18

1069 คำ
Karen menatap punggung kecil Hana yang menuntunnya untuk pergi ke suatu tempat yang tidak Karen ketahui. Karen terlalu malas untuk berbicara hari ini. Semalam ia habiskan untuk menangis dan menangis sampai dia jatuh tertidur dan Hana membantunya meredakan sakit di kepalanya dan kedua bengkak di matanya. "Hana," panggil Karen. Hana tersenyum misterius. Membuat Karen mengerutkan alisnya. "Kau mengajakku ke suatu tempat?" Hana mengangguk setelah melepas genggaman tangannya dengan Karen. "Bertemu Nisaka." Dahi Karen berkerut tajam. "Nisaka, dia ada di dapur, bukan? Kenapa mengajakku pergi ke kandang kuda?" Hana memasangkan tudung pada Karen. Membuat Karen menatap Hana dengan pandangan tanya. "Kita akan pergi ke pasar?" Hana mengangkat bahunya dengan senyum. Karen melangkah masuk ke dalam kandang dan mendapati Nisaka ada di sana dengan senyumnya. Nisaka memeluk Karen diikuti Hana yang tiba-tiba memeluk Karen di belakangnya. "Ada apa ini?" tanyanya bingung saat dia melingkarkan kedua tangannya memeluk kedua sahabatnya. Karen sama sekali tidak memperlakukan Hana seperti dayang. Dia memperlakukannya seperti seorang teman. "Semoga kebahagiaan datang padamu, Karen." Nisaka berlalu pergi setelah Hana memeluknya lama. Hana mengusap sudut matanya dan mengejar Nisaka yang berlalu pergi dari kandang. Membuat Karen mengerutkan dahinya, merasa bingung. "Kejutan, bukan?" Karen menoleh. Mendapati Kenzo bersembunyi di kegelapan dengan senyum lebar dan dia memeluk Karen yang masih terkejut dengan kehadirannya. Karen menerima pelukan itu, tersenyum pada Kenzo. "Ahh, aku tahu," katanya pelan. "Kau bekerjasama dengan Nisaka?" Kenzo mengangguk. "Akan kuceritakan jika kita sampai di istana, Karen," ucapnya. Kenzo mengacak rambut Karen yang sudah tertata rapi dan membuat Karen tertawa pelan. "Ayyara ... dia ada di rumah. Ezra berhasil menyelamatkannya." Mata Karen sukses melebar. Dia menutup mulutnya tak percaya dan kemudian menjerit kecil. Merasa bahagia. "Benarkah? Syukurlah. Astaga, ayo kita kembali." Karen menarik tangan Kenzo yang terkekeh melihat tingkah spontannya. Dengan cepat, Kenzo menarik salah satu kuda di sana keluar kandangnya dan membantu Karen mengeluarkan kuda dari kandang yang lain. "Maafkan aku, Selir Miura karena mengganggu kalian yang sedang berbahagia." Tubuh Karen membeku mendengar suara berat itu. Dia menatap Kenzo yang melempar tatapan tajamnya dan Karen dengan cepat melompat ke arah Kenzo. Melindungi pria itu dengan tubuhnya. "Jenderal," sapa Karen. "Salam, Selir Miura," Zidan tersenyum pada Karen. Dia menurunkan salah satu pedang milik anak buahnya yang terarah pada Kenzo. Dengan senyum yang masih ada di bibirnya, Zidan menarik tangan Karen agar menjauh dari Kenzo dan Karen bersikeras menepis tangan itu. "Raja menunggu kalian untuk menghadap." . . Karen menatap Hana dan Nisaka yang berdiri di pinggir dengan kepala tertunduk. Begitu juga dengan Kenzo yang kedua tangannya terikat di belakang punggungnya. Zidan menjaganya dari jarak yang cukup dan Azada masih duduk di sana, di kursi kebesarannya bersama para dewan yang melotot melihat pemberontakan Karen. "Lagi?" Azada melemparkan tatapannya pada Karen. Dan dibalas wanita itu tak kalah tajamnya. "Ini yang kesekian kalinya Selir Miura berbuat kesalahan!" salah satu dewan membentaknya. Karen menatap dewan itu dengan tatapan dinginnya, tetapi rupanya pria tua itu tidak gentar dengan tatapannya. "Dia dan Selir Parviz sama-sama busuk!" Karen menahan marah. Dia maju melindungi Kenzo dan melempar tatapan bencinya pada anggota dewan yang mengumpat padanya. "Diam kalian! Jangan samakan aku dengan iblis itu!" balasnya tajam. Karen memutar badannya. Melindungi Kenzo dengan tubuhnya dan menghadap Azada. "Lepaskan Kenzo, Yang Mulia, dia tidak bersalah," ucap Karen. "Membelanya?" Mata Karen menyipit. "Dia tidak bersalah!" bentaknya. Hana dan Nisaka mengangkat kepalanya. Nisaka melempar tatapan marahnya pada Zidan yang juga menatapnya tanpa arti. Merasa terkhianati karena pria itu diam-diam mengikutinya saat membantu Karen melarikan diri. "Sudahlah, Maritz," Kenzo mendesis sinis. "Tidak ada gunanya kau menahanku di sini." "Kurasa semua jelas," Azada berdiri dari kursinya. Menatap Kenzo datar. "Awal pemberontakan dan kekacauan itu berasal dari dirimu, Kenzo." Kenzo tersenyum puas. "Tentu saja. Dan aku merasa senang karena bisa melukaimu walau sedikit saja," ujarnya. Membuat Karen menatap Kenzo dan kembali pada wajah Azada yang mengeras. Azada mengambil katana dari tempatnya tertancap. Membuat Karen menahan napasnya. Begitu juga dengan Zidan dan para dewan lainnya yang ada di tempat. Dengan cepat Karen semakin merapat pada Kenzo, melindungi pria itu. "Menjauh dari sana." Karen menggeleng. Melawan Azada. "Tidak." "Kau juga ingin aku memenggal kepalamu?" Karen tersenyum. "Itu yang kutunggu, Yang Mulia." Kenzo menatap Karen. Dia memberontak dari ikatan tangannya. "Karen, apa yang kaulakukan? Jangan macam-macam!" bentaknya. "Dia bisa melukaimu!" Kenzo memberontak keras. "Dia akan membunuhmu!" Hana menggeleng dan menunduk. Begitu juga Nisaka yang memberanikan diri menatap depan melihat Karen. "Aku tahu," bisik Karen pelan. Membuat tubuh Kenzo menegang. "Maafkan aku karena memutus tali takdir kalian," Azada memutar katananya di atas lantai. "Kenzo, dia adalah calon suamimu, bukan?" tanya Azada menatap Karen. "Itu sama sekali bukan urusanmu." Azada tersenyum samar. "Secara tidak langsung kau membenarkan pertanyaanku." "Hentikan, Maritz! Lepaskan Karen!" Azada mengarahkan katananya pada Kenzo dan Karen melangkah mendekati katana itu. Menepis ujung katana itu menyingkir dari leher Kenzo dengan kasar. "Sedikit saja katana itu melukainya ..." Karen menatap Azada dengan marah. " ... yang kau dapati kematianku." Nisaka menutup mulutnya tak percaya. Begitu juga dengan Hana yang menahan napas saat mendengar ancaman Karen. Azada menurunkan katananya. Menatap Karen dingin. "Apa yang kau mau?" "Lepaskan Kenzo." Alis Azada terangkat. "Dan apa timbal balik untukku jika aku melepasnya?" Karen menelan ludahnya kasar. Dia berbalik menatap Kenzo yang menatapnya sendu. Karen mengusap pipi pria itu dan tersenyum lembut. "Sampaikan salamku pada Ezra dan Ayyara. Katakan pada mereka aku menyayangi mereka." "Tidak, Karen!" Kenzo membentak dengan marah. Dia memberontak sekali lagi hingga hampir membuat ikatan itu terlepas. Zidan segera bertindak dengan menggenggam tali itu di tangannya. Menahannya dengan kekuatannya. Karen memutar tubuhnya. Menatap Azada yang menunggu jawabannya. "Aku akan tetap di sini." "Kau mau berjanji?" Karen menunduk. Menyembunyikan kedua matanya yang berkaca-kaca. "Ya, Yang Mulia." Azada menatap Zidan, memberi isyarat pada sang jenderal untuk membawa sosok Kenzo menjauh. Kenzo memberontak. Berteriak dengan umpatan dan makian untuk Azada dan bersumpah dia akan kembali dengan kematian Azada di tangannya. Pintu ruangan tertutup sempurna. Azada meminta para dewan pergi dan mereka dengan patuh meninggalkannya. Bersama Hana dan Nisaka yang berat langkah ikut meninggalkan Karen di dalam. Ruangan senyap seketika. Membuat Karen semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Hanya ada dirinya dan Azada di dalam ruangan. Karen mendengar bunyi katana yang bergesek dengan lantai yang dingin. Matanya terpejam saat dia mencoba mengangkat kepalanya dan Azada menatapnya dengan kedua bola mata semerah darah. Membuat jantungnya serasa berhenti berdetak. "Kau tahu benar apa yang kuinginkan," Karen menatap Azada kosong. Seperti tanpa jiwa. "Kematianku. Kematian Ezra dan adikku." Senyum itu tiba-tiba ada. Membuat mata merah Azada memudar berganti oniks sepekat malam yang kini menatap Karen berdiri bagai mayat hidup dengan senyum kosong di wajahnya. "Jika kematianku membuatmu bisa menghentikan dendammu. Lakukanlah," Azada terdiam. "Permaisuri. Istana Putih. Darah. Kematian. Miura Ezra," Karen tersenyum. "Aku tahu benar apa yang ada di dalam kepalamu, Azada." Dan ketika katana itu terlempar Karen merasakan dunianya menggelap dan tidak ada cahaya yang bisa menariknya pergi dari pusaran yang semakin lama menelannya jauh, jauh dan jauh hingga semuanya kosong.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม