Dinginnya angin laut yang menerpa kulit tak mampu menyulutkan niat Natasha untuk jalan sendirian menyusuri pantai. Dia mondar-mandir bak orang yang lupa jalan pulang. Bodoh, pikirnya. Dia mau coba kabur ke mana? Dia sedang berada di tengah-tengah pulau. Selain resort yang sedang ditempatinya itu, yang ada di sekelilingnya cuma air laut, pasir dan pepohonan kelapa.
Dia lalu terduduk dengan lemas di pinggir pantai. Ditemani air laut yang sesekali datang untuk menyapu telapak kakinya. Ditengah-tengah suara deburan ombak yang menabrak tebing karang.
Ditatapnya langit malam yang berhiaskan cahaya rembulan itu. Natasha merasa capek sekali. Tingkatan rasa lelah fisik maupun mentalnya hampir setara. Penyakit anorgasmia-nya ini sungguh membuatnya frustrasi. Layaknya kapal karam yang terus digerus oleh arus, kesulitannya untuk mencapai puncak kenikmatan itu juga membuat hubungannya dengan Kamil perlahan-lahan hancur. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai bom itu meledak.
Selang beberapa menit kemudian, dengan langkah tergesa-gesa Kamil jalan menghampirinya. Betapa leganya dirinya saat melihat Natasha sedang duduk sendirian di pinggir pantai. Dia ikut duduk di samping Natasha lalu memeluk tubuhnya dengan erat. “Kenapa kamu pergi meninggalkanku?” tanyanya seraya merenggangkan pelukannya.
“Aku cuma lagi ingin sendiri,” jawab Natasha dengan senyumnya yang samar.
Kamil menghela nafas panjang. “Maafkan aku. Karena nafsuku, aku malah jadi memaksamu melakukan hubungan intim,” katanya. “Jujur, tadi aku sempat minum ‘pil biru’ sebelum mengajakmu berhubungan badan denganku. Aku mau memuaskanmu, tahan lama di atas ranjang demi kamu. Karena aku kira obat dari Dokter Carna berhasil …,” akunya. Dia tersenyum miring. “… tapi ternyata dugaanku salah,” imbuhnya.
Hati Natasha jadi makin tersayat-sayat. Dulu, jauh sebelum dia mengaku pada Kamil kalau dia mengidap disfungsi 0rgasme, acap kali dia memalsukan puncak kenikmatannya—sesuatu yang kadang masih dilakukannya sampai sekarang. Dia mengacuhkan kehidupan seksnya dan lebih memfokuskan dirinya pada kehidupan rumahtangganya, serta seluruh kucuran kasih sayang yang diberikan oleh Kamil.
Tapi pada ujungnya, Natasha memilih untuk menyerah. s*x memanglah bukan segalanya, sama seperti uang. Namun bukankah kepuasan dalam kegiatan ranjang menjadi salah satu alat yang menambah harmonis kehidupan pernikahannya? Apalah arti sentuhan, remasan serta cumbuan Kamil, jika pada akhirnya Natasha tak bisa memperoleh kenikmatan dari itu semua?
“Mau sampai kapan kita bertahan?” tanya Natasha dengan manik berkaca-kaca. “Tidakkah kamu merasa lelah dengan semua ini?”
Kamil menggeleng dengan tampangnya yang serius. “Aku belum lelah dan belum mau menyerah,” sahutnya. Dia lalu menangkupkan wajah Natasha dengan satu tangannya. “Kita bisa mencoba ‘gaya’ dan metode lain. Aku rela menghabiskan seluruh tenagaku malam ini hanya demi bisa membuatmu mencapai kenikmatanmu, sayang,” tuturnya.
Disingkirkannya tangan Kamil dari wajahnya dengan dongkol. “s*x tidak bisa memperbaiki semuanya, Kamil! Apa kamu tak menyadarinya?” bentak Natasha.
Kamil tertegun di tempatnya. Mengajak orang yang memiliki kendala dalam mencapai puncak kenikmatannya untuk berciinta sama saja seperti menyuruh ikan untuk bernafas di daratan. “Oke, aku tidak akan membahas soal s*x lagi,” ujarnya. “Aku hanya akan berciinta denganmu jika kamu sedang ingin berciinta denganku.” Dia lalu mengecup bibir Natasha dan lanjut bicara, “Aku tak akan memaksamu.”
Senyum itu akhirnya merekah di sudut bibir Natasha. Dia menyenderkan kepalanya ke bahu Kamil dan tak berkata apa-apa lagi setelah itu. Tubuhnya tiba-tiba bergetar saat semriwingnya angin laut kembali menghantam tubuhnya. Dengan sigap Kamil merangkulnya dan mengusap-usap lengannya yang kurus. “Dingin?” tanyanya.
Natasha menatap Kamil lalu mengangguk. “Ayo balik,” ajaknya.
**Beberapa hari kemudian, sepulang dari bulan madu kedua**
Kamil Helzinski membuktikan predikatnya sebagai seorang laki-laki jantan. Dia menepati janjinya pada Natasha, yang dia lontarkan di pinggir pantai waktu itu. Sejak insiden yang terjadi akibat ‘pil biru’ itu, bahkan dimulai sejak hari-hari terakhir waktu bulan madu keduanya hingga sekarang, Kamil tak lagi menyentuh Natasha.
Hanya wajah Natasha-lah yang masih merasakan hangat dan lembutnya ciuman bibirnya. Dia juga tidak meminta Natasha untuk memuaskannya atau memberikan ‘servis’-nya. Begitu pula dengan Natasha, yang tidak menyuruh Kamil untuk membuatnya terbang ke awang-awang menggunakan ‘mainan dewasa’-nya.
Pun demikian, Kamil juga tidak pernah memergoki Natasha memuaskan dirinya sendiri menggunakan dild0 atau ‘alat getar’-nya. Malah dirinya yang pernah ketahuan sedang 0nani di dalam kamar mandi. Hampir setiap malam Kamil menelan salivanya saat dia melihat betapa sexy-nya tubuh Natasha dari balik balutan gaun tidurnya. Tungkai-tungkainya yang mulus. Gunung kembarnya yang ranum dan besar. Aroma tubuhnya. Tatapan matanya. Namun semua keindahan itu hanya bisa dia tatap, tanpa bisa dia cicipi.
Dan hal ini, sama seperti Natasha dan penyakit anorgasmia yang diidapnya, sungguhlah membuat Kamil merasa frustrasi. Yang namanya s*x seakan-akan telah lenyap dari kehidupan pernikahannya, yang makin lama terasa makin hambar.
Apalah guna seorang istri yang tiap malam tidur di sampingnya, di atas ranjang yang sama dengan dirinya, jika dia tak bisa menyentuh atau berciinta dengannya?
Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Seluruh penerangan di kamar tidurnya sudah padam. Tapi mata Natasha tak kunjung mau terpejam. Dia berbaring di atas ranjang sembari menatapi langit-langit kamar tidurnya. Kamil berbaring membelakanginya. Meskipun tak bisa melihat wajahnya, tapi Natasha tahu kalau Kamil juga belum terlelap.
“Sayang?” panggil Natasha.
“Hm?” sahut Kamil.
Natasha terdiam sejenak. “Kapan terakhir kali kita melakukan hubungan intim?” tanyanya.
“Entahlah. Aku lupa,” jawab Kamil, masih membelakangi Natasha.
“Karena sudah lama sekali kita tidak melakukannya, bukan?” tanya Natasha dengan senyum kecutnya.
“Ya, karena aku tak mau memaksamu,” sahut Kamil. Nada bicaranya acuh tak acuh. “Tidurlah. Sudah hampir larut malam,” perintahnya.
Natasha beranjak dari atas ranjang lalu menyalakan lampu kamar tidurnya, membuat mata Kamil seketika memicing karena silau. Dia lalu duduk di tepi ranjang. “Ada yang mau aku bicarakan denganmu. Sekarang,” tuturnya serius.
Kamil tak bergeming. Dia ikut duduk di dekat Natasha, terus menunggu dengan penasaran apa gerangan yang hendak diucapkannya.
“Aku sudah memikirkan semuanya secara matang-matang. Aku rasa …,” ucap Natasha dengan suaranya yang agak bergetar. Dia menahan tangisnya. “… akan lebih baik jika kita berpisah saja,” timpalnya.
Dipalingkannya wajah Natasha dengan pelan, membuat maniknya bersatu dengan manik milik Natasha yang merah dan berair. “Tapi kenapa, Natasha?” tanya Kamil lirih.
“Aku sudah tak sanggup ‘melayanimu’, Kamil,” jawab Natasha. “Kita sudah tak bisa bersama-sama lagi. Kamu pantas mendapat istri pengganti yang bisa menyenangkan dan juga memuaskanmu,” imbuhnya iba.
Kamil pun tak kuasa berdusta. Bohong kalau dia bilang dia tidak rindu dengan yang namanya s*x. Dia juga merasa kalau pernikahannya ini datar. Begitu monoton. Dia dan Natasha tak ada bedanya dengan sepasang teman asrama yang tinggal dan menyewa kamar untuk ditempati bersama.
“Apa kamu yakin dengan semua keputusanmu?” tanya Kamil. Dia lalu menggunakan ibu jarinya untuk menyeka air mata yang membanjiri pipi Natasha.
“Ya,” jawab Natasha seraya mengangguk. “Seratus persen yakin.”
“Baiklah,” ucap Kamil. “Aku menghormati apapun keputusanmu.”
Natasha tersenyum tipis. “Maaf karena sudah membuatmu menunggu terlalu lama,” gumamnya.
Kamil menggeleng. “Jangan ucapkan kata maaf. Ini semua bukan salahmu,” tukasnya.
Dia beranjak untuk mematikan kembali penerangan kamar tidurnya, lalu berbaring saling berhadapan dengan Natasha. Bibirnya menyatu dengan bibir Natasha dalam ciuman yang tidak menuntut. Tidak pula dipenuhi oleh gairah. Hanya ciuman yang sarat akan salam perpisahan.
Natasha lalu meletakkan kepalanya di atas dadaa Kamil yang bidang. “Bolehkah aku tidur sambil memelukmu malam ini?” pintanya sembari merasakan detak denyut jantung Kamil. Sesuatu yang tak akan dia rasakan lagi setelah ini.
“Tentu, sayang.”
*****
Hubungan Adrian dengan putri pemilik Galactic Industrial itu berubah makin lengket. Bak surat dan perangko, kini keduanya jadi semakin sulit untuk dipisahkan. Tiada hari tanpa bersua. Bahkan Demelza sampai rela menolak perintah ayahnya untuk pulang ke Austria, tanah kelahirannya, hanya demi bisa menghabiskan waktunya dengan konglomerat tampan itu.
Jika Adrian sedang tidak sibuk, maka dirinyalah yang akan menjemput Demelza di apartemennya. Namun jika Adrian sedang sibuk sekali, maka Demelza-lah yang akan menghampirinya ke gedung Enigma Softwares. Malam itu, keduanya menghabiskan waktunya untuk makan malam bersama di salah satu restoran China. Dengan alunan musik ala Negeri Tirai Bambu sebagai latarnya, keduanya asik saling bertukar pikiran sekaligus berbagi kasih.
Meskipun begitu, sampai kini Adrian belum menyatakan cintanya pada Demelza. Tapi dia tahu betul kalau Demelza telah terperangkap masuk ke dalam jurang cintanya.
“Aku suka rasa masakan restoran ini,” komentar Demelza usai menyantap wonton soup-nya. “Menunya lengkap. Harganya juga tidak begitu mahal.”
“Yeah. Dulu aku sering mengajak kolega kerjaku makan malam di sini,” kata Adrian. “Aku pertama kali mengetahui soal restoran ini dari mantan kekasihku.”
Diletakkannya sumpitnya ke atas mangkuk supnya. Demelza terdiam sejenak dengan raut wajahnya yang agak murung. “Apa kamu … masih berhubungan dengan mantan kekasihmu?” tanyanya penasaran.
Adrian menggeleng sembari tersenyum. “Tidak,” jawabnya. Diraihnya selembar tissue untuk membersihkan sudut bibir Demelza. “Buat apa berhubungan dengan masa lalu, hm? Kita hidup di masa sekarang, bukannya di masa lalu,” sambungnya. Dia mengalihkan topik pembicaraan. Diambilnya sebotol huangjiu pesanannya dan dituangkannya untuk Demelza. “Kamu harus coba ini,” tuturnya.
Diendus-endusnya minuman yang warnanya coklat kekuningan pekat nyaris hitam itu. “Minuman apa ini?” tanya Demelza.
“Sejenis arak kuning yang terbuat dari air dan biji-bijian yang diragikan,” jawab Adrian. “Kadar alkoholnya tidak terlalu keras. Biasa digunakan juga sebagai campuran bahan masakan.”
Diminumnya huangjiu itu sampai habis. Diletakkannya gelas kacanya ke atas meja. Demelza lalu terdiam sejenak sembari melayangkan pandangannya pada piring bekas bebek panggang yang telah dia dan Adrian selesai santap.
“Ada masalah?” tanya Adrian sembari mengamati paras cantik Demelza dengan serius.
“Adrian, aku …,” jawab Demelza separo bergumam. “Bolehkah aku berkunjung ke apartemenmu hari ini? Aku … belum pernah mampir ke sana, bukan?” pintanya dengan pipi yang agak merona merah karena malu sekaligus efek huangjiu yang barusan diminumnya.
Adrian tersenyum puas. Dia memang tak pernah gagal menggaet hati wanita. Seakan-akan ada magnet cinta yang bersarang di dadanya yang bidang itu. “Kamu yakin ayah dan bodyguard-mu tak akan mencarimu?” tanyanya sambil mengusap-usap punggung tangan kanan Demelza.
Demelza menggeleng, “Aku bisa bilang pada mereka kalau aku menginap di rumah temanku malam ini.”
Senyum Adrian melebar. ‘Ah, menginap,’ batinnya. “Oke, kalau itu maumu,” ucapnya santai. Dia lalu lanjut memanggil seorang pelayan. “Tolong minta bill-nya,” katanya.
Pelayan itu menghampiri meja makan Adrian dan Demelza lagi kira-kira lima menit kemudian. Adrian baru saja mengeluarkan dompet kulitnya saat Demelza mencegahnya untuk membayar makan malamnya. “Jangan, biar aku saja yang bayar,” tuturnya.
Adrian menggeleng dengan senyumnya yang manis. “Tidak usah. Biar aku saja,” tolaknya sembari mengeluarkan black card-nya dari dalam dompetnya yang tebal.
Karena jalanan agak macet, keduanya baru tiba di apartemen Adrian hampir satu jam kemudian. Demelza memandang kagum apartemen Adrian begitu dirinya menginjakkan kakinya di sana. Bukan cuma terorganisir dengan rapih, sama seperti kepribadian Adrian, tapi interior dan desainnya juga begitu apik. Apartemen Adrian juga jauh lebih luas jika dibandingkan dengan milik Demelza, yang disewakan oleh ayahnya selagi dirinya masih enggan meninggalkan Indonesia.
“Kamu haus? Aku punya banyak minuman di kulkas,” tanya Adrian yang sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa. “Pilih saja mana yang kamu mau.”
Tapi Demelza tak menghiraukan tawaran Adrian. Dia lalu duduk di samping Adrian. Jaraknya berada begitu dekat, membuat paha mulusnya bersentuhan dengan paha Adrian. “Kita sudah lumayan lama saling kenal,” kata Demelza. “Menurutmu … hubungan kita sekarang ini lebih tepat disebut apa, Adrian?” tanyanya penuh harap.
Sambil tersenyum Adrian mengusap-usap lengan Demelza, yang tak tertutup dress tanpa lengannya. “Terserah kamu mau menganggapnya apa,” jawabnya.
Demelza menelan ludahnya dengan kasar. “Aku mau kita jadi pasangan kekasih,” gumamnya gugup.
Adrian menyeringai. Jari-jari tangannya berpindah menuju paha mulus Demelza. Dia lalu mengusap-usapnya, membuat tubuh Demelza jadi sedikit merinding karena geli yang beradu dengan sedikit gairah. “Kamu yakin, hm?” tanyanya, sekadar memastikan.
Demelza yang mencoba mengikuti instingnya itu lantas mengalungkan kedua tangannya di leher Adrian. Dia bisa dengan jelas menghirup parfum bvlgari yang disemprotkan Adrian di lehernya, yang seketika membangkitkan getaran aneh dari dalam tubuhnya. “Ya, Adrian,” jawabnya dengan tatapan sayu. “Aku suka denganmu.”
“Aku juga menyukaimu, Demelza,” sahut Adrian. Dia lalu menghujani leher Demelza yang jenjang itu dengan kecupan-kecupannya, membuat Demelza sontak menggigit bibir bawahnya guna menahan desahannya. “Kamu wanita yang sangat menarik,” bisiknya di dekat daun telinga Demelza yang dihiasi anting mutiara itu. “Namun aku tak yakin kamu bisa menerimaku apa adanya.”
♥♥TO BE CONTINUED♥♥