Eps. 8 • Excuses

1029 คำ
Apa? Kabur katanya? Rendy agaknya kaget juga mendengar tebakan Olin yang terlalu tepat sasaran. "Maksudmu apa sih, aku nggak ngerti. Kayaknya kamu butuh dicekoki jamu deh, biar melek dan nggak ngomong yang aneh-aneh." Rendy berusaha mengalihkan pembicaraan dengan berpura-pura melihat-lihat rak cemilan di sebelah Olin. "Sudah jadi rahasia umum kalau kantor utama Lavender Group itu ada di kota Kediri, kan, Kak?" Olin mengambil plastik bening ukuran dua kilogram untuk menimbang tumpukan jeli mini. Rendy mengekor di belakang Olin seperti anak bebek. "Jadi kenapa kamu mau repot-repot nyari kerja di Jogja? Bukannya lebih enak kerja di Lavender Group?" Rendy mendesahkan tawa sinis. "Ah, aku lupa kalau kita berdomisili di kota yang sama." "Dan sama-sama alumni dari SMA yang sama juga, remember?" tambah Olin. "Tapi dulu seingatku belum ada omong-omong atau kasak-kusuk soal Kak Rendy yang adalah anak dari pemilik Lavender Group sih. Jadi …" "Jadi kamu menganggap aku sebagai pembohong juga. Iya, kan?" sela Rendy dengan kalem. Dia justru mengulum seulas senyum. "Aku baru tahu kalau kamu dulu itu penguntit ulung. Mungkin predikat Miss Stalker of the Year cocok buat kamu, Olin." Tidak ada nada ejekan pada kalimat Rendy. Dia murni ingin memuji Olin karena sebenarnya jauh di dalam lubuk hati, Rendy merasa bangga dengan dirinya sendiri. Sebegitu tenarnya dia pada zamannya sampai-sampai masih ada orang, seperti Olin, yang mengingat sosoknya hingga saat ini. Namun mungkin cara Rendy dalam memuji yang kurang tepat. Olin menangkap pujian Rendy sebagai cemoohan sarkastik. "Bukan nggak percaya sih, Kak. Tapi lebih ke sedikit kurang yakin," kilah Olin. "Aku nggak bisa memaksakan keyakinanmu kalau gitu. Sama dengan dulu ketika kesuksesan mendadak menimpa Mama sampai pada akhirnya terciptalah Lavender Group. Dan keadaan itu memaksaku untuk menghindar sejauh-jauhnya dari Mama. Aku nggak bisa memaksakan diriku untuk tetap tinggal di sana dan memupuk kebencian lebih dalam lagi. Entahlah, mungkin aku bodoh. Semua terjadi gitu aja." Tangan kanan Rendy yang bebas dari pegangan keranjang belanjaan, mengambil beberapa butir jeli untuk kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik. Olin menaruh plastik berisi jeli itu di atas timbangan. "Sejak saat itu aku kerja apa saja untuk membiayai kuliah. Terus bergonta-ganti pekerjaan dan tempat tinggal sampai hari ini," lanjut Rendy. "Tapi kenapa?" ulang Olin. Dia masih haus rasa penasaran. "Well … sekali lagi, bukan aku nggak percaya tentang yang baru saja kamu bilang. Cuma heran aja dan nggak habis pikir kenapa kamu memilih menghidar dari kesuksesan yang dulunya udah terjadi di depan mata. You missed a lot of things, you know that ?" "Aku nggak bisa menyalahkan Mama ketika dia sukses walau sebenarnya aku pengen banget melakukan itu. Tapi aku nggak suka sama cara yang dia pakai demi meraih puncak kemenangannya. Karena itu aku memilih pergi." Rendy membicarakan sesuatu yang sama sekali tidak dipahami Olin. Seakan Rendy sedang berbicara dengannya menggunakan bahasa planet lain. "Aku yakin kamu jarang curhat ke orang asing ya?" tanya Olin. Dia seperti tidak tahu harus menanggapi Rendy dengan tanggapan yang bagaimana. "Kenapa emangnya? Ada yang salah?" Rendy sudah hendak bersiap menyemburkan gelak tawa. "Curhatanmu ruwet banget. Bikin pusing yang dengar. Penuh teka-teki yang bercabang-cabang. Berasa kayak lagi masuk ke dalam labirin yang gelap total. Orang yang nyoba masuk ke labirinmu itu berusaha mencari cahaya tapi nggak ketemu. Kamu seolah menolak cahaya yang datang untuk menolongmu," kata Olin memandang iba pada Rendy. "But your secret is yours, anyway. I don't blame you." Pecah juga tawa keduanya. Terutama Rendy. Dia yang paling kencang terbahak. "Ngomong-ngomong, ternyata udah seluas itu ya penyebaran infonya sampai kamu nggak mau ketinggalan update terbaru soal Lavender Group? Itu sih yang aku benci dari internet. Privasi seseorang jadi santapan publik. Penyebarannya super cepat. Kayak virus menular. Jadi orang terkenal itu sama dengan cari penyakit. Ironisnya, Mama menyukai itu. Penyakit ketenaran. Tapi aku benci itu." "Jadi pemilik Lavender Group itu benaran ibu kandungmu ya?" ulang Olin. Dia kelepasan bicara. Olin seolah butuh untuk diyakinkan berulang kali sampai keyakinannya utuh. Buru-buru Olin melirik Rendy untuk melihat bagaimana ekspresinya. Lantas buru-buru menambahkan, "Sorry, I'm so curious about it. Aku nggak bisa menahan diri untuk nggak nanya terus soal itu. Tapi nggak apa-apa kok kalau kali ini kamu mau skip." "Jawabannya tergantung," jawab Rendy dengan sabar sembari mengangkat bahu. Tangan kanannya pura-pura sibuk memilah jeli mana yang bagus. Padahal pikirannya menggerambyang entah ke mana sekarang ini. "Tergantung apa?" "Tergantung kamu ada di pihak mana? Pihak yang percaya atau menolak yakin," jawab Rendy. "Karena kamu udah dengar sendiri tadi sewaktu kita di kafe. Dan semua yang aku katakan di depan kamu dan mereka adalah asli kebenarannya." Rendy mengamati ekspresi Olin yang terkesan ragu dengan apa yang dia dengar tentang Rendy di kafe. Rendy menunggu beberapa saat. Masih tidak ada tanggapan lebih lanjut dari Olin. "Oke, oke, aku tahu. Kamu pasti punya pemikiran yang sama dengan mereka. Ya, kan?" timpal Rendy mencoba menebak apa yang dipikirkan Olin. "Bentar, bentar. Maksudnya? Pemikiran apa nih yang sama?" protes Olin. Dia agaknya setengah tidak terima karena disama-samakan dengan atasan Rendy yang super jutek itu. "Kamu butuh bukti, kan?" tebak Rendy. Olin terdiam. Skak mat. Tak bisa dipungkiri bila Olin memang penasaran dengan bukti yang dimaksud. Namun dia gengsi mengakuinya. "Nanti aku tunjukkan buktinya setelah kita sampai di tempat Karin," imbuh Rendy seperti bisa membaca pikiran Olin. Rendy menyambar beberapa minuman dingin kemudian menjejalkannya dalam keranjang. Lagi-lagi mengekor di belakang Olin yang kini mengantri di kasir. Dia memberi isyarat pada Rendy untuk membawa keranjangnya ke meja kasir. Sementara itu, Olin, untuk kesekian kalinya malam itu, kembali menjawab telepon dari Karin. Sudah semacam induk saja si Karin itu, batin Olin heran. Berulang kali Karin meneleponnya untuk menanyakan posisi. Sepertinya mereka harus segera kembali karena 'induk' mereka sudah sangat khawatir. *** "RENDY!" pekik Karin menyambut kedatangan Olin dan Rendy begitu keduanya sampai di depan rumah Karin. Malam belum begitu larut. Tetapi suasana sekitar rumah belajar beYOUtiful sudah terasa lengang. Seperti sudah mendekati pukul sepuluh malam saja, padahal jam masih menunjukkan pukul delapan lebih sepuluh. Hal pertama yang Karin lakukan adalah menghampiri sepupunya, kemudian menampar salah satu lengan atas Rendy dengan cukup keras. Belum juga Rendy sempat turun dari motor. Sementara Olin melepaskan helm setelah turun dari motor. Rendy tidak sempat menghindar dari serangan Karin. Si empunya lengan mengaduh. "Apa sih, Rin. Sakit tauk!" [ ]
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม