PERAWAN 200 JUTA
Part 10
"Lihat aku!" ucap Bara kemudian mengangkat wajahku, dengan ibu jarinya dia mengusap pipi basahku. "Tuhan begitu baik padamu, mengirimkan mereka untuk menebusmu. Ini kesempatanmu keluar dari sini. Perlihatkan wajah tercantikmu, jangan memberi mereka wajah jelek ini," lanjut Bara lagi.
Bara memaksakan senyumnya, dia memaksaku tersenyum juga dengan menarik pipiku. Mata kami sesaat beradu, bulir bening itu terus memaksa keluar dari mataku. Mata pria itu mengembun, ada rasa nyeri tertahan disana.
"Kenapa kau begitu baik padaku?" tanyaku lagi untuk kesekian kalinya, aku belum puas dengan semua jawabanya untukku. Kenapa aku ingin dia mengatakan hal lainnya.
"Aku tak tau, aku hanya tak ingin melihat kesedihanmu, tak suka melihatmu menangis," ucapnya.
"Lalu kenapa kamu sekarang menangis?" tanyaku, jemariku mengusap pipi basah itu.
Bara mengalihkan pandanganya dariku, bibirnya tersenyum masam. Dia mendongakkan wajahnya, melihat langit-langit kamar.
"Kenapa?" tanyaku lagi.
"Kenapa kau bawel sekali,"
"Katakan padaku?" paksaku.
"Karena ... ka ... karena aku menyayangimu," jawabnya kemudian. Mendengarnya aku mengigit bibirku.
"Aku sayang padamu," ucapnya lagi, matanya menatapku lekat.
"Tak ada satupun wanita yang bisa mengetarkan hatiku, mataku melihat wanita hanya dengan nafsu, kamu berbeda, aku tak tau kenapa, kadang tak perlu alasan untuk menyayangi seseorang, begitu juga dengan yang aku rasakan sekarang padamu."
Aku terus menatapi manik mata coklat itu, mendengarkan tiap kalimat yang keluar dari bibir pria itu.
"Bawa aku pergi!" pintaku padanya.
Bara terdengar kaget mendengarkan perkataanku.
"Aku tak bisa, maafkan aku."
"Kenapa? Kita bisa lari dari tempat ini, kita pergi jauh. Bukankah kamu menyayangiku, kamu menginginkan untuk selalu bersamaku bukan? Bawa aku bersamamu," ucapku padanya. Hatiku memaksa bibirku mengatakan itu. Aku percaya dia akan bisa menjagaku.
Lalu Kenzi? Apa yang bisa kuharapkan dari seorang pria yang tak menyukai wanita. Aku tau alasannya menebusku, karena aku bisa di ajak bekerja sama, bukan karena dia tertarik padaku, atau jatuh cinta padaku. Siapa yang akan menjamin aku akan bahagia di sana, hanya bahagia lepas dari sini, tapi hati?
"Kamu bicara apa? Semua tak semudah yang kamu pikirkan. Dunia ini tak kenal keluarga atau saudara. Aku tak akan membahayakan hidupmu dengan membawamu pergi. Dan lagi aku bukan pria yang pantas untukmu, berapa ratus wanita sudah tidur bersamaku. Aku hanya pria b***t, pria kotor penuh dosa, aku juga tak punya apa-apa untuk menjamin kehidupanmu."
"Tapi ...."
"Tak ada tapi." Bara memotong kalimatku.
" Pergilah, tata masa depanmu, kamu layak mendapatkan semua itu. Jangan pernah berfikir aneh-aneh lagi. Melihatmu hidup bahagia dan layak, itu kebahagiaan terbesarku."
"Jadilah wanita yang kuat dan tegar, jangan cengeng seperti ini lagi. Jangan pernah menangis lagi. Jangan tunjukkan air mata ini kepada siapapun, Ingat jangan menjadi lemah," lanjutnya lagi.
"Aku ingin terus bersamamu," ucapku lagi, diri ini sungguh tak ingin lepas darinya.
"Apa kamu juga menyayangiku?" tanyanya, aku mengangguk.
"Kalau kamu sayang, kamu harus menuruti semua kata-kataku. Pergilah, raih mimpimu. Aku berbahagia untukkmu," ucap Bara, meyakinkanku.
Aku bisa merasakan ketulusan dalam dirinya, dan ketika dia memintaku pergi, pasti bukan tanpa alasan. Dia menginginkan aku lepas dari tempat ini dan hidup layak. Deminya aku akan menuruti semua ucapannya.
Tak mudah baginya untuk pergi begitu saja, dia benar banyak hal yang tak aku pahami. Aku kembali membenamkan wajahku dalam dadanya, memeluknya erat sangat erat. Bara mencium lama puncak kepalaku.
"Aku menyayangimu," ucapku di tengah isakku.
Cukup lama kami saling berpelukan, serasa tak ingin saling melepaskan. Tapi takdir membawa kami ke jalan yang berbeda, dan memaksa kami harus rela menjalaninya.
"Ayo bersiap, sebelum Jenny dikirim ke sini untuk menjemputmu," ucap Bara, aku mengangguk pelan.
Semua barangku sudah tertata rapi, tidak banyak barang yang aku miliki. Kuedarkan pandanganku kesekeliling kamar. Kamar yang kutempati beberapa waktu terakhir ini.
"Sudah? biar aku bawakan barangmu."
"Terima kasih."
"Jaga diri baik-baik," ucap Bara lagi.
"Kamu juga," ucapku. Pria itu memaksa tersenyum.
Kami masih saling menatap untuk beberapa saat. Sebuah tautan lembut Bara singgahkan di bibirku, aku membalasnya dengan hatiku. Kurasakan kembali mataku memanas, apa arti rasa ini. Aku tak dapat mengartikannya. Pria itu juga menangis, kenapa perih sekali rasanya.
Setelah memperbaiki riasanku, Bara menemaniku kembali ke ruangan Mami Erna, tampak sudah ada seseorang di sana
"Kenapa kalian lama sekali, baru akan kusuruh Jenny menyusulmu," ucap Mami Erna. Tak ada jawaban dari Bara ataupun dariku.
"Kak, aku pergi dulu ada janji sama temen," pamit Bara kemudian. Dia meletakkan koper di sampingku. Sesaat mata kami masih beradu, sebelum dia keluar dari ruangan itu. Aku mengigit bibirku, entah kenapa aku ingin berlari mengejarnya.
"Zanna, ini Tuan Bram. Kamu tangung jawabnya sekarang. Ikutlah dengannya, nikmati kehidupan barumu," ucap Mami Erna memperkenalkan Pria berbadan tegap itu. Aku menganguk pelan.
"Nona Jenny, bisa antarkan gadis ini ke mobil saya, saya masih perlu dengan Sist Erna," pinta Pria bernama Bram itu.
"Dengan senang hati, Tuan," balas Jenny.
Wanita jadi-jadian itu membantuku mengangkat koper, kemudian mengantarkanku ke halaman depan. Sebuah mobil besar berwarna hitam mununggu di sana, seorang pria berseragam keluar dari dalam mobil. Pria itu mengambil koperku dari Jenny dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Silahkan Nona," ucap pria berseragam itu membukakan pintu mobil untukku.
"Dah sana masuk," suruh Jenny kemudian.
"Selamat tinggal," ucapku padanya. Kembali mataku berkaca-kaca bukan karena Jenny, tapi melihatnya selalu mengingatkan diriku pada sosok Bara.
Segera kuseka air mataku dengan jari, dan beranjak masuk kedalam mobil. Tak berapa lama pria berbadan tegap itu memasuki mobil, dan memerintahkan sopirnya untuk jalan.
"Kamu menangis?" tanyanya padaku, saat menoleh kearahku.
"Maaf Tuan, saya terlalu bahagia," jawabku menutupi. Pria itu tertawa.
"Pantas Tuan Muda memilihmu, kamu memang lain dari gadis lainnya," ucap pria itu entah apa maksudnya.
Kami tak banyak bicara sepanjang perjalanan, aku hanya menjawab singkat setiap pertanyaan darinya, hanya dengan ya dan tidak.
Mobil memasuki rumah yang sangat besar, dengan halaman yang luas. Taman tertata rapi di sisi bangunan. Apakah ini yang dinamakan istana. Aku benar-benar takjub melihatnya.
"Turun," perintah Tuan Bram saat mobil telah berhenti. Aku mengikuti keluar dari dalam mobil. Langkahku mengekor pria berbadan tegap itu memasuki rumah, tapi sepertinya ini bukan pintu utama.
Pria itu berhenti di depan sebuah ruangan, tangannya memencet sesuatu, sampai ada suara yang menyuruh masuk, tapi entah berasal dari mana. Tuan Bram mendorong pelan pintu, dan memintaku masuk terlebih dahulu.
Di dalam ruangan besar itu, nampak dua orang sedang duduk di dalamnya. Seorang pria dewasa dan ada Kenzi juga. Pria dewasa seumuran Tuan Bram itu memindai. Aku hanya menunduk memandangi lantai.
Tuan Bram memintaku duduk di sofa, di samping Kenzi, berhadapan dengan Pria dewasa yang terus memperhatikanku sedari tadi.
"Siapa namamu?" tanya Pria itu kemudian.
"Zanna." Belum sempat aku menjawab Kenzi terlebih dahulu menyahutnya. Pria dewasa itu menganggukkan kepala dan tersenyum.
"Baiklah, Bram, kamu sudah menjelaskan apa saja tugasnya?" Pria dewasa itu menoleh ke arah Tuan Bram.
"Belum, Tuan. Akan saya jelaskan, sekarang," jawab Tuan Bram kemudian melihat ke arahku.
"Dengarkan baik-baik apa yang akan aku sampaikan." Kali ini suara Tuan Bram sedikit lebih kencang dan ditekan.
Entah kenapa mendengarnya aku menjadi berdebar.