O.N.C.E Part 8 Dekapanmu Menghangatkan

2193 คำ
Author Pov. Devan dan Letisha yang baru bangun dari tidurnya langsung bersiap siap untuk chek out dari cottage mereka, hari ini mereka enggak boleh ketinggalan kapal lagi, Devan tadi malam sudah memesan tiket untuk kembali ke Kendari siang ini, Devan masih ingin menjelajah kota Kendari masa iya di pulau Bokori terus liburannya walau sayang juga sih ditinggalkan.  Setelah selesai chek out Devan dan Letisha makan terlebih dulu, makan seadanya saja, memang ada beberapa tempat makan pulau Bokori ini, Devan memilih untuk makan seafood, Letisha hanya mengikut saja, tohh dia juga suka seafood.   Selesai makan Devan dan Letisha menunggu kapal yang akan membawanya ke Kendari, hanya ada beberapa orang saja tidak seperti kemarin yang penuh, jadi Letisha tidak terlalu pusing, dia menikmati keindahan yang di suguhkan dari laut Kendari, Letisha memang anak orang kaya raya, biasanya di memilih untuk keluar negeri jika dia liburan, baginya Indonesia sama saja, tapi ternyata dia salah, keindahan di Indonesia luar biasa menakjubkan….  “Mual lagi enggak?.” Tanya Devan. Mereka berdua menajdi tontonan penumpung kapal, wajah Devan yang tampan, belum lagi wajahnya kebule bulean sementara Letisha, terlihat ayu dengan wajah khas wanita jawa, namun saat ini Letisha mewarnai rambutnya dengan warna cokelat tua sehingga Letisha hampir mirip lah dengan bule bule Amerika.  “Enggak kok, mungkin udah terbiasa aja,” Balas Letisha santai, Letisha tentu tau dia dan Devan menajdi tontonan para penumpang kapal, namun Letisha memilih tidak memperdulikannya, Letisha memilih untuk menikmati keindahan laut di Kendari. ***  Tidak terasa sudah lima mereka di Kendari sudah ada beberapa tempat yang mereka jelajahi, mulai dari kuliner, pantai, pulau Bokori hingga taman, hari ini Devan memilih untuk pergi ke Wakatobi hingga besok jadi mereka memutuskan untuk chek out dari hotel di Kendari. Devan dan Letisha harus menaiki pesawat dari Kendari hingga ke Wangi Wangi ibu kota Kabupaten Wakatobi.  Mereka sampai di wangi wangi jam dua siang, Devan dan Letisha langsung mencari makan karena mereka memang lapar, beruntung banyak tempat makan di bandara, mereka segera makan seafood, Devan dan Letisha selama di Kendari lebih banyak makan seafood dari pada sayur dan daging, karena memang terletak Kendari di kelilingi pantai dan laut yang kaya akan hasil laut, mulai dari aneka ikan yang tidak pernah Devan temui selama di Amerika, udang, kerang, cumi, berbagai olahan, mungkin dia pulang ke Jakarta berat badannya naik beberapa kilo namun Devan tidak perduli, begitu dengan Letisha, liburan dengan Devan dia bebas makan apa saja, tidak ada jaim karena takut gemuk dan sebagainya, lagian Devan juga yang mengajaknya liburan, entah ini honeymoon atau tidak namun Letisha menikmati sekali liburan dengan Devan, walau sesekali dia harus mengeluh karena mereka hanya istirahat di malam hari, itu saja beberapa jam karena Devan selalu minta jatah tiap malam. Selesai makan mereka segera mencari hotel, Letisha sudah mengatakan jika disini tidak ada hotel bintang lima, mungkin hanya bintang empat ke bawah, namun Devan tidak mempermasalahkan hal itu karena mereka akan lebih banyak di luar dari pada menikmati kasur di hotel, dan Letisha hanya menurut saja apa kerkataan Devan, tohh liburannya kali ini dia sama sekali tidak mengeluarkan uang sama sekali. Setiap ada toko pernak pernik lucu Letisha selalu mendatangi, mulai dari gelang, kalung, kain, dan aksesoris lainnya Letisha beli, tidak lupa juga dia membelikan pada teman temannya yang berada di Jakarta.  Devan dan Letisha mungkin tidak ada rasa capeknya, sore ini mereka pergi ke suku Bajo, kampung apung di tengah laut. Sepanjang perjalanan ke suku Bajo, Letisha dan Devan di suguhi kumpulan lumba lumba yang berenang di sekitar kapal mereka.  “Devan, astaga itu lumba lumba?,” Letisha setengah tidak percaya namun ini pertama kalinya dia melihat lumba lumba berenang bebas di lauatan, biasanya dia hanya melihat di pertunjukan saja.  “Emmm… mereka sangat banyak.” Devan juga tidak menyangka jika dia bisa melihat lumba lumba disini, bahkan mereka berenang di dekat kapal, seolah olah mereka memang bersahabat dengan manusia.  “Iyaa,, wahhh,,,,” Letisha terkagum kagum dengan banyaknya lumba lumba yang berenang di dekat kapal,. Letisha mengambil ponselnya, memotret beberapa kawanan lumba lumba yang berenang di dekat kapal, seandainya ada sinyal, mungkin Letisha akan live di ignya, namun sayang disana belum ada sinyal, hanya ada di beberapa tempat saja, belum menyeluruh.  Mereka sampai di suku Bajo langsung mencari penginapan atau rumah warga yang disewakan, karena tidak ada hotel disini, mungkin nanti Devan bisa merekomendasikan Xander untuk membangun hotel di wakatobi, agar bisa membuat hotel di dalam laut.  “Tuan saya sudah menyiapkan penginapan untuk anda, namun hanya sederhana, juga disini mungkin ada pemadaman listrik secara bergilir, nanti jika mati lampu sudah disediakan lampu baterai dan lilin.” Devan hanya mengangguk, ini sudah cukup untuknya, ya,,, malam malam mati lampu kan enaknya tidur, apa lagi sama istri nyenyak nihh…  “Saya akan tunjukan rumahnya,” Devan dan Letisha mengangguk, mengikuti laki laki yang Devan temui di kapal tadi, mereka menggunakan kapal kecil untuk menuju ke rumah,.  Sepanjang perjalanan menuju ke rumah yang Devan sewa, banyak orang orang suku Bajo yang memperharikan mereka, mungkin karena wajah Devan yang bule, maklum, sebagian orang terkadang suka terang terangan memperhatikan orang yang berbeda dengannya tanpa perduli dengan orang yang di perhatikan merasa kesal dan tidak suka.  “Devan lihat sunsetnya indah banget, betah dehh disini.” Devan mengangguk, dia memperhatikan beberapa anak anak kecil yang masih bermain pinggir dermaga kecil tidak lupa Devan mengabadikan dengan kamera yang dia kalungkan dilehernya, ahhh mereka sedang memancing ikan, bagaaimana memancing ikan di laut lepas seperti ini, tapi asik juga, besok mungkin dia akan mencobanya.  “Besok kita sudah pulang ke Jakarta,” Letisha mengangguk, Devan bukan boss seperti Xander, namun Letisha bersyukur bisa liburan dengan Devan selama satu minggu ini. Devan ternyata orang yang menyenangkan juga tidak kaku dan pemaksa seperti awal awal pernikahan mereka.  “Iya,, sudah banyak juga tempat yang kita kunjungi disini,” Letisha setuju, memori di ponselnya sudah hampir penuh, kameranya juga hampir penuh, pelayan yang menyiapkan segala kebutuhan Letisha, tanpa campur tangan Letisha, hingga ada beberapa baju yang tidak sesuai dengan Letisha, beruntung Devan berbaik hati mengajak Letisha berbelanja ke mall, jadi Letisha bisa membeli baju yang sesuai dengan stylenya.  Mereka sampai di dermaga kecil, letak penginapan mereka katanya dekat dengan pasar apung, ahhh Letisha sudah tidak sabar untuk pergi ke pasar apung besok pagi.   Mereka berjalan di atas laut dengan papan sebagai jembatan, walau agak mengerikan namun ini mengasikkan karena Devan terus memegang tangannya, menjaganya agar Letisha tidak jatuh. “Silahkan masuk,” Ucap laki laki yang mengantar Devan dan Letisha, penginapan mereka.  Devan dan Letisha hanya saling pandang, gila… rumah ini cukup kecil, sepertinya sama dengan cottage mereka di pulau Bokori, Cuma disana lebih terawat jadinya nyaman. Ada meja dan kursi di dekat pintu, mungkin ruang tamu, lalu mereka makin masuk kedalam, ada dua kamar, namun dua kamar itu tidak ada tempat tidur yang enak, hanya ada tikar dan kasur tipis, Devan dan Letisha hanya saling pandang dan geleng geleng.  Namun mau kembali ke Wangi Wangi juga tidak mungkin ini sudah malam.  “Terimakasih Pak untuk penginapannya,” Ucap Letisha, laki laki paruh baya yang mengantar Letisha dan Devan mengangguk lalu pamit undur diri.  “Sekarang kita harus gimana?.” Tanya Devan tidak percaya, seriously dia harus tidur beralaskan tikar seperti ini, gila pengalaman seumur hidup yang tidak akan terlupakan.  “Mau enggak mau kita harus tidur disini, ahhh apakah ada kamar mandi disini?.” Letisha berjalan ke belakang mencari kamar mandi dia sungguh gerah, tidak mungkin dia tidak mandi.  “Gimana ada kamar mandi enggak?,” Tanya Devan pada Letisha, Devan menyusul Letisha ke belakang, dirinya juga butuh untuk mandi.  “Kayaknya enggak ada deh, terus gimana dong kita mandi, hanya ada air disana, masa kita mandi enggak ada penutupnya?,” Tanya Letisha.  “Mandinya pake baju aja, asal siram siram air, kaya waktu kamu siraman dulu,” Letisha hanya bisa mendesah, bisa bisanya Devan menyuruhnya mandi pake baju, lagian pas siraman itu bukan mandi sungguhan, tapi hanya simbol aja untuk membersihkan diri sebelum menikah.  “Ok lahhh,,, kamu masuk kekamar aja, aku ingin mandi,” Letisha kembali ke kamar mengambil perlengkapan mandinya, dan juga baju gantinya.  Selesai mereka mandi lampu tiba tiba mati, wahhh yang benar saja nih,, mana Letisha baru saja mencharger ponselnya, masa iya langsung mati. Devan datang membawa lilin, beruntung sudah di siapkan lilin dan korek api, sebenarnya ada lampu baterai, Cuma Devan lebih memilih untuk menyelakan lilin, karena lilinnya cukup banyak.  “Devan, sini aku takut,,” Devan menghampiri Letisha yang duduk di kasur tipis itu, duduk disampingnya, sedangkan lilinnya dia taruh di lantai papan agak jauh dari mereka.  “Kenapa?.” Tanya Devan.  “Takut,” Balas Letisha, ternyata Letisha punya rasa takut juga ya, Devan kira Letisha sudah tidak punya rasa takut sama sekali.  “Tidur aja sih kalau takut, kayaknya sampai lagi deh pemadaman listriknya.” Sepertinya Devan mamang cukup tau, karena sebelumnya memang dia sempat bertanya dengan mbah google dulu bagaimana keadaan di kampung bajo.  “Belum ngantuk Devan, ihhh kenapa harus mati lampu segala sihh,” Letisha sungguh dia tidak tau mau berbuat apa, mana dia lapar lagi, tidak ada bahan makanan sama sekali disini, yang ada hanya cookies tinggal separuh sisa dia makan tadi siang.  “Laper?.” Tanya Devan, seolah olah tau jika istrinya itu kelaparan,  “Iya, laper lagi, gimana dong?, mana enggak ada makanan sama sekali lagi.” Letisha lesu, tau gini mending besok pagi aja di kampung Bajo, malam ini nginap di hotel.  “Mau cari makan di luar?.” Tanya Devan, yang benar saja, mana ada tempat makan disini, wahh Devan ini tidak bisa melihat kondisi apa.  “Emang ada warung gitu yang buka?. Lampu aja padam, lagian di luar gelap tau, kalau jatuh bukan ketanah, tapi ke laut, aku enggak mau jadi makanan ikan kali” Balas Letisha, huhhh dia kelaperan dan juga takut, tapi dasar Devan manusia tidak peka, jadinya ya gini. “Tahan lapar sampai besok pagi kalau gitu, aku mau tidur,” Devan membaringkan tubuhnya di samping Letisha yang masih duduk, tapi melihat Devan berbaring mau tidak mau Letisha ikutan berbaring, jujur aja dia takut banget dengan kondisi saat ini, lebih mencekam dibanding saat Devan marah gara gara dia clubing, saat dia menabrakan mobilnya di trotoar.  Letisha tentu langsung memeluk Devan, tidur dalam dekapan Devan yang tentunya langsung di sambut dengan senyuman oleh Devan, tanpa Letisha sadari.  “Matiin dulu lilinnya, nanti kebakaran,” Devan memerintah Letisha untuk mematikan lilinnya, “Gelap Devan, enggak mau.,” Balas Letisha, bukannya dia takut gelap, tapi keadaan disini yang tidak mendukung sama sekali, jadi ini cukup menakutkan bagi Letisha,  “Ada lampu baterai tuh,” Deva menunjukan lampu baterai yang berada di atas meja dekat dengan tas mereka berdua.  “Okk,” Letisha bangun dari tidurnya, lalu mengambil lampu yang ada di meja, menyalannya sebelum dia meniup lilin yang di tengah tengah lantai itu, Letisha kembali berbaring di samping Devan yang ternyata sudah terlelap lebih dulu.  “Ahhh sial Devan udah tidur lagi,” Letisha mau tidak mau kembali berbaring di samping Devan, namun Devan menarik tubuh Letisha, membawanya kedalam pelukannya yang hangat.  Tengah malam Letisha bangun karena kebelet pipis namun saat Letisha terbangun semuanya benar benar gelap, tidak ada penerangan sama sekali.  “Devan,, Devan,, Devannn bangunnn,,,” Letisha menggoncang tubuh Devan, sepertinya lengan Devan yang Letisha pegang.  “Enggghhhhh… apaan sih Shaa,, aku ngantuk.” Devan hanya bergumang, dan kembali tidur. “Devan aku kebelet pipis, anterin ke kamar mandi dong,” Letisha kembali menggoncang tubuh Devan. “Kamu bukan anak kecil Sha,, aku ngantuk,” Devan mungkin tidak menyadari saat ini mereka berada dimana.  “Devan,, please,, sekali ini aja, disini gelap Devan,, please Devan bangunn,.” Devan mau tidka mau membuka matanya, gelap, disini benar benar gelap.  Meraba kesamping tubuhnya, tadi sepertinya Devan menyimpan lampu baterai satunya. Devan menyalakan lampunya, membuat ruangan kecil ini cukup terang.  “Devan ayooo,,” Letisha sudah terlebih dulu bangun dari tempat tidur, tanpa menggunakan alas kaki, Letisha berjalan keluar namun Letisha kembali masuk kedalam rumah karena duluar benar benar gelap gulita.  “Makanya jangan buru buru.” Devan menyerahkan lampu satunya pada Letisha. “Aku udah kebelet,,” Devan hanya bisa menggeleng kepalanya.  Devan menunggui Letisha buang air kecil di belakang, sepi, senyap, seperti tidak ada kehidupan, ditambah lagi lampu sedang padam seperti ini, berasa ditempat ini hanya mereka berdua. “Udah?.” Tanya Devan ketika melihat Letisha keluar dari bilik belakang.  “Udah,, ayo tidur lagi, aku takut,” Letisha berjalan menggandeng tangan Devan, perasaan tadi waktu ke belakang Letisha berani jalan sendiri, bahkan mendului Devan, kenapa sekarang ketakutan gini. Sampai di tempat tidur, Devan mematikan lampunya, hanya ada penerangan dari lampu yang di pegang Letisha.  “Devan,, jam berapa saat ini?.” Tanya Letisha, ponselnya mati, jamnya juga di tas,  “Entah,, yang pasti masih malam,” Balas Devan santai, dia kembali berbaring di tempat tidurnya, tidak memperdulikan Letisha yang masih duduk di tempat tidurnya. “Devan jangan tidur dulu,, aku takut,” Letisha meminta Devan agar Devan tidak tidur namun Devan tidak perduli.  Mau tidak mau, Letisha membaringkan tubuhnya ditempat tidur tipis, tubuh Letisha mendekat pada Devan, Letisha takut Devan meninggalkannya ditempat seperti ini, cukup satu malam Letisha tidur di tempat beralaskan tikar, gelap tanpa penerangan.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม