Demelza Galimuna tertegun kaget begitu dia mendengar apa yang barusan dikatakan oleh lawan bicaranya. “Apa yang membuatmu berpikir kalau aku tidak bisa menerimamu apa adanya?” tanyanya sembari mengernyitkan dahi. “Bukankah saling menerima kekurangan masing-masing adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan pasangan kekasih?”
Adrian tersenyum miring. Dia jadi semakin tertarik dengan perempuan yang tubuhnya langsing itu. “Kamu tahu, Demelza? Ada beberapa orang di dunia ini yang bisa terangsang ataupun b*******h jika mereka dihadapkan pada objek-objek tertentu …,” ucapnya sambil menuruni lengan Demelza dengan jari-jari tangan kanannya, lalu berhenti tepat di atas paha Demelza. “… seperti kaki dan pakaian dalam, misalkan.”
“Ya, aku tahu,” gumam Demelza.
“Dan aku termasuk dari salah satu orang itu,” ucap Adrian yang senyumnya berubah jadi sebuah seringai nakal.
“Kamu ... punya fetish?” tanya Demelza dengan mata yang agak terbuka lebar. Dia memang bukan pemain baru dalam urusan menjalin asmara. Mantan kekasihnya dulu, yang nyaris saja dinikahkan dengannya itu, adalah laki-laki ‘baik’. Dia tak pernah menyentuh Demelza lebih dari sekadar berpegangan tangan, pelukan atau berciuman. Apalagi mengaku kalau dirinya punya fetish.
“Ya, aku punya ketertarikan seksual yang berbeda,” aku Adrian. Dilepasnya high heels yang sedang dikenakan Demelza, lalu diletakkannya satu kakinya ke atas pahanya. “Dan bukan cuma satu, tapi aku punya lima fetish yang berbeda. Jadi …,” sambung Adrian sembari menggerakkan jari-jari tangannya di atas tulang kering Demelza. Dia lalu mengecup betis Demelza. Kagum akan betapa halusnya kaki yang mulus itu. “… apa kamu yakin bisa menerima diriku apa adanya, sayang?” tanyanya separo merayu.
Demelza lagi-lagi dibuat kaget oleh Adrian. Siapa sangka di balik penampilannya yang berwibawa, gagah dan cerdas itu, bersemayam sisi yang ‘gelap’ nan liar. Dan pada ujungnya, Demelza bersikeras untuk memantabkan pilihannya. Dia sudah kadung jatuh hati pada Adrian. Pesonanya yang sexy dan misterius itu membuatnya menginginkan lagi dan lagi.
“Aku tak peduli dengan ketertarikan seksualmu,” ucap Demelza sembari menangkupkan paras tampan Adrian dengan tangan kanannya. “Aku bersedia menerimamu apa adanya.”
Enggan menunggu lebih lama, Demelza lantas menyatukan bibirnya dengan bibir Adrian. Lelaki yang anatomi wajahnya nyaris sempurna bak patung Dewa Yunani itu membalas ciumannya dengan ganas. Adrian menggigit bibir bawah Demelza dan sesekali mengulumnya, sebelum akhirnya lanjut memasukkan indera pengecapnya untuk mengeksplor goa salivanya.
Dia lalu meremas sepasang gundukan ranum milik Demelza, membuat erangan Demelza seketika lolos di tengah-tengah percumbuannya yang panas, “Mphhh …”
Dengan sigap Adrian membuka ritsleting dress yang sedang dikenakan Demelza. Meninggalkan tubuh Demelza tanpa balutan busana apapun selain bra serta panties putih yang dihiasi renda berwarna hitam. Adrian lalu berganti menanggalkan jam tangan rolex, kemeja biru muda, ikat pinggang serta celana panjang hitam yang sedang dia kenakan. Menyisakan boxer-nya yang masih setia menutupi daerah kejantanannya.
Bibirnya menyatu kembali dengan bibir Demelza selagi dia sibuk membaringkan tubuh Demelza ke atas sofa. Bibir Adrian lalu lanjut berkelana menuju paha serta betis Demelza. Diremasnya tungkai Demelza yang halus dan bersih bak boneka porselen itu, yang membuat miliknya di bawah sana seketika tambah menegang. “Aku suka kakimu,” gumamnya. Menyiratkan pada Demelza kalau foot fetish adalah salah satu ketertarikan seksual yang dimilikinya.
“Terima kasih,” sahut Demelza dengan senyumnya yang nampak sedikit malu-malu.
Adrian lalu naik ke atas tubuh Demelza. Batang beruratnya yang berdiri tegak itu bersentuhan dengan daerah kewanitaann Demelza, membuat Demelza tiba-tiba dikerubungi oleh perasaan gugup. Dia belum pernah melakukan kontak fisik sedekat ini dengan yang namanya kaum Adam. “Adrian …,” panggilnya. “Tolong lakukan dengan pelan,” pintanya.
“Aku pasti akan melakukannya dengan pelan, sayang,” sahut Adrian.
Namun ketakutan itu tak kunjung mau pergi dari batin Demelza. Mau tak mau dia mengaku pada Adrian. “Adrian, sebenarnya … aku masih perawan,” gumamnya.
“Apa?” tanya Adrian sembari mengerutkan dahinya.
“Aku belum pernah berciinta dengan lelaki manapun,” aku Demelza.
Dengan perlahan Adrian beranjak dari atas tubuh Demelza. Dia lalu duduk termenung di sofa sembari meletakkan kedua sikunya di atas paha. Entah mengapa dia jadi teringat kembali akan wajah Tuan Neumann, ayah Demelza. Sebagai pebisnis yang jumlah kekayaannya melimpah, Tuan Neumann sangatlah baik dan rendah hati. Dia begitu sederhana. Boleh dibilang salah satu rekan bisnis Adrian yang paling asik diajak kerjasama.
Mampukah Adrian ‘merusak’ putri kesayangan Tuan Neumann dengan cara mengambil apa yang paling berharga dari dirinya? Sepertinya tidak. Adrian tak sampai hati melakukannya.
Dia lalu beranjak memakai kembali celana panjang hitamnya. “Kamu boleh pulang sekarang kalau kamu mau,” kata Adrian. “Biar aku yang mengantarmu.”
“Apa aku membuatmu jijik?” tanya Demelza kecewa. Dia malah jadi salah paham.
Adrian langsung menoleh. “Apa maksudmu?” tanyanya heran. “Kamu sama sekali tidak membuatku jijik.”
“Lantas kenapa kamu menyudahi semuanya?”
“Aku bukan pria yang pantas untuk mendapatkan keperawananmu,” jawab Adrian serius.
Demelza tersenyum kecut. “Jadi kita harus menikah dulu baru kamu mau berciinta denganku?” tanyanya.
“Bukan begitu maksudku, sayang,” tampik Adrian. “Hanya saja … aku merasa bersalah denganmu dan juga ayahmu. Ayahmu begitu baik denganku, dan aku tak tega menyakiti perasaannya dengan meniduri putri kesayangannya,” sambungnya lembut.
Demelza tersenyum. Dia dibuat meleleh dengan sikap Adrian yang romantis. “Lupakan soal ayahku,” ujarnya. Dia lalu mengecup pipi dan bibir Adrian. “Aku mau kamu yang jadi orang pertama mengajakku berciinta, Adrian,” timpalnya.
“Apa kamu benar-benar yakin, hm?” tanya Adrian. “Karena tak akan ada jalan untuk kembali setelah kamu berkata ‘ya’,” sambungnya di depan wajah Demelza, membuat bibirnya nyaris bersentuhan dengan bibir Demelza.
Demelza hanya mengangguk.
Digendongnya tubuh Demelza ala bridal style dan dibawanya menuju kamar tidurnya. Dibaringkannya tubuh Demelza ke atas ranjang, dan diambilnya sebuah cambuk kulit dari dalam lemari pakaiannya. Dimainkannya cambuk kulit tersebut ke atas kulit paha dan betis Demelza, membuatnya merasa geli tapi juga keenakan. Sungguh sebuah sensasi asing yang baru kali ini mampu dia cicipi.
“Kamu sudah pernah memakai benda ini sebelumnya?” tanya Adrian.
“Belum,” jawab Demelza dengan wajah yang makin merona padam.
“Kamu tahu apa fungsi benda ini?” tanya Adrian lagi sambil memainkan cambuk kulitnya ke atas gundukan kembar milik Demelza.
Demelza tak lagi mampu menahan gejolak gairahnya. “Ahh … aku tidak tahu, Adrian …,” jawabnya di tengah-tengah desahannya.
Adrian menyeringai. “Benda ini berguna untuk memberikanmu rasa nikmat, sayang,” jelasnya. “Seperti ini.” Dia lalu meminta Demelza untuk melepas panties-nya dan menungging di hadapannya. Dipukulnya bok0ng Demelza dengan cambuk kulit tersebut, membuat kulitnya seketika memerah.
Dibanding rasa sakit, Demelza lebih banyak merasakan kenikmatan dari cambukan alat tersebut. “Ahhh!” desahnya seraya meremas spreinya kuat-kuat.
Dipeganginya dagu tirus Demelza dan didongakkannya kepalanya sedikit agar bertemu dengan maniknya kembali. “Panggil aku ‘daddy’,” perintah Adrian.
“Yes, daddy …,” sahut Demelza dengan maniknya yang sudah terlahap oleh api birahi, sama seperti manik milik Adrian.
“Kalau kamu nakal, daddy akan ‘menghukum’-mu dengan cambuk ini,” kata Adrian sambil menunjukkan cambuk kulitnya pada Demelza. “Mengerti, sayang?”
Sama seperti sebelumnya, Demelza hanya mengangguk dengan nurut.
“Good girl.”
Dan ‘permainan peran’ itu berakhir sampai di situ. Adrian lalu lanjut menanggalkan seluruh kain yang tersisa di tubuhnya dan juga tubuh Demelza. Pertama-tama dia memberikan Demelza ‘servis lidah’-nya yang aduhai sebagai ‘pemanasan’—sekaligus agar membuat Demelza ‘siap’ untuknya. Setelah berhasil membuat Demelza meraih puncak kenikmatannya, barulah Adrian mengenakan ‘alat pengaman’-nya dan memasuki Demelza dengan sangat perlahan.
Itupun Demelza masih merasa kesakitan. Milik Adrian yang besar dan perkasa itu sungguhlah mengisinya dengan penuh. “Nghh … tunggu,” lirihnya sesudah milik Adrian terbenam seutuhnya di dalam liang kewanitaannya.
Dikecupnya dahi serta ujung hidung Demelza yang mancung. “Aku akan selalu menunggumu, sayang,” gumam Adrian.
Butuh waktu yang lumayan lama untuk membuat Demelza terbiasa akan keberadaan milik Adrian di dalam liang kewanitaannya. Dan di saat dirinya telah terbiasa, rasa perih yang barusan sempat menghinggapinya lambat laun berubah jadi serangan kenikmatan—yang terus menghujani dirinya setiap kali Adrian menghujamkan batang kejantanannya dengan tempo yang cepat dan liar.
Dan setelah menghabiskan waktunya untuk ‘berbagi desahan’ bersama, Demelza memutuskan untuk tidak beranjak dari apartemen Adrian. Dia ingin merasakan kembali nikmatnya tindihan serta remasan tangan yang membuatnya mabuk kepayang itu.
Keesokan paginya, begitu membuka sepasang maniknya, Demelza merasakan pegal dan perih di daerah intimnya. Efek percintaan panasnya tadi malam. Dia lalu beranjak dengan perlahan dari atas ranjang, dan menggunakan kemeja biru muda milik Adrian yang agak kebesaran itu untuk menutupi tubuh polosnya. Dihampirinya Adrian yang sedang asik memasak sarapan di dapur.
“Pagi, sayang,” sapa Adrian sembari membalik telur mata sapinya setelah dia melihat Demelza keluar dari kamar tidur.
“Pagi,” sahut Demelza dengan dahi yang sedikit mengkerut akibat menahan perih. Dia lalu memeluk tubuh berotot Adrian dari belakang. “Milikku di bawah sana jadi agak sakit, sayang,” timpalnya.
Diletakkannya spatulanya ke atas meja. Adrian membalik tubuhnya lalu meletakkan kedua tangannya di lengan Demelza. “Apa semalam aku terlalu kasar denganmu?” tanyanya cemas.
“Tidak,” jawab Demelza dengan senyumnya. “Sepertinya malah aku yang terlalu bersemangat,” sambungnya malu-malu.
Adrian hanya tersenyum. Dia lalu membuatkan Demelza secangkir teh chrysanthemum yang dicampur dengan madu. “Minumlah. Siapa tahu bisa meringankan rasa sakitmu,” ucapnya.
“Thanks.”
“Setelah sarapan kuantar kamu pulang, oke?” kata Adrian selesai memasak sarapannya. “Aku mau mandi dulu sebentar.”
“Tunggu. Kamu tidak mau sarapan denganku?” tanya Demelza. “Habis itu … baru kita mandi bersama,” ajaknya sembari memainkan jari telunjuknya di garis rahang Adrian yang terpahat tajam.
“Kamu yakin mau mandi bersama denganku?” tanya Adrian dengan senyumnya yang nakal.
Demelza hanya mengangguk seraya menggigit bibir bawahnya. Wanita bodoh mana juga yang akan menolak?
**Beberapa hari kemudian**
Ikatan tali pernikahan Kamil dan Natasha diputus hari ini. Keduanya telah resmi bercerai. Keluarga Kamil dan Natasha, meskipun pada awalnya sangat menyayangkan perceraian ini, tetapi pada akhirnya mau menerima dan menghormati keputusan yang diambil keduanya. Dan untungnya, Kamil dan Natasha belum dikaruniai keturunan. Jadi tak akan ada drama yang menyangkut soal hak asuh anak.
Selagi Natasha belum memutuskan akan tinggal dan melanjutkan hidupnya di mana, Kamil—mantan suaminya—tetap memperbolehkannya tinggal di rumahnya. Namun keduanya tak lagi tidur sekamar. Kebetulan sekali rumah itu juga punya dua kamar tidur. Satu kamar tidur yang tak terpakai itu tadinya hendak digunakan oleh Kamil untuk Natasha sebagai kamar tidur buah hatinya. Apa daya, takdir malah berkata lain. Mereka memang tak digariskan untuk jadi milik satu sama lain.
“Rencananya aku mau pindah ke luar kota dan memulai hidup yang baru di sana,” tutur Natasha. Dia dan Kamil sedang duduk bersama di ruang makan usai menyantap makan malamnya.
“Kamu sudah dapat kerjaan baru?” tanya Kamil khawatir. Walaupun kini Natasha sudah tak jadi istrinya, namun tetap, dia tak ingin kalau sampai ada sesuatu yang buruk menimpa dirinya.
“Belum,” jawab Natasha sambil menggeleng. “Tapi aku sudah sambil cari-cari lowongan kerja.”
Kamil menghela nafas panjang. “Hati-hati, Natasha,” katanya, masih dengan nada bicara penuh kekhawatiran. “Kehidupan di kota besar itu sulit dan tak seindah yang orang-orang katakan. Kamu harus berjuang lagi dari nol.”
“Aku tahu,” tutur Natasha dengan senyumnya. “Doakan saja semoga aku berhasil.”
“Tanpa kamu minta, aku akan selalu mendoakanmu,” ucap Kamil.
“Semoga hidupmu selalu bahagia, Kamil.”
“Kamu juga,” ujar Kamil. “Meski kita sudah tak lagi bersama, jangan pernah melupakan aku, Natasha. Apalagi menganggapku sebagai orang lain,” pintanya. “Karena walau bagaimanapun juga, kamu pernah mengisi relung di hatiku. Dan selamanya akan seperti itu.”
“Selamanya kita berteman,” sahut Natasha penuh haru.
Kamil tersenyum lebar. “Ya,” ucapnya. “Cinta sebagai sahabat sejati.”
Tanpa sadar setetes air mata jatuh dan membasahi pipi Natasha. Buru-buru dia mengambil selembar tissue untuk menyeka air matanya. Dia merasa sangat terenyuh.
“Jadi kapan kamu akan pindah?” lanjut Kamil. “Jangan salah sangka dulu, aku tidak sedang mencoba untuk mengusirmu kok,” guraunya, sekaligus untuk menghibur Natasha.
“Aku belum tahu,” jawab Natasha. “Mungkin sekitar dua sampai empat minggu lagi? Karena aku harus mencari tempat tinggal baru dan membuat surat pengunduran diri dulu.”
“Baiklah,” kata Kamil. “Panggil saja aku kapanpun kamu membutuhkan bantuanku, oke? Biar aku yang membantumu pindahan sekalian cari pekerjaan baru.”
“Terima kasih banyak, Kamil.”
“Sama-sama, Natasha.”
♥♥TO BE CONTINUED♥♥