Namira menghampiri ibunya yang saat itu tengah menyiapkan makan malam. Ia menundukkan kepalanya sembari memainkan jarinya sekaligus berpikir apakah ia akan kembali mencoba untuk melunakkan hati sang ibu yang masih belum mau memaafkannya bahkan berbicara dengannya atau tidak. Sudah hampir dua minggu berlalu, tetapi ibunya masih menutup rapat mulutnya, masih enggan untuk berbicara dengan dirinya. Sejujurnya, Namira mulai berani mendekati sang ibu setelah wanita itu juga ikut mendandaninya di acara pertunangannya dengan Kevan yang diadakan beberapa hari yang lalu. Hal tersebut membuat ia mulai berani melancarkan usahanya untuk mencairkan hati sang ibu. Ia tahu ibunya masih marah dan kecewa, tetapi ia yakin di dalam lubuk hati sang ibu, wanita itu masihlah tetap menjadi seorang ibu untuknya d

