Eps. 7 • Escape, please!

1094 คำ
Payah! Rendy ingat sekarang. Ponselnya mungkin saat ini berada di dalam tas Karin dalam keadaan mati kehabisan daya. Rendy tidak sengaja menitipkan ponsel itu begitu saja kepada Karin tadi siang karena dia sibuk memotret di sepanjang jalan menuju stasiun. Sepasang mata Rendy meradang. Di satu sisi, dia sangat tidak terima dicap sebagai tukang bohong, penipu ulung atau apapun itu. Tetapi di sisi lain, Rendy kesal dengan dirinya sendiri karena gagal membuktikan kebenarannya. "Alice, ingatkan aku kalau dua hari lagi kita ada acara penting dan bakal mengundang tamu-tamu pebisnis, salah satunya dari Lavender Group. Rendy udah nggak bisa diandalkan lagi. Mending kamu aja yang nyari orang buat pertunjukan sand art," kata Bisma sembari bersiap berdiri untuk meninggalkan ruangan. Rendy tampak sudah pasrah bila besok dia dipecat dari kafe. Tetapi informasi barusan cukup mengejutkannya. Informasi tentang kafe L.A. yang akan mengundang Lavender Group. Apakah ini sebuah kebetulan yang konyol? Waktunya terlalu sempurna untuk dikatakan sebagai kebetulan. Di saat Rendy kebingungan kabur dari buruan Panji dan Bejo, pengawal pribadi Lauren, kafe L.A. justru akan mengundang Lavender Group di acara penting yang hendak digelar dua hari setelah ini. Apakah ini alasan sebenarnya kenapa hari ini Jo dan Ji memburu Rendy? Mimpi buruk apa Rendy semalam? Karena informasi itu merupakan sebuah pertanda buruk bagi Rendy. Lauren sudah dipastikan akan hadir di acara itu. Dan itu artinya Rendy harus mencari cara untuk tidak terlibat di acara tersebut. Dia harus kabur! Syukur-syukur bila direktur kafe memecatnya besok pagi. Rendy sama sekali tidak keberatan. Dia sangat ingin menghindari ibu biologisnya. Bahkan mungkin saat ini Lauren sudah berada di Jogja, batin Rendy. Alice tampak ragu untuk mengatakannya pada sang kakak. Tetapi Max membaca gelagat Alice yang terlihat takut-takut. "Uhm, jadi gini Mas Bisma," kata Max mengawali pengakuannya. Bisma yang hendak berdiri kemudian langsung duduk kembali karena Max menyela. "Beberapa hari terakhir aku sama Alice udah nyoba nyari orang yang bisa main sand art. Ada sih satu orang teman yang kebetulan punya kenalan yang bisa mainin, tapi …" Max mencari mata Alice. Keduanya sempat beradu pandang sebelum akhirnya Alice menimpali. "Jadi setelah orang itu kita hubungi, dia kita minta datang ke sini dua hari yang lalu buat kita jelasin teknisnya gimana. Tapi sampai hari ini nggak ada kabar lagi dari yang bersangkutan. Lost contact, Mas. Dan susah banget kalau harus nyari orang lagi. Udah mepet banget lagipula," aku Alice dengan sangat menyesal. "Saya bisa kok main sand art," sela Olin tiba-tiba. Sontak pandangan keempat orang di ruangan itu langsung tertuju pada Olin. Terutama Rendy. Dia mengangkat sebelah alis seperti tidak percaya bercampur curiga. Matanya menatap Olin, seakan berkata: Rencana-macam-apa-sih-yang-sedang-kamu-buat-kali-ini-? *** "Anyway, thanks ya," kata Rendy kepada Olin begitu mereka tiba di depan toko. Lirih sekali Rendy mengatakannya. Langit sudah gelap. Di sepanjang jalan dipenuhi oleh kilau lampu-lampu trotoar. Jam menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit. Dan Karin sudah menelepon Olin untuk yang kesekian kalinya sore itu. Untuk apa lagi Karin telepon kalau bukan dalam rangka mengkhawatirkan keadaan Rendy dan Olin. Tidak ada percakapan di antara Rendy dan Olin di sepanjang jalan menuju pulang. Namun tiba-tiba Olin teringat sesuatu. Dia meminta Rendy untuk berhenti sebentar di toko pusat oleh-oleh. "Terima kasih untuk?" tanya Olin sembari meletakkan helm di atas jok belakang motor. "Untuk ide brilianmu tadi. Mereka akhirnya bersedia tutup mulut soal aku dan bodyguard itu. Rahasiaku juga bersedia mereka jaga dan aku mungkin nggak jadi dipecat karena sebuah kesepakatan konyol yang udah kamu buat dengan Mas Bisma," jawab Rendy. Detik berikutnya dia berdeham. "Uhm, maksudku bukan kesepakatan konyol, tapi err— tapi paling nggak, dengan aku nggak jadi dipecat, well … lebih tepatnya belum …" Rendy menekankan intonasi ketika mengucapkan kata 'belum'. "Aku masih punya waktu untuk membuktikan ke mereka bahwa aku bukan tukang bohong, penipu dan semacamnya. Makasih untuk itu." Olin mengangkat bahu. "Sama-sama. Mungkin itu salah satu caraku untuk berterima kasih karena kamu udah melibatkan aku dalam pengalaman ekstrim hari ini, which is also known as 'balapan liar', di kota yang padat penduduk. Berasa ditraktir masuk ke salah satu wahana paling ekstrim di Indonesia. Makasih untuk itu ya." Olin mengatakan itu dengan sangat gembira, walau makna tersiratnya adalah dia menyindir Rendy dengan candaan satir. Faktanya, Olin sangat ketakutan ketika Rendy mengendarai motor dengan kecepatan di atas rata-rata. Rendy menyemburkan tawa geli. "Anytime," imbuhnya. Dia sebenarnya peka dengan apa yang Olin maksud. Tetapi Rendy memilih mengikuti arah pembicaraan sarkasme dari Olin dengan pura-pura menyetujui apa yang baru saja Olin katakan. Untuk pertama kalinya Olin melihat Rendy tertawa lepas hari ini. Jujur, ada banyak sekali tanda tanya yang Olin simpan di benaknya tentang sosok Rendy. Banyak sekali hal misterius dari cowok itu yang pada akhirnya menarik rasa penasaran Olin untuk ingin mengulik kehidupan Rendy lebih jauh lagi. Namun di sisi lain seperti ada tembok atau sekat yang tinggi menjulang sehingga sulit rasanya bagi orang lain untuk masuk dan melihat-lihat apa yang ada di dalam sana. Relung hati Rendy yang terdalam. Sepertinya Rendy sengaja membangun 'benteng' itu karena satu dan lain hal. Suatu hal yang Olin belum tahu apa itu. Atau lebih tepatnya, orang lain dilarang Rendy untuk tahu lebih jauh tentang dirinya. "Ngomong-ngomong, udah berapa lama kamu kerja di kafe itu?" tanya Olin sembari meraih keranjang belanjaan di samping pintu masuk toko. "Baru kok. Mungkin sekitar dua mingguan. Kurang lebih." Rendy mengambil keranjang yang dipegang Olin. "Biar aku aja yang bawa. Kamu pilih-pilih aja dulu mau beli apa." Meski agak kaget dengan sikap hangat Rendy yang terlalu tiba-tiba, Olin berusaha bersikap biasa saja. Mengingat bahwa Karin pernah bercerita kepadanya bahwa reputasi seorang Rendy adalah tipe manusia es yang tidak mudah ramah dengan orang yang baru dikenal. Tetapi melihat sikap Rendy yang seperti ini, Olin merasa mungkin Karin sudah salah memberikan hipotesis. Perlahan, Olin menjauhkan cengkraman tangannya pada pegangan keranjang belanjaan. Membiarkan Rendy mengambil alih pegangan keranjang. "Tapi kenapa?" Olin berjongkok untuk mengambil tiga bungkus cemilan yang digemari anak-anak pada umumnya. "Karena beban belanjaan cewek bakal berat banget nantinya. Jadi mungkin kamu nanti nggak bakal kuat bawa ini sendirian. Daripada nanti aku diomelin Karin karena nggak bantuin kamu, mending sedari dini, aku bantu bawain sekarang aja keranjangnya," jawab Rendy panjang lebar. Olin mengernyit dan baru tersadar akan maksud jawaban Rendy. "Aku nggak nanyain soal kenapa kamu mau repot-repot bawain ini," terang Olin sambil menunjuk keranjang belanjaan yang masih kosong. "Tapi aku penasaran soal: kenapa kamu mau repot-repot kerja di kafe?" "Kenapa gimana? Apa salahnya kerja di kafe? Aku masih jadi warga negara Indonesia utuh dengan segala hak kewarganegaraannya, by the way." "Maksudku kenapa kamu milih kabur ke Jogja daripada stay di Kediri?" tembak Olin langsung pada inti. [ ]
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม