Enjoy Reading.
***
Xia membuka matanya dan merasa sesak dan panas.
‘Ini Ac di kamar mati apa ya? Iya deh kayaknya, habis gelap. Tapi kok dia susah gerak ya? Eh, apa ini di depannya? Kok ada dua yang nonjol terus ada putingnya lagi. Eh ... ini d**a, d**a siapa? Yang jelas bukan d**a ayam, dadanya kayak d**a cowok, tapi kok keras banget ya?’ pikiran Xia dipenuhi pertanyaan.
Xia berusaha bergerak tapi susah karena seperti ada yang mendekapnya erat, lalu dia mendongak dan bengong. ‘kenapa ada cowok keren di kamarnya?’
Kemudian ingatan Xia mulai kembali, lelaki yang saat ini memeluknya begitu erat adalah pria yang menyelamatkannya kemarin.
“Om ... Om ... bangunnn.” Xia menggerak-gerakkan tubuhnya lagi berusaha lepas.
Pete sebenarnya sudah bangun dari tadi, tapi sengaja pura-pura tidur. Entahlah dia hanya merasa senang mendekap tubuh kecil Xia, walau tubuhnya kecil seperti bantalan sofa tapi aromanya membuat Pete nyaman. Pete membuka matanya lalu memandang lekat Xia, wajah imutnya terlihat berusaha keras melepaskan dekapan kuat Pete.
“Om ... lepas, Xia sesak Om,” ucap Xia menggeliat, hal yang membuat tubuh Pete adem panas seketika.
“Om, Ehmmm ....” Xia melotot saat tiba-tiba ada sesuatu yang kenyal menempel di bibirnya.
Entah apa yang merasuki Pete, dia tiba-tiba ingin mencium bibir mungil yang terus bicara itu. Pete penasaran apa bibir itu selembut bayangannya.
Pete hanya menempelkan bibirnya, dan Xia langsung mematung karena kaget.
Tidak ada yang bergerak hanya menempel saja.
Pete melotot dan langsung melepas bibir dan pelukannya saat merasakan jantungnya berdetak kencang.
Ada apa dengan dirinya?
Dia duduk di pinggir ranjang dan mengusap wajahnya dengan detak jantung yang masih menggila.
“Kyaaaaa!!”
Pete langsung berbalik menghadap Xia saat mendengarnya menjerit.
“Om mencuri ciuman pertamaku,” protes Xia sambil menutup bibirnya dengan pandangan menuduh.
Pete tidak sanggup bergerak, matanya melebar, wajahnya memanas dan jantungnya semakin berdetak kencang saat dengan tanpa sengaja selimut yang tadi menutupi mereka sudah tersingkap. Tanpa sadar sweater yang di kenakan Xia tersingkap saat tidur sehingga menumpuk di pinggul. Dengan tanpa pakaian dalam tentu saja p****t mulus Xia jadi terekspos.
Xia yang masih shock karena dicium Pete baru akan melakukan protes susulan saat melihat arah pandangan Pete yang tertuju di antara pahanya.
Xia langsung menganga lebar semakin shock.
“AAAAAAAAAAA! Om, tutup mata, jangan ngintip. Aaaaaaa keluar dari kamarku!” teriak Xia sambil melempar bantal-bantal ke arah Pete dan menarik selimut menutupi tubuhnya hingga kepala.
Pete yang terkejut langsung gelagapan saat bantal-bantal mendarat di wajahnya. Dengan super kilat dia langsung keluar kamar dan menutup pintu dengan keras sambil memegangi jantungnya yang tidak berhenti berpacu.
Kenapa rasanya lebih mendebarkan dari pada saat dia melakukan olahraga ekstrem.
Ada apa dengan jantungnya?
Apa dia memiliki kelainan?
Apa jantungnya bermasalah?
Atau penyakit jantung ibunya menurun padanya?
Dia harus segera menghubungi Marco dan bertanya padanya.
Tanpa menunggu lama Pete langsung mengambil ponselnya mencari
kontak Marco.
“Ya, Uncle?”
“Aku sakit jantung,” kata Pete langsung.
“What? Oh, s**t!” Terdengar keributan di seberang sana yang ternyata Marco sedang berlatih menembak dan karena terkejut atas perkataan Pete pelurunya tidak mencapai sasaran tapi mencapai bahu anak buahnya.
“Uncle di mana aku segera ke sana,” kata Marco panik. Entah panik karena tidak sengaja menembak anak buahnya atau karena mendengar penyakit pamannya.
“Di rumah,” jawab Pete.
“Aku ke sana sekarang,” ucap Marco dan langsung mematikan panggilan.
Mendengar Marco akan datang, Pete agak lega. Tetapi saat membayangkan bertemu gadis kecilnya Pete merasa malu dan jantungnya deg-degan lagi. Tapi dia butuh mandi dan berganti baju dan sayangnya kamar mandi serta bajunya berada di dalam kamarnya.
Pete merutuki dirinya sendiri, dia adalah orang yang tidak takut apapun tapi kenapa hanya karena bocah yang bahkan tidak lebih besar dari celengan ayam itu dia jadi resah begini?
Ini rumahnya, harusnya minion itu yang sungkan padanya bukan sebaliknya.
Setelah Pete meyakinkan dirinya sendiri ia langsung masuk kembali ke kamarnya, entah sadar atau tidak Pete langsung menghembuskan napas lega saat ternyata Xia sudah tidak ada di ranjang dan sudah memasuki kamar mandi.
Dengan cepat Pete menarik salah satu kaus dan jaket hodienya dari lemarinya dan langsung keluar tanpa repot memakainya terlebih dahulu. Pete lebih baik olahraga sebentar, siapa tahu jantungnya bermasalah karena dia kurang keras berolahraga.
Xia mengintip dari balik selimutnya dan langsung merasa lega saat mendapati Pete sudah tidak berada di kamar. Dengan cepat Xia berlari menuju kamar mandi. Dia harus segera memakai pakaiannya sendiri dan pulang.
Xia sangat malu dan pasti tidak akan tahan melihat Om-Om itu.
Ah ...! ingin sekali dia memiliki pintu ajaib Doraemon dan menghilang saat ini juga, malunyaaa!!
Untung gaun dan pakaian dalam Xia sudah kering dan bisa digunakan, walau gaunnya agak berantakan setidaknya itu lebih baik dari pada sweater pembawa aib itu.
Xia mengintip pintu kamar dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
'Ke mana Om-Om itu?’ batin Xia.
Xia keluar dari kamar dan mencari Pete ke semua ruangan, tapi tidak ada.
Sebenarnya Xia malu bertemu Om itu lagi, tapi sebagai orang yang sudah ditolong dan diberi tempat beristirahat semalaman, tentu Xia harus tetap berterima kasih dan berpamitan. Tapi ke mana Om itu?
Setelah menunggu 15 menit dan tidak ada tanda-tanda si Om akan muncul akhirnya Xia menuju dapur karena perutnya sudah keroncongan. Xia membuka kulkas dan hanya menemukan buah-buahan.
Xia lalu menjelajah dapur dan terlonjak senang saat menemukan beras. Dengan cepat Xia memasaknya lalu mencari bahan lain sebagai lauk, lagi-lagi hanya ada telur, tapi untung ada cabai dan kawan-kawan sehingga Xia memutuskan akan membuat nasi goreng saja, tentu saja ia harus menunggu nasi matang dulu.
Akhirnya untuk mengganjal perutnya Xia mengambil sebuah apel, mencucinya dan langsung memakannya tanpa repot mengupasnya terlebih dahulu.
Setelah penantian yang lumayan panjang, menurut Xia, akhirnya nasi yang dia tunggu matang juga dan dengan semangat Xia mulai memasaknya.
‘Mungkin si Om lapar juga nanti jika kembali,’ batinnya dan menambah porsi masakannya.
Setelah selesai, Xia menata masakannya yang sederhana itu di meja yang menurut Xia ruang makan, karena tidak mau dikatakan lancang Xia berencana menunggu Pete datang untuk makan bersama, tapi hingga nasi gorengnya hampir dingin si Om belum nongol, akhirnya Xia makan sendiri karena sudah tidak tahan.
Setelah makan Xia membereskan sisa-sisa kekacauan di dapur dan mencuci bersih semua hingga seperti semula lalu Xia menunggu, tapi baru 5 menit Xia sudah tidak sabar dan langsung keluar rumah.
Sayang sepertinya ini perumahan yang sudah terbengkalai karena hanya rumah si Om yang ditempati, sedang bangunan lainnya terlihat sudah kusam dan kosong. Xia terpaksa berjalan kaki lumayan jauh hingga akhirnya sampai ke jalan raya. Di sana pun Xia susah mendapat angkutan dan terpaksa mencegat taksi yang lewat.
‘Biarlah ongkos lebih mahal pasti kakaknya mau bayarin dari pada kakaknya panik gara-gara dia yang ngilang semalaman,’ batin Xia lega akhirnya bisa pulang.
Di tempat lain Pete baru akan menuju rumahnya saat sebuah mobil berhenti di dekatnya.
“Uncle, katanya sakit?” tanya Marco saat keluar dari mobil.
Pete tidak menjawab tapi memberi kode Marco untuk mengikutinya dan berhenti di GOR tempat Pete dan anak buahnya berlatih.
Pete langsung memasuki ruang khusus miliknya, melepas jaket serta kaus, mengeringkan sisa-sisa keringat lalu menuju kamar mandi. Setelah bersih dan menganti baju Pete menemui Marco yang
sudah menunggunya.
“Jadi dokter mana yang mengatakan Uncle sakit jantung?” tanya Marco.
“Tidak ada, tapi jantungku berdetak sangat cepat tadi.”
“Tentu saja uncle kan baru selesai olahraga,” ujar Marco.
“Bukan, tapi sebelumnya,” bantah Pete.
Karena tidak mau mengulur waktu Marco mengeluarkan perlengkapan kedokteran dan memeriksa Pete menyeluruh, dari tensi darah bahkan tes gula darah, tapi semua normal saja.
“Uncle mungkin sebaiknya Uncle pergi ke cabang Rumah Sakit Cavendis agar mendapat pemeriksaan lebih menyeluruh, karena menurut pemeriksaannku paman sangat sehat dan normal,” ucap Marco.
Pete mengangguk saja.
“Sebenarnya kapan uncle merasa jantung uncle sakit?” tanya Marco lagi.
“Tadi saat bangun tidur, tidak sakit hanya berdetak sangat kencang seperti mau keluar,” jelas Pete.
“Oh, mungkin uncle bangun terlalu tergesa-gesa, jadi tubuh paman belum menyesuaikan diri makanya terjadi keterkejutan dalam Jantung.”
Pete mengangguk, tadi dia kan memang bangun dengan tergesa-gesa.
Ya ... pasti itu permasalahannya.
“Thanks,” ucap Pete.
“Biasa aja kali, uncle kayak sama siapa saja,” ucap Marco santai.
“Ya sudah, uncle aku kembali ke SS dulu masih banyak urusan. Uncle mau ikut ke SS atau ke mana?” tanya Marco.
Pete diam, gadis kecilnya kan masih di rumah. Tidak mungkin dia tinggal seharian. Astaga ... Pete ingat dia bahkan belum memberinya makan.
“Aku pulang,” kata Pete dan langsung berlari keluar.
Marco geleng-geleng heran dengan tingkah unclenya yang satu itu.
***
TBC.