Mobil Kristian mogok di saat yang paling tidak tepat. Mesin sedan hitamnya mati total di tengah jalan, memaksanya menepi dengan umpatan yang tertahan di tenggorokan. Ia sudah mencoba menyalakan ulang beberapa kali, tapi hasilnya nihil. “Anjir…” desisnya, memukul setir pelan. Hujan tipis mulai turun. Langit sore menggelap terlalu cepat. Setelah beberapa panggilan dan satu towing yang dijanjikan datang satu jam lagi, Kristian akhirnya melakukan hal yang paling tidak ia inginkan. Ia menelepon Lucas. Pamannya datang sendiri. Jika bisa dia ingin menelpon supir atau pengawal, tetapi keduanya tidak tersedia karena ayahnya berkata dia tidak harus selalu menjadi pria manja. Sebagai seorang manager dan penerus yang sedang dilatih, tentu Kristian tidak dapat memberontak. Karena posisinya di perusa

