Pengantin Baru

1238 คำ
“Cincin kawin?” tanya pak imam yang baru saja menikahkan Emma dan Tian di sore hari ini. Tidak ada perayaan, tidak ada tamu, dan tidak ada jamuan lainnya. “Maaf… Ini.” jawab Tian sambil mengeluarkan kotak perhiasan kuno dari sakunya dan dengan kikuk memperlihatkan isinya. “Apa nggak masalah kalau pakai cincin mendiang ibu saya?” tanya Tian pada Emma dan imam yang menikahkan mereka. Emma hanya mengangguk dengan senyum sekilas dan begitu pula sang imam dan juga Ghea. “Ya sudah, dipakaikan saja di jari istrinya. Dan istrinya boleh cium tangan.” jawab sang imam yang langsung dikerjakan oleh pasangan suami istri tersebut. Emma yang juga salah tingkah tak kalah terlihat kikuknya ketika harus mencium tangan Tian yang nampak bergetar. Namun hal ini malah terlihat lucu dan menggemaskan bagi orang yang sedang mengamati tingkah mereka. Pasangan suami istri yang terlihat saling malu- malu karena ini adalah pertemuan pertama mereka dan langsung menjadi pasangan suami istri. Dan tentu saja ada doa dan harapan yang terselip dalam tatapan haru bahagia mereka semua. “Sekarang, kalian berdua sudah sah menjadi pasangan suami istri sesuai amanah yang diberikan oleh pak Andre kepada saya. Sah dalam hukum, agama, serta masyarakat. Semoga kalian dirahmati dan dikelilingi kebahagiaan, diberikan keturunan yang baik, dan dijauhkan dari segala macam keburukan. Kedepannya, akan ada banyak hal yang menguji kehidupan kalian, karena sejatinya kehidupan baru benar- benar berjalan ketika kita memasuki hubungan pernikahan. Akan ada cobaan, ujian, rintangan dan banyak suka duka di dalamnya. Namun percayalah, duka itu tidak akan pernah sebanding dengan suka cita dan kebahagiaan yang kalian rasakan. Selama kalian saling berpegangan tangan, saling menjaga, dan saling menyayangi, semua akan bisa terlewati. Kuncinya? Kejujuran, kasih sayang, kedewasaan, dan kesabaran. Dan akan ada masanya, pasangan kita akan menjadi orang yang paling menyebalkan bagi kita. Dan itulah tugas utama setan dan sekutunya, memisahkan suami dan istri. Karena itulah, tetaplah berpegangan tangan dan kalahkan ego dan setan yang terus menggoda kalian.” Emma hanya bisa mengangguk pelan dan menunduk. Sungguh, sejak meninggalkan rumah tadi pagi, niatnya hanya satu. Meredakan amarah ayahnya dan menikah tanpa ada niat ingin mempertahankannya. Namun kini, entah mengapa hatinya bergetar mendengar nasehat barusan. Hatinya dan kedua bola matanya terasa menghangat. Nasehat tersebut akan sangat indah baginya andai saja orang yang menikahinya saat ini adalah orang yang ia cintai. *** “Itu rumah kamu?” tanya Emma akhirnya saat sejak tadi ia hanya terdiam. Ia menikmati perjalanan dan pemandangan sepanjang jalanan dari rumah pak Rahman hingga rumah milik Tian. Melewati perkebunan dan sawah yang luas, melewati jalanan berbukit dengan suasana hawa pedesaan yang sejuk. “Dulunya rumah orang tua saya. Tapi sekarang jadi rumah kita.” jawab Tian dengan tersenyum. “Tian, ada yang mau saya bicarakan.” “Nanti saja. Kita punya banyak waktu untuk mengobrol. Oh ya, besok pagi saya mau ke kota untuk beli perlengkapan kamu dan kebutuhan rumah. Kamu tulis saja apa yang kamu butuhkan. Kalau sekarang, semua toko sepertinya sudah tutup.” “Tutup? Tapi ini kan baru jam setengah 6 sore.” “Perjalanan ke kota sekitaran 1 jam lebih. Sampai disana pasti semua toko sudah tutup.” jelas Tian. “Oh… Kalau besok, apa saya boleh ikut?” “Tentu saja kalau kamu mau. Saya biasanya berangkat jam 6 pagi.” “Hah? Jam 6 pagi? Apa itu nggak terlalu gelap?” Tian nampak tersenyum simpul mendengar pertanyaan istrinya barusan. Mungkin ia lupa jika mereka tinggal di dataran tinggi. “Iya… Itu masih gelap. Saya biasanya ke kebun dan ke sawah memang sepagi itu.” “Oh… Saya juga biasanya bangun pagi.” “Tentu saja. Saya percaya.” ucap Tian dengan lagi- lagi tersenyum simpul. Tian POV Cantik. Hanya satu kata itu yang bisa ku simpulkan tentang istriku. Aku tidak tahu apa yang menimpanya atau bagaimana hal seperti itu bisa terjadi padanya, namun yang aku tahu saat ini, dan mungkin sejak beberapa hari yang lalu, bahwa aku peduli padanya. Tentu hal pertama yang bisa kulihat dari foto yang ayahnya kirimkan pada kak Ghea adalah kecantikan parasnya. Dan kini saat ia resmi menjadi istriku, kecantikannya menjadi berlipat ganda di mataku. Aku tidak memperdulikan masa lalunya. Tidak pula pada kesalahan yang ia lakukan saat ini. Yang aku utamakan saat ini adalah membahagiakannya dan membentuk keluarga kami sendiri. Entahlah akan bagaimana nantinya hubungan kami, tapi aku berjanji akan selalu memberikan yang terbaik untuknya. Aku membukakan pintu rumah kami untuknya sambil membawa koper berukuran 22 inchi yang ia bawa bersamanya. Cukup berat bagiku karena tanganku masih cedera akibat terkena benda tajam pagi tadi. Bahagia? Tentu saja. Selama ini aku hanya mengenal Tiara sebagai gadis yang paling cantik di desa ini. Kami dekat, bahkan sangat dekat. Hanya saja, aku melihatnya bukan sebagai seorang gadis pada umumnya. Aku melihatnya hanya sebatas sebagai kawan sejak kecil dan lebih menganggapnya saudara. Yeah, tentu saja bagi sebagian orang banyak yang menjodoh- jodohkan kami. Kami memang sempat mencoba untuk menjadi sepasang kekasih. Namun, perasaanku padanya sungguh hanya sebatas kawan dekat. Aku bahkan merasa aneh ketika kami hanya berduaan yang notabene dulu sering kami lakukan dan menjadi hal biasa saja. Dan setelah Tiara pergi ke kota, dia tidak pernah lagi mengabariku. *** “Ini ruang tamu. Di dalam sana ada dapur dan kamar mandi. Kamar tidur ada di atas.” jelas Tian sambil menutup pintu kayu yang terdengar berderit tersebut. “Mari… Saya antar ke atas.” Emma menaiki anak tangga kayu tersebut dengan perlahan seolah takut akan terjatuh dan tentu itu diperhatikan oleh Tian yang mengikuti langkahnya dari belakang. “Kamarnya ada di sebelah kanan.” sambung Tian lagi dan kemudian mendahuli Emma ketika mereka berada di ujung tangga untuk membukakan pintu untuknya. “Ini kamar kamu. Maaf, saya hanya bisa menyiapkan ini. Saya tidak tahu kamu suka warna apa dan motif seperti apa jadi saya pilih warna putih polos saja. Tidak apa kan?” “Tentu aja nggak apa- apa.” jawab Emma sambil melepaskan cardigannya. “Ini dulunya kamar orang tua saya. Tapi tidak terpakai lagi. Kamar ini punya pemandangan terbaik. Dari jendela sebelah sini kamu bisa melihat matahari terbit. Lalu… Di sebelah sini ada kamar mandi. Ada pemanas airnya juga. Hanya di kamar ini yang punya keran air panas. Jadi, kadang saya mandi disini. Untuk peralatan mandi juga sudah saya siapkan tapi itu bukan yang terbaik karena biasanya ada pemetik yang menumpang untuk menginap dan hanya dipakai sekali saja. Besok saya belikan yang baru. Pagi tadi ada sedikit kecelakaan di kebun jadi saya tidak sempat.” jelas Tian lagi sambil mengeluarkan handuk dari lemari untuk dipakai oleh Emma. “Oh… Lalu… Lalu kamu… Kamar kamu?” tanya Emma dengan sungkan. Namun ini adalah salah satu hal yang mengganggunya sejak Ghea mengatakan agar mereka segera pulang saja untuk beristirahat. “Oh… Itu… Anu… Ng… Tentu aja… Kamar saya di depan.” jawab Tian tak kalah salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya dan berjalan menuju kamar depan untuk memamerkannya pada Emma. “Ini kamar saya. Biasanya kalau ada pemetik atau petani yang kemalaman atau tidak sempat pulang di musim panen, mereka akan menginap disini. Di ujung sana ada kamar juga tapi lebih saya gunakan sebagai gudang.” “Oh… Oke… Kalau gitu, saya ke kamar dulu.” “Iya. Kamu istirahat saja. Tadi kak Ghea masukkan makan malam di mobil. Saya ambil dan panaskan dulu. Kamu makan dulu lalu tidur. Kamu pasti capek.” “Iya. Terima kasih… Bastian.” “Tian saja…” ucap Bastian sambil tersenyum simpul. Hatinya menghangat mendengarkan Emma memanggil namanya.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม