Kristian tidak langsung turun dari mobil saat tiba di mansion. Mesin sudah mati. Lampu garasi redup. Hujan tinggal sisa gerimis tipis di kaca depan. Tapi tangannya masih menggenggam setir, kaku. Di kursi penumpang, lip tint itu tergeletak. Ia belum mengembalikannya ke tempat semula seolah benda kecil itu adalah bukti. Bukti bahwa sesuatu sedang terjadi di belakangnya atau lebih tepatnya — di belakang punggungnya. Kristian meraih lip tint itu lagi, memutarnya di antara jari. Warna peach. Warna yang lembut, feminin dan sangat… Sisil. “Kalau ini bukan punya dia…” gumamnya pelan, mencoba rasional. Namun masalahnya, ia terlalu mengenal Sisil. Itu adalah merek yang biasa Sisil gunakan. Ia tahu warna lipstik yang sering dipakai mantannya itu. Tahu kebiasaannya mengoles ulang sambil menatap

