Perjalanan dari toko buku menuju rumah ternyata cukup memakan waktu. Selain karena hujan begitu deras, juga ditambah karena kamacetan tak terhindarkan.
Jika biasanya perjalanan memakan waktu 1 jam, kali ini gue bahkan baru sampai rumah setelah hampir 2 jam perjalanan.
"Kak?! Belom mau makan kah?!" Suara lembut dari seorang wanita yang barusan memanggil dari luar kamar adalah suara mama.
Padahal ini belum masuk waktu makan malam. Siang sudah lama lewat. Mama hapal sekali dengan pola makan gue yang random.
"Iya maaa! Nanti kakak makan. Mau istirahat bentar hehe." membuka pintu kamar dan mendapati mama yang sedang nonton tv di ruang tengah.
"Awas aja kalo gak makan! Lihat badan kakak sekarang udah kurusan gitu!" ancam mama seraya mendelik yang gue balas dengan ringisan dan cengiran kuda.
"Siap nyonya! Hehe" mama gak tahu aja, kalau massa tubuh gue tuh gak pernah turun banyak. Turun satu kilo dalam sebulan saja, itu Alhamdulillah sekali.
Gue kembali merebahkan tubuh di atas kasur bigsize dengan posisi telentang. Menatap langit-langit kamar. Padahal baru berapa pekan gue gak pulang dan gak menempati kamar ini. Entah kenapa rasanya seperti sudah berbulan-bulan tak pulang.
Ah iya, mengenai pola makan. Sejak dulu gue gak pernah kurang napsu makan. Dari kecil hingga dewasa napsu makan gue selalu meningkat.
Ada satu cerita yang menurut gue ini lucu. Dulu waktu zaman gue SMP, gue punya temen namanya Putri. Anaknya manis dengan tubuh yang sedikit kurus dan tinggi.
Suatu hari gue main ke rumahnya. Buat belajar kelompok bersama. Mamanya baik banget. Ramah dan welcome sekali. Bahkan kami dibikinin cemilan sebagai teman ketika bikin tugas.
Sampai waktu makan siangpun tiba. Mamanya sudah selesai masak dan ngajak buat makan siang. Si Putri malah bilang kalau dia blm napsu buat makan siang.
Jadinya mamanya ngajak gue. Nah gue yang memang waktu itu udah laper nurut aja saat ajakan mamanya sudah ke tiga kali.
Jadi, setelah itu si Putri cerita kalau napsu makannya benar - benar rendah. Kadang mamanya sampai bosan membujuknya tia kali waktu makan tiba.
Waktu itu gue malah curhat, "Kalau aku Put, mamaku belum nyuruh makan aja, udah makan duluan. Kadang belum waktunya makan siang, aku udah makan siang." seketika itu juga teman - teman gue yang lainnya malah tertawa.
"kamu mah jangan ditawarin Al, udah maju duluan. Soal makan kamu juara deh!"
Gak heran kalau bobot tubuh gue makin hari makin bertambah.
Gue bisa menahan diri untuk tidak belanja apapun. Tapi jangan paksa gue buat nahan diri untuk gak jajan makanan. Itu sangat sulit. Sesulit gue menurunkan timbangan badan yang jarumnya selalu ke kanan dan gak mau geser ke kiri.
Belum sempat gue mengakhiri nostalgia gue barusan, suara cetar membahana mama sudah menggelegar. Gue kaget hingga langsung bangkit dari posisi berbaring dengan kecepatan cahaya.
"ALINA!!! MAKAN SEKARANG JUGA!"
Gue ke luar kamar dengan kaki terseok-seok karena setengah berlari untuk mencapai dapur.
"iya ma iya! Alina makan sekarang." dengan cepat gue mengambil posisi duduk di salah satu kursi yang menghadap meja makan.
Sementara itu, mama sudah sibuk meletakkan beberapa menu makanan serta buah dan juga air minum. Asli, gue udah kayak tamu di rumah sendiri.
"Ma?" panggil gue setelah meneguk air minum yang ada di samping piring nasi. Mama menoleh dengan alis terangkat, "Ada apa? Pengen makan yang lain?" tanya mama seraya sibuk mengupas buah apel di tangannya.
Gue menggeleng pelan, "Enggak ma. Alina cuma bingung aja, ngeliat mama yang perlakuin Alina kayak tamu. Alina kan biasa makan ambil sendiri dan gak disiapin kayak begini," curhat gue seraya melanjutkan aktivitas menyendok makanan yang ada di dalam piring.
Mama tersenyum, "Mama gak tahu kamu di kontrakan makan apa aja. Mama juga gak tahu kamu makannya tepat waktu apa enggak. Sebab mama gak ada di sana. Jadi, selagi kamu di sini, mama pengen lakuin yang terbaik buat anak mama." Hati gue tersentuh banget mendengar jawaban dari mama barusan. Rasanya gue mau berhambur ke pelukan mama sekarang juga.
"Udah jangan nangis, mama tau mama so sweet kan?" Tiba-tiba saja tangan gue berhenti menyendok nasi dari piring dan menatap mama dengan cengo.
Baru aja gue merasa terharu dan tersentuh. Namun, saat mendengar penuturan mama barusan, gue malah merasa kalau mama gue jadi narsis.
"Makanannya dihabisin ya Kak. Awas aja kalo masih sisa!" titah mama kemudian berlalu dari dapur.
"Siyap! Ndoro," balas gue sesaat setelah mama menghilang dari balik pintu dapur.
Gue menghabiskan makanan yang ada di piring tanpa ada sisa satu butir nasi sekalipun. Lalu meneguk air minum hingga tandas. Kemudian beralih membersihkan meja makan dan langsung mencuci piring kotor yang barusan gue pakai.
Setelah selesai beraktivitas di dapur, gue beranjak menuju ruang tengah dan mendaratkan p****t di sofa di samping mama.
Baru sedetik gue duduk, tiba-tiba saja mama terisak seraya menatap layar televisi.
"Ma?!" panggil gue seraya mendekat ke samping mama dengan rasa cemas.
"Mama gapapa kan?" tanya gue memastikan.
"Filmnya sedih banget Ka!" Lagi-lagi gue melongo dibuatnya. Bagaimana tidak, gue sudah cemas bin khawatir kalau-kalau mama ada masalah apa begitu kan. Eh taunya karena nonton film.
Seketika itu juga mengelus d**a seraya bertasyakur.
"Alhamdulillah. Mama baik-baik aja."
=====
Karena gue gak bawa laptop, jadinya malam ini gue terpaksa membaca ulang proposal gue lewat ponsel.
Ya. Pada akhirnya karena satu dan lain hal, gue memutuskan untuk menginap di rumah malam ini. Maka dari itu, besok gue akan berangkat ke kampus pagi-pagi sekali. Mengingat jarak dari rumah ke kampus cukup jauh. Jadi, gue harus meminimalisir keterlambatan dengan berangkat lebih pagi dari biasanya.
Barusan Pony mengomeli gue lewat panggilan w******p. Tuh anak marah-marah karena gue pulang ke rumah tanpa mengabarinya.
Gimana gue mau ngabarin coba, gue aja pulang tiba-tiba tanpa rencana sebelumnya.
Belum ada lima menit gue menatap layar ponsel, bola mata gue sudah terasa perih dan mulai berair.
Rencana ingin ke optik gagal karena mood gue anjlok setelah bertemu dengan si pria batu. Alih-alih gue bisa pakai kaca mata anti radiasi malam ini, yang ada malah gue pulang begitu saja setelah bertemu dengan pria itu tanpa ingat kalau mata gue membutuhkan kaca mata.
Mr. G memanggil...
Aishh! Baru saja gue memikirkan tentang kejadian di toko buku saat bertemu dengan pria itu. Eh, pucuk dicinta ulampun tiba. Si pria batu menelpon.
Buru-buru gue menggeser panel hijau-- yang tertera di layar ponsel--ke kanan dan menempelkan benda pipih itu ke telinga.
"Halo, assalamu'alaikum, pak?"
Namun lagi-lagi mood gue berubah jadi buruk setelah menerima panggilan masuk dari pria itu. Alih-alih membalas sapaan dan salam gue barusan, yang ada panggilan tersebut diputus secara sepihak dengan cepat.
Mau nih bapak apaan sih?! Salah gue apa coba?! Gue bermolog seraya menatap layar ponsel dengan kesal.
Kalau dipikir-pikir, aneh juga sih, si pria batu itu nelpon gue malam-malam begini. Di mana-mana itu, mahasiswa yang nelpon dosennya! Bukan malah sebaliknya.
Memang sih, Mr.G pernah nelpon gue duluan karena memang gue lupa ngirim file proposal gue.
Tapi sekarang? Kenapa juga cuma miscall doang?! Gue penasaran kan!
Ya kan, siapa tahu baliau--caelah beliau- ada butuh bantuan lo Al. Iya kan?! Iya dong! Suara hati gue mulai berasumsi.
Ah sudahlah. Anggap saja si Mr.G gak sengaja nyentuh layar ponselnya yang sedang menampilkan panggilan masuk dari gue waktu itu. Anggap saja begitu.
Sebenarnya, ini belum begitu malam. Mengingat jarum jam dinding yang terpatri di dinding kamar gue masih menunjukkan angka delapan.
Papa mungkin bahkan baru pulang dari Masjid. Dan sebentar lagi suara mama mulai terdengar oleh indera pendengaran gue.
"Kak?! Makan malam dulu!" Kali ini suara mama jauh lebih lembut. Akan tetapi, kalau dalam lima menit gue gak ke luar kamar. Maka bisa dipastikan suara mama akan meningkat menjadi delapan oktaf.
Karena gue anak yang berbakti dan rajin menabung, maka dari itu gue langsung melesat ke luar kamar dalam hitungan detik.
"Loh! Kok piringnya ada empat? Memangnya ada siapa ma?" tanya gue heran saat piring yang mama letakkan di meja jumlahnya lebih dari tiga.
"Ada anak temen mama. Ternyata dia sholat di Masjid komplek kita. Jadinya ketelu sama papa dan sekalian papa ajak makan malam bareng. Biar gak sepi-sepi amat kan?" Gue mengangguk-anggukkan kepala seraya membantu mama menyiapkan keperluan makan malam.
"Oh iya, kamu ke kamar gih! Pakai jilbab!" titah mama saat gue baru saja ingin duduk di kursi.
"Tamunya cowok, ma?" tanya gue penasaran.
"iya, cowok. Sudah sana! Gak enak tamunya jadi nunggu lama." Gue berjalan gontai menuju kamar setelah mengiyakan titah mama barusan.
=====
Lalu, di sinilah gue berada. Di meja makan bersama kedua orang tua gue dan tamu yang tak pernah gue harapkan datang ke rumah gue dan bertemu seperti ini.
"Nak Gala jangan sungkan! Ini tambah lagi nasinya!" tawar mama dengan ramah pada sosok pria yang duduk di samping papa.
Pria itu tersenyum manis seraya mengangguk pelan.
Sementara itu, gue sedari tadi hanya mengaduk isi piring dan menyendoknya sekali. Mata gue sibuk memindai sosok yang gak pernah gue pikir babakalan ada di sini! Di rumah gue.
Gak mungkin! Ini pasti cuma mimpi kan?! Batin gue menolak kenyataan yang terpampang di hadapan gue saat ini.
Mana mungkin seorang Gala Putra Pratama M.Sc. bisa ada di rumah seorang Alina Permata Sari dan makan malam bersama?!
"Kak?! Ngapain bengong dari tadi? Makanannya tu dihabisin!" Gue meringis dan nyengir kuda saat mama menegur gue.
Gue mengangguk seraya mengiyakan perintah mama barusan.
"Ini anak semata wayang tante Gal. Gimana? Cantik kan?"
Hampir saja gue menyemburkan semua makanan yang ada di mulut saking terkejutnya saat mendengar pertanyaan mama barusan.
Gue tersedak! Asli! Buru-buru gue raih gelas air minum dan meneguknya hingga tandas.
"Mama apaan sih?!" Gumam gue seraya mendelik ke arah mama.
Entah sekarang apa yang ada di pikiran si pria batu itu. Namun yang pasti gue sangat ingin menghilang sekarang juga. Minimal gue ngumpet di kolong meja makan. Saking malunya gue.
Lalu, pertanyaan konyol yang mama ajukan itu dijawab oleh si pria batu.
"iya tante. Cantik," jawabnya pelan.
Setelah mendengar itu, rasanya gue benar-benar ingin menenggelamkan diri di dalam bak mandi.
Bagaimana caranya gue bisa bimbingan sama pak Gala? setelah kejadian ini?
Entah ini kebetulan atau takdir yang untuk kedua kalinya, gue merasa kalau ini sinetron banget.
Gue masih berharap kalau ini hanya mimpi buruk. Besok pagi, gue akan bangun dan semuanya akan berjalan dengan normal.
======