Waktu menunjukkan hampir pukul dua belas malam saat Nathan mengetuk pintu kamar tidur Elena. Ayah dan ibu Elena sudah lelap tertidur, menyisakan Nathan yang tak kunjung bisa tidur akibat dinginnya malam yang terasa menusuk hingga ke tulangnya. “Elena? Kamu sudah tidur?” tanyanya seraya sedikit berbisik. Elena menggeleng. “Belum. Ada apa, Nathan?” tanyanya dari balik pintu. “Aku boleh pinjam selimutmu? Aku kedinginan.” Dengan cekatan, Elena mengambil sebuah selimut tebal dari dalam lemari pakaiannya lalu membukakan pintunya sedikit untuk Nathan. “Ini,” ucapnya seraya memberikan selimut tebalnya pada kekasih hatinya itu. Nathan tersenyum manis seraya menerima selimut tebal pemberian Elena, “Thanks.” “Ada yang kamu perlukan lagi?” tanya Elena. Bukannya menjawab, Nathan malah mendaratkan

