“Aku bakal buat kamu nggak berenti ngedesah malem ini ..”
Pipi Alina langsung berubah semerah tomat saat mendengar Arga berkata demikian. Jantungnya langsung berdegup lebih kencang. Napasnya pendek. Mata Alina membulat, “Ih, Arga jorok!”
Arga tersenyum, “Emang kamu ngerti apa maksud aku?”
“Ngerti lah. Aku kan bukan anak kecil lagi ..”
Arga menyeringai, “Iya ya. Kamu kan bukan anak kecil lagi. Udah pernah ‘main’ sama aku soalnya.”
“Udah ah, aku mau mandi dulu,” kata Alina malu-malu.
“Yakin nggak mau dimandiin?”
“Nggak!”
Akhirnya Alina langsung buru-buru mengambil handuk merah yang tergeletak di atas ranjang dan pergi ke kamar mandi. Arga cuman tertawa melihat tingkah konyol Alina. Dari ranjang, Arga bisa melihat dengan jelas siluet bayangan tubuh Alina yang terlihat dari pintu kaca kamar mandi. Baru melihat samar-samar saja, ‘adik kecil’ Arga di bawah sana sudah berontak, ingin buru-buru dikeluarkan.
Karena sudah tak sabar, akhirnya Arga menanggalkan pakaiannya satu per satu, membuangnya ke lantai, dan ikut Alina mandi. Alina kaget begitu melihat Arga ikut masuk ke dalam kamar mandi. “Arga?! Kamu mau ngapain?!” teriak Alina kaget.
Arga menyeringai, “Mau mandi lah, masa mau main billiard.”
“Kan aku udah bilang nggak mau dimandiin ..”
Arga tersenyum, “Iya, aku tau kok. Tenang aja, aku nggak bakal apa-apain kamu ..”
Alina menghela napas, “Oh. Bagus deh.”
Arga mendekati Alina dan berbisik tepat di telinga Alina, “Aku nggak bakal apa-apain kamu di sini. Tapi kalo di ranjang, nggak tau deh.”
Pipi Alina merona merah lagi. Apalagi saat Alina melihat ke bawah dan sadar bahwa ‘adik kecil’ milik Arga di bawah sana sudah tegang dan berdiri setegak tiang bendera. Alina cuman menelan ludahnya dengan kasar. Arga menyeringai, “Suka ya? Kok diliatin terus sih?”
Pipi Alina tambah merona. Karena malu, akhirnya Alina mandi dengan posisi membelakangi Arga. Arga tak bisa menahan keinginannya untuk memeluk Alina dari belakang, saat melihat Alina sedang asik mengeramasi rambutnya yang tadi siang tak sengaja ketumpahan es teh manis. Tubuh Alina yang berbentuk bak gitar Spayol, kulitnya yang mulus, pinggangnya yang ramping .. Belum lagi ditambah air yang mengucur deras dari shower dan membasahi kulit Alina, membuat Alina jadi terlihat tambah menggairahkan. Ah, rasanya Arga bisa jadi gila karena perempuan yang ada di hadapannya ini.
“Arga .. Sana ah, aku lagi keramas ..,” kata Alina.
Arga menyeringai. Tangan-tangan Arga yang nakal mulai bergerak naik, dari pinggang kini ada di kedua gunung kembar Alina. “Arga ..,” desah Alina.
“Kenapa, sayang? Enak ya?” goda Arga.
Alina cuman menggigit bibir bawahnya. Arga membalik tubuh Alina, hingga kini kedua mata mereka bertemu. “Aku cinta sama kamu, Alina,” kata Arga.
Alina tersenyum, “Aku juga.”
Dengan perlahan, Arga mencium bibir Alina. Awalnya Arga menciumi Alina dengan lembut, tapi makin lama ciuman Arga dipenuhi rasa gairah dan nafsu juga. Alina meletakkan tangannya di kepala Arga, meremas rambut hitam Arga yang tebal. Sementara kedua tangan Arga ada di pinggang ramping Alina. Setelah cukup lama berciuman, akhirnya Arga melepas ciumannya. Napas keduanya terengah-engah, seperti habis selesai lomba lari marathon.
“Kamu udah kelar mandi kan?” tanya Arga dengan napas yang masih terengah-engah.
Alina menggeleng, “Belum. Kenapa?”
“Mandinya lanjut entar aja.”
Tanpa basa-basi, Arga langsung menggendong tubuh mungil Alina ala bridal style. Begitu keluar dari kamar mandi, Arga langsung membaringkan tubuh Alina yang masih basah ke atas ranjang berukuran king size itu. “Arga, kasurnya jadi basah,” kata Alina.
“I don’t care.”
Arga kembali menciumi bibir Alina dengan buas. Kali ini bukan hanya bibir, leher mulus dan kedua gunung kembar Alina yang ranum itu juga tak luput dari serangan bibir dan tangan Arga yang nakal. Membuat Alina tak berhenti mendesahkan nama Arga.
Tiba-tiba ..
Ponsel Alina bunyi. Ada satu panggilan masuk. “s**t. Siapa sih, ganggu aja,” umpat Arga.
Akhirnya Alina mengangkat ponselnya. Ternyata dari Gilang Kairav alias Gilang, kakak laki-laki sekaligus kakak satu-satunya milik Alina. “Kenapa, Lang?” kata Alina.
“Kamu di mana?” tanya Gilang.
Deg. Alina bingung mau jawab apa. Akhirnya Alina bohong. “Eh, lagi nginep sih semalem di rumah temen. Sorry baru ngabarin. Kasih tau orang rumah juga ya sekalian.”
Arga cuman menyeringai saat mendengar kekasih hatinya berbohong.
Gilang mengernyitkan dahi, “Rumah temen? Siapa?”
“Jovanka. Temen kampus,” jawab Alina. Duh, demi Arga, Alina jadi bohong.
“Oh. Ya udah. Hati-hati. Besok langsung balik.”
Panggilanpun terputus.
“Kamu nakal. Masa sama abang sendiri bohong,” goda Arga.
“Ya abis mau gimana? Masa aku ngaku kalo nginep sama kamu?”
Arga menyeringai, “Iya juga sih. Entar kalo ketauan, kita dinikahin lagi.”
Alina cuman tersenyum.
“Kamu tunggu sini dulu. Aku mau ambil sesuatu,” kata Arga.
Arga bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah meja kaca besar di sudut ruangan, mengambil sesuatu dari salah satu kantong belanjaan. Penasaran, akhirnya Alina menghampiri Arga.
Mata Alina langsung membulat begitu melihat apa yang sedang Arga pegang. “Arga .. Kamu beli ini?”
Arga menyeringai, “Iya. Kenapa? Kamu emang belum pernah liat kondom?”
“Liat sih udah. Tapi kalo beli, mana pernah ..” Alina terdiam sejenak sebelum kembali bicara, “Kamu sering beli, ya?”
“Nggak lah. Ngapain sering beli kondom?”
“Terus? Kenapa sekarang kamu beli?”
“Soalnya kan mau dipake pas ‘main’ sama kamu,” goda Arga.
Pipi Alina langsung merona. Alina memperhatikan dua kotak alat kontrasepsi yang ada di hadapannya itu dengan serius. “Kok ada rasa-rasanya segala?”
Arga menyeringai, “Mau aku kasih tau fungsinya apa?”
Meskipun ragu, Alina mengangguk.
Seringai Arga melebar, “Mau yang rasa bubble gum apa stroberi?”
“Stroberi.”
Arga merobek kotak kemasan alat kontrasepsi dengan varian rasa stroberi itu lalu langsung mengenakannya ke ‘adik kecilnya’ yang masih berdiri tegak sempurna. Lagi-lagi Alina cuman menelan ludah dengan kasar. Astaga, tercemar sudah pikiran Alina. Yah meskipun selama ini juga sebenarnya Alina gak polos-polos amat.
Masih dengan seringai lebarnya, Arga menuntun tangan kanan Alina untuk menyentuh ‘adik kecilnya’, “Touch it, honey.”
Alina langsung meremas rudal besar milik Arga, membuat Arga langsung mendesah seketika.
Melihat Arga keenakan, Alina langsung tambah liar memainkan milik Arga. “Kulum punya aku,” kata Arga dengan napas yang masih terengah-engah.
“Maksud kamu?” tanya Alina dengan wajah super polosnya.
“Diisep, Alina. Masukin ke mulut kamu. Kamu suka rasa stroberi kan?” goda Arga.
Awalnya ragu, tapi akhirnya Alina menuruti perkataan Arga. Alina memasukkan rudal besar Arga ke dalam mulutnya perlahan, lalu menjilat rudal besar Arga seperti anak kecil yang sedang memakan es krim. Arga tambah mendesah keenakan, “Faster, baby.”
Alina merasakan rasa stroberi memenuhi lidah perasanya. Ternyata ini maksud pemberian rasa di alat kontrasepsi?
Alina tambah nakal memainkan rudal besar milik Arga. Apalagi Alina paling suka rasa stroberi. Rasanya jadi seperti sedang mengulum es krim tapi bentuknya jumbo alias super besar. Arga meremas rambut Alina dan tak bisa berhenti mendesah. Lima belas menit kemudian, Arga langsung mencapai puncak surga dunianya.
Arga mendesah dengan napas yang masih terengah-engah.
“Emang enak ya?” tanya Alina polos.
Arga menyentuh bibir Alina dengan telunjuknya. “Enak. Enak banget. Mulut kamu emang juara,” goda Arga.
Arga terdiam sejenak sebelum kembali bicara. Arga menyeringai, “Mau gantian?”
“Gantian?”
Arga membaringkan tubuh Alina di ranjang, lalu membuka kedua kaki Alina. Arga menciumi bibir Alina. Ciumannya lalu turun ke leher, kedua gundukan ranum Alina, perut rata Alina, kedua paha mulus Alina. Hingga pada akhirnya tiba tepat di depan lubang surga dunia kesukaan Arga. Arga menciumi milik Alina, membuat Alina mendesah. “Arga ..”
Arga lalu memasukkan dua jarinya ke dalam lubang sempit milik Alina yang sudah basah. Sementara bibir dan lidah Arga tak berhenti mencium dan menjilati k******s Alina. Alina tambah mendesah hebat begitu Arga menemukan g-spot milik Alina. Desahan Alina mungkin sudah terdengar sampai ke ruang resepsionis sekarang.
Tapi Alina tak peduli.
Arga semakin liar menciumi dan menjilati milik Alina. Lidahnya begitu lihai memainkan bagian paling sensitif dari tubuh Alina. Sepuluh menit kemudian, Alina mencapai puncak surga dunianya. Alina menjambak rambut Arga saat mencapai o*****e pertamanya.
“Enak kan?” goda Arga.
Alina menggigit bibir bawahnya dan mengangguk.
“Ngeliat kamu kayak gini, aku jadi keras lagi ..”
Tanpa basa-basi, akhirnya Arga langsung mencium bibir Alina dengan kasar. Arga berada di atas Alina sekarang. Kedua kaki Alina ada di pinggang Arga, membuat kedua kemaluan mereka bertemu. Arga menggesekkan rudal besarnya tepat di depan lubang Alina yang sudah basah, membuat Alina mendesah keenakan. “Arga .. Masukkin ..,” desah Alina.
Arga menyeringai, bukannya melakukan apa yang diminta, Arga malah makin liar menggesekkan rudal besarnya di lubang sempit Alina. Alina mulai frustrasi, “Arga, please ..”
Akhirnya, jleb. Dengan sekali hentakkan, rudal besar Arga masuk terbenam sempurna ke dalam lubang hangat dan basah milik Alina. Alina langsung mencakar punggung mulus Arga, tak kuasa menahan betapa nikmatnya rudal besar milik Arga.
Meskipun masih terasa sedikit sakit, tapi kali ini lebih banyak nikmat daripada sakit yang dirasakan Alina. Arga memompa rudal besarnya dengan kasar, bahkan membuat ranjang mereka berdecit. Bibir Arga yang nakal juga tak bisa berhenti menciumi dan menjilati gundukan ranum milik Alina.
“Aku paling suka nyusu sama kamu,” goda Arga.
Alina tak bisa berhenti mendesah. Kali ini rasanya benar-benar nikmat. Arga tambah menyeringai. “Arga .. Punya kamu gede .. Enak ..,” desah Alina.
Arga tambah memajukan temponya. Ah, rasanya kalau sedang seperti ini, Arga dan Alina jadi lupa kenyataan dan dunia sekitar. Dunia nyata yang kejam padahal ada di depan mereka.
Setelah puas hampir dua jam bermain dengan berbagai posisi, akhirnya Arga dan Alina kembali o*****e. Entah sudah ke berapa kalinya. Yang pasti keduanya sangat puas hari ini karena bisa bermain lebih lama dan mendesah dengan kencang tanpa takut didengar orang.
“Enak kan?” tanya Arga.
“Iya .. Tapi sakit ..”
“Masih sakit?”
“Sedikit.”
“Entar sakitnya juga ilang. Makanya, supaya sakitnya ilang, kita musti sering-sering main,” goda Arga.
“Itu sih akal-akalan kamu aja,” canda Alina.
Arga tersenyum, “Aku sayang kamu.”
Alina membalas senyum Arga, “Aku juga. Lanjut mandi yuk, badan aku lengket semua ini.”
Arga menyeringai, “Mau lanjut di kamar mandi?”
“Idih, nggak! Capek, ah. Tadi kan udah dua jam, masa kamu masih minta nambah?”
Arga cuman menyeringai dan membopong tubuh Alina ke kamar mandi.
“Arga, turunin!”
“Nggak. Nggak mau.”
Sepertinya Alina bakal jalan mengangkang buat seminggu ke depan.