“Anisa!!”
“Ada!”
“Ardian?”
“Yo!”
“Asha?”
Tidak perlu menunggu jawaban, lelaki yang bertugas untuk mengabsen setiap nama adik kelasnya yang berada di dalam bus B itu tau bahwa Asha sudah datang, karena tadi ia sempat dibuat repot oleh kedua bodyguard Asha yang berebut bangku agar bisa duduk di samping gadis tersebut, siapa lagi kalau bukan Mahesa dan Brian.
Yeremias kembali menatap lembar daftar nama dari atas hingga bawah untuk memastikan bahwa tidak ada nama yang terlewat atau bus akan berputar balik ke kampus dan akan membuat waktu perjalanan mereka semakin lama.
Hari ini, mahasiswa teknik informatika tingkat pertama dan ketiga akan mengadakan karya wisata yang mana merupakan kegiatan turun temurun dari para senior mereka.
Sebelumnya, ada pengundian tentang mahasiswa tahun berapa yang akan pergi ke pantai. Lalu, tanpa disangka-sangka ternyata tahun pertama dan tahun ketiga memenangkan undian liburan tahun ini. Walaupun hanya satu malam, tapi mereka cukup bersyukur karena akhirnya bisa melepas penat setelah mengerjakan tumpukan tugas yang tak seakan tak ada habisnya.
Bus terbagi menjadi 2 kelompok, Bus A untuk mahasiswa tahun ketiga sedangkan bus B untuk mahasiswa tahun pertama. Bukan Mahesa namanya kalau tidak memiliki kekuasaan lebih dimana pun ia berada, nyatanya sekarang ia bisa masuk dan duduk manis di bus B bersama Yeremias serta Banyu, alibi Mahesa untuk duduk di bus B adalah agar bisa menjaga para juniornya, padahal ia hanya ingin melihat Asha yang saat ini duduk bertiga dengan Brian dan Maya.
“Gue nggak habis pikir ya, lo bakal sebucin ini,” celetuk Banyu setelah menatap ketiga junior mereka yang sedang bersenda gurau di kursi seberang.
“Untuk kebutuhan kata dalam cerita, gue bisa lakuin apapun yang gue mau,” jawab Mahesa tanpa memalingkan matanya dari laptop yang sedang ia bawa sekarang, jarinya dengan cepat mengetik kata demi kata membuat Banyu menggeleng heran, Mahesa sudah tidak waras.
***
Setelah dua jam perjalanan ditempuh dengan suara nyanyian yang fals dari Banyu dan beberapa mahasiswa lain, rombongan bus itu akhirnya sampai di sebuah pantai yang akan menjadi tempat tujuan mereka liburan selama satu hari satu malam nanti.
Bagaikan kera yang baru saja lepas dari kandang, mereka semua berlari ke sana kemari sambil sesekali mendekatkan diri ke bibir pantai untuk sekedar membasahi kaki, para junior tentu saja tidak akan menceburkan diri mereka ke air sebelum mendengar perintah dari sang senior.
Setelah semua kembali terorganisir, mereka mengawali kegiatan pagi ini dengan berdoa singkat karena mengingat ini bukan upacara bendera dan takut matahari akan semakin meninggi.
Kegiatan pertama yang mereka lakukan ialah membersihkan sampah di sebagian wilayah pantai. Asha saat ini sudah siap dengan sarung tangan dan kantong plastik hitam yang berada di tangan kirinya, begitupun juga yang lain, mereka semua dengan semangat membersihkan sampah-sampah itu agar bisa secepatnya bermain air.
“Semangat guys, nanti malam kita minum-minum!!” teriak Banyu.
Suasana pantai cukup sepi mengingat sekarang bukan masanya liburan, sebagian toko oleh-oleh pun masih tutup dan sebagian lagi baru terbuka setengahnya. Untuk bermalam nanti, mereka sudah menyewa resort yang cukup luas dan tentunya menghadap ke arah pantai membuat banyak orang tak sabar menunggu malam hari tiba, terkadang pantai terlihat lebih indah jika dilihat di malam hari. Bukan pantainya, namun langit serta suasananya.
“Sunblocknya udah dipake belum?” tanya Brian saat melihat Asha berulang kali mengelap keringat yang menetes deras di dahinya, matahari belum mencapai tengah namun cuaca panas sudah mulai terasa sangat menyengat.
“Udah,” sahut Asha seraya memasukkan botol dan beberapa bungkus kemasan makanan ringan bekas para pengunjung lain yang tak membuang sampah pada tempatnya.
“Gue ambilkan jaket dulu di bagasi bus ya,” tak tega melihat kulit putih s**u Asha terbakar matahari walaupun sudah memakai sunblock, Brian langsung bergegas pergi ke dalam bus untuk mengambil jaket milik gadis itu. Asha hanya melihat kepergian Brian tanpa ingin mencegahnya, ia mengerti bahwa lelaki itu sangat keras kepala jika berurusan dengan dirinya.
Tanpa sadar, tiba-tiba sebuah bucket hat terjatuh tepat di atas kepala Asha. Sebenarnya bukan terjatuh, ada seorang laki-laki di belakangnya yang memang dengan sengaja memasang bucket hat berwarna putih dengan hiasan bunga matahari di tengah-tengahnya.
Asha seketika menoleh, seketika pula merona saat sepasang netra hitam miliknya menatap leher jenjang dengan jakun menonjol milik lelaki yang lebih tinggi beberapa senti darinya, dagunya diangkat pelan oleh yang lebih tua, menampilkan pipi dengan semburat merah yang menurut lelaki itu sangat menggemaskan.
“Belum genap 30 menit di bawah matahari, udah merah aja pipi lo, lupa nggak pakai sunblock?” tanya Mahesa, tangan itu masih asik memegang dagu Asha agar si gadis tidak bisa menunduk.
Asha tidak menjawab, ia kepalang malu. Apakah Mahesa ini bodoh atau memang sengaja mengerjainya dengan memberi pertanyaan seperti ini? Matanya bergulir kesana-kemari berusaha menghindar dari tatapan Mahesa yang terlihat enggan untuk memutus pandangannya sama sekali.
“Di pakai ya topinya, gue mau ke sana dulu,” ucap sang senior setelah dirasa Asha tidak akan memberikan jawaban untuk pertanyaannya tadi.
“Eh kakak nggak kepanasan emang?” cegah Asha sembari memegang lengan Mahesa membuat lelaki berparas dewa yang hendak pergi itu kembali menoleh dan tersenyum tipis.
“Tenang aja, matahari nggak akan bisa nyakitin gue,” jawabnya lalu pergi meninggalkan Asha yang selalu membutuhkan waktu lama untuk mencerna perkataan Mahesa.
Tak lama kemudian, Brian datang membawa jaket milik Asha dengan nafas yang cukup tersengal-sengal, matanya mengernyit saat melihat ada sebuah topi lucu yang bertengger di kepala gadis itu, membuatnya bertambah manis.
“Topi siapa?” tanya Brian seraya memberikan jaket rajut berwana coklat kepada sang pemilik.
“Dikasih kak Mahesa tadi,” jawaban dari gadis itu sejurus kemudian membuat Brian terdiam.
Baru saja Brian meninggalkan Asha sendirian dan lelaki tersebut sudah menggencarkan aksi modusnya. Topi yang tadinya ia puji lucu itu saat ini ingin segera Brian sobek-sobek hingga rusak lalu ia buang jauh-jauh ke pantai, Brian curiga topi itu diberi pelet oleh Mahesa agar Asha bisa tertarik padanya. Padahal, tanpa diberi pelet pun Asha memang sudah tertarik dengan Mahesa.
Setelah menyelesaikan agenda pertamanya, kini para rombongan mahasiswa akhirnya bisa bebas untuk bermain air di tepi pantai sembari membasahi diri, beristirahat di kantin resort, bermain game atau bahkan hanya tiduran di kursi pantai sembari memejamkan mata, sekaligus tidur siang pikir mereka.
Mahesa memilih untuk duduk dengan tenang sembari meminum cola-nya di depan bar kecil yang terletak tak jauh dari resort. Bukan bar namanya kalau tidak menjual berbagai jenis minuman beralkohol, namun karena tempatnya yang lumayan kecil, alkohol yang dijual disini pun hanya merk lokal dengan harga murah. Lagipula tak masalah, toh Mahesa tidak ingin mabuk siang ini.
Kedua temannya kini sedang asik bermain air bersama mahasiswa lain, entah sudah berapa kali Mahesa diajak untuk ikut bergabung tapi lelaki itu selalu menjawab tidak mau. Bukannya Mahesa takut hitam, hanya saja suasana hatinya sedang buruk akibat melihat interaksi Asha dan Brian yang menurutnya sangat terlampau romantis itu.
Usai menatap kedua temannya, mata Mahesa kemudian beralih menatap seorang gadis yang berjalan mendekat ke arah bar, mungkin hendak mencari minuman atau sekedar menanyakan password WiFi. Awalnya ia tidak peduli dengan keberadaan gadis itu, namun tiba-tiba Mahesa teringat akan suatu hal yang kemarin tidak sempat untuk ia tanyakan padanya.
“Sprite tiga ya, mas!” pinta Maya kepada lelaki penjual minuman dengan kulit hitam serta rambut yang berwarna kuning keemasan, khas anak pantai.
Ah, sepertinya Maya tidak menyadari keberadaan Mahesa yang tepat berada di sebelahnya sembari menatap gadis itu dengan tatapan tajam.
“Maya,” seru Mahesa hingga membuat Maya sontak menolehkan kepalanya ke kanan dengan wajah cukup kaget karena mendengar suara Mahesa yang terkesan sangat dingin.
“Oh, hai kak! Maaf gue nggak tau kalau lo disitu,”
Bohong, Maya sebenarnya tau bahwa Mahesa berada di bar itu sejak awal kedatangannya tadi. Ia berpura-pura untuk tidak melihat Mahesa karena memang dirinya tidak ingin berurusan dengan laki-laki tersebut.
“Gue denger dari Asha, lo suka ngoleksi novel karya Kelana?” tanya Mahesa to the point membuat gadis itu kembali terkejut namun dengan segera berusaha menguasai ekspresinya.
Maya tidak menyangka Mahesa akan menanyakan hal ini disini dan saat ini.
“Gue nggak cuma suka ngoleksi novelnya aja, tapi gue juga tau siapa Kelana,” ucap Maya dengan tenang hingga sukses membuat Mahesa terkejut.
“Tapi gue bakal keep identitas Kelana dari semua orang karena gue masih penasaran dengan ending novel yang dia garap sekarang,” lanjut gadis itu tanpa menunjukkan rasa ragu di setiap perkataannya.
Keadaan hening, Mahesa enggan menjawab karena memang sebenarnya tak ada yang perlu dijawab. Setelah selesai melakukan pembayaran untuk tiga kaleng sprite, Maya kemudian pergi meninggalkan lelaki yang kini mengepalkan tangannya kuat.
Ibarat bom waktu yang akan meledak kapan saja, Mahesa harus segera menyelesaikan ini semua dengan cepat namun tertata atau ia akan mati akibat bom waktu yang ia buat sendiri.
Pukul 4 sore, dua laki-laki yang dipercaya merupakan keturunan dewa tersebut saling menatap dari jarak yang bisa dikatakan tidak terlalu jauh. Sepasang mata tajam dari keduanya enggan untuk mengalihkan pandangan masing-masing, berusaha saling menjatuhkan atau bahkan membunuh lewat tatapan mata.
“Tolong santai ya, ini cuma pertandingan voli pantai antar tingkat, bukan Asian games!” teriak Banyu yang berperan sebagai wasit pada permainan hari ini.
Perkataan Banyu dengan lugas memang sengaja menjurus kepada kedua lelaki itu, Mahesa dan Brian. Pasalnya, sejak permainan belum dimulai, mereka berdua sudah menunjukkan aura saling membunuh hingga membuat arena lomba berubah menjadi tegang seperti berada di pertandingan tingkat internasional.
Permainan kemudian dimulai dengan penuh semangat, kedua tim yang masing-masing berisi mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga tersebut saling melempar servis dan smash berulang kali berharap akan mendapatkan kemenangan di setiap set.
Mahesa dan Brian tetap seperti biasa, selalu bersaing dan tentu saja selalu sukses untuk menyita perhatian banyak orang seperti saat ini. Keduanya hanya memakai kaos tanpa lengan berwarna putih, keringat mengucur dari atas rambut sampai d**a hingga membuat perut sixpack mereka tercetak sempurna dari balik kaos tipis itu. Teriakan mahasiswa perempuan jelas hanya ditujukan untuk Mahesa dan Brian, bukan untuk tim mereka.
“Selamat untuk Tim B!!” teriakan Banyu mengakhiri permainan panas hari ini.
Mahasiswa tahun pertama yang memenangkan permainan kali ini membuat Brian menatap Mahesa dengan senyum meledek, yang ditatap hanya diam saja tanpa ingin mengeluarkan ekspresi sama sekali.
“Loser,” bisik Brian tepat di telinga yang lebih tua.
“Setidaknya gue menang kalau masalah ambil hati Asha,” jawab Mahesa tak kalah lirih membuat wajah Brian mengeras, lelaki itu kemudian memilih pergi daripada harus mendengarkan lebih banyak lagi kalimat-kalimat yang keluar dari mulut iblis milik Mahesa.
***
Lampu-lampu kecil temaram kini menemani malam mereka, acara inti sekaligus penutupan akan segera dilaksanakan, pesta seafood dan tentu saja ditambah dengan sedikit alkohol. Beberapa orang sudah siap membakar seafood dan beberapa lainnya duduk sambil bernyanyi di kursi santai yang memang sengaja disiapkan oleh pihak resort tadi.
Acara dimulai sejak pukul 6 sore dengan berbagai permainan yang tidak terlalu menguras tenaga seperti truth or dare, dare or dare, uno, atau hanya bermain monopoli dan kartu bridge bersama.
“Oke Mahesa, dare or dare?” tanya Banyu dengan semangat menggebu-gebu setelah ujung botol yang mereka putar berhenti menghadap ke arah Mahesa.
Lelaki yang menggunakan kemeja hitam dengan tiga kancing teratas ia biarkan terbuka dan celana pendek selutut itu hanya memutar bola matanya malas, kenapa Banyu selalu menciptakan permainan aneh dan tidak jelas seperti sekarang.
Yang mengikuti permainan ini hanya 5 orang, tetapi sukses membuat semua orang ikut berkumpul sekedar melihat dare apa yang akan diberikan Banyu kepada Mahesa tak terkecuali juga Asha, gadis itu dengan semangat menatap Banyu dan Mahesa bergantian, mencoba menebak apa yang ada di pikiran Banyu.
“Darenya adalah ....” perkataan Banyu sengaja ia buat menggantung membiarkan sebagian mahasiswa yang tengah bermain drum kecil membuat sebuah backsound yang menambah rasa penasaran mereka.
Sungguh, Mahesa sendiri juga bingung kenapa ia bisa terjebak di lingkungan sesat semacam ini.
“Nyanyi satu lagu buat orang yang lo deketin sekarang,” semua orang terdiam, ini juga termasuk salah satu dari rencana Mahesa dan Banyu. Ia sengaja menaruh ujung botol tadi tepat di depan Mahesa saat yang lain lengah dan mereka berdua akan segera melaksanakan aksi dramanya. Seperti kata Mahesa tadi, untuk kata dalam sebuah cerita, ia rela melakukan apapun.
“Tapi tenang aja, lo nggak perlu sebut siapa orang yang lagi lo deketin saat ini,” lanjut Banyu yang justru membuat semua penonton semakin penasaran dibuatnya, sedangkan Asha sendiri juga penasaran serta dibuat gelisah di waktu yang bersamaan, ia berpikir apakah Mahesa sedang mendekati gadis lain atau gadis yang dimaksud Banyu adalah dirinya? Asha tidak tau dan tidak ingin berharap.
Setelah mendengar perkataan Banyu, Mahesa kemudian mengangguk dan berjalan mengambil gitar yang tergeletak di atas meja lalu kembali duduk ditempatnya semula, menarik nafas serta membiarkan suasana menjadi lebih hening agar ia dapat berkonsentrasi dan mulai membuka mulutnya untuk bernyanyi,
Tak terasa gelap pun jatuh,
Diujung malam menuju pagi yang dingin,
Hanya ada sedikit bintang malam ini,
Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya.
Siapa yang tidak merona jika dipuji lewat sebuah lagu yang keluar dari mulut Mahesa? Apalagi lirik lagu tersebut sangat tepat dengan latar suasana malam ini, dingin, penuh bintang, disertai deburan ombak. Tatapan mata tajam dari pemuda tersebut kemudian terarah jelas menuju manik mata Asha yang terlihat berbinar.
Setelah puas mengamati dunianya, Mahesa langsung mengalihkan pandangan matanya dari Asha menuju yang lain dengan tetap bernyanyi serta memetik gitar kayu berwarna cokelat tersebut sekaligus menikmati angin pantai masuk ke dadanya dari kemeja yang terbuka, semoga saja ia tidak masuk angin sebelum rencananya berhasil, doa Mahesa dalam hati.
Jelaga elang itu kembali menatap Asha saat menyanyikan lirik terakhirnya membuat gadis yang kini duduk tepat dihadapannya semakin yakin bahwa lagu ‘perempuan yang sedang dalam pelukan' ini memang dinyanyikan khusus untuk dirinya, bibir tipis itu lambat laun melengkung keatas, memberikan senyuman setulus mungkin untuk seseorang yang saat ini juga tersenyum untuknya.
Ah tunggu,
Kemana Brian?
Lelaki jangkung yang baru saja keluar dari dalam resort untuk menuntaskan panggilan alamnya itu terlihat bingung ketika melihat segerombolan mahasiswa yang berteriak di satu tempat, pasti ada hal yang telah ia lewatkan, batinnya. Matanya kemudian melihat rona merah di wajah Asha hingga membuat Brian semakin penasaran akan apa yang telah terjadi, jangan bilang Asha ditembak oleh Mahesa?
“Ada apaan, May?” tanya Brian yang kini telah berada di samping Maya.
“Bukan apa-apa, cuma game biasa,” jawab Maya santai sembari tersenyum tipis, ia tidak ingin Brian menjadi penghalang cerita Mahesa dan Asha, Brian tidak pantas sakit hati, menurutnya.