Chapter 10: KIVLAN Ibu terisak pelan. Takut membangunkan Erlan. Sudah semalaman anak itu tidak tidur dalam keadaan sakit. Ibu tidak mau dia semakin sakit. Kemudian ia kembali fokus dengan suara anak sulungnya di telepon. “Maaf, Bu … aku nggak bisa.” “Ibu mohon Mas, Erlan butuh kamu.” “Maaf, Bu. Tapi untuk sekarang aku benar - benar nggak bisa.” “Tapi kenapa?” “Maaf, Ibu ….” *** Samar - sama Kivlan mendengar suara orang yang menggerutu di sela - sela isakan Ibu. Suara Ayah tentu saja. “Mungkin dua hari lagi, Bu. Aku janji pasti aku akan pulang.” “Kenapa, Mas? Kenapa harus nunggu dua hari. Kamu tolong bilang alasannya, agar kami bisa mengerti.” “Maafk- ….” Suara Kivlan terputus. Handphone yang tadi dipegang Ibu

