Eps. 6 • Moment of Truth

1070 คำ
Bagaimana mungkin? Batin Lauren tak habis pikir setelah mendengar laporan dari dua orang pengawal pribadinya. Geram. Cukup keras telapak tangan kirinya diempaskan ke permukaan meja kayu, hingga air seduhan kopi dalam cangkir yang dia pegang di tangan kanan sedikit terguncang lantas luber. Setetes kopi mengalir tumpah mengotori suede putih yang dia kenakan malam itu. Bunyi alas cangkir berwarna putih yang beradu dengan tatakan warna senada sejenak membuyarkan lamunan dua orang bodyguard di dalam ruangan. Melingkar cincin emas bermata ungu violet di jari manis tangan kanan wanita paruh baya itu yang kini telah melepaskan jemarinya dari pegangan cangkir. Kamar yang dipesan Lauren sebagai tempat tinggal sementara selama dia berada di Jogja adalah tipe kamar single bed. Fasilitas di dalamnya bisa dibilang cukup mewah untuk hotel tanpa bintang. Lauren duduk di teras balkon menikmati suasana senja menjelang petang. Balkon kamarnya langsung menghadap ke pantai. Suara debur ombak yang terbawa angin menemani kesendirian Lauren. Sejenak mengistirahatkan sepi yang sayup-sayup membelai puncak melankolis seorang single-mom yang keberadaannya ditolak oleh darah dagingnya sendiri. Jerit putus asa yang nyaris tidak lagi terdengar dari balkon hatinya. Atau mungkin Lauren memang berniat membunuh raungan putus asa itu lalu menggantinya dengan ambisi yang entah apa. Dia menghela napas panjang sebelum melontar tanggapan. "Berani-beraninya kalian kembali dengan tangan kosong," hardik Lauren kepada dua orang pria berjaket hitam. Intonasi Lauren yang lembut dan tenang justru membuat Jo dan Ji merinding. Warna suara Lauren yang bertipe alto kian menambah kadar ketakutan keduanya hingga mampu meremangkan bulu roma. "Maaf, Bu Presdir," sesal Jo dan Ji. Kepala mereka tertunduk. "Kami memang gagal mengajak Mas Rendy kemari, Bu. Tapi kami tidak kehilangan jejaknya. Kami punya informasi baru tentang tempat kerja Mas Rendy," timpal Ji si jangkung dengan riang. Seketika itu Lauren menoleh. Dia kembali meletakkan cangkir setelah dua detik lalu berniat menyesapnya. Rona wajahnya memancarkan harapan baru yang entah habis gelap akan terbit terang atau justru sebaliknya; harapan baru yang menenggelamkan dirinya dalam rasa sesal berkepanjangan. "Cepat katakan di mana tempatnya?" desak Lauren tidak sabar. *** Satu jam sebelumnya … Tidak disangka, ketiganya mendapat jackpot di senja itu. Yang ingin didiskusikan oleh Bisma, Alice dan Max adalah tentang Rendy yang tengah diburu oleh pria berjaket hitam. Dan sekarang orang yang dimaksud, tanpa diundang, tanpa dijemput, yaitu Rendy; dia ada di sini. Seperti mendekati api yang sedang berkobar. Menyerahkan nyawanya dengan sukarela. Tak ayal Bisma merasa girang, walau raut wajah kesalnya masih mendominasi. Habislah Rendy. Dia menyelamatkan diri dengan bersembunyi di tempat yang salah. "Bentar … bentar …" Bisma mengayun-ayunkan tangan di depan muka guna mencegah Rendy melontarkan penjelasan lebih jauh. Mereka berlima masih berkumpul di ruang khusus staf untuk merapatkan sesuatu, setelah dua orang pria berjaket hitam pergi dari kafe. "Barusan kamu bilang apa? Ibumu pemilik Lavender Group?" Detik berikutnya, gelak tawa pecah seketika di antara ketiganya; Bisma, Alice dan Max. Sementara Olin melempar pandang ke arah Rendy yang kini rahangnya menegang akibat menahan kesal karena kata-katanya tidak dipercaya oleh sang manajer. Pandangan mata Rendy tajam, tak lepas menatap Bisma. "Iya, Lauren Lavender adalah ibu saya. Dua orang laki-laki yang tadi itu adalah pengawal pribadi Mama," tegas Rendy. "Rendy, Rendy, Rendy," ejek Bisma diiringi gelak tawa yang masih tersisa. "Jadi maksudmu, kamu adalah buronan Bu Presdir Lauren karena dia merindukan anak laki-lakinya dan dua orang bodyguard itu diutus untuk mencarimu di Jogja, gitu?" Rendy mengangguk. Olin menyimak. Tidak tahu pihak mana yang harus dia percaya. "Sesuai janji kita tadi, aku mohon Mas Bisma bisa jaga rahasia ini," kata Rendy mengingatkan. Nada bicaranya lebih terdengar seperti sedang memperingatkan. Bisma kembali tergelak. "Apa? Rahasia gundhulmu! Apa untungnya buatku menutupi kebohongan bocah tengik seperti kamu, huh?" "Saya bukan pembohong!" Rendy menekankan tiap suku kata yang terucap. Rahangnya mengeras dan telapak tangannya mengepal menahan amarah. "Jangan main-main, Ren. Aku dan kakakku kenal baik dengan Lavender Group. Memang, Bu Lauren itu tenar banget di kalangan pebisnis maupun awam. Nggak heran sih kalau kamu nge-fans dengan beliau. Banyak penggemarnya yang mengaku sebagai mantan kekasih atau bahkan mengaku sebagai keponakan beliau. Tapi mengaku sebagai anak beliau? Kamu tuh orang kesekian ratus yang ngomong kayak gitu, Rendy," tohok Bisma sembari mendesahkan tawa sinis. Mengejek Rendy. "Terus kamu pikir orang sekelas kami ini bisa dibohongi dengan lelucon kampungan seperti barusan? No, no, no, Rendy. No way!" Bisma sontak berdiri kemudian menggebrak meja. "Tamat riwayatmu kalau sampai aku ceritakan ini ke Mas Ardi. Katakan yang sejujurnya tentang dua pria berjaket hitam itu atau kamu dipecat," ancamnya kepada Rendy. "Mas, saya nggak ngerti. Saya udah ngomong alasan sejujurnya dan Mas Bisma janji mau menjaga rahasia saya. Tapi sekarang kenapa saya dianggap pembohong? Mereka nyari saya sampai ke sini bukan karena saya punya banyak hutang atau mereka mau menangkap saya karena kasus kriminal. Saya bukan buronan polisi," terang Rendy putus asa. Dia mengacak belakang kepalanya yang tidak gatal. Kemudian melempar punggung di sandaran kursi. "Selain pembohong, kamu juga sinting, Ren," timpal Bisma kemudian. Kepalanya geleng-geleng, tak habis pikir dengan kegilaan pegawainya sendiri. Bisa-bisanya Rendy mengarang cerita untuk menutupi perbuatan buruknya, batin Bisma dan yang lain. "Nona, sekarang kamu tahu, kan, seberapa berengseknya pacarmu ini?" ujar Bisma kepada Olin yang kini terlihat bingung. Namun Olin tidak berniat menanggapi. Bukan saat yang tepat juga untuk mengaku di depan orang-orang ini bahwa Rendy bukan pacarnya. Justru malah akan menambah ruwet permasalahan saja. "Okay, fine, Rendy. Gini aja, kalau emang benar kamu adalah anak dari Bu Lauren, tunjukkan buktinya ke kami," tantang Alice yang kemudian diamini oleh Bisma dan Max. "Oke," sambar Rendy. Dia meraba kantong jeans untuk meraih ponsel miliknya. Tetapi tunggu, kantongnya rata! Di dalam tas juga nihil. Hanya ada kamera dan charger ponsel. Rendy jarang sekali menyimpan foto-foto lama di dalam memori kamera. Final sudah. Betul-betul tamat riwayatnya! Lantas ke mana ponsel sialan itu? Rendy merutuk kesal dalam hati. Alice membaca gerak-gerik Rendy. Kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Bisma, sementara Rendy terlihat kebingungan mencari-cari sesuatu namun tidak kunjung ketemu. Max pun ikut berkasak-kusuk. "Sudah kami duga. Kamu emang biangnya tukang bohong. Nggak lebih dari seorang penipu yang pandai mengarang cerita," kata Bisma menyentak keheningan di sekitar. "Kalau memang benar kamu adalah anak kandung dari Bu Lauren, kamu nggak mungkin repot-repot kerja di sini. Punya ibu yang kaya raya dengan segala fasilitasnya, orang gila macam apa yang memilih bekerja sebagai pelayan kafe dibanding meneruskan salah satu bisnis orangtuanya?" tanya Bisma retoris. "Sekarang terbukti, kan, kata-kataku, Ren? Selain pembohong, kamu itulah orang gilanya." Alice dan Max manggut-manggut tanda setuju. Sementara Rendy menahan murka. Sial. [ ]
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม