Emma pagi ini bangun lebih awal dan mendapati ternyata Bastian bahkan sudah bangun lebih awal darinya. Ia bahkan sudah menyiapkan sarapan dan nampak rapih dengan kemeja dan celana jeans birunya.
“Kamu udah bangun?”
“Iya. Saya ada kerjaan pagi ini. Wortel- wortel itu mau saya pindahkan ke gudang di bawah saja.”
“Di bawah?”
“Iya. Di dekat kebun wortel ada gudang. Hanya saja kemarin tidak muat dan saya nggak suka menumpuk mereka berlebihan. Tapi tadi subuh sudah ada beberapa yang diantarkan jadi sudah agak kosong.” jelas Tian sambil menuangkan teh ke cangkir.
“Tian, saya nggak minum teh.”
Tian mengangkat salah satu alisnya dengan heran karena seingatnya di rumah pak Rahman, Emma meminum teh yang disuguhkan.
“Waktu itu saya minum teh di rumah pak Rahman karena terpaksa saja. Saya nggak mau mereka tersinggung. Maaf ya, Tian… Tapi saya benar- benar nggak suka teh.”
“Oke… Nggak apa- apa.” ucap Tian lalu meminum sendiri teh yang ia tuangkan tadi.
“Kamu mau ke kota? Apa saya boleh ikut?”
“Bukan kota juga sih… Tapi kami disini menyebutnya Central. Setelah Central, sekitaran satu setengah sampai dua jam naik mobil baru sampai ke kota. Yang kemarin kamu di jemput.” jelas Tian.
“Jauh juga ya…” ucap Emma yang menyadari sikap Bastian tidak seperti kemarin. Ia tidak melihat ke arah Emma sama sekali sejak tadi dan berusaha terus mengalihkan pandangannya.
Mereka berdua terdiam dan Emma mulai menikmati sarapannya dengan kikuk karena sikap Bastian yang diam.
“Saya tunggu di mobil kalau kamu sudah selesai. Santai saja. Makan saja pelan- pelan. Saya juga nggak terburu- buru.” ujar Bastian setelah menghabiskan teh miliknya dan meraih kunci mobil miliknya dengan cepat.
Emma yang melihat sikap Bastian sedikit merasa bersalah karena sejak kemarin ia sepertinya telah menyulitkan hidup pria tersebut. Dimulai dari permintaan pernikahan yang mendadak, ia yang merasa tidak nyaman di acara tahlilan, wanita muda yang mengakimi pernikahan mereka, dan ketidaksukaannya akan banyak hal. Sungguh, Emma menyadari jika ia belum melakukan apapun untuk pria tersebut.
Emma kemudian mempercepat gerakannya agar mereka bisa segera berangkat dan tidak membuat Tian lebih lama lagi menungguinya. Tadinya ia ingin berubah pikiran dan membatalkan niatnya untuk ikut, namun ia harus segera bisa menghubungi saudaranya dan menanyakan kabar Elgar.
“Sudah siapa berangkat?” tanya Tian ketika Emma keluar dari rumah.
“Saya nggak mengganggu aktivitas kamu kan?” tanya Emma dengan sungkan.
“Nggak apa- apa. Saya kebetulan ada urusan di Central. Kamu juga bisa sekalian beli kebutuhan kamu.”
“Oh ya… Tunggu sebentar.” sambung Tian sambil berlari masuk ke dalam rumah.
Dan hanya dalam hitungan tak lebih dari dua menit, pria berkaki panjang tersebut sudah kembali berdiri di depan Emma dan mengulurkan kartu ATM dan satu ikat uang tunai.
“Buat saya?” tanya Emma dengan wajah dan tatapan heran sekaligus cukup terkejut.
“Iya, tentu saja. Ng… Kamu pakai saja untuk membeli kebutuhan kamu dan untuk rumah. Saya nggak tahu apa yang kurang di rumah dan kamu butuhnya apa saja. Jadi… Eh… Lebih baik kamu beli sendiri saja.” jawab Tian dengan gugup namun tetap menghindari kontak mata dengan istrinya tersebut.
“Tian… Aduh… Kamu nggak perlu seperti ini. Saya… Saya nggak bermaksud begitu. Saya jujur beneran mau ikut hanya karena mau jalan- jalan. Saya nggak mau beli sesuatu atau merasa kekurangan di rumah ini. Saya—- Kalau gitu, saya nggak usah ikut aja. Saya—“
“Kamu istri saya kan?” potong Tian yang akhirnya menghalangi langkah Emma ketika baru membalikkan tubuhnya.
“I— Iya… Tapi—"
“Kalau begitu kamu adalah tanggung jawab saya. Sudah seharusnya saya ngasih kamu semua yang kamu butuhkan. Apapun itu, Emma… Semuanya sudah kewajiban saya.” ucap Tian dengan sendu. Tatapan matanya teduh dan menenangkan.
Jantung Emma tiba- tiba berdetak hebat mendengarkan betapa lembut dan tulusnya setiap kata yang Tian ucapkan saat ini. Kata- kata yang tentu sangat disukai oleh semua wanita di muka bumi ini. Namun sayangnya, bukan pria ini yang ia inginkan.
“Kita pergi sekarang ya…” bujuk Tian lagi dengan nada penuh pengharapan dan membuat hati Emma langsung hangat.
“Oke… Tapi ini banyak sekali, Tian. Saya nggak mau beli apapun.”
“Ng… Sebenarnya saya mau kamu punya ponsel sendiri. Tapi—-“
“Papa yang larang?” sambung Emma ketika melihat suaminya tertunduk lesu.
“Bukan… Hanya saja disini juga nggak ada sinyal. Bukan nggak ada sih, agak susah. Sinyalnya timbul tenggelam… Untuk telepon rumah saja masih sedang dalam perbaikan.”
“Okelah… Terserah kamu saja.” ujar Emma yang paham maksud Tian yang tidak ingin memperburuk hubungannya dengan ayahnya sendiri.
***
“Sudah sampai.” ucap Tian akhirnya sambil memarkirkan kendaraannya.
Sejak tadi mereka hanya saling terdiam dan tidak ada pembicaraan sama sekali. Emma sibuk menikmati pemandangan dan hawa sejuknya, sementara Tian sendiri diam- diam mengamati setiap gerak gerik istri cantiknya.
“Ramai juga ya…”
“Lumayan… Disini memang ramai saat hari pasar.”
“Hari pasar?”
“Iya… Hari pasar itu hari dimana semua pedagang dari desa sebelah bahkan ada yang dari kota, ikut berjualan disini. Ada hari tertentu. Tiap hari juga pasar ini ada sih, cuma kalau hari pasar itu pedang lebih banyak jadi pengunjung juga lebih banyak. Ayo turun…” jelas Tian yang sudah nampak lebih santai dari pagi tadi.
“Kamu mau—“
“Pagi, pak Tian… Apa kabar?” sapa salah seorang wanita muda berparas ayu berpakaian khas pegawai kantoran yang memotong kalimat Emma dan melewatinya begitu saja.
“Pagi, bu Melda…” sapa Tian dengan tersenyum datar.
“Tuh kan panggil ibu lagi. Melda aja kali, pak.” ucapnya dengan senyum berlebihan dan membuat Tian salah tingkah sambil melirik Emma.
“Oh ya, bu. Kenalkan ini… Istri saya.”
“Hah?! Istri?! Pak Bastian bisa aja bercandanya.”
“Iya, bu. Memang istri saya. Tapi maaf, kami sedang buru- buru. Kami permisi dulu ya, bu.” ucap Tian bahkan tanpa sempat menunggu kalimat wanita centil tersebut.
Emma hanya bisa menahan senyumnya melihat bagaimana wanita tadi merengut dan nampak kesal saat ia dan Tian langsung meninggalkannya begitu saja.
“Pagi, mas Tian…” sapa seorang pria dengan ramah pada Tian ketika mereka mulai membaur di keramaian.
“Kamu terkenal juga ya…” ucap Emma dengan tertawa kecil melihat bagaimana Tian terus mengangguk dan melambaikan tangan membalas sapaan ramah orang- orang yang mengenalnya.
“Kamu bisa aja…” jawab Tian dengan malu. Dan itu terlihat lucu bagi Emma.
“Saya mau jalan- jalan ya. Mau lihat- lihat aja dulu. Nggak apa- apa kan?” tanya Emma.
“Iya… Nanti saya tunggu di mobil aja kalau kamu sudah selesai. Saya juga mau ketemu teman saya disana.” jawab Tian sambil menunjuk ke suatu arah.
“Kalau kamu butuh sesuatu, atau apa apa- apa, kamu bisa cari saya disana. Tanya saja sama orang Toko punya Aidan.”
“Oke…” ucap Emma sambil berjalan.
“Emma!” panggil Tian yang kemudian berlari kecil ke arahnya.
“Kenapa?” tanya Emma dengan heran.
“Ng… Kamu… Nggak kedinginan kan?”
“Nggak sih…” jawab Emma kikuk.
“Kamu yakin nggak mau saya temani?”
“Kamu kan kesini karena ada urusan juga, Tian.”
“Ya sudah… Kamu hati- hati ya…” ucap Tian akhirnya.
“Oke… Bye…” ujar Emma sambil melambaikan tangannya dengan kikuk.
***
Emma masuk ke sebuah bilik telepon yang menyewakan jasa telepon untuk digunakan oleh masyarakat desa yang memang masih kesulitan dalam teknologi satu ini. Dengan cepat ia menekan nomor telepon yang sudah ia hapal di luar kepala tersebut dan masih dijawab oleh operator.
“Ya Tuhan, Elgar… Kamu dimana sih?!” ucap Emma dengan kesal dan membuang nafasnya dengan kasar. Ia kemudian kembali menekan nomor telepon lainnya dan berharap segera ada jawaban.
“Halo…” sapa seorang wanita.
“Kak… Ini aku, Emma…”
“Emma? Ya ampun… Kamu dimana, Em? Kamu baik- baik aja kan?”
“Baik, kak… Dan… Aku udah menikah.”
“Gimana orangnya? Aku udah lihat foto kalian. Papa yang kirim ke aku. He looks cute…”
“Evita! Ini bukan waktunya buat bercanda!” ucap Emma sedikit kesal.
“Iya iya… Tapi beneran loh dia cakep. Apa dia baik sama kamu?”
“Baik… Baik banget. Sampai- sampai… Aku selalu merasa bersalah kita sudah memanfaatkan dia.” ujar Emma dengan sendu sambil membayangkan tatapan mata sendu sang suami.
“Iya juga sih… Tapi kalaupun dia nggak mau, sebenarnya dia punya pilihan buat nolak kok, Em…”
“Ya tetap aja kita memanfaatkan dia kak… Ngomong- ngomong, ada kabar soal Elgar nggak kak?”
“Nggak ada, Em… Dia seperti hilang di telan bumi.”
“Tapi aku yakin dia akan kembali. Aku yakin dia punya alasan untuk ini semua. Dia bukan seorang bajingann kak.”
“Entahlah, Em… Tapi laki- laki yang baik pasti akan bertanggung jawab. Di jaman yang penuh teknologi ini, dia pasti akan berusaha bisa berkomunikasi sama kamu. Sama seperti kamu saat ini.”