5

1803 คำ
Harper tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Tempat ini luar biasaaa. Sebuah rumah mungil di pinggir pantai. Juga, pantai yang bisa ditempuh hanya dengan membuka pintu. Ia sungguh tidak menyangka jika Spanyol seindah ini. Harper berlari menuju pantai. Ia selalu menyukai laut. Dulu, saat ia kecil, sang ayah sering mengajaknya ke pantai. Ia dan ayahnya akan asyik membuat istana pasir, dan Mom pasti akan menghancurkannya hingga sering membuat Harper kesal. Dulu saat ayahnya mengajaknya kemari, seingatnya belum ada rumah mungil itu. Pantainya pun tampak berbeda. Kemudian, Harper mengamati sekelilingnya. Rasanya memang ada yang berbeda. Rasanya dia belum pernah melihat pantai ini. Ia bukan tipe anak yang mudah lupa. Ia tidak merasa mengenal tempat ini. Harper baru akan menyusuri pantai lebih jauh saat Al berteriak memanggilnya. Ia berdecak sebal. Lelaki itu selalu saja mengganggu kesenangannya. Dengan kesal, Harper berlari masuk rumah. Celana panjangnya yang basah, meneteskan titik-titik air di lantai. Ia baru akan protes pada Al karena lelaki itu mengganggu kesenangannya, sebelum matanya menangkap orang lain di sana. Lelaki berambut ikal sebahu dengan wajah khas pria Spanyol. d**a Harper berdebar saat mata tajam itu menatapnya. Ini aneh. Tidak seperti biasanya. Biasanya setiap melihat orang asing, ia akan merasa tidak nyaman. Namun dengan lelaki ini, rasanya ada sesuatu yang membuatnya nyaman. “Miss Sandjaya?” Suaranya terdengar seiring senyum menghias wajah tampannya. Harper refleks ikut tersenyum. Senyum lelaki tampan itu menular. “Panggil saja aku, Harper,” Harper mengulurkan tangannya. “Namaku Enrique. Aku manager di resorts ini.” “Jadi kau yang mengurus resorts ini selama ayahku tidak di sini?” Enrique kembali tersenyum. “Ada beberapa dewan direksi. Aku hanya manager. Kita akan bertemu mereka besok.” Harper menaikkan alis. Jadi besok ia sudah harus bekerja? Enrique tertawa kecil. “Kau tidak akan langsung bekerja besok. Kau hanya perlu berkenalan dengan dewan direksi dan setelah itu kau bebas.” Harper tersenyum lebar. Ia masih ingin bermain di pantai lebih lama lagi. Ia belum ingin bekerja. “Okey, sampai bertemu besok, Enrique!” Harper melambai dan kembali berbalik, bersiap kembali ke pantai. Rasanya ia tidak bisa berdiri lebih lama lagi di hadapan Enrique. Ada sesuatu dalam diri lelaki itu yang membuatnya merasa...entahlah, perasaan yang asing baginya. “Quin, istirahatlah. Kau masih punya banyak waktu untuk bermain.” Al mencekal lengannya, mencegah untuk kembali keluar rumah. “Tidak mau!” Harper menyentak lengannya dan menjulurkan lidah pada Al, lalu berlari keluar meninggalkan rumah. Sudah lama sekali ia tidak ke pantai. Dan pantai ini serasa pantai pribadinya. Karang-karang yang kokoh berdiri di kanan kirinya seolah menutup akses dengan bagian lainnya. Pasirnya yang putih terasa begitu lembut dikakinya yang telanjang. Namun tunggu... ini bukan Madrid! Di Madrid tidak ada pantai seperti ini. Al menculiknya!! “Ayaaaah!!!! Mommyyyyy!!!” Harper menjerit. Tubuhnya gemetar. Entah kenapa, ia kembali ingat dengan peristiwa penculikannya dulu. Apa Al benar-benar menculiknya? Ya Tuhan. Ayah … Mommy... “Quin! Kau kenapa?” Al berlari menghampiri Harper dengan panik. Tangannya meraih bahu Harper yang gemetaran. “Quin, ada apa??” “Kau...menculik...Madrid...bukan...Ayah...Mommy...” Harper berbisik tidak beraturan. Matanya membelalak ketakutan tanpa fokus. “Ssh...tenang, Quin. Aku di sini.” Al memeluk tubuh Harper erat dan mengelus punggungnya, menenangkannya. “Aldrian, ada apa? Harper kenapa?” “Tidak apa-apa. Maaf, Enrique, aku harus membawanya istirahat.” Al menggendong tubuh Harper dan membawanya masuk ke rumah. Tubuh gadis itu masih gemetaran. Harper menolak turun saat Al akan membaringkannya ke kasur. Bibirnya masih meracau. Jadilah Al memangku Harper seraya menenangkannya. Tubuh Harper yang gemetaran perlahan tenang sebelum akhirnya kegelapan menelannya. ~~~~ Al menatap Harper yang tertidur di pangkuannya. Tubuh gadis itu tidak lagi gemetar, tetapi jemarinya mencengkeram jaket Al dengan erat. Ya Tuhan, Al sangat ketakutan saat gadis itu berteriak. Ia pikir Harper diserang hewan laut atau apa. Namun ternyata lebih buruk dari itu. Melihat Harper yang gemetaran, meracau, dan ketakutan, rasanya jantung Al seolah diremas. Ia tidak sanggup melihat gadis itu ketakutan. Sebenarnya Harper kenapa? Kenapa ia ketakutan seperti itu? Apa tempat ini mengingatkannya pada sebuah peristiwa di masa lalunya?  Harper tadi menyebut-nyebut soal menculik. Apa di tempat ini ia dulu diculik? Tetapi itu tidak mungkin. Setahu Al, penculikan itu terjadi di Manchester. Al menidurkan Harper di ranjang dan mengamati wajahnya yang tertidur. Air mata mengering di wajah cantik. Tangan Al terulur mengelus pipi mulus Harper, mencoba menghapus bekas air matanya. Bagaimana Al bisa meninggalkannya ke Barcelona jika Harper terus seperti ini? Besok sore ia harus berangkat ke Barcelona. Apa ia sanggup meninggalkan Harper seperti ini? Al baru saja akan beranjak saat jemarinya dikaitkan dengan jari lain yang terasa sangat lemah. Al menoleh dan mendapati Harper mengerjapkan matanya.  “Kau baik-baik saja, Quin?” Tanyanya dengan suara datar. Ia tidak boleh terlihat ketakutan di depan Harper. “Ini di mana? Kau menculikku!” Al melotot. Apa-apaan ini! Menculik Harper? “Menculikmu?? Maaf, apa kau benar-benar sudah sadar?” Mata Al menyipit menatap Harper. Matanya menunduk menatap Harper lebih dekat. Shit! Kenapa gadis ini cantik sekali? Jakun Al naik turun. Ia sangat jarang mengamati Harper sedekat ini, dan rasanya, jantungnya berdentam-dentam di dalam sana. Mata bulat itu menatapnya tajam seperti biasa, tetapi Al melihat ada sinar ketakutan di sana. “Jangan melihatku seperti itu! Kau membuatku takut!” Jemari Harper mengusir wajah Al menjauh. Ia berpaling dari tatapan Al yang kini sudah kembali berdiri tegak. “Quin, kenapa kau berpikir aku menculikmu?” Harper kembali menoleh padanya. “Bukankah kita seharusnya di Madrid? Ini di mana?” Al terkekeh. “Jadi kau pikir aku sengaja membawamu kemari untuk menculikmu, begitu?” Harper mengangguk. Tangannya gemetar memainkan ujung kausnya. “Ayahmu sendiri yang menyuruhku membawamu kemari.” “Tetapi Ayah bilang, aku harus mengurus resorts-ku di Madrid?” “Beliau berubah pikiran.” Menit terakhir sebelum mereka berangkat, uncle Ted merubah tujuannya. Beliau berpesan untuk membawa Harper ke Alicante, sebuah kota yang berjarak dua ratus empat puluh mil dari Madrid. Madrid kota besar, uncle Ted takut Harper akan susah beradaptasi. Lagipula, resorts mereka dikota ini lebih berkembang. Harper akan lebih mudah belajar di sini. “Apa maksudmu dengan berubah pikiran, Al?” Selalu sangat ingin tahu seperti biasanya.Al memutar bola matanya. “Tanyakan saja pada Ayahmu, aku lelah.” ~~~~ “Mom, aku harus memakai baju apa??” Telepon Harper pada ibunya keesokan harinya. Tidak peduli jam berapa di Indonesia, ia harus mendengar saran ibunya untuk urusan ini. Hari ini, ia harus bertemu dengan semua dewan direksi dan karyawan resorts. Ia bingung harus memakai pakaian seperti apa. Biasanya, sang ibulah yang selalu 'mendandaninya'. “Pakai rok, Sayang,” jawab ibunya dengan sabar di seberang sana. “Tidak boleh pakai jeans saja, Mom?” “Jangan berani-beraninya, Miss Sandjaya!” Harper terkikik. Pasti saat ini ibunya sedang melotot. Ah, baru dua hari dan ia sudah sangat merindukan wanita itu. Air matanya merebak. Semua yang berhubungan dengan ibunya selalu membuat perasaannya melankolis.  Tidak akan pernah terhingga rasa terima kasihnya pada wanita berhati mulia itu. “Aku merindukanmu, Mom,” bisiknya kemudian. “Oh, Sayang, jangan membuatku terbang ke sana sekarang! Ayahmu bisa mencincangku.” Harper kembali tertawa. Ia sudah bicara dengan ayahnya tadi malam. Al tidak berbohong. Memang ayahnya yang merubah tujuan mereka. Dan jujur, Harper bersyukur. Madrid kota besar, ayah takut ia akan susah beradaptasi di sana. Ia lebih senang tinggal di sini. “Aku mencintaimu, Mom. Aku akan bersiap-siap sekarang.” “Aku juga mencintaimu, Nak. Jangan pakai jeans!” Walaupun ia benci memakai rok, ia akan memakai rok. Demi Mom. ~~~~~ Al tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis cantik itu. Tidak bisa walaupun ia ingin. Bahkan berkedip pun, ia tidak bisa. Al takut begitu ia berkedip, gadis cantik itu akan menghilang. “Al!!” Si cantik itu memukul bahu Al dengan clutch yang dipegangnya. Al tergagap. Ia berdehem kecil dan memasang wajah datar seperti biasanya. “Aku pikir ada bidadari, tahunya gadis barbar!” Harper mendelik padanya. Al berpaling untuk menyembunyikan senyumnya. Menggoda gadis ini selalu menyenangkan. “Mimpi apa kau sampai pakai rok begini?” Lanjutnya lagi. Al tahu jika Harper tidak suka memakai rok. Apalagi rok pendek berbahan sutra seperti ini. Gadis itu lebih suka memakai jeans, kaus oblong, atau kemeja. Namun lihatlah hari ini, gadis kecil ini bertransformasi menjadi seorang bidadari cantik jelita. Bahkan Al tidak pernah menduga jika Harper bisa berdandan. Walaupun tipis, tetapi Harper terlihat semakin... “Al!!” Teriak Harper lagi. Kali ini tepat di telinganya. Al melotot. Gadis ini suka sekali berteriak di telinganya. Apalagi saat membangunkannya kemarin di pesawat. Kepala Al sampai pusing dibuatnya. “Kenapa kau suka sekali berteriak sih?” “Kenapa kau suka sekali melamun sih?” Harper bersedekap menantangnya. Al berdecak. “Kenapa menggangguku pagi-pagi begini?” “Temani aku.” “Ke mana?” “Ke resorts. Kita harus bertemu dewan direksi.” “Kita? Bukankah hanya kau?” Harper melotot lagi padanya. “Ayahmu punya saham di sana! Itu artinya, kau juga punya kewajiban sama sepertiku.” “Quin, aku malas berurusan dengan hal seperti itu. Aku harus siap-siap berangkat ke Barca sore nanti,” ujarnya beralasan. Harper memutar bola mata. “Masih nanti sore! Lagipula kopermu juga pasti belum kau bongkar.” “Aku tidak mau. Aku mau tidur.” Al beranjak dari duduknya dan bersiap menuju ke kamar. “Kau harus mau! Kau ‘kan sudah janji pada Ayahku!” “Tidak! Aku...” “Harper.” Suara itu menghentikan langkah Al dan argumen mereka. Al menoleh dan melihat Enrique berdiri tidak jauh dari pintu masuk rumahnya. “Kau sudah siap?” Tanya lelaki itu tanpa mengalihkan matanya dari Harper. Al menoleh pada Harper dan melihat gadis itu tersenyum. Harper mendekat pada Enrique. “Kupikir aku harus ke resorts sendirian.” Enrique tersenyum padanya. “Tentu saja tidak, Cantik. Ayo, kita berangkat.” Enrique bahkan tidak pernah melepas pandangannya dari Harper. Al menatap tangannya yang terulur, dan gadis itu menerimanya dengan senang hati. “Quin,” panggilnya sebelum dua orang itu keluar rumah. “Appaa?” jawabnya dengan malas. “Tunggu, aku ikut!” Harper mencibir. “Bukannya kau bilang tidak mau ikut?” Al menggeleng. “Aku berubah pikiran! Tunggu aku!” Ia berlari cepat ke kamarnya. Tadinya, memang ia tidak ingin pergi. Memakai jas, dasi, dan bertemu orang-orang kantoran, selalu membuatnya bosan. Namun melihat lelaki Spanyol itu, yang jelas-jelas terlihat tertarik pada Harper membuatnya merasa... tidak rela mungkin? Tidak. Ia bukannya tidak rela, ia hanya tidak ingin Harper terlalu dekat dengan Enrique. Gadis itu masih polos, dan mereka belum tahu Enrique seperti apa. Al bisa melihat, Harper tertarik pada lelaki itu. Sebagai seorang player, dirinya sangat tahu itu. Apalagi Harper begitu polos. Ekspresi gadis itu seperti buku terbuka, sangat mudah untuk dibaca. Apalagi bagi Al, yang sudah mengenal Harper hampir seumur hidupnya. Dan hanya dirinyalah yang harus ada di samping Harper. Untuk menjaganya. Untuk melindunginya. Sebagai seorang teman. Sebagai seorang saudara. Sebagai seorang kakak. Hanya itu saja. Tidak lebih. Ia berjanji.                                          
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม