19

1074 คำ
Ezra menatap Ayyara yang masih tertidur pulas di kamarnya. Dia sengaja menyuruh para dayang untuk tidak membuka tirai kamar Ayyara selama beberapa hari ini. Terlihat jelas bagaimana adiknya menikmati jam tidurnya dan Ezra sama sekali tidak mau mengusik ketenangan itu sama sekali. Dia hanya bisa memaklumi Ayyara yang terkadang bangun lebih siang dan setelah itu bermain-main dengan para dayang. Dia bahagia. Salah satu beban di pundaknya telah berkurang. Hanya memikirkan Karen sedikit membuat kepalanya sakit. Walau Ayyara sudah mengatakan padanya untuk jangan terlalu memforsir tenaganya, tetap saja, ada salah satu anggota yang tidak lengkap membuat hatinya tidak tenang. Pikirannya terlempar ke masa bertahun-tahun yang lalu. Saat bayi Ayyara ada di tangan sang ibu dan bagaimana ibunya merawat Ayyara sama besarnya ketika dia merawat dirinya dan Karen. Tidak ada perbedaan di antara mereka. Semua rata. Kasih sayang yang tercurah rata. Ayyara tidak menyadari banyak hal mengapa dia begitu berbeda dengan Karen. Tetapi rupanya didikan orang tuanya bertahun-tahun cukup membuat Ayyara terlihat sama dengan Karen dari segi pakaian mau pun sifat. Sang ayah akhirnya memutuskan untuk mencari tahu kenapa bayi cantik ini dibuang orang tuanya. Ayyara masih berusia satu bulan saat dirinya hanyut di sungai. Memutuskan tangan kanan terbaiknya bersama mata-mata hebatnya, Miura Takis mendapati satu info bahwa kerajaan kecil bernama Tashi sudah hancur. Rata dengan tanah. Tidak ada satu pun yang tersisa. Baik prajurit maupun generasi penerus kerajaan kecil itu. Ezra tahu dari sang ayah kalau salah satu adik dari ayah kandung Ayyara memberontak dengan melancarkan kudeta besar-besaran. Di mulai dari pembantaian para dewan dan berlanjut pada orang dewasa yang memiliki kedudukan penting di dalam istana. Ditambah para pemberontak yang menginginkan kekuasaan ayah Ayyara digulingkan paksa membuat kerajaan itu terdesak tanpa persiapan matang. Banyak nyawa melayang sia-sia karena tingkah brutal adiknya. Maka dari itu ibu kandung Ayyara memutuskan membawa putri kecilnya ke sungai. Menyiapkan selimut dan pakaian tebal agar bayinya tetap merasa hangat. Memang keputusan yang berat mengingat Ayyara satu-satunya berkelamin perempuan di antara kedua kakak laki-lakinya yang masih remaja. Sayang, mereka semua tewas dibunuh pamannya sendiri saat tidur. Memikirkannya saja membuat Ezra sedih. Jika Ayyara tahu semuanya, gadis itu pasti sedih. Tidak ada yang bisa dia kenang selain kasih sayang ibu dan ayahnya yang besar. Berharap kelak putrinya hidup dan bisa menikmati dunia ini lebih lama lagi. Ezra menggenggam tangan Ayyara saat gadis itu masih tidur. Ayyara menggeliat di dalam tidurnya. Sama sekali tidak terusik saat Ezra mengusap rambut pirang panjangnya yang menjuntai indah di atas bantal. Ketukan di kamar Ayyara membuat Ezra menoleh. Dia melepas genggaman tangannya dan menaikkan selimut Ayyara sampai ke dadanya. Membiarkan adik kecilnya terlelap dalam mimpi indahnya untuk sementara. Ezra bangkit berdiri, matanya bertemu mata Saveri yang langsung memberi hormat saat dirinya keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan. "Salam, Yang Mulia." Saveri sedikit mengangguk memberi salam. Ezra menepuk bahunya lalu mengangguk kecil. Membuat Saveri mendongak menatapnya dalam. "Ini tentang Pangeran Kenzo," Ah. Mata Ezra berubah waspada saat nama sahabatnya disebut. Ini sudah hari ketiga semenjak pengintaian Kenzo ke kerajaan Maritz dan pria itu belum memberikan info apa pun padanya. Kenzo memutuskan untuk turun tangan langsung menyelamatkan Karen dan mempercayakan keselamatan serta perlindungan wanita itu padanya dibanding orang lain. Ezra menyanggupinya. Karen akan aman bersama Kenzo, menurutnya. "Apa yang terjadi?" ada nada gusar di dalam suara Ezra. "Dia tertangkap." Ezra memejamkan matanya. Dadanya berdetak cepat tak karuan kala menerima info yang delapan puluh persen ia yakini kebenarannya. Yahko masih belum ada kabar apa pun dan sepertinya pria itu tidak akan kembali sampai Karen benar-benar ada di tangannya. Ezra menyandarkan tubuhnya ke dinding, merasakan denyut di kepalanya juga rasa bersalah di dadanya karena mengorbankan Kenzo demi kepentingannya. "Apa dia mati?" tanya Ezra. Saveri menggeleng. "Mata-mata yang kukirimkan belum menerima info apa pun. Aku berdoa semoga saja itu tidak terjadi," Saveri menatap Ezra yang kini memasang wajah marahnya. Dia memang belum mendapat info apa pun tentang Kenzo di dalam istana Maritz. Bisa saja jasadnya sudah dimakan burung pemakan bangkai atau bisa saja ... Saveri tidak mau memikirkan kelanjutannya. Dia berharap Kenzo bisa pergi dari sana menyelamatkan dirinya. Kenzo adalah pangeran cerdas dan terlatih. Dia pasti bisa lepas dari genggaman sang penguasa bengis. Ya, pasti. . . Tell me, Atlas. What is heavier? 'The world or its people's hearts?' . . Karen dikembalikan ke Istana Bunga. Sudah tiga hari berlalu dan Karen berharap Kenzo bisa kembali ke istananya dengan selamat. Tanpa terluka dan tanpa terkurang satu anggota tubuhnya. Azada pasti menepati janjinya untuk tidak melukai pria itu karena mencoba masuk ke dalam istananya dan membawa pergi dirinya. Helaan napas ke sekian kalinya meluncur bebas dari Karen. Dia menatap lurus-lurus ke kamar sang raja yang kini sepi. Seseorang yang memiliki kamar itu sedang pergi ke perbatasan untuk berperang. Karen tidak tahu apa yang membuat Azada turun tangan ke medan perang di saat Zidan bisa mengatasinya sendiri. Dan ini? Dia pergi bersama Jenderal kepercayaannya. Pastilah perang itu menyulitkannya. Ingatan Karen melayang ke kejadian tiga hari lalu saat dirinya dan Kenzo tertangkap basah mencoba melarikan diri dari istana dengan bantuan Nisaka dan Hana. Kenzo sudah berada di istana ini berhari-hari untuk mencari celah bagaimana Karen bisa pergi dengan aman. Dan satu-satunya jalan adalah dengan bekerjasama. Nisaka dan Hana membantunya secara sukarela walau hukuman penggal sudah pasti menanti mereka yang berkhianat. Karen memukul kepalanya. Tidak berpikir sejauh sana. Dia bisa saja mengorbankan kedua nyawa sahabatnya pada raja sialan itu. Memikirkannya membuat hatinya sakit. Nisaka dan Hana terlalu baik. Mereka tidak tahu apa pun dan berusaha membantu Karen keluar dari penderitannya. Nyawa mereka terlalu berharga untuk mati di tangan sang penguasa. Karen tidak sadarkan diri saat katana itu terlempar dan merobek bahunya. Sedikit nyeri karena setelah itu dunianya menggelap. Dia tidak tahu apa yang dilakukan penyihir itu padanya. Tidak perlu bermain kasar, Karen tahu dia harus tetap tinggal guna menepati janjinya. "Bagaimana bisa ..." desahnya berat. Karen menunduk, memegang besi balkon kamarnya dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Dia sudah berjanji untuk tetap di sini. Orang tuanya selalu mendidik Karen untuk tidak melanggar janjinya sekecil apa pun itu. Dan disinilah dirinya, terjebak janji dan sumpahnya sendiri untuk tetap tinggal tanpa tahu bagaimana masa depan dan perasaannya. "Jika saja aku bisa menyihir raja sialan itu," umpat Karen gemas. Dia berbalik dan keluar kamarnya. Karen terkejut saat dia mendapati dua prajurit yang berjaga di depan pintu kamar Azada kini berpindah di depan kamarnya. Mereka memalingkan wajahnya saat Karen menatapnya lekat-lekat seolah ingin memakannya. "Kenapa kalian di sini?" "Perintah Raja, Selir Miura." Karen tersenyum merutuki kebodohannya. "Ah, raja menyebalkan satu itu," mata Karen menyipit saat dia bertemu Hana berlari menuju lorong Istana Bunga di sebelah barat. Dia segera bergegas mengangkat gaunnya dan mengikuti langkah Hana. Tidak memedulikan raut wajah cemas dari kedua prajurit itu saat menatap Karen yang kesulitan berlari dengan gaunnya.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม