Suara alarm handphone yang memekakan telinga membangunkan Alina dari tidurnya. Waktu menunjukkan masih jam tiga subuh. Di luar, hujan sudah berhenti. Menyisakan embun beserta dinginnya udara pagi.
Arga masih tidur pulas di samping Alina. Sebenarnya Alina tak tega mau membangunkan Arga. Tapi apa boleh buat. “Arga .. Bangun. Bangun, kamu musti balik,” bisik Alina sambil menggoyang-goyangkan lengan Arga.
Arga membuka matanya perlahan, “Jem berapa sekarang?”
“Masih jem tiga subuh. Bangun gih, sebelum bapak sama orang rumah bangun,” jawab Alina.
Akhirnya Arga bangun dan mengambil kembali semua pakaiannya yang masih berceceran tak beraturan di lantai yang dingin. Alina cuman duduk diam di kasurnya, memperhatikan dengan tatapan seriusnya bagaimana Arga mengenakan satu per satu pakaiannya.
Arga sadar tatapan Alina tak beralih sepersekian detik pun dari dirinya. “Nggak usah diliatin gitu. Aku tau aku ganteng,” canda Arga.
Alina tersenyum, “Emang aku nggak boleh ngeliatin pacar aku sendiri?”
Setelah mengenakan semua pakaiannya, Arga menghampiri Alina dengan perlahan dan mencium bibir Alina sekilas. “Boleh, tapi jangan terlalu sering.”
“Emangnya kenapa?”
Arga menyeringai, “Kalo terlalu sering, nanti aku jadi nervous. Kalo nervous, bawaannya pengen nyium kamu terus.”
Alina tersenyum, “Nggak ada hubungannya, Arga.”
Akhirnya Arga pamit dan berangkat pulang. Keluarnya tidak lewat pintu rumah tentunya, tapi lewat jendela. Persis kayak maling. Maklum, Arga kan ‘tamu tak diundang’ yang diam-diam menyelinap ke kamar tidur Alina.
“Hati-hati di jalan,” kata Alina.
“Jangan lupa konci jendela kamu lagi. Ah, sama satu lagi ..”
“Apa?”
Arga menyeringai, “Jangan lupa pake baju kamu. Jangan sampe ibu kamu bangun terus nyamperin kamu ke sini. Nanti dia bingung, kenapa anak perempuannya tidur nggak pake baju.”
Senyum menghiasi pipi Alina yang sudah merona karena malu, “Ish dasar.”
Siangnya, hari berjalan seperti biasa. Pergi ke kampus, ketemu dosen, revisi. Belum lagi ditambah saat dosen pembimbing tak bisa hadir karena sakit dan alasan lainnya. Begitu terus kegiatan Alina dan Arga akhir-akhir ini. Maklum, Alina dan Arga mahasiswa tingkat akhir yang tinggal nunggu sidang skripsi.
Ah, jangan lupakan juga gangguan dari orang luar yang datangnya dari Shenina Anastasia. Mantan Arga Pranadipa yang kalau kata Revan belum move on.
Seperti siang ini, Shenina lagi-lagi datang ke kampus Arga dan Alina. Entah apa tujuannya. Eras sampai dibuat jadi senewen sendiri. “Kamu emang lagi nggak ada kerjaan?” tanya Eras dengan tingkat kesabarannya yang setara dewa.
“Belum ada kerjaan tuh. Makanya aku main ke sini,” jawab Shenina enteng.
Eras menghela napas, “Aku mau pesen makanan dulu. Kamu tunggu sini. Jangan ke mana-mana.”
Eras lalu berjalan dan memesan makanan di kantin. Sengaja. Malas berdebat dengan Shenina. Apalagi Eras curiga tujuan Shenina ke sini cuman mau lihat Arga. Sejak pertemuan tak disengaja dengan Arga dan Alina di KFC waktu itu, Shenina jadi berubah.
Dan Eras tambah dongkol hatinya saat tahu Shenina mantan kekasih Arga. Cowok yang sama yang juga menggaet idaman hatinya, Alina.
Entah karena takdir atau nasib Alina yang sedang buruk hari ini, lagi-lagi Alina bertemu dengan Shenina. Tapi kali ini Alina tak sendiri, ada Arga di sampingnya.
“Arga!” Teriak Shenina begitu melihat Arga. Teriakannya sampai membuat hampir seisi kantin menengok. Padahal maksud hati mau makan di kantin, tapi apa daya Alina harus bertemu lagi dengan cewek satu ini.
Shenina langsung excited begitu melihat Arga menghampirinya. Padahal di samping Arga jelas-jelas ada Alina. Shenina langsung tersenyum dan memegang lengan Arga. “Kamu apa kabar?” tanya Shenina dengan senyum lima jarinya.
“Baik,” jawab Arga dingin.
“Udah lama aku nggak ngeliat kamu ..” Shenina mulai tambah liar. Bukan cuman memegang lagi, tapi sekarang sudah memeluk lengan Arga.
Alina yang kesabarannya sudah habis langsung berdehem, “Ehem.”
Bagaimana bisa Shenina bertindak seperti itu di depan Alina?
Arga langsung melepas pelukan Shenina dengan kasar. “Ngapain lo ke sini?”
“Suka-suka dong. Emang kalian yang punya kampus ini?”
Arga dan Alina cuman terdiam. Pertanyaan itu langsung menusuk hingga ke hati Alina dan Arga. Bapak Arga seorang dokter, bapaknya Alina juga seorang arsitek. Bukan pemilik kampus.
“Udah yuk, duduk. Aku udah laper,” kata Alina.
Akhirnya Arga dan Alina duduk di pojokan, di samping wastafel tempat khusus pengunjung kantin cuci tangan. Jauh dari tempat Eras dan Shenina. Awalnya mereka makan dengan damai, tapi entah setan mana yang merasuki Shenina, dia jadi iseng. Dengan dalih mau cuci tangan, Shenina lagi-lagi mendekati Arga dan Alina.
Shenina sudah mendapat target. Seorang cewek berkacamata yang sedang asik memainkan HP sambil membawa minuman. Begitu melihat cewek itu berjalan melewati Alina, Shenina langsung menyengkat kakinya. Si cewek langsung jatuh, HP nya juga. Minuman di tangannya juga ikut tumpah, mengenai kepala Alina. Bajunya jadi basah. Untungnya tidak basah semua. Tapi tetap saja malu.
Melihat cewek itu sudah jatuh dan minumannya sudah tumpah mengenai Alina, Shenina langsung buru-buru balik ke tempatnya. Jalannya santai, seolah-olah tak terjadi apa-apa. Seisi kantin langsung heboh melihat Alina dan cewek itu.
Alina langsung membantu cewek berkacamata itu berdiri. “Kamu nggak apa-apa?” tanya Alina.
“Nggak, nggak apa-apa. Duh, sorry ya, tadi gue lagi asik main HP, jadi nggak liat lo. Ada yang nyengkat gue deh kayaknya,” jawab cewek itu.
“Siapa?” tanya Arga dingin.
Cewek berkacamata itu melihat ke seluruh ruangan. “Ah, yang itu tuh! Tadi emang gue jalan deket dia, terus kayaknya dia sengaja nyengkat gue!” Kata si cewek sambil menunjuk ke arah Shenina dan Eras.
Eras langsung malu setengah mati. “Kamu apa-apaan sih?! Kayak anak kecil tau nggak?”
Shenina cuman tersenyum puas. Biar saja Eras malu. Shenina mana mungkin malu, dia kan bukan mahasiswa di kampus ini. Tak akan ada yang kenal dengannya.
Arga mengepalkan tangannya, kesal. Dia mengumpat dengan kasar.
Tapi belum sempat Arga menyelesaikan aksinya, Alina sudah memegang lengan Arga, mencegahnya beraksi lebih jauh. Bisa-bisa Arga kena omelan dosen karena berkelahi di area kampus. Apalagi yang mau dibogem perempuan. Mati lah. Bukannya sidang skripsi, yang ada malah kena sanksi.
“Udah, Arga. Aku nggak apa-apa kok,” kata Alina.
Arga cuman menatap Shenina dan Eras dengan tatapan sinis, lalu mengajak Alina buru-buru angkat kaki dari kantin.
Arga buru-buru membawa Alina ke area parkiran, menuju mobilnya. Hari ini Arga membawa mobil sport merahnya. Mobil kesayangannya. Pemberian bapak di ultah waktu itu.
“Masuk,” kata Arga.
“Kita mau ke mana?” tanya Alina.
“Pergi dari sini.”
“Kamu udah nggak ada kelas emangnya?” tanya Alina lagi begitu duduk di mobil, di kursi penumpang di samping Arga.
“Nggak. Kamu juga kan?”
Alina mengangguk. Alina terdiam sejenak sebelum kembali bicara. “Yang tadi itu nggak usah diambil hati, Arga.”
“Nggak usah diambil hati gimana? Shenina udah keterlaluan, Alina. Kamu liat sendiri kan? Di depan aku aja dia masih berani begitu sama kamu, gimana kalo aku nggak ada coba?”
Alina cuman diam. Arga ada benarnya juga. Setelah hampir setengah jam diam-diaman di mobil dan bermacet-macet ria, Arga dan Alina akhirnya sampai di tempat tujuan. “Kok kita ke sini?” tanya Alina bingung.
“Sengaja. Kamu kan butuh baju baru,” jawab Arga.
Arga mengajak Alina ke sebuah pusat perbelanjaan terdekat. Padahal baju Alina juga sudah lebih dari cukup di rumah. Arga tak perlu membelikan yang baru. “Nggak mau, nggak butuh,” kata Alina.
“Ayo turun.”
“Nggak mau. Titik.”
Arga menghela napas panjang. Akhirnya Arga mengalah. “Ya udah kamu tunggu di sini.”
Setelah menunggu sendirian di dalam mobil selama hampir satu jam, akhirnya Arga balik juga. Membawa tiga kantong belanjaan. Astaga. Sepertinya Arga sudah lupa kalau ibu pernah bilang supaya jangan boros-boros.
Alina mengernyitkan dahi, “Kok lama banget sih?”
Arga tersenyum, “Sorry.”
“Udah puas belanjanya?”
“Udah dong.”
“Kok banyak amat? Aku nggak butuh baju sebanyak itu.”
Arga tersenyum, “Ini bukan buat kamu doang kok. Buat ibu aku. Sama buat ibu kamu juga, biar dia seneng dapet calon mantu kayak aku.”
Pipi Alina langsung merona, “Oh.”
Ah, PD sekali Alina. Padahal bajunya bukan cuman buat dia.
Arga mencium bibir Alina. “Maaf. Gara-gara aku, kamu jadi digangguin sama Shenina.”
Alina tersenyum, “Nggak apa-apa. Asalkan kamu selalu ada deket aku. Kamu janji kan bakal selalu ada di deket aku?”
Arga mencium dahi Alina, “Janji.”
Arga kembali menyetir mobilnya. “Langsung balik kan?” tanya Alina.
Arga menyeringai, “Nggak.”
“Terus? Kita mau ke mana?”
“Ada deh. Liat aja nanti.”
Tak lama kemudian, Arga dan Alina sampai di sebuah guest house. Selesai memarkir mobilnya dan membawa tiga kantong belanjaannya, Arga langsung mengajak Alina masuk ke guest house mewah di hadapannya.
Alina membelalak, “Hah?! Kita mau nginep?!”
Arga menyeringai, “Padahal aku nggak kepikiran buat nginep loh. Tapi kalo kamu mau nginep, nggak apa-apa. Dengan senang hati.”
“Dasar m***m,” kata Alina dengan pipinya yang sudah merona merah.
“Tapi kamu suka kan?” goda Arga.
Alina tak menjawab. Mana mungkin Alina tak suka dengan Arga? Sudah bukan suka lagi malah, sudah jatuh cinta.
“Sore, mas,” sapa salah satu resepsionis.
“Sore.”
Arga langsung membawa Alina ke kamar. “Eh? Kok kamu nggak ke resepsionisnya dulu?” tanya Alina bingung.
“Nggak perlu. Ini guest house punya bapak. Resepsionisnya juga udah tau kalo aku anaknya bapak, jadi aku bisa nginep kapanpun aku mau di sini.”
“Emangnya nggak ada yang nyewa?”
“Jarang. Soalnya masih kalah sama hotel bintang empat yang harganya jauh lebih murah. Tadi kamu liat sendiri kan, nggak jauh dari sini aja ada dua hotel bintang empat.”
“Oh .. Aku pikir ada yang nyewa. Kan nggak enak kalo ada tamu.”
Arga menyeringai, “Kenapa? Kamu takut nggak bisa ngedesah kenceng-kenceng ya?”
Alina mencubit lengan Arga, “Dasar.”
Arga lalu menyerahkan tiga kantong belanjaannya supaya dibawa Alina. “Tolong bawain dong.”
“Idih, nggak mau. Itu kan belanjaan kamu,” kata Alina.
“Udah pegang aja dulu.”
Arga langsung menggendong Alina ala bridal style. “Oh, jadi ini alesannya? Supaya kamu gampang mau gendong aku?”
Arga mencium bibir Alina sekilas, “Nah itu tau.”
Sesampainya di kamar, Arga langsung membaringkan Alina di kasur. Arga lalu menaruh kantong belanjaannya di atas meja kaca besar di sudut ruangan. “Kamu beliin ibu apa?” tanya Alina.
“Cuman baju sama sepatu. Bilang ke ibu kamu, maaf kalo ukurannya agak kekecilan atau kebesaran,” jawab Arga.
Alina tersenyum, “Kamu niat beliin aja ibu pasti udah seneng banget.”
Arga berjalan mendekati Alina yang sedang duduk di tengah ranjang, “Beneran?”
“Beneran.”
“Serius?” goda Arga.
“Iya, Arga. Serius.”
Arga menangkupkan wajah Alina lalu memperhatikan wajah Alina. Matanya, dahinya, pipinya, hidungnya, bibirnya .. Di mata Arga, Alina itu lebih dari sempurna. “I love you so much,” bisik Arga tepat di depan bibir Alina.
“I love you too.”
Arga mengelus rambut Alina, “Hmm rambut kamu lengket. Tadi ketumpahan apa sih? Es teh manis ya?”
“Kayaknya iya.”
Arga menyeringai, “Mau aku keramasin? Hmm gimana kalo sekalian mandi bareng aja? Lebih enak kayaknya.”
“Idih, nggak! Emangnya aku bayi pake dimandiin segala,” kata Alina malu-malu.
Arga tersenyum, “Ya udah. Mandi dulu gih sana. Di dalem udah ada handuk. Celana, baju, sama pakaian dalemnya udah aku beliin.”
“Emang kamu tau ukuran aku berapa?”
“Tau dong.” Arga meremas kedua gundukan kembar Alina, “Nggak perlu pake meteran, diremes gini aja juga udah ketahuan berapa ukurannya.”
“Arga .. Jangan ah ..,” desah Alina.
Arga menyeringai dan berbisik tepat di telinga Alina, “Aku bakal buat kamu nggak berenti ngedesah malem ini ..”