Karen masuk ke dalam perpustakaan. Posisinya jadi naik lebih tinggi walau dia belum diresmikan menjadi permaisuri seutuhnya. Karen mendapati para selir dan dayang menunduk dalam dan memberikan penghormatan. Juga para ahli perpustakaan yang terkejut mendapatinya berdiri pintu masuk.
Karen menjadi topik pembicaraan karena dirinya berhasil menjadi satu-satunya wanita yang bisa memasuki secara bebas Istana Putih yang melegenda di dalam Istana Bunga tentang cerita dan keistimewaannya. Walau Karen sendiri belum pernah masuk ke dalam Istana Putih itu sendiri, mendengar bisikan para selir sudah cukup menjadi bukti untuk dirinya sendiri. Dia hanya perlu membayangkan bagaimana mewahnya Istana Putih itu.
Hana mengikuti Karen di belakang saat wanita itu pergi ke rak di mana asal-usul Kerajaan Maritz ada dijabarkan dalam sebuah buku yang ada di perpustakaan. Karen mengambil salah satu buku yang ada paling atas rak dan berhasil saat Hana mencoba menaiki tangga untuk mengambil buku itu. Karen menyunggingkan senyumnya saat buku itu ada di pelukannya.
Karen menoleh, mendapati sisa kenangan dirinya dengan Gazala yang tertinggal di dalam perpustakaan. Rasa bersalahnya kian memuncak saat dirinya mengetahui kalau Gazala tahu saat kejadian malam itu. Membuatnya harus membayar nyawa karena perbuatannya mengadukan ini ke pihak istana dan membuat Selir Parviz dibenci banyak pihak.
Karen mengusap sudut matanya dan berlari dari perpustakaan itu. Diikuti Hana yang menunduk memberi salam dan mengikuti langkah Karen. Beberapa selir menatapnya dengan pandangan bingung karena menemukan Karen menangis sembari memeluk sebuah buku di dadanya. Tetapi mereka memilih untuk diam dan tidak bertanya. Hidup Selir Miura pastilah sulit karena Selir Parviz terus membuatnya menderita. Diam-diam mereka mengagumi keberanian Selir Miura yang serupa dengan paras ayunya. Didikan orang tuanya pastilah keras hingga membentuk pribadi Selir Miura yang sekarang. Pemberani, tidak kenal takut, tetapi memiliki kehangatan dan kebaikan di setiap tatapan mata dan perbuatannya.
.
.
Karen mengusap sudut matanya walau mayat Gazala sudah dikubur dengan layak dan orang tuanya telah diberitahu. Walau pihak istana berkata pada mereka kalau Gazala tewas karena wabah malaria yang lagi ramai menyerang warga desa.
Nisaka menatap Karen dan bergantian dengan Hana yang membantu mengusap air mata di wajahnya. Hana dengan sabar membantu Karen menangis, membiarkannya mengeluarkan rasa beban di hatinya dan tersenyum ketika kedua iris hutan itu menatapnya berkaca-kaca.
"Gazala, dia wanita yang baik," isaknya. "Kenapa selir licik itu membunuhnya dengan kejam? Memotong tubuhnya dan apa-apaan itu, maksudnya?"
Nisaka mendesah berat. Dia menaruh buku itu di samping kursinya yang kosong. Saat ini mereka ada di taman dapur Nisaka yang sepi. Cuaca tidak terlalu cerah karena musim penghujan masih membayangi langit istana. Karen menatap Nisaka dengan pandangan sedih.
"Selir Parviz sengaja memotong bagian tubuhnya karena jantung dan hatinya akan diambil untuk tumbal manteranya, Karen. Kau harus hati-hati," Nisaka menghela napas. "Aku sudah belajar banyak tentang sihir pemula dari ayahku. Dia tahu benar bagaimana sihir bekerja di istana ini. Jalan satu-satunya agar kau tidak terkena sihir itu adalah ada di dekat raja atau memakai kalung itu."
"Aku tidak bisa!" Karen menggeleng putus asa. "Jika aku memakai kalung itu, Azada akan menganggap aku jatuh cinta padanya. Kalung itu ... terlalu berharga untuknya. Itu kalung ibunya dan aku harus memakainya hanya karena agar terhindar dari sihir itu?"
Hana menatap Karen dengan pandangan lembut. "Kalung itu cantik, selir. Kau memakainya untuk perhiasan juga bukan masalah."
"Kalung itu kental dengan lambang kerajaan ini, Hana. Aku tidak bisa."
Nisaka mendesah. Kemudian dia membuka buku itu di atas pangkuannya. Mulai membaca halaman demi halaman untuk mencari kunci kenapa Maritz begitu dendam pada Miura yang tertuang dalam buku ini.
Setengah jam berlalu dan Nisaka masih diam. Hana tetap menunggu dengan sabar dan Karen memilih untuk melamun sebelum jam sore tiba dan mereka harus berlatih panah dan pedang. Para selir memang tidak diwajibkan belajar panah dan pedang. Hanya berlaku untuk mereka yang ingin menguasai dasar ilmu pedang dan panah.
"Permaisuri Nayyira tewas di tangan Miura Ezra?"
Karen tersentak dari lamunannya. Dia menoleh dengan mata menajam menatap Nisaka yang melirik Karen takut. Karen mengambil buku itu dan Nisaka duduk tepat di sampingnya. Bersama Hana yang ikut menatap halaman dimana Nisaka menunjuk tulisan itu.
Karen menatap tulisan itu dan membacanya dalam hati. Tidak ada yang salah di tulisan itu. Dia melihat dengan jelas bagaimana tulisan itu tertulis di sana.
Ezra membunuh Permaisuri?
"Tapi kenapa?" tanya Karen pada Nisaka yang mengangkat bahunya dan Hana membalas dengan gelengan kepala kecil.
"Aku bersumpah aku bahkan tidak tahu apa pun."
"Orang tuamu?"
Karen mengerutkan dahinya, berpikir keras. "Ayahku tewas karena perang di perbatasan saat pemberontak mencoba menggulingkan kekuasaannya dan ibuku pergi karena penyakit sesak di dadanya juga penyakit kulit karena saat itu dirinya pergi ke pemukiman warga yang sedang ramai karena wabah penyakit kulit parah. Saat ini sudah ada obatnya, kami tidak pernah mengalami sakit kulit itu lagi. Dan warga juga mendapat kesehatan dari tabib istana jika mereka sakit."
Hana menatap Nisaka yang memeluk bahu lemah Karen.
"Sungguh, aku bahkan tidak tahu apa pun," bisiknya pilu.
.
.
SLAAAASH
Karen mengangkat kepalanya saat dia berhasil menunduk menghindari anak panah Selir Parviz yang mengarah padanya. Karen menatap kedua mata yang berkilat penuh benci padanya dengan tatapan bosan dan mengambil anak panah itu. Mematahkannya.
"Terlalu banyak melamun, Selir Miura yang terhormat. Kau tidak tahu kalau bahaya mengintai di sekitarmu," ucap Selir Parviz sinis.
Karen tersenyum miring menanggapi setelah dia melempar anak panah yang terbelah menjadi dua itu ke atas tanah. "Dan bahaya itu dari dirimu, Selir Parviz. Aku merasa tidak ada bahaya lain yang ada di sekitarku selain itu tercipta dari dirimu dan ambisimu."
Selir Parviz menggeram menahan marah karena Karen melemparkan tatapan puas padanya. Karen berjalan memutari lapangan yang penuh dengan selir yang belajar ilmu pedang dan memanah. Karen baru mengetahui satu fakta kalau Selir Parviz bisa memanah dengan baik. Dia mungkin tidak sepenuhnya bisa mengendalikan busurnya, tetapi untuk lawan seorang pemula, Selir Parviz jelas keluar menjadi juara.
"Kau melawan diriku yang jelas-jelas tidak menguasai pedang dan panah," Karen menggelengkan kepalanya dengan sinis. "Kau ingin aku melempar tumbuhan racun padamu, begitu?" Karen menggeram marah. Tiba-tiba dia ingin melampiaskannya pada wanita berhati iblis di depannya. "Jangan memancingku, Selir Parviz ... sebentar, siapa namamu, Cheara?"
Cheara menggeram sekali lagi dalam suaranya.
"Kalau kau terus menggeram seperti itu, akan ada dua tanduk yang muncul di atas kepalamu," Karen menoleh dan melihat para selir tertawa mendengar ucapannya. Karen ikut tertawa bersama mereka. "Lihat, kau marah? Mereka juga menertawankanmu. Tapi terlihat jelas sekali kau hanya benci padaku."
"Kau!"
"Bencimu tidak beralasan, Cheara," balas Karen dingin. "Kau lebih dulu menduduki posisi tertinggi sebagai kesayangan raja dan mengapa kau tidak bisa memenangkan hatinya untuk menduduki posisi permaisuri? Kau perlu berkaca. Melihat adakah sesuatu yang salah dengan dirimu sendiri dan tidak perlu melampiaskannya pada orang lain!" Karen berteriak marah.
"Kematian Gazala ... pembunuhan berencana yang kau tunjukkan padaku ... tidakkah semua menjelaskan bagaimana sifatmu itu? Kau menyalahkan orang lain karena kekalahanmu!"
Cheara menegakkan busurnya. Bersiap melayangkan satu anak panah lagi ke arah Karen. Para selir yang melihatnya menahan napas. Begitu juga dengan para dayang yang ikut berdebar melihat kejadian itu. Apakah Selir Parviz benar-benar akan melukai Selir Miura lagi?
"Kau membuat reputasiku buruk disini, Karen. Kau harus menerima balasannya!" ucap Cheara tak mau kalah.
"Silakan. Lakukan apa pun yang kau mau padaku, pengecut," umpat Karen. "Jika benar kali ini kau bisa melukaiku, kau akan tahu apa yang kuperbuat untuk membalas rasa sakit hatiku."
Cheara tertawa. Busurnya turun dari tangannya. Suara tawa itu entah mengapa terdengar seram dan mengerikan.
"Kau bisa apa, heh?"
"Aku bersumpah akan melihat kepalamu terpenggal dari tubuhmu. Tepat di depan mataku."
Tawa Cheara lenyap seketika. Para selir yang mendengar itu menatap Karen takjub. Wajah Karen berubah dingin dan berbeda seratus delapan puluh derajat dari wajah ramahnya. Mereka memandang wajah Selir Parviz yang pelan-pelan memucat.
Sampai anak panah itu melesat cepat dan Hana berlari menuju Karen yang diam bagai arca di tempatnya. Nisaka yang ikut melihatnya hanya bisa diam, tidak bisa berbuat apa-apa karena anak panah itu langsung mendarat di atas tanah karena tepisan pedang milik seseorang.
"Zidan?"
Nisaka tersenyum melihat Zidan yang datang lebih cepat setelah dia mengadukannya pada Jenderal Kelas Satu itu tentang Karen yang dalam bahaya. Nisaka berlalu pergi dari sana, menuju dapurnya dan Hana menggenggam tangan Karen. Membuat kepala Karen menoleh, memberikan senyum manisnya pada Hana.
"Tidak lagi, Cheara," desis Zidan tajam.
Karen memandang punggung Zidan yang berbalut pakaian hitam khas bangsawan dengan senyum. "Terima kasih, Jenderal." Karen berbisik rendah dan Zidan hanya mengangguk sebagai balasan. Karen menggandeng tangan Hana pergi dari sana. Sebelum dia benar-benar pergi, Karen mengambil batu cukup besar dari kaki Hana dan melemparnya pada Selir Parviz. Menjulurkan lidahnya seraya tersenyum puas penuh kemenangan dan berlari dengan Hana di genggaman tangannya yang tengah menahan senyum.
.
.
Karen lagi-lagi menatap kedua prajurit bertopeng itu dengan alis terangkat dan hidung berkerut lucu. Dia bingung, mengapa prajurit itu dengan mudahnya membukakan pintu untuknya padahal dia belum mengetuk pintunya?
"Raja yang menyuruh kalian membukakan pintu secara sukarela jika aku yang datang?" tanya Karen dalam bisikan.
Dua kepala itu mengangguk dan Karen sudah mendapatkan jawabannya. Karen masuk ke dalam kamar, mendapati Azada duduk di atas karpet sutra tebal dengan tangan yang terluka parah. Telapak tangan pria itu berdarah dan sikunya tergores benda tajam terlalu dalam. Hanya berbalut pakaian untuk menghentikan aliran darahnya.
"Kau?" Karen berlari mendekati Azada dan pria itu mengangkat kepalanya, menatap Karen. "Kau bisa terluka?"
Azada mendengus seraya merintih merasakan nyeri karena racun itu sepertinya cukup membuat lukanya berdenyut. Azada harus turun tangan langsung menumpas para pemberontak yang ingin mengganggu ketenangan rakyatnya. Dia memutuskan untuk pergi ke medan perang setelah menyuruh Zidan mundur dan kembali ke istana.
"Aku panggil tabib," Karen kembali berbalik dan keluar kamar saat dia mendapati langkahnya berlari menuju ruang tabib yang selalu ada kapan pun ketika raja membutuhkan. Karen mendapati tabib itu tersenyum setelah mengambilkan daun yang selesai ditumbuk dan ditaruh dalam wadah kecil dalam keranjang mungil.
Alis Karen terangkat. "Cepat obati dirinya," Karen mendesak tabib itu dan kepalanya menggeleng. "Raja memerintahku untuk dirimu, selir, yang secara langsung mengobati lukanya. Raja bilang padaku, kau ahli dalam meracik obat dan mengobati luka pedang. Ini bisa membantumu," ucapnya dengan senyum.
Karen menatap tabib itu dengan mata melebar dan mulut terbuka. Dia menggelengkan kepalanya setelah mengucapkan terima kasih dan kembali berlari ke kamar Azada.
"Kemarikan tanganmu," ketusnya.
Azada mengangkat alisnya. Menepis tangan Karen dari tangannya. "Jangan sentuh aku."
Karen menggeram dalam suaranya. Tatapan matanya tajam. "Kau ingin mati?" Hilang sudah rasa hormat Karen pada pria menyebalkan di depannya. Dia menatap Azada jengkel. "Kita tidak tahu kalau itu racun dan bisa membunuhmu!"
"Aku kebal terhadap racun," jawabnya tenang. Azada melepaskan ikatan kain itu di tangannya dan Karen meringis melihat luka sayatan itu semakin lebar.
"Aku berbaik hati ingin mengobatimu dan begini jawabanmu?" Karen berdecak marah. Dia memaksa Azada melepas ikatan kain itu dan mulai mengolesi lukanya dengan kain bersih yang sudah diberi obat-obatan untuk menghentikan pendarahan.
Azada melihat saat Karen mengikat kain putih bersih untuk lukanya. Mengikatnya dengan kencang agar daun itu meresap pada lukanya. Menghentikan racunnya semakin jauh menyebar dan membiarkan darahnya membeku.
"Penyihir tidak akan mati, bukan?" Karen menghela napas panjang. Menatap Azada yang juga menatapnya. "Kau tahu itu dan mengapa kau mengobatiku?"
"Aku tidak bisa melihat orang lain terluka," jawab Karen tenang. Dia membereskan wadah tumbukan daun itu. Menjadikannya satu di dalam keranjang. "Berlaku bagi siapa pun."
"Termasuk aku?"
Mata Karen menyipit dan kemudian dia mengangguk. "Ya."
Seulas senyum miring menghiasi wajah tampannya. Azada sangat lelah hari ini. Tapi melihat Karen ada di kamarnya dan siap berdebat padanya, membuat rasa lelahnya hilang.
"Apa itu berarti kau menyukaiku?"
Karen mengernyit. "Tidak."
"Jangan bohong, Karen. Aku bisa melihatnya dari tatapanmu," Azada menyentuh pipi kanan Karen dan menepuknya sedikit keras. Membuat Karen mendesis dan mengusap pipi kanannya. "Kau pembohong yang buruk."
"Pulangkan aku."
Tatapan Azada menajam tiba-tiba.
"Aku rindu keluargaku. Bisakah kau mengabulkan permintaanku?"
Azada diam. Ekspresinya yang sempat hangat berubah dingin dan datar. Kepala pria itu menggeleng.
"Kenapa, Yang Mulia?" Karen tertawa rendah. Merasa miris dengan dirinya sendiri. "Kau takut jika aku tidak akan kembali?"
Azada menumpu dagunya di atas meja. "Kau tahu benar."
Karen tersenyum menatap lilin di kamar Azada yang menyala indah. "Aku memang tidak akan kembali," kembali tatapannya jatuh pada kedua oniks segelap malam itu. "Ini bukan tempatku. Bukan ini rumahku."
"Apa Selir Parviz menyakitimu?"
Karen mendesah. "Dia selalu menyakitiku dan kau, atas nama klan Parviz yang terhormat secara tidak langsung melindunginya. Aku tahu kau tidak akan bisa membunuhnya," senyum pedih Karen tercetak di wajahnya yang mulai meredup. "Bahkan demi aku, kau tidak akan mau melakukannya."
"Aku melihat bagaimana rasa cinta Jenderal Parviz pada Nisaka, sahabatku. Membuatku iri terkadang," Karen menunduk. "Nisaka selalu aman karena Zidan akan ada untuk melindunginya. Zidan ... aku tahu benar bagaimana perasaan Jenderal itu padanya hanya melalui tatapan matanya saja."
Dia tersenyum pada Azada. "Dan aku tidak melihat itu di matamu, Yang Mulia."
Mata Karen berkaca-kaca ketika oniks itu terlalu dalam menatapnya. Azada yang diam dan dingin membuatnya takut. Membuat tubuhnya bergetar karena Karen tidak memiliki pegangan lain selain tekad kuatnya dan dirinya sendiri.
"Seberapa banyak kau bilang kau memujaku saat pertemuan pertama kita yang tidak kuketahui, sejak aku datang kemari dan berhasil membuatmu kacau. Seberapa keras kau mencoba meyakinkanku kau menyukaiku ..." kepala Karen menggeleng dan kedua matanya semakin buram. Terlalu pekat. " ... aku tidak pernah melihatnya. Semua kosong. Matamu menatapku benci, menatapku seperti sampah dan aku membenci diriku sendiri karena membuatmu kesulitan."
Karen berdiri di hadapan Azada yang menatapnya kosong. "Jika kau tidak mau mengembalikan diriku secara utuh pada keluargaku," suaranya tercekat. "Tidak apa jika kau memulangkanku walau jiwaku tidak lagi ada di tubuhku. Hanya tinggal raga yang mati. Mereka bisa menerimanya."
"Kau ... tidak tahu."
Karen menatap Azada dalam-dalam. "Kau menghukumku dengan cara yang tidak kuketahui dan aku menderita karena itu. Aku menawarkan diri untuk mati di tanganmu. Agar semua selesai, Yang Mulia." Karen menunduk memberi salam dan penghormatan lalu pergi dari kamar Azada dengan keranjang di pelukannya. Karen berlari menyusuri koridor yang sepi sembari mengusap kedua matanya yang terus basah.
.
.
Sosok itu menatap balkon kamar sang raja dengan pandangan dingin. Sosok yang berlindung di balik pohon besar di hutan masuk ke dalam istana cukup menjadi kamuflase untuknya bersembunyi dari para prajurit yang berjaga di sekitar istana raja.
Pria itu tersenyum lebar. Dadanya bergemuruh hebat kala mendapati lilin di sana mulai meredup dan kegelapan total mendominasi kamar itu. Kepalanya tertunduk, masih dengan senyum yang sama dan letupan di d**a yang semakin berkobar bagai api yang membakar kayu.
"Sebentar lagi ... sebentar lagi ..."