Perawan 200 Juta
Oleh : LinDaVin88
"Maafkan aku tak bisa membantumu lagi."
"Kalau begitu, lakukan malam ini. Aku tak ingin orang lain yang mendapatkannya. Aku ingin memberikannya padamu," ucapku padanya.
"Kamu benar-benar rela melakukannya?" tanyanya padaku. Aku mengangguk pasti.
"Maafkan aku," ucapnya lagi.
"Tak perlu meminta maaf, memang sudah seharusnya seperti ini."
Bara membalikkan badanya, akupun mengikutinya, kami duduk bersila dan saling berhadapan.
"Apa kamu percaya pada sebuah cinta?" tanyanya padaku. Aku mengelengkan kepalaku, aku tak percaya cinta itu ada.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
"Kalau memang cinta itu ada, aku tak mungkin berada di sini. Aku akan hidup bahagia bersama kedua orang tuaku," jawabku.
"Kamu benar," ucapnya lagi.
"Dulu aku tak serapuh ini, sekarang hal kecil saja sangup membuatku menangis," ucapku lagi.
"Oh ya," ucapnya sambil mengusap air mataku yang tiba-tiba mengalir saat menyebutkan kata orang tua.
"Dulu aku tak pernah peduli dengan orang lain, tapi dirimu, membuatku berbeda. Aku peduli padamu, aku ingin melindungimu, tapi apa dayaku, aku hanya seorang pecundang. Hanya seorang pria b***t yang tak berani menghadapi dunia."
Aku tersenyum dan mengeleng, dia tak seperti itu, dia pria terbaik yang pernah aku kenal, teman terbaik yang aku miliki.
"Itu tidak benar," ucapku terisak "Kau malaikatku, kau satu-satunya orang yang peduli padaku, dan memperlakukanku selayaknya manusia."
Aku tak mengerti kenapa d**a ini sesak sekali, kami memiliki cerita yang hampir sama, kurang kasih sayang.
"Jangan menangis, aku tak suka air mata ini, kamu terlihat sangat jelek, aku tak suka," ucapnya, tangan itu kembali mengusap pipi basahku.
Tangisku tak mereda, justru semakin sesak terasa, bersamanya, aku merasa berarti, merasa disayangi. Bara meraihku mendekapku di dadanya. Tangisku kembali tumpah, di d**a bidang itu.
"Baiklah, menangislah sesukamu, kalau itu bisa melegakan sesakmu," ucap Bara sambil mengusap lembut kepalaku.
Sesaat kami hanya diam, sesekali sisa isakku terdengar. Rasanya tak ingin malam ini berakhir berganti pagi, ingin tetap di sini seperti ini. Bayanganku tentang esok sudah menari liar dalam benakku, bayangan tangan pria - pria b***t yang akan menjamah bebas tubuh ini.
Aku takut, takut sekali, sampai detik ini aku terselamatkan untuk kesekian kalinya, tapi esok. Tak mungkin akan ada Bara yang lain, itu tak mungkin.
"Aku ke kamar mandi dulu," pamitku. Mataku terasa sembab dan berat. Bara hanya mengangguk pelan.
Kubasuh wajahku dengan air hangat. Wajah itu tampak memerah kulihat di cermin. Malam ini harus terjadi, aku tak ingin orang lain, orang yang tak kukenal mendapatkan mahkota suci ini. Sudah tak ada harapan lagi, ini pilihan hidup yang harus aku jalani.
Setelah mengatur hatiku, aku kembali ke luar kamar, Bara tak ada di tempat tadi. Dia sedang berada di kamarnya, bicara pada seseorang. Sepertinya dia bicara dengan kekasihnya. Aku berdiri di ambang pintu, hanya memperhatikannya yang berbicara sambil mondar-mandir.
"Sudah malam tidurlah," ucapnya setelah mengakhiri pangilan.
"Aku ingin tidur di sini, bersamamu," jawabku sambil berjalan mendekat padanya.
Bara menarik pinggangku, hingga aku merapat padanya. Tangan itu melingkar dipinggangku, sedangkan tanganku melingkar di lehernya.
"Aku milikmu sekarang," ucapku pelan.
Bara tersenyum, tak ada pergerakan berarti darinya, dia hanya memelukku. Aku sudah pasrah sepenuhnya dan siap terbang ke surga dunia bersamanya. Dia menatapku beda, aku menjadi canggung untuk kembali mengodanya.
Bibir itu menaut lembut bibirku, sesaat hanya sesaat. Sebuah kecupan mendarat di keningku. Bukan ciuman panas penuh nafsu, tapi apa ini, aku tak bisa mengartikannya.
"Kak Erna tadi memberi tahu, pria yang pertama kali memesanmu, besok ingin bertemu kembali denganmu, sepertinya dia akan menebusmu," ucap Bara kemudian.
Aku sedikit tersentak, dadaku terasa sesak, ini kabar yang luar biasa. Kenzi, benarkah pria muda itu yang menebusku dari Mami Erna. Lagi-lagi air mata ini luruh, aku bahagia, tapi ada sedikit sakit yang menyapa. Bara, aku melihatnya berbeda ...
"Selamat ya, semoga itu benar terjadi, dirimu terbebas dari tempat kotor ini, aku bahagia untukmu. Tersenyumlah, jangan menangis seperti itu," ucapnya padaku. Dia memintaku untuk tidak menangis tapi kedua mata itu memerah.
"Semoga dia menjadikanmu pasangannya, kamu mencintainya bukan? Aku bisa merasakan saat kamu bercerita tentangnya, tentang pria muda itu," lanjutnya.
Aku tersenyum dan mengangguk, yah aku menyukainya, mungkin itu yang orang bilang cinta pada pandangan pertama.
"Terima kasih," ucapku lalu memeluk pria di depanku itu erat. Harusnya ini kebahagiaan yang sempurna, aku bisa terlepas, tapi kebersamaanku beberapa waktu ini bersama Bara, menorehkan rasa yang berbeda. Aku nyaman bersamanya, merasa dilindungi dan disayangi.
"Aku bahagia untukmu," ucapnya lagi, kemudian mengecup puncak kepalaku.
"Aku menyayangimu," ucapku, mengangkat kepalaku dan sedikit mendongak menatap wajah itu. Bibir itu tersenyum, pria itu sedikit mengangguk.
"Apakah, kita bisa kembali bertemu, bila Kenzi benar-benar menebusku?"
"Entahlah, aku tidak tau. Aku pasti akan sangat merindukanmu," ucapnya. "Dirimu lah yang mengajarkan padaku, bagaimana kembali menjadi seorang manusia, yang punya hati dan juga ... hem sudahlah. Simpan nomor ponselku, hubungi aku bila dirimu membutuhkan bantuanku. Tapi, sepertinya, pria muda itu akan bisa menjagamu."
"Aku berharap kita bisa bertemu di lain waktu, aku berharap bisa membalas semua kebaikanmu," ucapku padanya.
"Melihatmu bisa hidup layak dan bahagia, itu sudah cukup bagiku," ucapnya. Tangan itu mengusap pelan pipi basahku.
"Padamu untuk pertama kalinya, aku berbagi kisah hidupku. Pria b***t ini ternyata masih memiliki hati, kerasnya hidup membekukan empati, semua hanya demi nafsu duniawi. Andai saja aku mampu, membawamu pergi. Tapi, aku hanya pria pengecut tak bernyali."
Pria itu menangis, kisahnya tak jauh berbeda denganku. Ayahnya menjual ibunya ke tempat p*******n karena gila judi dan suka mabuk-mabukkan. Dunia hitam itu akhirnya menyeret kakak dan juga dirinya sendiri.
Almarhum suami Mami Erna seorang mucikari besar, dengan pelangan kalangan atas. Selepas suaminya meninggal Mami Erna yang mengurus segalanya. Itu sepenggal kisah yang dia bagi padaku.
Aku pikir hanya aku yang punya luka, diapun memiliki kisah yang hampir sama. Tanganku mengusap wajah basah itu. Dia meraih dan kemudian mengecup jemariku.
Matanya terpejam beberapa saat.
"Aku akan merindukanmu," ucapnya lagi. "Aku senang telah mengenalmu, mungkin saat bersamamlah, saat yang paling bahagia untukku," ucap Bara, bibir itu mencoba tersenyum.
"Aku beruntung mengenalmu, memilikimu sebagai pelindungku, sekarang aku percaya, malaikat itu ada dan nyata."
"Jangan memujiku, aku hanya manusia kotor bergelimang dosa. Kemaksiatan sudah menjadi makanan sehari-hari."
Hampir semalaman kami terjaga, hingga aku tertidur dalam pelukannya.
Pagi menjelang, aku masih mendapatinya disampingku, aku menatapi wajah itu lekat. Esok mungkin tak akan dapat lagi aku lihat, apalagi aku dekap. Dia mengaku sebagai pria b***t, namun, bagiku dia bagai malaikat tak bersayap. Dia menjagaku, membantuku dengan tulus dan menyayangiku.
Aku melepaskan tangannya pelan. Namun, tangan itu menahanku, apakah dia sudah bangun.
"Tinggalah sebentar lagi, mungkin ini kali terakhir kita bisa begini," ucapnya, tapi mata itu masih terpejam.
Aku kembali ke posisiku, merebahkan kembali tubuhku di sampingnya, mengunakan lengannya sebagai bantal kepalaku. Sengaja aku memiringkan tubuhku, agar aku juga bisa melihat dekat wajah itu.
Tanganku mengusap pelan pipinya, sebuah ciuman aku daratkan di pipi itu.
"Jangan mengodaku, aku bisa khilaf," ucapnya.
"Aku rela memberikannya untukmu."
"Jangan, bila pria itu mendapatimu masih perawan, aku yakin dia akan bisa dan lebih mencintaimu," ucap Bara, dia membuka mata dan menoleh ke arahku.
"Memelukmu semalaman sudah cukup untukku," lanjutnya.
"Bolehkah aku berdoa untukmu?" tanyaku.
"Kau ingin mendoakanku?" tanyanya. Aku mengangguk.
"Semoga, dirimu juga bisa keluar dari dunia hitam ini, memiliki istri dan keluarga yang bahagia, semoga yang menjadi istrimu kelak, adalah wanita baik-baik."
Bara tersenyum masam.
"Mana ada perempuan baik-baik mau dengan pria sepertiku," ucapnya.
"Tak ada yang tak mungkin bukan, itu doaku untuk malaikatku," ucapku.
Bara tersenyum, dan mencium keningku.
○●○
Jam delapan tepat aku sampai kembali di rumah Mami Erna, Bara menahanku sebentar, dia meminta, mungkin akan menjadi yang terakhir, sebuah ciuman yang sedikit panas dibanding biasanya.
Kami langsung keruan kerja Mami Erna, sudah ada Jenny di sana. Seperti biasa kalau melihat ke arah Bara wanita jadi-jadian itu seperti singa lapar, yang siap menerkam mangsanya.
"Siapkan barang-barangmu, Tuan Bram sebentar lagi menjemputmu, Tuan mudanya memilihmu, kamu bebas sekarang. Nikmati keberuntunganmu, kamu akan menjadi ratu," ucap Mami Erna, aku mengangguk pelan, tanpa melepas pandangan ke arah Bara yang duduk di kursi depan meja Mami Erna.
"Dah, sana ...." perintahnha kemudian sambil mengibaskan tanganya.
Aku mengangguk dan beranjak keluar, Bara tak melihatku, dia membelakangiku. Kenapa berat berpisah dengannya, mungkin karena aku sudah mulai terbiasa dengan hadirnya, sebagai satu-satunya orang yang baik padaku dan menyayangiku.
Sesampainya di kamar aku mulai mengemasi barang-barangku. Tak banyak, hanya beberapa potong pakaian saja. Kuedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kecil itu. Akhirnya aku terbebas dari tempat ini.
"Butuh bantuan?" Mendengar suara itu, bibirku tersenyum. Aku membalikkan badanku, pria itu berdiri di depan pintu.
Aku berhambur dalam pelukannya, hati ini seperti tak rela jauh darinya. Aku memeluknya erat, sangat erat.
"Harusnya kamu bahagia, kenapa terus menerus menangis dari semalam?"
"Karena dirimu," jawabku.
Bara mengangkat wajahku, "Aku?"
"Iya, aku tak ingin jauh darimu," ucapku.
"Hanya belum terbiasa saja, kita selalu menghabiskan waktu berdua saja akhir-akhir ini, kita menemukan kenyamanan dan juga seorang teman bercerita. Lambat laut kamu juga akan lupa, ada aku di sebagian kecil perjalan hidupmu," ucapnya terdengar serak.
"Aku tak akan pernah melupakanmu, tak akan pernah," ucapku terisak.
"Jangan menangis, aku tak suka," ucapnya. Tangan itu merengkuhku, mendekapku erat. Aku tak suka perpisahan ini, aku tak suka berpisah darinya
Bersambung