Oleh : LinDaVin
Part 8
"Aku ingin memberikannya padamu, aku ingin kamu yang melakukannya," ucapku.
Bara menatapku, aku sadar dan serius dengan ucapanku. Aku lebih rela memberikan keperawananku padanya, dari pada memberikannya kepada orang lain. Diri ini lebih siap melakukan hal itu dengannya.
"Sudahlah, kita lanjutkan nanti. Habiskan sarapanmu, aku mau mandi dulu."
Bara meneguk tehnya, kemudian turun dari kursinya. Diraihnya kepalaku dan mengecup puncak kepalaku, sebelum beranjak kekamarnya. Roti di tanganku masih tersisa separuhnya. Tadi masih bisa kurasakan nikmat, entah sekarang berubah menjadi hambar.
Aku memaksanya masuk kedalam mulutku, dan menekannya dengan teh hangat yang tadi Bara buatkan untukku. Apa yang pria itu ucapkan memang benar adanya, mungkin hari ini aku selamat, siapa yang bisa menjamin, esok akan terulang lagi keajaiban ini.
Langkahku gontai, menuju kamar. Terdengar suara air dari arah kamar mandi. Aku mengambil tasku dari atas nakas. Kemudian keluar, menuju kamar satunya yang berada tepat di depan kamar Bara. Melempar tasku ke atas ranjang, dan melangkah ke kamar mandi.
Air hangat yang mengalir membasahi tubuhku, sedikit meredakan penatku. Masih adakah harapan untukku, terbebas dari tempat Mami Erna. Mendapatkan perlakuan selayaknya manusia, bukan hanya di jadikan pelampiasan nafsu b***t p****************g saja.
Aku tak memiliki siapapun, tak ada tangan yang bisa kuraih saat aku akan jatuh, tak ada tangan terulur saat aku bener-benar jatuh tersungkur, dan tak ada tangan yang akan menarikku saat aku ingin bangkit dan kembali berdiri.
Sedikit menyapukan bedak, dan mengoles tipis lipstik di bibirku, mata sembabku tak bisa aku sembunyikan.
"Sudah mandi juga."
Bara memasuki kamar, aku melihat tanpa menoleh, karena sudah terlihat di cermin. Aku mengangguk dan mengiyakan.
"Ada pengering rambut di kamarku," ucapnha lagi. Pria itu memelukku dari belakang dan menciumi rambut setengah basahku.
"Aku ambilkan dulu," ucapnya, kemudian beranjak ke kamarnya.
Tak berapa lama dia sudah kembali dengan pengering rambut di tangannya. Dia memintaku duduk setelah menyalakannya.
"Aku bisa sendiri," ucapku.
"Aku suka rambutmu," ucapnya. Kurasakan kembali dia mengecup puncak kepalaku.
"Kamu mahir sekali, pasti sering bantu pacar kamu ya?"
"Hahaha." Bara hanya tertawa.
"Pacarmu, tak marah kalau tau aku di sini?" tanyaku lagi.
"Dia masih di Jepang, minggu depan baru kembali," jawabnya.
"Apa dia wanita bersuami?"
"Iya," jawabnya singkat.
"Hanya satu?"
"Fania sangat posesif, dia tak suka aku dengan yang lain," jawabnya.
"Terus, kenapa kamu membawaku, bagaimana kalau dia tau?"
"Kamu cerewet sekali, sayang," bisik Bara. Dia mematikan alat pengering rambut dan mulai menyisiri rambutku. Aku sedikit terkejut saat dia menyibak rambut dan mencium tengkukku.
"Aku suka ini," ucapnya lirih, dadaku bergetar merasakan hangat desah nafasnya. Aku hanya mengeliat pelan.
"Bersiaplah, aku akan mengantarmu. Kakakku dari tadi terus menelponku," ucapnya kemudian. Aku mengangguk pelan. Bara kembali keluar, kembali ke kamarnya. Ponsel kembali kumasukkan dalam tas. Merapikan baju dan menyapukan sedikit bedak di bawah mata, agar tak terlalu terlihat sembab di mataku.
Selepas merapikan diri aku keluar, menunggunya yang masih di kamar. Tak berapa lama, pria itu keluar. Sedikit berbeda, dia memakai kemeja lengan panjang berwarna berwarna biru muda dengan bawahan berwarna hitam. Terlihat lebih rapi dari biasanya.
"Tolong lipatkan sampai siku." Tangan bertato itu di ulurkan padaku. Aku berdiri dan melipat kedua lengan bajunya sampai ke siku sesuai permintaanya.
"Rapi sekali?" tanyaku padanya.
"Ada janji dengan klien," jawabnya.
"Makasih," ucapnya setelah lipatanku terlihat rapi. Tangannya menarik pinggangku hingga merapat padanya, di lingkarkannya tangan itu pada pingganhku.
"Sama-sama," balasku, kini wajah itu tepat di depanku.
"Aku suka wangimu," ucapnya saat kening kami beradu.
"Aku tak memakai parfum," ucapku.
Bara mengangkat bahunya. "Entahlah berasal dari mana, tapi aku begitu suka aroma tubuhmu."
Lengkung di wajah itu menaut bagian yang sama, terasa lembut dan hangat. Hal seperti ini sudah menjadi hal yang biasa sekarang. Sedikit membalas, bukan karena ingin menyenangkan hatinya, tubuhku meresponya seperti itu, perintah dari otak yang kadang mulai limbung.
"Jangan mengodaku, atau aku akan kembali menarikmu kekamar," ucapnya dengan nafas terdengar berat. Aku hanya sedikit membalasnya.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanyaku lirih.
"Entahlah, aku juga tak tau," jawabnya, bibir itu beralih mengecup keningku.
Bara melepas pelukannya, tanganya mengandengku seperti biasa.
"Bagus tempatnya," ucapku, sambil mengedarkan pandangan.
"Lengkap fasilitasnya di sini."
Kembali aku harus berhadapan dengan lift, tubuh ini belum terbiasa juga. Bara tertawa melihatku, dan menarikku merapat padanya. Sewaktu mau keluarpun aku bingung mau melangkah dengan kaki sebelah mana terlebih dahulu.
Kami turun langsung di tempat parkir, yang Bara sebut Basement. Seperti biasa dia membukakan pintu untukku. Mobil melaju pelan kemudian sedang, membelah jalanan yang juga cukup padat sekarang.
"Kamu ingin membeli sesuatu?" tanyanya di tengah perjalanan.
Aku mengelengkan kepala.
"Beneran?"
"Iya, takut di marahi lagi. Nggak boleh banyak ngemil nanti gendut," ucapku, mengingat omelan Mami Erna.
Pria di sampingku tertawa mendengarku bicara.
"Jajanku di sita, di ambil sama Mami," lanjutku. Rasanya dongkol sekali hati ini, padahal hanya itu kesenangan dan hiburanku.
"Kita beli lagi ya?" ucap Bara sambil mengusap rambutku. Dia masih menertawai keapesanku.
"Nggak usah percuma, ntar juga di ambil lagi," jawabku dengan bibir manyun.
Pria itu tak berhenti tertawa melihatku. Jajanan itu sudah kusembunyikan bersama baju, tetap saja ketauan.
"Beli sedikit saja, jangan banyak-banyak, taruk saja di bawah ranjang," ucap Bara.
Benar saja, tanpa aku mengiyakan, Bara menghentikan mobilnya di depan sebuah mini market. Ragu aku untuk turun, tapi Bara menarikku. Belanjaanku tak sebanyak kemarin, tapi sedikit menghibur.
Tak banyak yang aku lakukan di tempat Mami Erna, aku di sendirikan, tak di beri kamar di bangunan samping. Dua hari sekali di minta olahraga bersama Jenny, katanya biar badanku tidak lembek.
Temanku mengobrol hanya para pembantu di rumah itu, itu juga jarang-jarang karena mereka terlalu sibuk. Sesampainya di rumah Mami Erna mobil Bara langsung menuju halaman belakang, seperti biasanya.
"Aku tidak turun, ada janji," ucapnya.
Aku masih bergeming, tak beranjak. Bara menatapku, dan menyipitkan matanya.
"Kenapa? Oh iya, sebuah ciuman?" godanya, aku mengelengkan kepalaku. Dagu itu sedikit terangkat, seolah menunggu jawabanku.
"Nanti malam ...."
Bara tersenyum melihatku, tanganya mengusap pipiku lembut.
"Kamu denganku," ucapnya. Senyumku langsung terbit, tapi ...
"Sampai kapan?"
"Entahlah, tarifmu masih terlalu mahal hahaha, aku tak tau, hanya ini yang bisa aku lakukan sementara."
"Aku akan mengembalikan uangmu," ucapku.
"Ini bisnis, kamu tak akan mengerti, dan kalau aku tak sangup lagi membayarmu, maafkan aku."
"Kenapa kau begitu baik padaku, kenapa kau mau membantuku?" tanyaku, padanya. Mataku tiba-tiba kembali mengembun.
"Jangan menangis, aku tak suka melihatnya, jangan juga tanya mengapa, aku sendiri tak mengerti, kenapa repot-repot membantumu." Bara mengusap air mataku denga ibu jarinya. Sebuah kecupan dia berikan di keningku.
"Maaf, aku buru-buru. Sore aku akan menjemputmu." Pria itu menepuk pelan pipiku, dan kembali mengecup keningku. Aku memaksakan senyumku. Sebuah kecupan aku berikan di pipi pria itu, sebelum aku turun.
Seperti apapun dia, Bara malaikatku sekarang. Hanya padanya bergantung sedikit asa yang masih tersisa. Dirinya lah tempatku mengadu dan berkeluh kesah, padanya juga aku mulai berani bermanja.
Siang ini, pikiranku masih tenang, bayangan tentang malam dan para p****************g itu sedikit terhalaukan.
Aku sedang bermain dengan ponselku saat tiba-tiba Jenny muncul di pintu. Wanita jadi-jadian itu mengibaskan rambut palsunya dan berjalan melenggak lenggok ke arahku. Aku bangun dari posisi tiduran, dan duduk bersila di ranjang.
"Kok sampai siang, Mas Bara minta jatah ya?" tanyanya dengan mengangkat dagunya.
"Iya," jawabku singkat.
"Ih, beruntung banget sih, jarang dia ambil anak di sini sampai berulang kali gitu," ucapnya lagi. Aku hanya mengangkat bahuku.
"Kak," panggilku pada wanita jadi-jadian itu. Yang kupanggil hanya mengangkat alisnya yang cetar.
"Kenapa sih, aku sendiri yang di sini? lainnya kamarnya di depan," tanyaku kek Jenny.
"You masih polos soalnya, biar nggak di pengaruhi yang lain."
"Polos gimana?" tanyaku.
"Polos, masih gampang di akalin," ucapnya setengah berbisik."
"Maksudnya?"
"Ih, udah nggak usah banyak tanya, salah omong bisa di cut eyke, end," ucapnya, tanganya bergerak seperti memotong leher. Aku tak paham maksudnya, aku hanya memanggutkan kepala.
"Kak, Mami Erna sama Mas Bara itu saudara kandung ya?" tanyaku lagi.
"Iya, saudara kandung. Beda banget ya, lihat si Mami Bos ih, itu badan apa balai pertemuan, lebar amat. Sedang Mas Bara cakepnya nggak ketulungan, kayak boyband korea."
"Nggak boleh ngatain orang gitu Kak," ucapku. Jenny hanya menyembik.
"Oh, ya. Sampai lupa eyke, Mami Bos minta you ke ruanganya abis ini, setengah jam lagi lah, dia masih keluar." Jenny berdiri dari duduknya.
"Iya, Kak," jawabku.
"Ye udin, eyke mau urus anak-anak yang lain, inget setengah jam lagi."
Aku hanya memandangi langkahnya yang bergerak keluar dari kamarku. Kembali fokusku pada ponsel di tanganku, bermain game yang Mba Mimi unduhkan.
Setengah jam berlalu aku langsung menuju ke ruangan Mami Erna. Jemariku mengetuk pelan pintu yang setengah terbuka tersebut. Ada perintah masuk dari yang punya ruangan.
"Ini, buat kamu." Wanita bertubuh subur itu menyerahkan bungkusan berisi beberapa kapsul berwarna merah hati dan putih.
"Obat apa Mami?saya tidak sedang sakit," tanyaku binggung.
"Obat biar nggak hamidun," celetuk Jenny menjawabku.
"Mulai minggu depan, jam kerjamu bukan hanya malam, siang juga. Besok dan lusa, klien Bara yang memakai jasamu," jelas Mami Erna lagi.
"Ini bayaranmu, simpan baik-baik." Mami Erna menyerahkan amplop berwarna coklat padaku. Aku bergegas mengambil dari tangannya. "Itu, baju baru untukmu." tunjuknya pada sebuah paperbag di atas sofa.
"Terima kasih," ucapku sambil mengambil paperbag berwarna hitam itu. Dia memintaku kembali ke kamar dan beristirahat, karena malam aku kembali bekerja melayani pelanggan.
Amplop berwarna coklat itu berisikan uang sebesar satu juta lima ratus ribu, ini banyak sekali. Pandanganku beralih ke Paperbag dan membukanya, beberpa potong dress dan pakaian dalam.
Tiga hari berturut-turut, Bara memesanku. Dia hanya mengajakku ke apartemennya, menjamahku sebatas ciuman saja. Kami lebih banyak bercerita, tentang banyak hal. Tentang kerasnya kebidupan, tentang impian dan harapan.
Malam ini kami duduk saling bersandar, membuka tirai, memandang keluar. Kami bukan sepasang kekasih, hanya dua insan yang tertaut karena keadaan dan kesamaan. Beberapa hari mengenalnya, membuatku sedikit tau kehidupannya.
"Apa kau pernah memimpikan suatu pernikahan?" tanyaku padanya.
"Terkadang, bagaimana denganmu?"
"Aku bermimpi, menyerahkan kesucianku hanya untuk suamiku, aku ingin pria yang bisa menjagaku, mencintaiku tulus dan membimbingku menjadi manusia yang lebih baik," jawabku.
"Berarti aku tak masuk kriteriamu, aku kotor dan bejat."
"Itu hanya mimpi," ucapku lagi.
"Aku, minta maaf, aku tak sangup lagi membayarmu," ucap Bara, terasa kecewa dalam nada suara itu.
"Aku ada uang tiga juta, cukupkah?" tanyaku.
"Long time, hargamu masih dipatok lima belas juta, mana cukup tiga juta," jelas Bara. Aku sedikit terkejut mendengar angka itu. Mami Erna hanya memberiku satu juta lima ratus setiap kali aku bekerja.
"Berarti, mulai besok aku harus melayani lelaki lain?"
"Maafkan aku tak bisa membantumu lagi."
"Kalau begitu, lakukan malam ini. Aku tak ingin orang lain yang mendapatkannya. Aku ingin memberikannya padamu," ucapku padanya.
Bersambung