Sinar matahari menyilaukan mata Emma dari sela- sela tirai putih dan abu- abu ruangan tersebut. Dan bukannya segera membuka mata, Emma malah semakin menarik selimutnya hingga menutupi kepala sambil meringkuk di dalamnya mencoba menghangatkan diri. Kamar ini terasa sangat sejuk meskipun tidak memiliki penyejuk udara.
Suara pintu kamar sebelah yang sepertinya terbuka atau mungkin saja tertutup membuat ia dengan cepat harus menemukan kesadarannya dan memeriksa pakaian tidur yang ia kenakan saat ini.
“Syukurlah…” ucap Emma dengan lega karena pakaiannya masih lengkap dan mencoba mencari jam tangan miliknya di samping tempat tidur.
“What?! Jam 10? Aarrgghh” ucapnya dengan geram dan langsung bangkit dari tempat tidur dan merasakan betapa dinginnya lantai kayu kamar tersebut.
“Selamat pagi.” sapa Tian yang baru saja keluar dari kamar tidurnya dengan membawa kantongan belanja.
“Maaf saya ketiduran. Saya tidurnya agak telat karena tidak terbiasa dengan suasana baru.” ucap Emma sambil meraih kantongan belanja yang diulurkan Bastian.
“Tidak apa. Saya sudah beli sarapan buat kamu. Kamu mau makan sekarang?”
“Kenapa kamu nggak bangunin saya? Kan saya bisa siapin sarapan buat kamu.” ujar Emma dengan mengikuti Tian menuruni anak tangga.
“Saya sudah mengetuk pintu tapi sepertinya tidur kamu terlalu nyenyak. Saya nggak mau mengganggu.”
“Tian, memang disini biasanya sedingin ini ya? Ini sudah jam 10an lewat tapi masih kerasa dingin banget.” ujar Emma dengan sungkan.
“Iya, kebetulan tadi subuh memang hujan agak lebat.”
“Hujan? Disini sering hujan?” tanya Emma lagi.
“Iya… Hujan dan listrik padam. Itu masalah umum di pedesaan. Tapi nggak tiap hari juga.”
“Ow… Kalau gitu, saya mau mandi dulu saja.”
“Kamu kunci saja pintunya. Saya punya kunci rumah sendiri. Saya mau kembali ke kebun dan nanti sore ada acara di rumah salah satu buruh.”
“Apa… Saya boleh ikut?” tanya Emma dengan malu. Ia hanya tidak ingin sendirian di rumah ini saat senja. Ia merasa belum menyatu dengan rumah yang entah akan ia tinggali berapa lama tersebut.
“Tentu boleh. Tadinya saya mau mengajak kamu. Tapi takut kamu tidak suka.”
“Saya mau kok…”
“Oke kalau begitu. Nanti sore saya pulang dulu untuk jemput kamu.”
***
Tian POV
Aku menunggu Emma selesai sambil duduk di teras rumah kami menikmati pemandangan yang membuatku selalu tenang. Sore hari di rumah ini memang selalu membuatku nyaman.
Aku mendengar suara kenop pintu yang dibuka dan membuatku bangkit dari dudukku karena aku yakin itu pasti Emma yang telah siap untuk berangkat.
“Kenapa?” tanyanya padaku karena aku seperti mematung melihatnya saat ini. Terlihat cantik, anggun, dan pakaian yang sepertinya terlalu cantik untuk pesta di desa ini.
“Ada apa? Jelek ya?” tanyanya lagi dengan wajah heran.
“Oh tidak… Tidak sama sekali. Kamu… Cantik. Bahkan sangat cantik.” jawabku dengan jujur. Tentu aku sedikit malu mengatakannya, tapi dia istriku bukan? Tentu aku harus memujinya dan aku memang berniat untuk bisa mendapatkan hatinya. Itu harus kulakukan agar impianku untuk membangun sebuah keluarga dengannya bisa terwujud.
“Saya nggak punya baju yang lain. Ini nggak apa- apa kan?” tanya Emma tentang dress berbahan silk berwarna emerald selutut lengan panjang namun dengan bagian punggung yang sedikit terbuka. Tentu jika orang melihatnya hanya dari sisi depan, gaun tersebut akan terlihat sopan dan sederhana. Namun ketika melihatnya dari sisi belakang, punggung putih mulus Emma pasti akan terlihat diatas pita besar yang mengikat pinggang bagian belakangnya tersebut.
“Iya… Nggak apa- apa. Saya ambilkan cardigan kamu dulu. Takutnya nanti kamu kedinginan.” ucapku dengan kikuk karena ketahuan sempat manatap punggungnya saat ia berbalik untuk menutup pintu tadi.
“Oh iya… Tolong ya… Ada di atas tempat tidur.” jawabnya dengan sopan.
Hanya butuh dua menit untukku dari teras lalu ke kamarnya hingga kembali ke teras lagi dengan membawa cardigan hitamnya di tanganku.
“Kamu ganti pakaian aja dulu. Biar saya tungguin disini.” ucapnya setelah menerima cardigan yang aku ulurkan.
“Saya sudah ganti pakaian. Kita bisa langsung pergi saja.”
“Oh… Tian, maaf. Saya nggak bermaksud untuk menyinggung perasaan kamu. Tapi saya benar- benar nggak tahu kalau kamu sudah ganti pakaian.”
“Kenapa? Baju saya jelek? Nggak, saya hanya bercanda… Nggak apa- apa. Saya nggak tersinggung. Hanya saja, saya tidak biasa pergi sama perempuan ke satu acara jadi saya nggak tahu bagaimana berpakaian yang pantas dan disini juga jarang sekali yang mengadakan pesta seperti ini.
“Masa sih?”
“Iya… Kita jalan sekarang ya. Nanti kemalaman.”
“Oke.” jawabnya dengan singkat. Jujur, ada hal yang ingin kusampaikan padanya namun aku takut itu akan melukai perasaannya.
***
“Tian… Ini rumahnya?” tanya Emma pada Tian ketika mereka sampai di sebuah rumah yang berada di tengah- tengah sawah dan satu- satunya rumah yang ada disana.
“Iya. Cara kita kesana bagaimana?”
“Ya jalan kaki.”
“Ada ular nggak?”
Tian mengulum senyumnya dan keluar dari mobil dengan segera.
“Tentu saja nggak ada. Sawahnya sudah di panen. Dan masih belum musim tanam. Mau turun sekarang?” tanya Tian sambil membuka pintu mobil truk pikap single cabin tuanya.
“Tian, kenapa rumahnya sepi?” tanya Emma heran karena tidak menemukan tanda- tanda adanya keramaian di rumah tersebut. Hanya ada beberapa motor dan juga sepeda khas pedesaan yang terparkir di dekat mereka.
“Masuk saja dulu yuk.” ajak Tian lalu mulai menuntun langkah mereka untuk melewati jalanan kecil menuju rumah tersebut.
“Tian… Ini rumah teman kamu?” tanya Zara ketika ia kikuk saat Tian memegangi lengannya saat hampir terpeleset tadi. Ia mana tahu jika jalanan yang akan mereka lewati adalah tanah merah yang menyulitkan wedges miliknya untuk melangkah.
“Iya… Kaki kamu nggak apa- apa?” tanya Tian penuh perhatian.
“Nggak sih. Saya nggak tahu jalanannya akan seperti ini. Padahal dari rumah tadi saya malah ngerasa dress sama wedges ini nggak match.”
“Ayo, masuk… Tapi…”
“Kenapa?”
“Kamu mau pakai cardigan kamu? Sudah mulai gelap. Kamu bisa kedinginan.” jawab Tian yang masih tidak ingin menyinggung perasaan istrinya.
“Oh… Oke.” ucap Emma sambil meraih cardigan yang sejak tadi dipegang oleh Tian dan langsung mengenakannya.
“Mmm… Nanti kamu duduk sama perempuan lainnya ya. Saya akan duduk di barisan laki- laki.”
“Kenapa? Memangnya ini acara apa?” tanya Emma sambil melanjutkan langkah kaki mereka berdua dengan hati- hati. Namun kali ini Tian yang berjalan di depan dan Emma tepat di belakangnya dan mengikuti bekas jejak kakinya.
“Pak Tian… Mari masuk, pak…” sambut salah seorang pria yang nampak lebih tua dari Tian ketika mereka baru sampai di penghujung anak tangga rumah panggung tersebut.
“Maaf, kami terlambat.” ucap Tian dengan menyambut uluran tangan pria tersebut.
“Ah nggak apa- apa, pak. Baru juga mau ceramah. Hati- hati, pak… Bu… Tangganya agak licin.” ucapnya ketika Tian hendak membuka sendal gunung yang ia kenakan dan menatap Emma yang nampak kesulitan dengan kaitan sepatunya.
“Saya bantu ya… Maaf…” ucap Tian ketika menunduk dan membantu Emma yang hanya bisa tersenyum malu pada pemilik acara yang sedang mengamati mereka.
“Kalau kamu takut jatuh, kamu boleh pegang baju saya.” bisik Tian ketika mereka hendak menaiki anak tangga. Dan tentu saja hal itu dituruti oleh Emma yang tidak pernah menaiki anak tangga kayu yang licin dan terbuka pada bagian belakangnya.
“Tian, kamu belum jawab ini acara apa. Kenapa tadi bapaknya bilang ceramah? Sosialisasi desa ya? Nggak apa- apa kalau dandanan saya seperti—-“ tanya Emma yang pada ujung kalimatnya mulai melemah karena melihat para undangan yang lainnya sebagian besar malah mengenakan penutup kepala.
“Bukan sosialisasi. Tapi tahlilan. Ayo masuk.” jawab Tian dengan santai dan tidak melihat betapa terkejutnya Emma saat ini.