20

3148 คำ
"Hana!" "Hana!" Karen berteriak memanggil temannya. Hana tidak mendengar suara teriakannya. Gadis itu terus berlari sampai dia berhenti di depan kamar Nisaka. Karen mempercepat langkahnya, dia ikut berdiri di depan kamar Nisaka, membuat Nisaka terkejut saat dia membuka pintunya dan menemukan Karen tersengal. Bernapas pendek karena berlari dan wajahnya memerah. "Astaga, selir!" Hana menoleh dengan wajah kaget. Dia menunduk memberi salam dan membawa Karen masuk ke dalam kamar Nisaka. Nisaka melihat ke kanan dan kiri, menemukan tidak ada apa pun yang mengikuti kedua temannya, dia menutup pintu dan menguncinya rapat. Nisaka memberikan Karen segelas air putih dari guci di kamarnya. Karen menerimanya dengan senyum menyesal dan meminum air putih itu sampai habis. Menaruh gelas di atas meja dan mata hijaunya melayang menatap Nisaka dan Hana bergantian. "Kenapa kau terburu-buru?" tanyanya selidik pada Hana. "Ada kekacauan di pemukiman warga, Karen," jawab Nisaka saat dia menerima keranjang besar yang dibawa Hana. Karen mengintip keranjang itu. Isinya daun-daunan dan akar pohon yang tumbuh di sekitar istana. Dia tahu kegunaan daun itu dan akarnya. "Tumbuhan untuk membuat obat?" Karen mengerutkan dahinya. "Apa para penduduk terserang penyakit?" Nisaka mengangguk pada Karen. Wajahnya berubah cemas. "Sakit kulit yang parah. Berawal dari rasa gatal, lalu kulit itu akan memerah dan mengelupas. Melepuh seperti terbakar. Beberapa dari mereka ada yang bernanah lalu mengeluarkan bau busuk dan setelah itu berdarah. Sangat mengerikan," ucap Nisaka. Karen menutup mulutnya. Dia menatap Nisaka. "Kalian tahu penyebabnya?" Nisaka menggeleng. Karen menatap Hana dan gadis itu ikut menggelengkan kepalanya. "Benar-benar," Karen berdiri dari tempatnya. Dia menatap Hana dengan senyum. "Bantu aku carikan pakaian yang pantas untuk berbaur bersama warga di desa. Ambilkan jubahku di dalam kamar. Aku akan pergi untuk mencari tumbuhan obat di belakang Istana Putih." Nisaka ikut berdiri, dia menatap Karen takut-takut. "Apa raja membolehkan ini?" Karen tersenyum hangat. Menepuk bahu Nisaka, bermaksud menenangkan gadis itu. "Tenang saja. Dia tidak ada saat ini. Jika berita ini sampai ke telinganya, aku rasa dia juga memikirkan kondisi rakyatnya. Dia sedang berperang, kita tidak boleh memecah konsentrasinya melawan musuh." Karen pergi ke luar ruangan Nisaka bersama Hana di belakangnya. Nisaka segera mengangguk dan mengganti pakaiannya. Tidak lupa membawa jubah dan dua keranjang besar berisi tumbuhan obat dan akar untuk ia tumbuk menjadi minuman hangat bagi warga yang mengalami batuk dan kesulitan bernapas. Nisaka pergi ke luar kamarnya setelah berganti pakaian. Dengan langkah cepat, dia pergi menuju kandang kuda. Dimana Karen dan Hana akan menunggunya di sana. . . Hana sudah lebih dulu pergi menuju kandang kuda. Gadis itu pergi setelah Karen menyuruhnya untuk pergi lebih awal karena Nisaka mungkin menunggu mereka. Karen melipat jubahnya di dalam keranjang dan pergi keluar kamarnya. Dia menarik napas panjang dan kemudian membuangnya, berpikir apakah tindakannya ini akan menerima konsekuensi hukuman karena Karen mencoba pergi dari istana tanpa izin dari raja. "Apa peduliku?" ucap Karen pada dirinya sendiri. "Aku peduli, Selir Miura," Karen menoleh ke sumber suara yang sudah sangat dihapalnya. Matanya memutar bosan saat dia menemukan Selir Parviz berdiri tidak jauh darinya dengan kedua dayang yang setia padanya. Mereka melemparkan tatapan sinis padanya. Sama seperti tatapan yang Selir Parviz layangkan padanya. "Aku tidak punya waktu untuk berbicara denganmu, Selir Parviz," Karen menunduk memberi salam dengan gaya mengejek. "Semoga harimu menyenangkan. Hari ini kau bebas karena aku tidak akan ada di istana sampai besok, mungkin?" Karen menatap Selir Parviz dingin sebelum dia memutar tubuhnya berlawanan arah dengan wanita iblis itu. "Aku akan melaporkanmu!" Karen menoleh dengan senyum lebar. "Coba saja kalau kau berani!" balasnya tak kalah tinggi. "Kau akan mendapat hukumannya," ucap Selir Parviz sebelum dia berbalik pergi menjauhi kamar Karen yang kosong. Dua prajurit yang biasa berjaga di depan kamar Karen tidak lagi ada di sana. Karen sendiri tidak memikirkan kemana dua prajurit itu pergi. Bukan urusannya, pikirnya. . . "Kalian menunggu lama?" Karen melemparkan tatapan bersalah dan meminta maaf karena menemukan Hana dan Nisaka duduk di tumpukan rumput sembari menyusun dedaunan di dalam keranjang mereka. Masing-masing membawa satu keranjang besar dengan tumbuhan obat yang cukup untuk mengobati para warga yang terserang wabah massal ini. "Apakah tabib istana tahu?" Nisaka menggeleng. "Jika mereka tahu, jelas anak buah para tabib akan turun dari istana dan pergi ke pemukiman. Aku benar-benar menyadari ada yang salah dengan ini. Aku rasa penyakit ini datang bukan karena pergantian cuaca yang buruk. Tapi ada seseorang yang memainkan permainan kejam ini, Karen." Hana menutup mulutnya. Dia mengangguk-anggukan kepalanya menyetujui ucapan Nisaka. "Ayo, kita cari tahu." Karen membawa keranjang itu menuju kuda putih yang sudah Hana siapkan untuknya. Memakai jubahnya, Karen segera pergi bersama kudanya disusul Hana yang pergi bersama Nisaka. Mereka membelah jalan istana yang sepi dan memacu kudanya agar berlari lebih cepat menuju pemukiman warga yang menunggu pertolongan mereka. Memakan waktu sampai lima belas menit ketika Karen sampai ke dalam pasar yang sepi. Hanya ada beberapa pedagang yang setia menjajakan dagangan mereka dengan wajah pucat. Karen turun dari kudanya, melepas tudung kepalanya dan menatap mereka dengan sedih. "Apa yang terjadi dengan warga lainnya?" tanya Karen pada seorang pria yang ia taksir berusia lima puluhan tengah duduk memegang kakinya yang memerah seperti terbakar. Karen mengusap kaki pria itu dan rintihan kecil terdengar sampai ke telinganya. "Kakiku gatal dan perih, Nona," jawabnya hampir terdengar seperti isakan. Karen membuka keranjangnya. Dia merobek daun-daun basah itu menjadi serpihan kecil dengan tangan cekatannya. Menaruh serpihan daun itu ke atas kaki si pria yang memerah. Rasa dingin dan aroma menyengat daun itu membuat Nisaka dan Hana memalingkan wajahnya. Kesakitan semakin tergambar di wajah tuanya. "Ini akan membantumu. Lukamu belum terlalu parah. Tunggu sampai sepuluh menit dan kau bisa membersihkan daun-daun ini," Karen melepas tangannya dari kaki pria itu dan tersenyum. Dia mengucapkan terima kasih setelah Karen mengobatinya. "Air yang menjadi sumber kehidupan kami telah tercemar, Nona," ujarnya lirih. Hana membantu Karen untuk meluruskan kedua kaki pria itu di atas kursi bambu di ujung lorong pasar. Cuaca sangat terik hari ini, kakinya bisa saja bertambah parah karena sinar matahari mungkin membuat luka itu melebar semakin cepat. "Tercemar?" Anggukan kepala lemah pria itu menjawab pertanyaan Karen. "Sejak kemarin malam. Kami sudah melaporkan ini ke pihak istana, tapi tidak ada jawaban dari mereka. Sudah banyak korban di dalam rumah pengungsian. Agar wabah ini tidak menular ke lainnya, kami membangun rumah kecil untuk para warga yang terkena penyakit kulit ini." Karen menepuk bahu pria itu dan tersenyum. "Aku akan ke pemukiman hari ini melihat kondisi warga lainnya," Karen berdiri dan menatap Hana. "Kau ikut bersamaku atau tetap di sini merawatnya, Hana?" "Tidak, Nona, pergilah," pria itu mengusap kakinya setelah rasa perih dan gatal itu perlahan-lahan menghilang. Hanya menyisakan sedikit dan dia sanggup bertahan. "Aku baik-baik saja. Ini sudah lebih baik," senyum timbul di wajah kusamnya. "Terima kasih untuk kebaikan kalian. Ada banyak warga yang menunggu kedatangan kalian untuk membantu mengurangi penderitaan mereka. Pergilah." Karen menunduk memberi salam pada pria yang lebih tua darinya dengan senyum ramah. Dia kembali menunggangi kudanya dan pergi rumah Hanami. Salah satu wanita paruh baya yang merawatnya saat dia terluka. Nisaka mengikutinya di belakang bersama Hana yang berpegangan padanya karena laju kuda Karen semakin cepat. Karen diam-diam memuji kemajuan pesatnya dalam menunggang kuda. Dia benar-benar bisa mengontrol laju kudanya di saat situasi sedang gawat seperti ini. Tangannya mengusap lembut wajah kuda betina itu dan tersenyum kecil. "Terima kasih karena mengerti diriku." Mereka sudah sampai di rumah tua milik Hanami dan cucunya, Hani yang sibuk memberikan pertolongan pertama bagi warga yang terkena wabah ini. Karen turun dari kudanya, diikuti Hana dan Nisaka yang mengikat kuda mereka pada batang pohon besar bersama kuda Karen. Karen membuka penutup tudung kepalanya. Dia sedikit berlari mendekati Hani yang kesulitan membawa ember berisi air bersih dalam sebuah sumur di samping rumahnya. Ada gubuk kecil di samping rumah Hanami. Cukup jauh dari pemukiman warga lainnya. Gubuk itu terlihat ramai dan sepertinya itu adalah rumah yang dibangun warga desa untuk menangani warga yang terserang wabah. "Kak Karen?" Hani terkejut saat Karen membantu gadis kecil itu membawa embernya. Karen tersenyum dan dia membawa ember itu di tangannya. Bersamaan dengan keranjang berisi tumbuhan obat untuk para warga yang terluka. "Apa dia berasal dari istana?" salah satu warga yang melihat Karen masuk terkejut mendapati ada sosok lain yang berbeda di antara mereka. Walaupun Karen memakai pakaian sederhana untuk menyamar menjadi warga biasa, mereka masih bisa mengenali perbedaan yang mencolok di antara dirinya dan warga lainnya. "Dia berasal dari istana," salah satu wanita tua itu menangis saat melihat Karen datang. Bersama Hana dan Nisaka yang berdiri mematung di ambang pintu masuk. Banyak anak-anak dan wanita tua yang terluka di atas tikar tipis. Berbaring merintih sakit. Sungguh pemandangan yang membuat Karen hampir menangis melihatnya. "Perkenalkan, dia, Selir Miura. Kesayangan Raja Maritz!" Hani dengan riang mengenalkan Karen. Tangan kecil gadis itu menggandeng tangan Karen dengan senyum khas anak-anaknya. "Kau bukan anak buah tabib istana?" mereka berbisik-bisik membicarakan Karen. Karen melirik Hana dan Nisaka yang menunduk lalu menaruh keranjang mereka di atas meja lapuk. "Maafkan aku karena terlambat datang kemari. Aku tidak tahu apa yang terjadi," Karen menatap semua mata yang memandangnya dengan wajah menyesal. "Sungguh, jika aku tahu, aku akan pergi dari istana dan membantu kalian." "Tidak apa, Putri," isak tangis mulai bermunculan. "Kami berharap para tabib istana segera datang untuk membantu kami. Tapi tidak ada apa pun, kami tidak bisa menyembuhkan sakit di kulit kami. Terima kasih karena calon permaisuri mau datang untuk melihat kondisi kami," salah satu ibu dengan anak bayi digendongannya mendekat ke Karen. Karen mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi bayi yang tertidur itu dengan senyum. "Ayo, aku akan membantu kalian mengurangi rasa sakitnya," Karen tersenyum dan mulai mengobati mereka satu-persatu dibantu Hana dan Nisaka juga Hani yang sejak tadi memberikan air bersih untuk Karen agar pekerjaan mereka cepat selesai. . . "Aku rasa malam ini akan hujan, Karen." Nisaka masuk ke dalam gubuk saat menatap langit yang mendung pekat tanpa ada bintang. Karen menghela napasnya. Ada Hani yang tertidur di pahanya. Karen mengusap rambut panjang gadis kecil itu dan tersenyum miris. "Gadis kecil ini kehilangan ibunya. Dia hanya tinggal bersama neneknya." Hana yang duduk di depan Karen menatap gadis kecil itu. "Di mana neneknya saat ini?" "Mencari tumbuhan untuk mengobati para warga. Aku rasa dia tidak menemukannya," Karen mendesah berat. Usapan tangannya terhenti. Dia mengulurkan jemarinya menyentuh hidung gadis kecil yang terlelap itu. "Hani bilang tumbuhan yang biasa hidup di dekat perbatasan tiba-tiba menjadi sulit ditemukan. Dan hanya tumbuh di istana. Mereka tentu saja tidak berani masuk ke dalam istana tanpa izin. Mereka mengirim salah satu warga untuk meminta tabib istana mengobati para warga yang terluka. Tapi tidak ada tanggapan apa pun." Karen menatap Nisaka yang duduk di atas tikar. "Aku yakin sekali ada sesuatu yang salah di sini. Apakah ini berasal dari dalam istana itu sendiri? Apa mereka mencoba membunuh Azada dengan cara menyakiti rakyatnya?" Hana menunduk dalam. Nisaka mendesah berat. "Raja dan Jenderal sedang berperang menangani pemberontak. Aku tidak tahu berapa lama mereka pergi berperang. Zidan pergi tanpa mengucapkan apa pun padaku. Kami tidak bicara setelah dirimu ketahuan bersama Kenzo beberapa hari yang lalu," Nisaka menatap Karen yang mengangguk sedih. "Maafkan aku, Karen." Karen tersenyum. Dia mengibaskan tangannya yang bebas di udara. "Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, oke? Kau tidak perlu minta maaf, Nisaka." Karen melipat jubahnya untuk dijadikan bantal kepala Hani. Dengan hati-hati, dia memindahkan Hani ke atas ranjang kayu yang kosong dan menyelimutinya dengan selimut tipis milik para warga. "Aku bersyukur kalian mau menemaniku pergi untuk melihat warga yang sakit," Karen menggelengkan kepalanya. Ada wajah lelah yang tertangkap mata kedua sahabatnya. "Bagaimana jika penyakit kulit itu menulari kalian berdua?" "Pikirkan dirimu sendiri, selir," sela Hana dengan gelengan kepala. "Kami tidak peduli jika tubuh kami terluka atau lebam. Pikirkan dirimu. Raja pasti marah mendapati ada sesuatu yang tergores di tubuhmu." Karen mendengus. Mengusap wajahnya dengan kasar. "Dia bahkan melukaiku," lirihnya. Karen mengangkat kepalanya saat mendengar suara hujan yang deras dari luar gubuk. Berdiri dari tempatnya duduk, Karen membuka pintu gubuk dan mendapati hujan turun dengan deras. Membuat tanah yang dipijaknya sedikit licin saat Karen melangkah. "Aku sudah memindahkan kuda," ucap Nisaka membuat rasa cemas di wajah Karen menghilang. Dia tersenyum lega. "Terima kasih, Nisaka." Karen menutup pintu gubuk agak rapat. Dia mendekat ke arah wanita tua yang tidur memeluk dirinya sendiri dan menggigil. Karen melihat ke keranjangnya dan dia tidak membawa selimut atau pakaian hangat berlebih untuk ia gunakan menyelimuti tubuh renta yang menggigil ini. Karen melepas baju panjangnya. Menjadikannya selimut tambahan untuk wanita tua ini. Hana menatapnya dan Nisaka yang sibuk menumbuk obat juga ikut menatapnya. Karen mendesah saat dia kembali berdiri dan melipat kedua tangannya di depan d**a. Mereka melihat Karen mencoba memeluk dirinya sendiri karena udara dingin masuk dari celah-celah gubuk yang renggang. "Tidurlah, Hana," Karen mengusap hidungnya yang memerah. Dia menatap Hana yang lelah dan pucat. Hana menggeleng menjawab perintah Karen, membuat Karen mengangkat alisnya. "Istirahatlah, aku baik-baik saja." Hana tetap menggeleng. Membuat dahi Karen mengernyit. "Berhenti mencemaskanku, Hana," lirihnya. "Sebentar lagi hujan berhenti. Aku baik-baik saja." Hana tidak bisa membantah ucapan Karen. Dia pergi berbaring di samping gadis kecil yang masih terlelap itu. Karen menatapnya dalam diam. Memastikan Hana benar-benar memejamkan matanya dan dirinya mendekati Nisaka, duduk dalam diam di samping gadis itu. "Menurutmu, siapa yang tega melakukan ini?" tanya Karen. Nisaka memindahkan daun yang sudah ditumbuk halus ke dalam wadah besar dan menggeleng kecil. Para warga yang sehat membantu mereka menumbuk daun dan memeras akar pohon untuk menghangatkan tubuh mereka serta membantu mereka yang kesulitan bernapas dan batuk. Menaruhnya di atas meja agar Karen tidak kesulitan mengobati warga yang terluka. Karen mengusap wajahnya yang mulai memucat. "Aku memikirkan seseorang saat ini," desahnya berat. Karen menunduk, menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya sendiri. "Malam ini hujan ... bagaimana kondisi mereka yang sedang berperang?" lirihnya pelan. Nisaka tersenyum menatap Karen yang masih menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia ikut melipat kedua lututnya. Mengikuti posisi duduk Karen. Masih dengan senyum di wajahnya. Hujan telah berganti menjadi rintik-rintik. "Zidan pernah bilang padaku. Setiap mereka berperang, mereka selalu membawa makanan, obat-obatan dan tabib. Tenda-tenda yang mereka bawa juga besar. Peralatan sudah dipersiapkan dan mereka tidak akan kedinginan, tidak kesulitan tidur. Cukup membantu mereka memulihkan tenaga. Ada tabib istana yang selalu siap mengobati mereka yang terluka," Nisaka melirik Karen yang kini mengangkat kepalanya. Mendengus kecil dan mengumpat. "Aku menyesal bicara seperti itu tadi," geramnya. "Kenapa pula aku mencemaskannya?" Nisaka tidak bisa menyembunyikan senyumnya. "Siapa yang kau cemaskan, Karen?" Karen memutar matanya bingung menjawab pertanyaan Nisaka. Kemudian sebuah senyum timbul di wajah pucatnya. Nisaka yang melihatnya menatap Karen waspada. "Aku mencemaskan Zidan," kepala Karen menggeleng dramatis. "Bagaimana ya, dia?" Nisaka memalingkan mukanya. Berpura-pura kesal dan Karen terkekeh. Lalu, mereka tertawa bersama. Hujan telah berhenti sepenuhnya dan malam beranjak semakin malam. Karen tahu ini tengah malam dan saatnya mereka tertidur. Tetapi melihat kondisi warga yang terlelap membuatnya tidak tega barang memejamkan matanya sebentar saja. Suara bayi yang menangis membuat Karen berdiri dari tempatnya. Dia meninggalkan Nisaka yang masih tertawa dan pergi menuju bayi itu. Menggendongnya dengan hati-hati selama daun-daun itu masih menempel di kaki dan tangan mungilnya. Pelan-pelan agar tidak menyakiti bayi mungil itu. Karen tersenyum sembari mengayun-ayunkan bayi itu dan kembali terlelap. . . "Minumlah." Nisaka memberikan Karen sebotol tumbuhan akar yang sudah diperas sarinya. Mengetahui Karen tidur hanya selama dua jam dan tubuh wanita itu kedinginan selama semalam, Nisaka memberikannya. Dia sudah meminumnya dan merasa tubuhnya membaik semakin lama. Karen mengusap matanya yang memerah. Hana membantu mengurus warga yang sudah merasa lebih baik. Mencucikan kaki dan tangan mereka dari daun-daun yang menempel. "Aku dan Hana sudah meminumnya, Karen. Ini bagus untuk kesehatanmu. Aku mencemaskanmu," Karen menerima botol itu dan meminumnya. Dia hanya menghabiskan separuh dari botol itu dan tersenyum saat dia memberikannya pada Hani yang sibuk membantu Hana membawakan air bersih. "Minumlah. Kau tidak boleh sakit, gadis manis," Hani menerimanya dari Karen dan tersenyum saat dia meminumnya. Karen mengambil botol itu dan membuangnya. Langkahnya tertahan saat dia melihat Hanami kembali dari perburuannya mencari tumbuhan obat untuk para warga. "Nenek!" Hani berteriak memanggil nama sang nenek yang kini tersenyum padanya. Dengan sayang, dibantunya sang nenek membawa keranjang kecil itu ke dalam gubuk. Karen membantu Hanami untuk masuk ke dalam gubuk dan memegang tangannya karena jalanan sangat licin. "Aku hanya bisa menemukannya sedikit," desahnya. Karen menepuk bahu wanita tua itu seraya tersenyum. "Aku sudh membawa cukup banyak dari istana. Kurasa semua baik-baik saja. Tumbuhan yang kau bawa bisa dijadikan cadangan jika bahan yang kubawa bersama dua temanku sudah habis." Hanami tersenyum pada Karen. Nisaka dengan cepat membawa tumbuhan obat itu ke dalam keranjangnya. Menyatukannya jadi satu untuk ia jadikan cadangan jika warga lainnya masih mengeluh dengan sakit mereka. "Air kami tercemar," Karen membantu Hanami duduk di kursi. "Sumber air untuk kehidupan kami tercemar sesuatu yang sangat parah. Tidak ada air untuk mandi, untuk minum, tidak ada. Kami mengandalkan air sumur yang belum tercemar," ucapnya. Karen menatap Hanami dengan pandangan sedih. "Aku tidak tahu mengapa itu bisa terjadi." "Aku beruntung karena tidak merasakannya. Hani juga," dia mengusap rambut cucunya dengan sayang. "Tapi, lihatlah mereka. Ada bayi, ibu menyusui, wanita tua dan anak-anak yang terluka. Hatiku pedih melihatnya." Karen menatap Hani. "Bagaimana kabar dua temanmu?" "Mereka baik-baik saja. Beruntung mereka tidak ikut terkena penyakit ini. Ibu mereka melarang mereka bermain di luar dan mendekat ke warga yang mengalami sakit kulit," jawab Hani. Karen mengangguk singkat mendengarnya. "Kau benar-benar kesayangan raja?" Karen mengangkat kepalanya dari Hani. Dia menatap salah satu ibu yang memangku anaknya. Ibu itu bertanya padanya. Masih dengan nada yang sama. "Kau benar-benar kesayangan raja?" "Aku ..." Karen melirik Hana dan Nisaka yang diam. "Bukan kesayangannya." Hani melempar tatapan bingung padanya. Begitu juga dengan Hanami. "Tapi saat Raja Maritz memberikan kami ratusan koin emas di dalam kantung, dia bilang kau kesayangannya," ucap Hanami dengan kerutan di dahinya. "Tidak, nenek. Raja bahkan bilang kak Karen adalah permaisuri di masa depan. Kerajaan akan memiliki permaisuri setelah kematian ibu dari sang raja, Permaisuri Nayyira," sela Hani melempar tatapan bingungnya pada Karen. "Apa?" hanya itu yang keluar dari bibir Karen. Hana melempar tatapannya pada Nisaka yang dibalas gelengan kepala. Nisaka menutup mulutnya yang terbuka kemudian berdeham. Kepalanya menunduk. "Ah, tidak, tidak, mungkin Hani salah dengar," Karen tertawa pelan. Menyadari suasana di dalam gubuk yang canggung. "Aku hanya selir biasa. Mungkin yang dimaksud adalah Selir Parviz?" Nisaka melempar tatapannya pada Karen. Dan Karen yang menoleh memberikan kedipan mata pada Nisaka untuk tetap tenang. "Ah, begitukah?" Hanami mengangguk mendengar jawaban Karen. "Aku rasa aku pernah melihat Selir Parviz," ucap salah satu dari mereka. "Saat raja mengumumkan selir tertinggi, Selir Parviz datang untuk melihat kami. Tapi itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Aku hampir lupa dengan wajahnya. Setelah itu, dia tidak pernah lagi terlihat." Karen tidak lagi tahu harus memasang wajah seperti apa di depan para warga yang sudah sepenuhnya sembuh. Karen meninggalkan beberapa tumbuhan yang sudah diraciknya dan dimasukkan ke dalam wadah. Dia harus kembali ke istana sebelum Azada dan prajuritnya kembali dari perang. "Jika kalian kesulitan membutuhkan pertolongan, mintalah pada prajurit istana untuk menemuiku. Jika tidak ada satu pun di istana yang mau menolong kalian, aku akan menemui kalian. Aku janji." Karen memasang jubahnya bersama Hana dan Nisaka. "Atau kalian bisa menitip keluhan kalian pada dua sahabatku, mereka akan memberitahuku. Aku bisa bertindak secepatnya." Mereka mengucapkan terima kasih saat Karen berlalu pergi dari gubuk itu. Bersama Hani dan Hanami yang menemani mereka sampai ke kudanya. Karen menatap aliran sungai yang menghitam. Napasnya tertahan menyadari kalau sang raja tidak tahu apa pun kondisi rakyatnya. Karen memalingkan wajahnya, dia harus berpikir untuk mencari tahu siapa dari mereka yang tega melakukan ini pada rakyat biasa. "Jaga diri kalian baik-baik." Karen memeluk Hanami dan mencium pipi Hani. Dia mendengar suara kuda yang mendekat. Nisaka menarik kuda milik Karen agar lebih dekat padanya. Karen mengangguk mengerti, dia mengusap kepala Hani dan berbalik pergi setelah menunggang kudanya. Menjauh dari gubuk itu.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม