Bab 2. Pindah

1171 คำ
Artemis Alcatraz Cohza. Karena pengucapan namanya yang menurut sesepuh Cohza sangat susah, maka dipanggil Aca saat ini, dia sudah berusia lima tahun dan terlihat menggemaskan. Aca itu memang lengket dan manja jadi saat bangun tidur tidak mendapati orang tua atau pengasuhnya, dia langsung menangis dengan kencang. "Sini ikut Mama." Ara menarik Aca tapi sayangnya Aca malah mengeratkan pelukannya ke Alca dan menggeleng tidak mau. "Aca mau Oma." Aca yang merajuk pada mamanya karena di tinggal tidur sendiri dan langsung pasang tampang jual mahal. "Aca di sini saja ya, ikut olahraga sama Mama dan Papa," bujuk Alca, merasa ini adalah tanda-tanda perang jadi harus segera di redam sebelum pecah. "Gak mau, Aca mau Papa antel Aca ikut oma Tasya," ucapnya masih dengan nada cadel. "Kalau Aca sama oma, ya sudah sana! Tapi, Papa Alca buat mama! Jangan dibawa." Seketika Aurora menolak. "Ih Mama jahat, ini Papanya Aca." "Tapi papa Aca suami mama Ara, jadi papa Alca punya mama." Aurora tidak mau mengalah. "Nggak boleh, pokoknya ini Papanya Aca." "Nggak bisa! Ini suami Ara." "Papa, Papanya Aca kan?" Aca memandang Alca dengan mata semakin berkaca-kaca. "Iya, Papanya Aca kok." Alca mengelus rambut putrinya agar tidak menangis lagi. "Kak Alca, Suaminya Ara kan? Cinta sama Ara kan?" "Iya sayang, kak Alca cinta sama Aurora," jawab Alca segera. "Ya sudah turunin Aca biar dia ikut mami Tasya." Ara menarik lengan Alca. "Nggak boleh, ini Papa Aca." Aca mencoba melepaskan tangan Aurora dari Alca. "Ich ... Aca. Katanya tadi nggak mau ikut Mama, jadi jangan ikut Papa, sana ikut Oma saja." "Ara, jangan begitu dong, kan Aca anakmu juga, jadi kita sama-sama anterin ke tempat mami yuk." Aurora cemberut dan menatap Aca dengan kesal. Aca tidak mau kalah dia memandang Aurora sambil mendongakkan dagunya sombong. "Aca, turun!" Perintah Ara. "Nggak mau." Aca keukeh. "Kak Alca, lepasin Aca sekarang juga!" Aurora menatap Alca tajam. "Nggak boleh!" Aca mengeratkan pelukannya ke Alca saat Alca akan menurunkan dirinya. "Ih ... Aca turun." Ara menarik Aca. "Nggak mau, Mama jahat!!!" Aca menepis tangan Aurora. "Sayang, jangan begini dong." Alca mengerang bingung. Di satu sisi putrinya di sisi lain istrinya, dua - duanya sama-sama dia sayangi dan cintai. Tapi sejak Aca usia tiga tahun, kenapa Aca dan Ara sering berantem memperebutkan dirinya. Alca cinta sama Aurora yang polos dan kekanakan. Alca juga cinta sama anaknya yang mengemaskan dan manja. Tapi ternyata, ketika Ara dan Aca disatukan, Alca yang jadi korban. *** "Solusi, Al." Karena pusing memikirkan istri dan anaknya yang sering berantem memperebutkan dirinya sendiri. Akhirnya Alca tidak tahan, dia mendatangi teman sekaligus tetangga depan rumahnya dengan rasa frustasi. Dicintai dua wanita itu menyenangkan, tapi diperebutkan hingga timbul pertengkaran sangat tidak menarik, apalagi jika keduanya sama-sama wanita yang dia cintai. "Mungkin kamu butuh anak kedua," jawab Alxi. Sebagai duo Al yang legendaris, mereka harus selalu kompak dan saling membantu. "Anak satu-satunya saja sudah ribet Alxi, gimana mau nambah anak." Alca ingat ketika baru melahirkan, Ara dengan semangat meminta jatah karena ingin memberikan dia anak ke dua. Ternyata setelah Aca sudah mulai bisa bicara, mereka malah sering tidak akur. Membuat Alca mengurungkan niatnya untuk memiliki anak kedua yang menurutnya hanya akan menambah kecemburuan dari dua wanita itu. Alca sekarang sudah pasrah, mungkin sudah jadi takdir keluarga Brawijaya untuk selalu memiliki anak tunggal. "Aku ada ide. Bagaimana kalau aku suruh Dava dan Deva buat full menemani Aca 24 jam, sehingga meminimalisir pertengkaran antara anak dan istrimu karena Aca sibuk bermain dengan anakku," usul Alxi. "Maksudnya, anak kamu ikut tinggal sama aku gitu? Dih, ogah." Anaknya Alxi itu rusuh semua, dia menangani istri dan anaknya saja sudah kewalahan, kalau di tambah anaknya Alxi, bisa hancur dunia persilatan. "Kenapa? Anggap saja anakku itu bodyguard Aca, free, enggak perlu digaji, tapi biaya sekolah dan jajan kamu yang kasih, gimana?" tanya Alxi dengan senyum lebar. "Itu lebih mahal g****k, gaji bodyguard paling 10-20 juta kalau standar dan bisa benar-benar melindungi Aca dari segala macam marabahaya, lha anakmu cuma nemenin main harus nanggung biaya sekolah, sadarlah ... sekolah anak kita satu semester saja 50 juta. harus menanggung Dava dan Deva secara bersamaan jadi 100 juta dong, belum jajan yang pasti tidak kurang dari 5 juta sebulan. Bisa menang banyak di kamu." Alca dulu tidak pernah mempermasalahkan uang yang dia berikan pada Alxi karena merasa memang sohib kental. Namun, sejak istrinya kuliah dan mengambil jurusan management keuangan. Semua uang di rumah Aurora yang ngatur dan akan marah kalau dia menggunakan untuk hal yang enggak perlu. Terutama investasi bodong yang sering dibawa Alxi. Istilahnya, Alca meskipun kaya raya, tapi tidak bisa foya-foya semudah dulu. "Ish pelit." Padahal kalau Dava dan Deva ditanggung biaya sekolahnya, Alxi ada tambahan buat biaya melahirkan anak ke 5 dan tinggal memikirkan biaya buat Dika serta Della kelak. "Kalau kamu bisa bilang ke Aurora ya silahkan, aku sih enggak mau ambil resiko." Istrinya itu bucin akut padanya, tetapi soal duit dia bisa lebih kaku dari kakaknya Junior. "Ya sudah satu saja, yang penting anak kamu ada temannya full 24 jam biar enggak ganggu kamu sama Ara, nanti aku yang ngomong." Kalau soal sikap posesif, lady Cohza tak ada lawan, jadi Alxi sangat yakin Aurora akan setuju membiayai anaknya asal Aca tidak memperebutkan Alca dengan dirinya lagi. Benar saja, tidak butuh waktu satu jam, Aurora setuju dan meminta Alxi membawa barang-barang anaknya agar tinggal di rumah mereka. Deva yang baru pulang dari sekolah TK memandang bingung ke arah Daddy nya yang memasukkan bajunya ke dalam koper besar. "Kita mau liburan?" tanya Deva, namun melihat kakak pertamanya Dava tidak berkemas juga. "Enggak, mulai hari ini Deva tinggal di rumah paman Alca buat temani Aca." Alxi memberitahu. "Kan setiap hari kita juga main sama Aca, kenapa Deva harus tinggal di rumah paman Alca?" Kali ini sang kakak Dava yang bertanya. Rumah mereka berhadapan, kenapa harus pindah dan kenapa hanya Deva yang pindah. "Enggak perlu pindah juga aku pasti main sama Aca kok Dad." Deva kan satu kelas dengan Aca. "Ini beda, selain menemani Aca, kamu juga akan jadi bodyguard pribadinya. Jadi, mulai hari ini tugasmu menjaga Aca dari segala macam marabahaya, mengerti?" Deva mengangguk. "Tapi, kenapa bukan Dava saja? Bukankah Dava lebih bisa diandalkan?" tanya Deva. Biasanya Alxi selalu membebankan apa pun pada Dava soal mengurus dia dan adik-adiknya, itu karena Alxi merasa sebagai anak pertama, Dava harus lebih dewasa dan memberi contoh untuk adiknya dan Deva sebagai anak nomor dua harus mencontoh kakaknya yang nomor satu. "Justru karena kakakmu lebih bisa diandalkan, jadi dia harus menjaga Dika dan Della, sedangkan Daddy harus menjaga ibu kalian yang sedang hamil, itulah kenapa kamu yang bertugas untuk menjaga Aca, mengerti!" Deva mengangguk, yang terbaik harus di simpan sendiri sehingga nomor dua yang harus dikirim keluar. "Kalau kamu tidak mengerti dan butuh bantuan saat menjaga Aca, tanya saja kakakmu Dava, dia akan mengajarimu cara menjaga adik dengan baik." "Baik Daddy." Menjadi yang ke dua itu tidak enak, karena setiap langkah harus mengikuti yang nomor satu sebagai patokan. Deva sudah biasa ada di nomor dua, jadi tidak pernah menganggap dirinya tidak mampu, hanya merasa kurang beruntung karena satu langkah lebih lambat dari Dava.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม