"كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ ثُمَّ الِيَيْنَا تُرْجَعُوْنَ"
(Q.S. Al-'Ankabut ayat 57)
Mata gue reflek terbuka saat suara lantunan ayat suci Al-Quran--sebagai alarm tiap pagi itu--terdengar nyaring di telinga, serta sampai ke hati gue.
Punggung gue terduduk sempurna. Mata gue berkedip berkali kali mencoba menetralkan penglihatan.
"Astaghfirullah!!! Gue hampir kesiangan!" pekik gue dalam hati dengan mata melotot menatap angka jam di layar ponsel gue yang sudah hampir pukul lima subuh. Itu artinya adzan subuh udah selesai berkumandang.
Tanpa babibu, gue bergegas menuruni kasur dan melesat ke kamar mandi dan berwudhu.
Syukurlah gue gak kehilangan kesempatan buat jadi salah satu orang yang paling kaya di muka bumi. Gue masih bisa solat sunnah Qablyah subuh. Gini gini, gue sadar kalau amalan wajib gue gak cukup buat ngantarin gue ke Surga. Sebab, dosa dosa gue jauh lebih banyak dan kayaknya udah kayak jabal uhud atau bahkan lebih deh. Astaghfirullah.
Makanya gue sedikit banyak. Belajar membiasakan melaksanakan ibadah sunnah sedikit demi sedikit. Hngga menjadi sebuah habbits yang nantinya gak bisa gue tinggalin.
Setelah selesai menunaikan solat, gue memutuskan untuk gak tidur lagi. Iya! Kalau biasanya gue back to kasur setelah solat. Maka akhir akhir ini, gue mencoba buat gak tidur lagi setelah subuh.
Selain karena tidur setelah subuh itu makruh dan gak sehat buat tubuh. Gue juga harus memanfaatkan waktu yang gue punya seproduktif mungkin. Dengan melanjutkan revisi proposal penelitian, misalnya.
Sesaat setelah membuka benda kotak berwarna pink pastel, entah kenapa mata gue sayup-sayup ingin terpejam.
Astaghfirullahal'adzim!!!
Pergilah kau setan pergilah kau setannn!!!
Setan benar-benar gak rela kayaknya kalau gue hijrah dari tidur setelah subuh ke gak tidur setelah subuh. Dari yang melakukan hal unfaedah ke pada melakukan hal yang berfaedah.
Menggelengkan kepala berkali-kali seolah itu bisa mengenyahkan kantuk yang tiba-tiba menyergap gue. Berkali-kali gue mengerjapkan mata seraya menekan keyboard laptop. Mencari file proposal yang entah harus gue revisi sebagaimana lagi.
Pasalnya ini sudah pekan ke empat gue revisi proposal tanpa tahu kapan selesainya. Belum lagi gue harus prepare alat dan bahan yang bakalan dibutuhkan saat riset nanti.
Bagus Alina! Wisudah awal tahunmu terancam gagal!
Mengerikan sekali bisikan setan yang menyelesup ke telinga gue barusan.
Satu bulan rasanya gak terasa tiba-tiba berlalu begitu saja. Gue menghela napas sebentar seraya melanjutkan aktivitas membaca proposal dan puluhan jurnal referensi yang sudah diurutkan berdasarkan tahun terbitnya.
Belum sampai sepuluh menit, bola mata gue sudah berair dan terasa perih. Sepertinya gue harus beli kacamata anti radiasi.
=====
Akhir pekan begini biasanya gue akan pulang ke rumah. Akan tetapi, karena satu dan lain hal gue memutuskan untuk tetap di kontrakan.
Jam dinding yang terpatri di dinding ruang tamu menunjukkan angka delapan pagi. Kalau biasanya di rumah, jam segini gue masih terjerap oleh aduhai hangat dan nyamannya kasur gue di rumah. Sekarang, jangankan untuk b******u dengan bantal dan selimut di pagi hari, gue bahkan melarang keras diri gue buat menatap kasur di kamar kecil kontrakkan.
Sebab, sekali gue lihat kasur. Maka rasa ingin rebahan itu akan muncul dan bersenandung ria di dalam kepala..
Sarapan pagi kali ini hanya ada selapis roti yang di atasnya dilumuri s**u dan sedikit parutan keju, dan segelas s**u hangat.
Entah kapan terakhir gue minum s**u, rasanya sudah lama sekali. Sejak berjibaku dengan proposal skripsi, makanan yang masuk ke perut gue benar-benar random dan kebanyakan gak sehat.
Mulai dari mi instan, makanan cepat saji lainnya dan gak jauh-jauh dari makanan berkomposisi Mono Sodium Glutamat (MSG).
Setelah gue pikir-pikir lagi, akhirnya gue memutuskan untuk membuat gerakan perubahan. Mulai akhir pekan ini sampai seterusnya. Gerakan Mencintai Diri Sendiri (GMDS).
Semalam gue sempat membicarakan gerakan yang gue usung ini sama sahabat gue tercinta, siapa lagi kalau bukan Pony.
Alih-alih buat ikut gerakan yang gue cetuskan, tuh anak malah mengejek gue habis-habisan. Untungnya gue sahabat yang sabar, rendah hati dan suka memafkan. Gue hanya tertawa hambar saat Pony tertawa terbahak-bahak sampai tak bersuara.
Segitu lucunya ide gue, sampai-sampai dia ngakak terbahak bahak?! Ckckckk!
"Lo makan mi instan aja, masih lo tambah nasi secentong Al! Mana bisa lo makan roti sama minum s**u doang?!"
"Bisa-bisa hujan petir kalo lo beneran makan roti doang!"
Gue berkali-kali istighfar seraya menahan diri buat gak kasih piring cantik online ke Pony. See! Bagaimana teganya tuh anak mengejek gue tanpa belas kasihan.
Sahabat gue itu selalu berhasil menstimulasi diri gue buat beristighfar lebih banyak tiap harinya.
Oleh karena itu, gue harus istiqomah dengan gerakan yang gue cetuskakan. Selain itu, gue juga harus mengajak Pony hijrah untuk mengikuti gerakan gue. Gue harus buktikan kalau gerakan yang gue usung ini gerakan yang harus dibangkitkan dan diikuti banyak orang.
Bicara soal sahabat gue Pony. Asal kaluan tahu, walau tubuh Pony itu proposal-eh! Maksud gue proporsional, tapi tetap saja dia juga sering makan sembarangan.
Hanya saja, dia tipikal yang gak akan gendut meski banyak makan. Kebalikan dari gue, yang gak akan kurus dengan mudah meski gue makannya dikit.
=====
Setelah menimbang-nimbang antara pergi ke toko buku atau ke optik. Akhirnya gue putuskan untuk pergi ke kedua-duanya.
Sebenarnya, semenjak pekan ketiga, mata gue sudah terasa perih, sakit dan berair. Selain karena terlalu sering menatap layar laptop, mata gue juga perih karena harus menatap layar ponsel saat berseluncur di media sosial.
Sebenarnya, gue bisa saja mengendarai sepeda motor matic yang udah lama dikurung di kontrakan. Akan tetapi, karena satu dan lain hal, gue memutuskan untuk menaiki kendaraan umum.
Selain gak harus panas-panasan saat macet, gue juga bisa duduk santai seraya menikmati pemandangan langit biru dan hiruk pikuk ibu kota lewat kaca busway.
Sesaat setelah memasuki kendaraan umum dan mendaratkan p****t ke kursi penympang, tiba-tiba saja benda persegi di dalam tas selempang gue bergetar dan meraung.
"Halo, assalamu'alaikum, ma?" mengucapkan salam sesaat setelah menggeser panel hijau yang tertera di layar ponsel.
"Ingat ya, Ka. Jangan ke mana-mana sendirian! Jangan ke luar sama cowok! Jangan lupa makan dan istirahat! Jangan-,"
Entah kenapa tiba-tiba saja wejangan panjang penuh penekanan dari mama barusan mengambang di udara.
"Ma? Mama baik-baik aja kan?" Hening sejenak. Gue tiba-tiba saja khawatir kalau-kalau mama gak bisa lanjutin kalimatnya karena saking kesalnya sama gue.
Sebenarnya, gue udah hubungin mama dan papa sebelum gue memutuskan untuk ke luar kalau gue gak bisa pulang dan lengkap dengan alsannya. Akan tetapi, mama hanya merespon seadanya. Gue pikir mama bisa ngerti dan gak akan marah-marah lagi seperti sekarang.
"Haloo Ka?" Sapa seseorang di seberang sana yang gue yakini adalah papa.
"Haloo pa? Pa, mama baik-baik aja, kan?" tanya gue cepat dengan nada cemas.
Gimana gak cemas. Mama barusan mengeluarkan ultimatumnya dengan penuh semangat dan menggebu-gebu. Lalu, tiba-tiba saja terdiam. Siapa yang gak khawatir coba?!
Lalu, sejurus kemudian aku merasa lega seraya mengembuskan napas panjang. Syukurlah, mama baik-baik.
Beberapa menit kemudian, gue memasukkan ponsel ke dalam tas sandang setelah panggilan dari papa berakhir.
Fyi, papa bilang, mama tiba-tiba aja nangis saat menyampaikan rentetan kata jangannya. Pasalnya, mama khawatir sama anak semata wayangnya karena sudah dua pekan dalam sebulan gak pulang ke rumah.
Asli, mata gue jadi memanas sekarang. Gue juga kangen sama mama papa. Gue juga khawatir kalau-kalau mereka sakit atau apa.
Menatap ke luar jendela yang terbuka. Sepertinya mata gue udah berkaca-kaca.
Duh! Jangan nangis di sini Al!
Sebisa mungkin gue menahan air mata agar gak tumpah ruah saat ini juga. Bisa-bisa gue dikira lagi putus cinta.
Perjalanan ke toko buku terasa begitu lama, padahal sebenarnya tak memakan waktu barang dua puluh menit. Barangkali disebabkan gue yang pengen cepat-cepat sampai di toko buku karena malu dilihat orang-orang kalau gue nangis.
=====
Definisi cuci mata yang sesungguhnya adalah melihat deretan buku yang tersusun rapi, yang seolah melambai-lambai minta dibeli.
Gue menatap deratan buku yang tersusun rapi itu dengan mata berbinar.
Tidak! Jangan khilaf Al!
Banyak buku Kimia yang yang belum lo beli!! Ingat prioritas!!!
Bisik hati nurani gue dengan kencang, membuat gue mengembuskan napas panjang dengan lemah. Benar! Gue harus membeli apa-apa yang gur butuh, bukan hanya yg gue mau.
Baiklah! Gue gak akan khilaf dengan borong novel sekaligus. Tapi, gue benar-benar mengincar satu novel yang udah lama banget gue pengen beli tapi gak kesampaian.
Dan satu buku itu berada di antara deretan buku yang ada di rak yang menjulang tinggi di hadapan gue.
Sesaat setelah sampai di toko buku, gue memutuskan akan pulang ke rumah setelah ini, meskipun gue gak berniat menginap. Rasa khawatir bercampur rasa bersalah di dalam diri benar-benar membuat gak tenang.
Melangkahkan kaki ke depan rak buku dan berniat mengambil buku yang sedari tadi melambai lambai ingin dibeli.
Akan tetapi, saat tangan gue hampir/sedikit lagi menyentuh buku itu, tiba-tiba saja tangan besar sesorang sudah lebih dulu mencapainya.
Ah tidak! Jangan berasumsi bahwa tangan yang gue maksud adalah tangan seorang lelaki tampan bertubuh tegap, atletis layaknya di drama-drama yang sering kalian konsumsi.
Sebab, sejurus kemudian terdengar suara berat khas yang sangat akrab di telinga gue. Suara yang berasal dari seseorang yang paling tidak ingin gue lihat di manapun, terlebih di toko buku ini.
"Saya lebih dulu datang. Jadi ini milik saya!" sengit gue seraya menahan buku yang ada di rak tanpa mau menoleh ke belakang.
"Saya rasa, kamu lebih butuh buku Kimia daripada novel remaja seperti ini!" sarkasnya seraya menjauhkan tangan besarnya dari novel yang kini gue pegang.
Menyebalkan!! Bagaimana bisa dia tahu?! Ringis gue seraya menunduk dan diam-diam melangkahkan kaki menjauh dari si manusia batu.
"Ini sudah pekan terakhir dan kamu bahkan belum menyelesaikan revisimu! Berhentilah membaca buku yang tak berguna untuk skripsimu itu!"
Saat itu juga langkah kaki gue tertahan. Menghela napas panjang seraya beristighfar dan mengembuskannya dengan kasar saat kalimat menyebalkan tadi ke luar dari mulut pria di belakang gue.
Ingin rasanya gue menoleh dan mengatakan,
"Ini di tempat umum! Dan gak seharusnya anda bertingkah seolah anda berhak menghakimi saya! Hanya karena saya tetlihat bermain-main ria tanpa berusaha menyelesaikan revisian saya! Anda hanya gak tahu bagaimana perjuangan saya!
Hanya karena anda melihat saya sedang bersuka ria di toko buku dengan sebuah novel, bukan berarti saya tidak melakukan apa-apa pada skripsi saya!! Wahai bapak Gala yang terhormat!!!"
Ingin sekali gue berteriak panjang lebar seerti itu di depan wajahnya saat ini juga.
Asal dia tahu, gue udah cukup strees saat harus melakukan bimbingan dengannya. Gue udah cukup strees saat dia dengan mudahnya mencorat coret lembar proposal skripsi gue, mengecilkan tulisan gue dan setia kali gue berhadaan dengannya, itu terasa duduk di atas duri-duri tajam.
"Ah! Ternyata bapak. Maaf saya tak mengenali suara bapak," sapa gue seraya menundukkan kepala sedikit dan dengan kedua ujung bibir tertarik ke atas.
"Baik pak! Saya akan menyerahkan revisian saya secepatnya. Kalau begitu, terima kasih bukunya," gue memberanikan menatap wajah innocent sekaligus dingin dan menyebalkannya itu sebentar.
"Kalau begitu, saya permisi duluan, pak." Gue makin kesal saat pria batu itu hanya menyunggingkan bibirnya singkat dan mengangguk pelan.
Tanpa babibu, gue melesat menuju kasir untuk melakukan pembayaran dan berlalu ke luar toko buku secepatnya.
Demi langit dan bumi serta isi-isinya, mood gue hari ini benar-benar terjun bebas.
Sesaat setelah gue memasuki kendaraan umum menuju rumah, saat itu juga tanpa aba-aba hujan turun begitu deras.
Menampar-nampar kaca jendela dengan kuat dan membasahi jalanan kota dalam waktu singkat.
Beberapa pekan terakhir, cuaca makin gak bersahabat. Berubah-ubah dengan cepat. Kadang tiba-tiba hujan dan kadang pula panas yang tak terkira.
Sejenak gue melupakan revisian dan wajah pria yang paling menyebalkan yang gue temui beberapa menit yang lalu.
Mama dan papa gak boleh tau kalau gue lagi strees, pusing, kesel, gegana dan emosi-emosi lainnya yang gue rasakan akhir-akhir ini menguras kewarasan gue.
Pokoknya, mereka hanya boleh melihat gue dalam keadaan baik-baik saja dan masih dalam kewarasan penuh. Sehingga mereka tidak akan khawatir dengan anak semata wayangnya ini.
======