**Keesokan harinya**
Siang itu, Natasha mengajak Suzy, teman baik yang juga kolega kerjanya, untuk makan bersama di kafetaria kantor. “Jadi kamu sudah mengajukan surat pengunduran diri pada Pak Hartono?” tanya Suzy sambil memegangi roti lapis ayamnya.
“Ya, baru tadi pagi aku ke ruangannya.”
“Terus dia bilang apa?” tanya Suzy penasaran.
“Pak Hartono menerima surat pengunduran diriku dengan baik. Dia bilang surat referensiku akan diberikan paling lambat minggu depan.”
“Ah, baiklah,” kata Suzy lemas. “Aku pasti akan sangat rindu bergosip denganmu, Nat.”
Natasha hanya tersenyum. Dia terdiam sejenak sebelum kembali bicara, “Omong-omong … Aku sudah bercerai dengan Kamil.”
Ucapan Natasha tadi nyaris saja membuat Suzy tersedak makanannya sendiri. “Serius? Kapan?” tanyanya tak percaya.
“Belum lama ini,” jawab Natasha. Dia menghela nafas panjang. “Kami sudah mendiskusikan semuanya. Memang ini pilihan yang terbaik untuk kami,” timpalnya.
Ditatapnya wajah cantik kawannya dengan raut iba. “Maaf jika aku lancang, Nat, tapi … apa perceraianmu ini ada hubungannya dengan anorgasmia-mu?” tanya Suzy sembari menerka-nerka.
“Benar,” jawab Natasha dengan senyumnya yang getir. “Padahal sebelumnya Kamil sempat mengajakku konsultasi ke Dokter Carna.”
“Dokter Carna?” tanya Suzy sembari mengerutkan dahi. “Maksudmu Dokter Carna Atalli? Seksolog senior yang sangat terkenal dan kontroversial itu?”
“Ya, dan hasilnya tetap sama,” jawab Natasha. Hatinya masih terasa pilu setiap kali dirinya membahas soal penyakit kesulitan mencapai klimaksnya itu. “Penyakitku ini sungguh membuatku muak, Suz, dan aku tak mampu membohongi Kamil maupun diriku lagi. Aku memang sudah tak bisa memuaskannya. Aku telah gagal menjalankan salah satu kewajibanku sebagai seorang istri,” lirihnya.
“Aku turut bersedih, Nat,” kata Suzy. Dia lalu beranjak mengambilkan sekotak tissue untuk Natasha. “Kuharap semoga anorgasmia-mu ini lekas sembuh,” sambungnya.
“Tapi sejujurnya, aku merasa lega dengan perceraian ini,” ujar Natasha sambil menyeka air matanya menggunakan selembar tissue. “Karena itu berarti aku sudah ‘membebaskan’ Kamil. Aku merasa kasihan dengannya, Suz. Kau tahu, kadang aku merasa seperti menyimpan burung dalam sangkar. Padahal sudah seharusnya burung itu terbang dengan bebas dan bukannya terus-terusan dikurung di dalam kandangnya yang sempit, bukan?”
“Benar,” ucap Suzy setuju. Dia tersenyum. “Lagipula kau masih muda dan cantik. Um … aku rasa juga banyak laki-laki di luar sana yang rela antre hanya untuk menyatakan cintanya padamu,” sambungnya separo bercanda.
Natasha menggeleng dengan senyum tipisnya. “Untuk sekarang ini aku belum kepikiran untuk mencari pasangan baru,” tukasnya. Dia masih trauma sekaligus takut. Takut, apabila hubungan percintaan keduanya berakhir kandas sama seperti hubungan percintaannya dengan mantan suaminya. “Aku mau fokus menata karier dan hidupku dulu,” imbuhnya.
“Kalau begitu, selamat menjalani hidup barumu, Nat,” ujar Suzy, mencoba menyemangati kawannya. “Kalau sedang kesulitan hubungi saja aku. Aku pasti akan membantumu selagi aku bisa,” timpalnya. “Oh, dan jangan lupa untuk selalu berkabar. Tidak afdol rasanya kalau tidak bergosip denganmu.”
“Thanks, Suz.”
**Sorenya**
Ketika menginjakkan kaki di rumahnya kembali, Natasha mendapati rumahnya masih kosong. Penerangannya belum dinyalakan. Pintunya masih terkunci. Itu artinya Kamil belum pulang dari Bean Latte Bistro miliknya.
Ponsel Natasha bergetar tepat setelah dirinya kelar membuka kunci pintu rumahnya. Ada satu chat masuk dari Kamil. “Hari ini aku pulang agak telat. Kafe sedang ramai sekali. Jangan lupa makan dan tidak usah menungguku,” pesan Kamil dalam chat-nya.
Sebuah senyum tipis menghiasi wajah Natasha. Padahal dia dan Kamil sudah resmi bercerai. Namun Kamil masih saja mengabarinya dan memperlakukannya seakan-akan surat cerai itu tak pernah mereka tandatangani.
“Tak apa, aku akan tetap menunggumu,” balas Natasha.
Diletakkannya handbag-nya ke atas meja. Diambilnya segelas jus stroberi dari dalam kulkas, lalu diminumnya sembari merebahkan tubuhnya di sofa. Natasha lalu mengambil macbook-nya dan mulai melakukan pencarian lowongan kerjanya kembali. Dia tak boleh membuang-buang waktu dan bersantai-santai.
Berbeda dengan kemarin, hari ini ada empat berita lowongan kerja yang masuk ke e-mail Natasha. Namun di antara keempat lowongan pekerjaan itu, ada satu yang paling menarik perhatiannya. Yaitu lowongan pekerjaan sebagai personal asisten manajer di Enigma Softwares, salah satu raksasa bisnis di bidang teknologi dan informasi.
Dibacanya job desc dan syarat kualifikasi bagi pelamar lowongan tersebut. Setelah dirasa kalau dirinya memenuhi syarat, dengan cepat Natasha mengirimkan CV serta surat lamarannya. Dalam hati, Natasha terus berharap agar dari sekian banyak lamaran yang telah dia kirim, minimal ada satu saja lamaran yang ‘nyangkut’ dan memanggilnya untuk melakukan wawancara kerja.
Ditutupnya layar macbook-nya dan diletakkannya ke atas meja yang tergeletak di hadapannya. Gantian mata Natasha yang terpejam setelah itu. Dia ngantuk sekali. Dan sepertinya tidur sebentar tidak apa-apa.
Mata Natasha terbuka kembali saat dia mendengar namanya dipanggil oleh Kamil, yang baru pulang dari kafe. Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Itu artinya sudah hampir dua jam Natasha terlelap di sofa ruang tamu. “Aku ketiduran,” tuturnya dengan manik yang masih agak sayu. “Kamu baru pulang?” tanyanya.
“Ya, belum ada lima menit,” jawab Kamil. “Kamu sudah makan?” tanyanya.
Natasha menggeleng. “Belum,” jawabnya. Dia lalu tertegun kaget. “Astaga, aku lupa buat makan malam!” ucapnya.
“Tidak apa-apa,” tutur Kamil dengan senyumnya. Diperlihatkannya dua goodie bag McDonalds yang ditentengnya pada Natasha. “Aku beli McDonalds,” sambungnya.
“Berapa totalnya?” tanya Natasha yang sedang menyantap burger keju, kentang goreng serta cola-nya bersama dengan Kamil di ruang makan. “Biar kuganti uangmu setelah ini.”
“Tidak usah,” tolak Kamil. “Anggap saja sebagai traktiran.”
“Terima kasih.”
Kamil hanya merespon dengan senyum serta anggukan kepala. Natasha lanjut bicara, “Aku sudah mengajukan surat pengunduran diriku pagi tadi.”
“Lalu?” tanya Kamil.
“Boss-ku menerimanya. Dia bilang akan mengurus surat referensiku secepatnya.”
Senyum di wajah tampan Kamil perlahan-lahan luntur. Ada kesedihan yang sedikit terpancar dari sana. “Jadi itu artinya … tak lama lagi kita akan benar-benar berpisah?” tanyanya.
“Aku cuma akan pindah ke luar kota, Kamil, bukannya ke luar negeri,” tampik Natasha. “Dan, walaupun kita berpisah, namun kita masih bisa bertukar kabar lewat ponsel dan e-mail, bukan?”
Kamil menghela nafas panjang. “Aku doakan semua yang terbaik untukmu,” gumamnya. Dia lalu menangkupkan wajah Natasha dengan kedua tangannya, berniat untuk mendaratkan bibirnya ke atas bibir Natasha. Namun Kamil langsung mengurungkan niatnya dan bergerak menjauh. “Maaf,” tuturnya. “Untuk sejenak aku lupa kalau kamu bukanlah istriku lagi,” imbuhnya tak enak hati.
Natasha tersenyum. Diletakkannya tangan kanannya di atas lengan kanan Kamil yang berotot. “Kamu masih boleh memelukku sebagai teman,” ucapnya lembut.
Kamil membalas senyum mantan istrinya. Dia lalu menghabiskan waktunya sejenak untuk memeluk Natasha, sebelum akhirnya lanjut menyantap makan malamnya kembali.
**Dua hari kemudian**
Setelah menyatukan tidak hanya cinta tetapi juga tubuhnya, Demelza Galimuna jadi dibuat semakin mabuk asmara dengan calon pewaris Enigma Softwares itu. Hari ini, tepatnya setengah jam sebelum waktu makan siang, Demelza tiba di ruang kerja pribadi Adrian. Didapatinya Adrian sedang ngobrol bersama dengan dua orang sales. Tak lupa dia membawakan Adrian bekal makan siang yang dia buat dengan sepenuh hati.
Begitu melihat kedatangan kekasih barunya itu, dengan sigap Adrian menyudahi obrolannya dengan sales-sales tersebut. “Hai, sayang,” sapanya mesra setelah koleganya pergi meninggalkan ruang kerjanya. Dimintanya Demelza untuk duduk di atas pangkuannya. “Come here,” ucapnya sembari menepuk-nepuk pahanya.
Diletakkannya dua boks kotak makannya ke atas meja kerja Adrian. Demelza lalu duduk berpangku sambil melingkari kedua tangannya di leher Adrian. “Aku membawakanmu makan siang,” katanya dengan senyum dan raut yang nampak sedang begitu kasmaran. “Aku membuatnya sendiri. Semoga kamu menyukainya,” imbuhnya.
Diciumnya pipi dan bibir Demelza. “Thanks, baby,” sahut Adrian. “Kamu sudah makan?” tanyanya sambil mengusap-usap dan sesekali meremas paha Demelza yang tak tertutup mini dress-nya.
Sentuhan tangan Adrian selalu berhasil memercikkan api gairah dari dalam tubuh Demelza. “Belum,” jawabnya. “Aku mau menemanimu makan siang,” sambungnya sambil separo menggoda kekasih hatinya.
Adrian lalu mengajak Demelza duduk samping-sampingan di sofa yang biasa dia gunakan untuk menyambut tamu pentingnya. Dibukanya dua boks kotak makan tersebut. Wanginya begitu menggugah selera. Boks kotak makan pertama berisi dadaa ayam panggang, brokoli rebus dan avocado toast. Boks kotak makan kedua berisi potongan buah zaitun, bluberi, pisang, tomat ceri dan telur rebus. Semuanya rendah lemak. Cocok untuk Adrian yang memang begitu menjaga fisik serta masa otot tubuhnya.
Demelza baru saja akan menyuapi Adrian potongan brokoli rebusnya saat dirinya sadar—sangkinan terlalu semangat menyiapkan sarapan ini, dia sampai lupa membawa peralatan makan. “Eh? Aku lupa bawa sendok dan garpu,” ucapnya.
Ditutupnya dua boks kotak makan tersebut. “Sebentar, sayang,” kata Adrian. Dikuncinya pintu ruangan kerja pribadinya. Adrian lalu mendekati Demelza kembali, dan dihapusnya jarak yang memisahkannya dengan Demelza. Ditangkupkannya wajah Demelza dengan tangan kanannya. Diletakkannya tangan kirinya di atas paha Demelza. “Sebelum aku mencicipi bekal makan siang buatanmu, aku mau ‘mencicipimu’ terlebih dulu,” bisiknya di dekat telinga Demelza.
“Apa maksudmu, Adrian?” tanya Demelza yang terlihat agak gugup. Belum pernah dia b******u di kantor. Apalagi ‘berbagi desahan’ di ruangan manajer.
Adrian menjawab pertanyaan Demelza dengan ciuman bibirnya yang liar dan mendominasi. Dengan mudahnya dia mendudukkan kembali tubuh Demelza ke atas pangkuannya. Sembari mengeksplor hangatnya goa saliva milik Demelza, diam-diam Adrian membuka ritsleting mini dress yang sedang dikenakan Demelza. Dia lalu menurunkan mini dress tersebut, yang dengan lancang langsung mempertontonkan dua gundukan kembar milik Demelza yang ranum dan kencang.
“Good girl,” gumam Adrian dengan seringai nakalnya saat dia mendapati kalau Demelza sedang mengenakan bra yang kaitannya ada di depan. Memudahkannya untuk membuka bra tersebut.
“Aku membeli bra ini untukmu, daddy,” ucap Demelza separo merayu. “Apa daddy menyukainya?”
“Tentu, sayang,” kata Adrian sembari meremas satu gundukan kembar milik Demelza. Adrian lalu menciumi gundukan kembar itu dan lanjut bicara, “Daddy sangat menyukainya.”
Dibukanya kaitan bra tersebut dan disambarnya puncak gunung kembar milik Demelza secara bergantian. Membuat Demelza mendesah sambil meremas rambut tebal milik Adrian, “Ahh … daddy …”
Setelah puas menyesapi gundukan kenyal yang puncaknya berwarna merah muda itu, Adrian lalu meminta Demelza untuk berdiri di hadapannya. Dilepasnya mini dress serta bra itu dari tubuh Demelza, membuat tubuh Demelza sedikit merinding kala sejuknya alat pendingin ruangan di ruang kerja pribadi Adrian menyentuh kulit tubuhnya.
Adrian lalu berlutut di hadapan Demelza sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang Demelza yang berlekuk bak jam pasir. Disesapinya dua puncak gundukan kembarnya, diciuminya perutnya yang rata, serta dikecupnya daerah kewanitaannya yang masih terbungkus sebuah panties renda tipis warna hitam. Sambil mendongakkan kepalanya untuk menatap paras cantik Demelza yang sudah terlahap oleh birahi itu, dengan perlahan Adrian menurunkan panties renda tersebut. Diciuminya lipatan intim milik Demelza sebelum akhirnya lanjut membelah dan memasukinya menggunakan ujung indera pengecapnya.
Serangan kenikmatan itu lantas menjuluri tubuh Demelza kembali, namun kali ini jauh lebih dahsyat dibanding sebelumnya. Dia memejamkan kedua maniknya. Diremasnya pundak dan rambut Adrian seraya mengeluarkan desahannya, “Ahh yes … di situ, daddy…”
Tubuh Demelza dibuat menggelinjang dengan hebat saat Adrian berhasil menemukan spot kenikmatannya. Adrian terus menjilatinya dan menekan-nekannya dengan pangkal lidahnya, membuat milik Demelza di bawah sana semakin basah. “Ahhh f**k … Aku mau keluar, daddy,” desahnya dengan mata yang semakin terpejam erat. Meresapi betapa nikmatnya ‘servis’ lidah Adrian di daerah paling sensitifnya.
Dan hanya berselang beberapa detik kemudian, Adrian berhasil membawa Demelza hanyut ke dalam nikmatnya arus puncak orgasmenya. Desahannya terdengar makin kencang, demikian pun dengan remasan tangannya di bahu dan rambut Adrian. Cairan kewanitaannya muncrat dan membasahi lidah Adrian. “Ahh … Ahhh! Daddy …”
Adrian tersenyum puas. Dia menghadiahi daerah intim Demelza dengan kecupannya, lalu beranjak bangkit berdiri dan meraih dua lembar tissue untuk membersihkan mulutnya serta daerah kewanitaann Demelza. Dengan cekatan Demelza mengenakan kembali pakaian dalam dan mini dress-nya. Adrian membantunya menutup ritsleting mini dress-nya yang letaknya ada di bagian punggung.
Demelza membalik tubuhnya lalu meletakkan kedua tangannya di pundak Adrian. “Kamu yakin anak buahmu tak akan mengetahui aktifitas mesuum manajernya ini?” tanyanya manja.
“Pastinya,” jawab Adrian mantab. “Ruangan ini kedap suara dan bebas dari pengawasan kamera CCTV.”
Pandangan Demelza lalu berpindah menuju daerah s**********n Adrian. Dia bisa melihat betapa menonjolnya batang berurat milik Adrian di bawah sana. “Punyamu jadi ‘tegang’ …,” gumamnya dengan pipi yang agak merona.
Dipegangnya dagu tirus Demelza dan dipalingkannya wajahnya untuk menatap matanya kembali. “Mau membantunya agar dia ‘terlelap’ lagi?” tawar Adrian.
Demelza tak sempat merespon. Dia baru saja membuka mulutnya saat tiba-tiba pintu ruangan kerja pribadi Adrian diketuk.
♥♥TO BE CONTINUED♥♥