannya, Ayyara," Kenzo bersuara menenangkan Ayyara yang tampak bingung. Kepala Ayyara mengangguk menyetujui ucapan Kenzo.
"Saat aku datang di perayaan bulan purnama. Aku melihatnya. Melihat Maritz Azada pertama kalinya," Ayyara menatap Ezra. "Dan kau tahu apa yang kulihat?"
Ezra menunggu Ayyara melanjutkan ucapannya.
"Cinta."
Kenzo mengerutkan dahinya. Begitu juga dengan Ezra.
"Maritz Azada mencintai Karen."
Kenzo mendengus dengan tawa pelan. "Kau bercanda? Aku ada di sana dan aku melihatnya. Azada ingin membunuh Karen karena dendam dan kau bilang cinta? Tidak ada cinta di dalam kehidupan pria itu, Ayyara. Sadarlah! Saudaramu dalam bahaya."
"Aku berani bersumpah," suara Ayyara mencicit pelan. Merasa ragu dengan balasan yang Kenzo ucapkan. "Aku bersumpah aku melihat tatapan terluka itu."
Ezra menatap Kenzo mencoba berkomunikasi dengan sahabatnya dan gelengan kepala Kenzo membuat pikiran Ezra berkecamuk hebat.