Panti

2862 คำ
Tiga orang anak manusia sedang berkutat di dalam kamar asrama milik si anak laki-laki, ketiganya terlihat fokus dengan laptop dan beberapa map berwarna coklat berisi surat lamaran kerja. Jam telah menunjukkan pukul 8 malam, dan mereka enggan untuk saling bergurau seperti biasanya karena situasi yang benar-benar sibuk saat ini. “Butuh berapa karyawan baru sih, Bri?” ucap Asha sembari kembali memasukkan surat lamaran seseorang yang sebelumnya ia baca. “Nggak tau, sebanyak mungkin kata papa. Beliau udah bener-bener nggak percaya sama karyawan lama gara-gara kejadian waktu itu,” jawab Brian masih fokus dengan laptopnya. Ini semua dimulai dari cabang perusahaan elektronik milik papa Brian yang kebetulan berada di Indonesia mengalami penurunan yang sangat drastis. Padahal jika dilihat di berbagai negara, perusahaan mereka memiliki pemasukan cukup tinggi pun di Indonesia juga banyak yang mulai menggunakan produk buatan perusahaan milik papa Brian. Namun anehnya pemasukan mereka sangat jauh dari normal, bahkan pernah sampai negatif. Setelah diselidiki, ternyata ada banyak tikus yang dengan terang-terangan melakukan tindak korupsi sampai akhirnya mau tak mau Brian harus merombak seluruh tatanan karyawan agar sang papa tidak menariknya kembali ke perusahaan yang berada di Roma. Brian adalah anak yang cukup penurut, apalagi setelah orangtuanya bercerai membuat Brian menjadi seorang anak laki-laki yang sangat dewasa dan mengikuti semua kemauan papanya, toh sang papa juga memberi Brian kebebasan walaupun terkadang waktunya tersita penuh untuk urusan kantor cabang seperti saat ini. “Lo kalau mau balik kamar gak apa-apa, tinggal dikit kok,” lanjut Brian sembari menunjuk tumpukan map coklat yang masih tersisa sekitar 20 map lagi. “Nggak, ini sebagai permintaan maaf gue karena udah buat lo kabur dari meeting kemarin,” akibat membatalkan meeting secara sepihak karena mendapat telepon dari Asha kemarin, Brian mendapat omelan panjang dari asisten papanya yang membuat lelaki itu harus kembali menjadwalkan meeting dengan orang yang sama besok. “Kira-kira lulus nanti gua ada kesempatan kerja di perusahaan papa lo nggak ya, kayaknya 4 tahun ke depan perusahaan ini makin maju deh,” ujar Maya yang sedari tadi diam sambil mengerjakan tugas kelompok mereka di atas ranjang yang berada tepat di sebelah ranjang Brian. “Tenang aja lo pasti keterima, karena 4 tahun mendatang gue udah ngisi posisi sebagai direktur utama di sana,” ucap Brian lalu memutar kursi belajarnya menghadap mereka berdua dan memukul kecil dadanya berusaha bersikap sombong yang justru membuat Asha dan Maya tertawa geli. Saat ini, Brian hanya menduduki posisi sebagai wakil papanya saja, ia hanya akan pergi ke kantor dan bertemu kolega jika sang papa menyuruhnya. Sedangkan pengisi kursi direktur utama untuk saat ini sampai Brian lulus kuliah adalah pamannya sekaligus orang kepercayaan sang papa. Tak lama kemudian, di sela tawa mereka, terdengar suara ketukan pintu yang diketuk dengan terburu-buru hingga membuat Brian langsung berdiri dan membuka kenop pintu tersebut. Ini masih jam 8 malam dan sangat tidak mungkin petugas asrama akan berpatroli di jam segini. Jadi siapakah tamu mereka yang datang malam ini dengan mengetuk pintu secara tidak sopan? Pintu terbuka, menampilkan sosok laki-laki yang kemarin ikut mengambil andil dalam masalah Brian yang diomeli oleh asisten papanya. Mahesa berdiri angkuh sembari mendekap kedua tangannya di depan d**a, matanya memicing memandang area kamar seakan tidak melihat bahwa Brian berada di depannya saat ini. “Kak Mahesa ada apa?” Asha yang tau bahwa itu Mahesa langsung bangun dari kegiatan tengkurapnya di atas kasur Brian lalu merapikan rambutnya yang tadi acak-acakan akibat bermain bantal dengan Maya. “Gue mau bicara sama lo, tapi nggak disini,” jawab Mahesa, Brian yang sepertinya enggan membiarkan Mahesa masuk membuat lelaki itu sedikit mencondongkan badannya berharap bisa melihat Asha dan kegiatan apa yang sedang mereka lakukan saat ini. Sebenarnya, dari 15 menit yang lalu Mahesa sudah berada di depan pintu kamar asrama milik Asha. Ia menggedor pintu dari yang awalnya santai dan terkesan tidak terburu-buru menjadi ketukan yang keras seperti penagih hutang karena Asha tak kunjung membukakan pintunya, sampai ada salah satu tetangga Asha yang keluar kamar akibat suara bising itu dan berkata bahwa pemilik kamar sedang berada di kamar Brian. Asha lalu berdiri menghampiri Mahesa setelah membersihkan map yang berserakan di atas kasur Brian, ia akan mengajak Mahesa berbicara di luar sekalian mencari udara segar, pikirnya. “Bri gue ke depan dulu ya, tenang aja gak kemana-mana kok,” ucap Asha kemudian mendapat anggukan dari Brian dan mereka berdua akhirnya berjalan dengan beriringan turun ke bawah meninggalkan Brian yang masih setia memandangi punggung Asha sampai hilang. “Kalem, mereka gak ngapa-ngapain kok,” Maya berkata sambil menepuk pundak Brian pelan lalu kembali mengajaknya masuk. Lelaki itu bersumpah jika ia tak dihadapkan dengan tumpukan map yang besok harus segera dikumpulkan ini, pasti Brian sudah mengikuti Asha dan menguping hal apa yang ingin Mahesa ceritakan sampai harus empat mata seperti itu. Mahesa dan Asha turun berdampingan menyusuri anak tangga, dalam hati Asha menghitung berapa anak tangga yang ia lewati saat ini sambil menunggu Mahesa membuka suara yang sepertinya tidak akan. Mahesa seperti Asha, terlalu to the point, namun bedanya Asha masih memiliki sedikit sifat basa basi sedangkan Mahesa hanya memilik sifat kaku yang membuat semua orang menjadi ikutan canggung jika berada di dekat dirinya. Setelah sampai di bawah, mereka berdua kemudian duduk di kursi dengan meja bulat yang berada di samping pintu masuk asrama. Mahesa masih belum ingin bicara hingga membuat Asha merasa gemas sendiri melihat tingkah laku lelaki itu. “Kakak mau ngomong apa?” Tetap tidak ada jawaban, lelaki itu kemudian merogoh saku jaketnya lalu menyodorkan satu lembar surat izin tidak mengikuti kuliah dari kampus ke arah Asha membuat gadis itu semakin tidak mengerti akan maksud Mahesa. Ia berpikir apakah Mahesa saat ini mencoba berbicara dalam hati dan sengaja menyuruh Asha untuk menebaknya atau bagaimana? “Besok kita ke panti asuhan buat ngasih donasi dari konser minggu lalu,” jelas Mahesa membuat Asha bersyukur karena pemuda tersebut akhirnya mau membuka mulutnya untuk berbicara. “Sama anak-anak musik yang lain?” Mahesa menggelengkan kepalanya. “Gue sama lo doang, yang lain ada kelas,” alasan macam apa ini, Mahesa dan Asha besok sebenarnya juga ada kelas sama seperti yang lain, namun kenapa mereka berdua yang ditunjuk sebagai perwakilan klub musik untuk mengirim donasi? Kenapa tidak ketua dan wakilnya? Tentu saja karena ini hanya akal-akalan Mahesa, lelaki itu memang sengaja mengajukan diri dan dengan senang hati langsung meminta surat izin agar Asha juga bisa ikut. Baru saja Asha ingin membuka mulutnya untuk berbicara, namun Mahesa sudah lebih dahulu berkata, “Jam 9 gue jemput, tepat waktu artinya telat. See you!” lelaki itu kemudian pergi meninggalkan Asha yang menatapnya heran, apa maksud dari tepat waktu adalah telat? Asha tidak paham dengan jalan pikiran Mahesa dan memilih kembali naik ke kamarnya untuk istirahat karena ia yakin besok jantungnya akan kembali kelelahan akibat berada di dekat Mahesa. *** Pukul 9 kurang 15 menit Asha sudah siap di depan gedung asrama menunggu seseorang yang katanya akan menjemputnya hari ini, lagi-lagi Asha melihat jam tangan yang melingkar indah di tangannya memastikan bahwa ia tidak telat karena menurut kata Mahesa kemarin, tepat waktu adalah terlambat. Sebuah suara dari klakson mobil kemudian menyadarkan Asha dari kegiatannya, ia melihat Mahesa melambaikan tangannya dari dalam mobil memberi isyarat kepada Asha agar segera masuk ke dalam. Suasana canggung serta sepi seakan memang menjadi makanan sehari-hari bagi Mahesa dan Asha jika berada di dalam mobil. Mahesa yang fokus menyetir dan Asha yang sibuk mencari topik pembicaraan hingga pikirannya kembali ke beberapa hari yang lalu, saat dirinya berada di kamar Mahesa dan menemukan tumpukan novel karya salah satu penulis di rak bukunya. “Kakak suka baca buku karya Kelana?” ucapan Asha membuat Mahesa sontak mengerem mendadak mobilnya, nafasnya tiba-tiba tercekat saat Asha menanyakan hal ini. “Kenapa?” “Waktu itu di kamar kakak banyak banget novel karyanya Kelana, ada merchandisenya juga. Kakak ngefans banget ya sama Kelana?” sebenarnya Asha tidak peduli jika Mahesa salah satu fans dari penulis yang tidak ia sukai itu. Menurutnya laki-laki juga tidak masalah jika menjadi fans sampai membeli barang-barang idolanya, seperti Brian yang sangat mengidolakan Lisa hingga ia berkeinginan untuk membeli mahkota yang Lisa pakai di music video terbarunya. Selain tampan, Brian juga aneh seperti Asha. “Bukan, itu punya Yere. Dia salah satu fans Kelana dan kalau beli bukunya selalu dikirim ke alamat gue, katanya sih ongkirnya biar gak mahal-mahal amat, dan ujungnya juga dititipin di apartemen gue semua,” jelas Mahesa. Salah satu yang perlu kalian ketahui tentang Mahesa adalah, jika berbohong lelaki itu akan berbicara terlalu banyak sembari mengetuk-ngetuk jari tangannya berusaha mencari ketenangan, dan ia sedang melakukan hal itu sekarang. “Aku tau nama Kelana dari Maya, dia juga punya banyak novelnya,” seakan mengerti apa yang akan ditanyakan Mahesa, gadis itu membuka suaranya terlebih dahulu. Wow, menarik. Pikir Mahesa. “Tapi Maya gak suka Kelana katanya,” kali ini Mahesa kembali menoleh, menanti lanjutan dari kalimat menggantung Asha dengan sedikit memelankan laju mobilnya. “Maya suka ceritanya tapi gak suka endingnya yang selalu sad, terus katanya dia juga nunggu karya terbaru Kelana yang mungkin akan keluar dalam tiga bulan ke depan,” lanjut Asha membuat Mahesa hanya mengangguk-angguk paham. Dan tunggu, pikiran Mahesa kemudian berkelana .... Bukankah Kelana sampai saat ini belum mengumumkan adanya novel baru yang akan segera terbit di akun sosial medianya? Kelana selalu memberi pengumuman novel yang akan terbit paling lama 3 minggu sebelum open pre-order. Bagaimana Maya bisa tau bahwa kelana saat ini sedang menulis sebuah buku baru? Apakah Maya tau bahwa— “Kak Mahesa awas!!!” Mahesa yang baru tersadar dari lamunan dengan segera mengerem mendadak mobilnya, hampir saja ia menabrak sekelompok ayam beserta anak-anaknya yang sedang menyebrang jalan. “Kenapa kak? Sakit? Aku aja yang nyetir gimana?” ucap Asha dengan raut wajah khawatir ketika melihat Mahesa seperti tadi, ia tidak ingin mati muda sebelum berkeliling Eropa. “Emang lo bisa nyetir?” tanya Mahesa. “Enggak hehe,” jawab Asha sambil tertawa renyah membuat Mahesa ikut tertawa, hanya Asha yang bisa membuat Mahesa tertawa receh seperti ini. Tak lama kemudian, setelah melewati jalanan yang sepi dengan sisi kanan dan kiri berupa hamparan sawah yang Asha sendiri juga baru tau bahwa masih ada tempat yang cukup hijau di daerah Jakarta, mobil mereka akhirnya sampai di sebuah rumah tua yang berukuran lumayan besar dengan beberapa mainan berupa perosotan dan ayunan yang berada di taman samping. Tepat setelah Mahesa dan Asha turun lalu akan mengambil barang-barang donasi yang berada di kursi belakang, suara teriakan dari salah satu anak mengagetkan keduanya hingga akhirnya ada sekitar 10 anak yang ikut berlari menghampiri dua orang dewasa itu. “Kak Mahesa!!” Mahesa menggendong anak perempuan yang berpakaian robot tinggi-tinggi hingga membuat gadis kecil itu tertawa riang, sedangkan yang lainnya bergelayutan di kaki Mahesa membuat Asha mau tak mau sedikit melangkah mundur dibuatnya. “Kak Mahesa bawa apa selain yang di dalam mobil?” tanya salah satu anak saat melihat banyak kardus-kardus berisi bahan makanan dan pakaian bekas yang masih layak untuk mereka. “Hm, apa ya? Coba tebak deh,” goda Mahesa sembari memasang wajah yang ia buat sangat jahil bermaksud untuk membuat para anak-anak penasaran, dan juga sukses membuat Asha membulatkan matanya karena tak menyangka Mahesa bisa sangat ekspresif di depan anak kecil. “Loh, nak Mahesa,” sapa seorang wanita yang keluar dari dalam rumah, Asha yakin usia wanita itu lebih tua dari usia bundanya. “Anak-anak, kak Mahesa biarin masuk dulu ya. Mainnya nanti lagi, sekarang ayo bantu ambil barang-barang di dalam mobil kakaknya,” ucap perempuan itu dengan lembut membuat para anak kecil yang tadinya mengelilingi Mahesa menjadi rebutan masuk ke dalam mobil untuk mengambil kardus-kardus itu, Asha agak ngeri saat melihat mereka saling dorong bahkan hingga ada yang terjatuh. Mahesa dan Asha kemudian masuk ke dalam rumah itu, duduk di ruang tamu sembari menunggu wanita tua yang ternyata bernama Bu Ani tersebut selesai membuat minuman di dapur. “Kamu sama siapa Hes, pacarmu ya?” goda Bu Ani saat keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi 3 gelas teh hangat dan beberapa camilan tak lupa juga menatap Asha dengan senyum yang sangat tulus, senyum seorang ibu yang langsung dapat membuat Asha menarik kesimpulan bahwa orang ini berhati sangat lembut. “Bukan bu, ini salah satu temen Mahes di klub musik yang ngasih donasi,” tutur Mahesa membuat wanita itu mengangguk. Ya memang benar faktanya kalau Mahesa dan Asha tidak ada hubungan serius, namun entah kenapa hati Asha merasa sedikit ngilu saat mendengar Mahesa hanya menganggapnya sebagai teman. Masih untung dianggap teman daripada harus dianggap sebagai seorang stranger seperti kejadian saat dirinya diturunkan Mahesa di tengah jalan waktu itu. “Oh iya, Ibu nggak tau kabar Lana, dia apa kabar ya,” tanya beliau kemudian. “Lana baik-baik saja Bu, sekarang sudah kerja jadi editor buku di Jogjakarta,” jelas Mahesa, Asha hanya bisa diam seraya mendengarkan percakapan antara dua orang itu, ia yakin bahwa Mahesa dan Bu Ani sudah kenal cukup lama. Setelah kurang lebih 15 menit larut dalam percakapan, ketiga orang itu dikejutkan dengan datangnya salah satu anak kecil yang tiba-tiba meminta Mahesa untuk segera memberikan sebuah hadiah yang tadi lelaki itu janjikan, Asha sendiri juga tidak tau bahwa Mahesa membawa hadiah untuk mereka. “Sini, kenalan dulu sama mereka,” ujar Mahesa saat telah berada di taman bermain kecil yang terletak di sebelah panti. Dengan langkah pasti Asha berjalan mendekati Mahesa dan segerombolan anak kecil itu, memperkenalkan diri dan membuka kedua tangannya bermaksud agar mereka mau berpelukan dengan Asha dan sejurus kemudian semua anak kecil itu berlari memeluk Asha persis seperti Mahesa saat dipeluk tadi. Mahesa yang melihat itu hanya tersenyum, matanya tak sadar meneduh saat melihat Asha membalas pelukan anak-anak itu dengan erat, hatinya tiba-tiba menghangat. “Udahan dulu yuk sesi pelukannya, kakak punya sesuatu di dalam tas,” kata Mahesa membuat mereka segera melepas pelukannya terhadap Asha dan kembali berjalan mendekati Mahesa, menanti hadiah yang lelaki itu maksud walaupun mereka sudah tau pasti apa isinya, tetapi rasa bahagia yang terpancar di wajah anak-anak polos ini tetap menjadi hal paling menyenangkan untuk Mahesa lihat. Lelaki itu membuka resleting tas ransel yang ia bawa, melakukan sedikit gerakan slow motion saat memasukkan tangannya ke dalam tas, dan berteriak “tada!!” sembari mengangkat satu box macaron yang ternyata masih ada beberapa box lagi di dalam hingga membuat anak-anak itu kembali berseru senang. Dengan sabar, Mahesa memerintah mereka semua untuk duduk rapi di rumput taman yang terlihat bersih, membuka box macaron itu dan membagikannya kepada mereka. Tawanya keluar begitu saja membuat Asha kembali merasakan panas di pipinya, Mahesa versi soft memang selalu berhasil membuat hati gadis itu porak poranda, agaknya semua versi yang berada di dalam diri lelaki itu memang selalu berhasil membuat Asha terpukau dan merona. *** Akibat terlalu asik bermain dengan anak-anak di panti asuhan tadi, Asha sekarang tertidur di mobil Mahesa dari 10 menit awal perjalanan pulang hingga sampai di depan gedung asramanya. Mahesa juga sudah berusaha berulang kali untuk membangunkan gadis itu namun tetap tak ada tanda-tanda ia akan bangun, bahkan Mahesa tadi sempat memeriksa denyut nadi Asha takut jika tiba-tiba nyawanya melayang. “Sha, ini udah sampai di asrama. Bangun dong!!” ucap Mahesa tak sabar karena jam sudah menunjukan pukul 8.15 malam, ia tidak mau gadis ini terkena sanksi karena pulang telat, dirinya juga harus segera pulang ke apartemen karena belum mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke pantai besok. Tak ada cara lain, Mahesa memandang lingkungan asrama yang sepi. Pos satpam pun terlihat kosong, lalu ia kembali menatap Asha yang anehnya masih terlihat cantik walaupun sedang tidur. Pemuda itu akan menggendong Asha menuju kamar asrama saat ini juga, sebelum tiba-tiba suara ketukan pada kaca mengurungkan niatnya dan segera membuka pintu mobil di sisi gadis tersebut lalu ikut turun membantu laki-laki yang mengetuk kaca mobil secara brutal tadi. “Tadinya mau gue gendong kalau lo nggak turun,” celetuk Mahesa. Pasalnya, lelaki itu sejak 10 menit yang lalu mengirimi Brian pesan namun tidak dibalas oleh empunya. “Salahin diri lo sendiri yang tiba-tiba kirim pesan gue tanpa perkenalan dulu,” jawab Brian sinis, bagaimana bisa lelaki itu mengenali siapa yang mengiriminya pesan jika Mahesa hanya mengirim pesan berupa ‘cepetan turun ke bawah’ tanpa embel-embel siapa dirinya dan kenapa menyuruh Brian untuk turun ke bawah. Tak ingin kembali berurusan dengan Mahesa, pemuda yang lebih tinggi itu dengan cepat menggendong Asha ala bridal style dan membawa gadis itu naik ke kamar asrama yang terletak di lantai dua tanpa berpamitan dengan Mahesa yang hanya menatapnya malas, ia juga tidak ingin bertengkar dengan Brian malam ini. Baru saja Mahesa hendak masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba mata tajam lelaki itu menangkap seorang gadis yang tadi sempat Asha ceritakan di dalam mobil. Gadis itu berjalan dari gerbang asrama mendekati Mahesa, atau lebih tepatnya mendekati pintu masuk asrama. “Malam kak,” sapa Maya dengan seulas senyum tipis yang membuat Mahesa menganggukkan kepalanya, lelaki itu mengurungkan niatnya untuk bertanya masalah Kelana karena satpam jaga tiba-tiba datang dan menyuruh Mahesa untuk secepatnya kembali karena gerbang akan segera ditutup. Maya melihat kepergian mobil Mahesa dari jauh, senyuman tipis itu berubah menjadi senyuman yang cukup lebar, ada binar dimatanya. Tidak, ia tidak memiliki perasaan kepada Mahesa karena mencintai lelaki itu sama saja dengan bunuh diri, ia hanya mengagumi Mahesa yang tidak memiliki topeng namun sukses menutup rapat siapa jati dirinya yang sebenarnya.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม