Prolog.
Warning sebelumnya
Dalam cerita ini akan banyak adegan kekerasan dan 21+
Bagi nanti yang enggak tahan silahkan lambaikan tangan ke kamera, dan langsung saya sediakan pintu keluar doraemon dengan tujuan laboratorium Cavendish. Agar otak anda di cuci dan tidak mengalami trauma berkepanjangan.
Bagi yang bertahan akan mendapat kupon dinner bersama pemeran utama Pete Alberald Cohza.
Dengan menu sebagai berikut :
1. Opor jantung pengedar narkoba.
2. Tumis paru-paru preman pasar kamis.
3. Burger dengan isian jari tangan dan usus pengebom di ukraina dengan saus p******a milik pemain film porno asia.
4.Terakhir adalah minuman juice otak beserta kepalanya sebagai hiasan.
Semoga berhasil
Happy reading.
***
Di tengah-tengah sebuah jeruji besi terlihat seorang pria di kelilingi 6 tahanan yang semua siap menyerang. Mereka adalah tahanan yang di vonis hukuman mati, bukan dengan racun, di tembak atau di kejut listrik tapi pria di tengah itulah eksekutornya.
Pete Abellard Cohza, anak bungsu dari 4 bersaudara Cohza. Psycopath sekaligus eksekutor tahanan internasional.
Prinsipnya hanya satu, aku yang mati atau kamu yang mati.
Dan sebagai eksekutor dia menetapkan sebuah peraturan, siapa yang berhasil mengalahkannya maka dia akan bebas dan dihilangkan seluruh catatan kejahatannya di dunia. Tetapi sayangnya selama ini belum ada satu pun yang bisa mengalahkannya dan tentu saja semua berakhir menjadi mayat.
Pete hanya memandang santai orang-orang yang mengelilinginya tapi dia juga tetap waspada. Diantara keluarga Cohza dialah yang terbaik dalam duel. Entah itu jarak dekat maupun menggunakan senjata. Bahkan, Daniel yang digadang sebagai pewaris satu-satunya keluarga Cohza sekaligus keponakannya yang terkenal memiliki kecepatan tinggi masih belum bisa mengalahkan Pete sampai sekarang. Sedang adik dari Daniel yaitu Marco dia hanya suka bermain-main dan terlepas dari tubuh anehnya dia sebenarnya memiliki kekuatan fisik paling lemah di antara keluarga Cohza.
Dengan santai Pete mulai membungkus tangannya dengan kain, bukan agar jarinya tidak sakit saat di gunakan memukul tapi hanya iseng sambil mengamati satu persatu korbannya.
Suara tarikan napas yang sedikit kencang menjadi aba-aba. Seolah memanggil semua tahanan agar segera bertarung dengan Pete.
Benar saja, kini semua tahanan meringsek maju dan menyerang secara bersamaan.
Bugk ... Cras ... Akhh.
Duakh .... Aaaaa.
Suara berdebum bertanda tubuh jatuh ke lantai menjadi musik dan goresan senjata yang mengiris daging memenuhi ruangan itu. Darah bercucuran dan jeritan menggema memekakkan telinga.
Semua terjadi sangat cepat bahkan para tahanan tidak menyadari penyebab kematiannya. Karena mereka baru bergerak dan tiba nyawa mereka sudah melayang.
Krakk.
Akhhhhhhh.
Tawanan terahkir meregang nyawa saat dengan santai Pete mematahkan kepalanya hingga terbalik. Hingga memperlihatkan matanya yang putih melotot ke atas tanda tidak rela atas kematian yang menghampirinya.
"Huh ... terlalu mudah," gumam Pete sambil menjilat bersih pisau kesayanga dari darah para korbannya. Seolah hal itu adalah hal paling nikmat yang pernah dia rasakan.
Dengan pelan Pete melipat dan menyimpan pisaunya di tempat tersembunyi. Yaitu kerah bajunya, tempat favoritnya.
Pete berjongkok memandangi mayat-mayat di depannya dengan wajah tidak puas.
"Kenapa mereka cepat sekali mati. Padahal akh masih ingin mengeluarkan organ dalam mereka. Pasti lebih menyenangkan saat mengambilnya dalam keadaan jantung yang masih berdetak. Sayangnya sampai sekarang aku bahkan belum berhasil melihat ekspresi orang hidup yang menyaksikan organ dalamnya saat di keluarkan dengan paksa. Kenapa semuanya tiba-tiba mati saat aku mulai membedah tubuh mereka ... benar-benar payah." Pete bergumam penuh keluhan karena tidak mendapatkan keinginannya.
Pete mengambil pisau yang lebih besar dan melakukan tugasnya dengan cepat. Yaitu membedah setiap mayat dan mengambil organ dalamnya lalu menaruh masing-masing organ dalam di tempat yang telah di sediakan.
Walau Pete 100% yakin tidak akan ada organ dalam dari mayat di depannya yang bisa di pakai namun dia tetap mengerjakannya.
Pete tahu, semua tubuh itu terlihat penuh racun. Kelihatan sekali mereka perokok aktif dan peminum berat dan sudah pasti penuh dengan narkoba. Sangat tidak dianjurkan untuk dijadikan donor.
Begitu selesai. Pete tidak repot membersihkan darah yang menodai bajunya. Dia hanya memilih keluar dari sel Karen tahu akan ada orang khusus yang mengambil dan membereskan sisa kekacauan yang dia lakukan.
Pete baru satu langkah keluar dari pintu saat melihat kakaknya Paul berdiri dengan bersedekap dan memandangnya tajam.
Pete memasang tampang datar melihat keberadaan kakaknya di tempat eksekusi.
Pete tahu, Paul tidak suka dia masih menerima pekerjaan sebagai eksekutor karena dia memang sudah berjanji akan berubah dan mengurangi kekjamannya.
Sayangnya dia dan membunuh sudah terlanjur mendarah daging di tubuhnya dari usia 10 tahun. Kehidupan menjadi Psycopath sudah mempengaruhi dirinya terlalu dalam dan tentu saja kebiasaan itu akan sulit di hilangkan.
Pete rasa butuh waktu sangat lama jika ingin menyembuhkan jiwa psycopath miliknya. Atau bahkan tidak akan pernah sembuh sama sekali.
Karena Pete merasa hidup ketika mendengar jeritan dari korbannya dan lumeran darah yang masuk indra penciumannya terasa sangat menyegarkan dan ekspresi meregang nyawa terlihat menyenangkan di matanya.
Makanan lezat tidak menggugah selera. Namun, irisan daging dengan darah berceceran benar-benar bisa di nikmati oleh Pete.
Pete adalah seorang psycopath dan dia tahu bahwa Pete Abellard Cohza tidak akan pernah bisa sembuh.
***
TBC