Adaptasi

1338 คำ
“Kenapa?” tanya Tian pada Emma yang nampak memberikan isyarat kepadanya agar mendekat. “Masih lama?” ucap Emma sedikit berbisik dan mendekatkan wajahnya pada Tian yang kini duduk di sampingnya. Posisi Emma saat ini membuat ia bisa mencium aroma wangi dari pria yang menikahinya tersebut. Perpaduan antara wangi kayu, musk, vanilla, buah- buahan segar dan sedikit aroma mawar membuat Emma sedikit teralihkan pada rahang tegas sang suami yang sedikit pendiam tersebut. “Kamu mau pulang?” ujar Tian balik bertanya. “Saya… Hanya sedikit nggak nyaman sama pakaian ini. Ini juga salah kamu karena nggak bilang sebelumnya.” “Maaf ya… Tunggu sebentar disini.” Emma hanya mengangguk sambil terus memperhatikan Tian yang kini sedang bercakap dengan seorang pria lalu menoleh untuk memberi isyarat agar ia mendatanginya. “Maaf ya pak… Ng… Istri saya sedang kurang fit. Mungkin masih kecapean.” “Ow iya iya, pak Tian. Terima kasih sudah datang. Maaf kalau ibu sampai kecapean datang kesini.” Emma nampak salah tingkah ketika Tian menoleh padanya dan tersenyum seolah ada kebanggaan di dalam dirinya saat menyebut kata istri yang ia tujukan untuknya. “Saya minta maaf, pak… Saya betul- betul nggak tahu kalau acaranya seperti ini. Tian sama sekali nggak ngasih tahu ke saya ini acara apa, jadi—“ “Tidak apa, bu… Pak Tian kadang memang suka bercanda.” “Ekhemmm… Kalau begitu kami permisi dulu. Biar nggak kemalaman.” sela Tian yang kemudian bersalaman dan bersiap menuruni anakan tangga rumah panggung tersebut. “Mas Tian…” panggil seorang gadis muda berusia sekitar 16 tahunan pada Tian yang membuat Tian langsung meliriknya dengan tatapan tidak nyaman. “Herlin…” sapa Tian dengan mencoba terlihat biasa saja meski Emma bisa membaca mimik wajah tersebut. “Mas Tian, mau pulang?” tanya Herlin yang menatap tajam pada Tian dan seolah menganggap Emma tidak ada bersama mereka. “Iya. Kamu sama siapa kesini?” tanya Tian mencoba ramah. “Tadi diantarin sama abah. Mas Tian telepon rumahnya masih rusak?” “Sepertinya masih, Lin… Mas juga nggak tahu. Oh ya, kenalin ini Emma. Istri mas Tian.” “Oh… Jadi mas Tian beneran udah menikah?” tanya Herlin dengan ketus dan bahkan sama sekali tidak menoleh pada Emma yang sedikit heran akan sikap gadis kecil tersebut. “Lin… Maaf sudah malam. Mas harus pulang. Nanti aja ngobrolnya ya…” ucap Tian akhirnya lalu mengajak Emma pulang dan menuntunnya agar menuruni anak tangga dengan hati- hati. Namun Herlin malah mengikuti sepasang suami istri tersebut dan kembali ingin menanyakan beberapa hal pada Tian seolah hal itu sangatlah mendesak. “Mas… Tunggu “Mas, aku pengen ngomong…” ucap Herlin ketika Tian baru saja menutup pintu mobil untuk Emma. “Ada apa lagi sih, Lin? Nggak enak dilihat orang tahu. Nanti istri mas bisa salah paham.” Tian lalu berjalan ke arah pintu kursi kemudinya dan meminta ijin pada Emma dengan sopan. “Saya ngobrol sebentar sama Herlin dulu ya…” Dan hal itu hanya ditanggapi senyuman oleh Emma yang kini mempunyai penilaian sendiri akan suaminya tersebut. “Kenapa mas menikah sama orang yang mas nggak kenal?! Kenapa harus tiba- tiba? Mas sengaja kan mau membalas kak Tiara?!” “Lin… Kamu ini ngomong apa sih? Mana ada aku mau balas dendam sama Tiara. Lagian buat apa juga… Dan Emma itu bukan orang baru dalam hidup mas, Lin. Kami sudah kenal sejak kecil. Kami—“ “Mas mencintai dia?! Mas suka sama dia?! Sejak kapan?!” desak Herlin dengan kesal. “Herlin, tolong jaga batasan kamu sama mas. Aku menganggap kamu seperti adik sendiri karena kamu adik sepupu sahabat mas. Dan-“ “Sahabat???!!! Mas bilang kak Tiara itu hanya sahabat???” “Herlin! Kamu nggak berhak ya ikut campur dalam urusan pribadi mas. Hubungan saya sama Tiara itu urusan kami berdua dan kamu nggak perlu tahu. Kamu juga nggak berhak menilai mas dan istri mas mau seperti apa. Mas mencintai istri mas sejak pertama kali mas ketemu dia. Dan iya, mas sangat suka sama istri mas dan kamu nggak berhak nggak menghormati dia seperti tadi! Selama ini mas diam saja dengan sikap kekanak- kanakan kamu karena mas sayang sama kamu. Tapi saat kamu melewati batas, mas rasa sudah waktunya kamu belajar dewasa dan lebih sopan.” ucap Tian dengan tegas lalu langsung membuka pintu mobil miliknya dan meninggalkan Herlin sendirian. *** “Tadi itu… Adik sepupu teman saya. Maaf kalau dia sedikit tidak sopan sama kamu. Dia masih kecil.” ucap Tian akhirnya setelah sepanjang perjalanan mereka hanya saling terdiam. “Oh… Nggak apa- apa. Adik sepupu pacar kamu?” tanya Emma dengan tersenyum. Sungguh, kalaupun iya, ia hanya tidak ingin kekasih Bastian salah paham akan hubungan mereka berdua. “Oh bukan… Dia adik sahabat saya. Dia hanya nggak menyangka saya benar sudah menikah. Kamu… Istirahat saja. Oh ya, apa kamu butuh sesuatu? Kamu mau makan apa?” ucap Tian berusaha mengganti topik pembicaraan. “Jujur ya… Saya sedikit lapar. Apa ada tempat yang bisa kita datangi untuk cari makanan?” “Ada sih… Hanya saja agak sedikit jauh. Saya takut kamu ketiduran di jalan.” “Iya juga ya…” “Saya buatkan makanan mau nggak? Saya takut kamu nggak suka atau mungkin nggak biasa.” “Memangnya kamu bisa masak apa saja?” “Banyak…” jawab Tian dengan tersenyum simpul. “Kalau gitu, tolong buatin saya masakan apa saja. Soalnya kue di rumah tadi sama sekali nggak bikin saya kenyang.” canda Emma. “Ya sudah, kamu ganti pakaian saja biar nyaman. Nanti saya tunggu di ruang makan.” “Nggak usah. Saya begini aja. Anggap aja lagi makan di restoran.” “Tentu aja…” ucap Tian yang lagi- lagi tersenyum. *** “Gimana? Enak?” tanya Tian ketika Emma mulai menyendokkan bihun goreng buatannya ke dalam mulut. “Enak! Ini enak sekali…” puja Emma dengan mata berbinar sambil mengunyah makanannya. “Syukurlah kalau kamu suka… Habisin aja.” “Tian, saya boleh tanya sesuatu?” “Boleh. Ada apa?” “Memangnya… Ng… Kamu nggak bosan tinggal sendirian?” “Nggak, mungkin karena—“ Hoek hoek “Kamu kenapa?” tanya Tian khawatir ketika Emma nampak mual dan menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Ia pun refleks berdiri dari posisi duduknya dan mendekati Emma dengan penuh perhatian. Emma meraih gelas berisi air putih yang Tian ulurkan dan meneguknya dengan cepat lalu menyeka sudut bibirnya dengan tissue. “Tian, ini wortel ya?” tanya Emma sambil mengaduk makanannya dan menunjuk pada potongan kotak kecil berwarna oranye tersebut. “Iya, kenapa? Kamu nggak apa- apa kan?” tanya Tian dengan khawatir dan tanpa sadar mengusap kepala Emma dengan lembut lalu duduk berlutut tepat disamping kursi sang istri. “Tian, saya nggak suka wortel. Sejak dulu saya nggak pernah suka.” jawab Emma dengan sungkan. Tatapan mata Tian yang nampak khawatir dan teduh membuatnya salah tingkah. “Kamu… Nggak suka wortel?” tanya Tian lagi sambil menggaruk tengkuknya. “Iya. Saya nggak suka baunya, rasanya, dan… Semuanya.” “Oke… Maaf saya nggak tahu.” ucap Tian sambil tersenyum dan nampak lega. “Kenapa?” “Apanya yang kenapa?” tanya Tian heran akan pertanyaan Emma barusan. “Kenapa kamu senyum sih? Kamu tuh saya perhatikan sering senyum sendiri yang saya nggak tahu artinya apa. Bahagiakah, senangkah, mengejekkah atau apalah… Itu nggak sopan tahu.” jawab Emma terlihat sedikit tidak senang. “Maaf… Saya nggak bermaksud begitu. Hanya saja saya nggak mau menyakiti perasaan kamu.” “Maksudnya?” tanya Emma bingung. “Mari ikut saya…” ajak Tian sambil berjalan ke arah pintu belakang yang terletak pada salah satu dinding dapur. Emma pun mengikutinya dengan penasaran dan baru menyadari jika bagian belakang rumah mereka memiliki dapur yang cukup luas pada salah satu sisinya. Dan alangkah terkejutnya Emma ketika Tian membuka salah satu pintu ruangan yang terpisah dari rumah mereka, dan mendapati segudang penuh karung berisikan wortel yang baru saja di panen. “Oh Tuhan…” ucap Emma sambil menutupi hidungnya dengan kedua telapak tangan dan itu malah membuat mereka berdua saling tertawa.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม