GM-38-Cerita di Jembatan Hati

1680 คำ
Entah kedepannya ia akan merelakan cinta pertamanya pergi begitu saja atau kembali memperjuangkannya sekuat tenanga. Yang pasti, berdiri di depan gerbang rumah seraya menunggu Sian setidaknya adalah pilihan yang tepat. Agar semuanya jelas. Tentang perasaan pria itu padanya, tentang arti dirinya bagi Sian itu, apa. Dan tentang apa yang selanjutnya yang akan ia lakukan setelah semuanya berakhir. Setidaknya ia tidak menghindari Sian, meski rasanya ingin menolak untuk bertemu dengan pria itu akhir - akhri ini. "Maaf, tadi motor saya sempat mogok di jalan. Kamu udah lama nunggu?" Sian berucap seraya turun dari motornya. Menatap wajah gadis yang entah kenapa tidak seperti biasanya. Tri hanya diam seolah malas untuk mengatakan apapun. "Kita berangkat sekarang aja," ajak Tri dengan wajah dingin tanpa berniat menatap ke arah pria yang kini menatapnya bingung. Sian hanya mengangguk. Duduk kembali di atas motor lalu menunggu gadis itu duduk di belakangnya. Tri mengambil posisi duduk di belakang Sian dengan membuat jarak sejauh yang ia bisa. Entah mengapa rasanya terasa berat berada di dekat seseorang yang hatinya bukan untukmu. "Apa saya pamitan dulu ke orang tua kamu?" tanya Sian seraya menatap kaca spion motor yang memantulkan wajah Tri yang kini menatap ke arah jalanan. Gadis itu menggeleng dengn cepat, "Gak usah. Aku udah bilang kalau keluarnya cuma bentar." Tri masih tidak ingin menatap ke arah pria yang kini memunggunginya. "Baiklah. Kalau begitu kita berangkat sekarang." Sian nampak tersenyum seraya menatap kaca spion itu. Entah kenapa, sejak semalam ia menelpon gadis itu, ia merasa kalau Tri bersikap dingin padanya. Apa mungkin ia melakukan kesalahan? Sian bertanya - tanya seraya mengendarai sepeda motor itu dengan kecepatan lambat. "Bisa lebih cepat gak?" Tri memberanikan diri untuk membuka suara. "Apa?" Sian bertanya karena suara Tri tidak begitu jelas. Mengobrol di atas motor saat melaju itu seperti mengobrol dalam keadaan telinga tertutup. Sulit mendengar perkataan yang jelas. Karena bunyi bising dari kendaraan lain serta suara yang keluar seolah terhalang oleh angin. "ngebut dikit gapapa! Jangan lambat banget kayak gini!" Tri berucap dengan nada setengah berteriak. Semoga saja Sia mendengarnya, jadi ia tak perlu mengulangi kalimatnya barusan atau mendekatkan tubuh pada pria itu. *** Hari itu, langit kota Argon nampak bergitu cerah. Matahari tidak terlalu menyengat dan langit juga tidak mendung. Motor matic Sian kini melaju dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan kota Argon yang cukup padat akan kendaraan tetapi tidak terjadi ]1333. Seandainya Tri tidak pernah melihat Sian bersama dengan perempuan lain di kafe hari itu. Kira - kira bagaimana perasaannya kini? Apa rasanya akan sama seperti sebelumnya saat ia berada diboncengan pria itu dengan hati berbunga - bunga dan waktu seolah melambat? Perjalanan menuju Jembatan Hati cukup memakan waktu. Jembatan itu terletak di ujung kota Argon. Jembatan yang dibangun beberapa tahun yang lalu. Jembatan yang menghubungkan ujung kota Argon dan ujung kota Neon. Setidaknya setengah jam lebih motor matic Sian melaju di sepanjang jalanan kota Argon hingga akhirnya sampai di ujung kota. Pemandangan di ujung kota Argon nampak begitu berbeda dengan pemandangan yang ada di jantung kota. Tidak banyak gedung pencakar langit berdiri di sini. Masyarakat di ujung kota nampaknya lebih banyak melakukan penghijauan. Lebih banyak pohon yang rindang di sepanjang jalan. Rumah - rumah yang berdiri pun sangat sederhana dan minimalis. Ah, Tri hampir lupa. Kapan terakhir kali ia melihat pemandangan hijau yang begitu indah seperti yang ada di sekelilingnya ini. "Gimana, kamu senang?" tanya Sian sesaat setelah menepikan motornya tepat di sisi kanan Jembatan Hati yang dibangun di atas air sungai yang membelah ujung kota Argon. Sekaligus menjadi pembatas anatara kota Argon dan Neon. Awalnya Tri penasaran, kenapa jembatan yang kokoh lagi menjulang ini dinamakan dengan Jembatan Hati. Sebab, sesaat ia sampai di sini, ia tidak melihat apapun yang ada di sini dengan bentuk hati. "Lihat ke bawah," ujar Sian seraya menatap ke bawah. Tepat di bawah mereka, ada ceruk yang berbentuk hati yang di mana air mengalir deras di sana. Tidak ada yang menyadarinya jika tidak melihat dari dua sisi jembatan. Lalu, di ujung jembatan terdapat sebuah lengkungan besi yang membentuk hati dengan bunga yang menjalari setiap lengkungannya. Ah, rasanya seerti mimpi. Tri menatap ke setiap sisi jembatan itu dengan mata berbinar dan perasaan kagum yang luar biasa. Tidak ada jembatan swperti ini di pusat kota Argon. "Dari mana kamu tahu tempat ini?" tanya Tri dengan terbata seraya menatap Sian sekilas. Sejak tadi malam, Tri berpikir untuk tidak lagi memanggil Sian dengan sebutan ia gunakan sebelumnya. Apa itu? "Bang Sian?" Hih! Tri merasa ilfeel pada dirinya sendiri. Biar saja pria ini mengira kalau ia tidak sopan. Toh, Tri tidak begitu peduli lagi dengan penilaian Sian padanya seperti apa. "Dari internet. Saya cari tempat - tempat unik dengan pemandangan indah untuk didatangin saat penat." Sian bercerita seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling jembatan. Ternyata yang ia baca di internet benar. Jembatan Hati akan membuat siapapun jatuh hati saat berada di tempat ini. "Kalau begitu, kenapa ngajak aku ke sini?" tanya Tri seraya berjalan ke ujung jembatan. Sian mengekor di belakang seraya menatap punggung gadis kecil yang ada di hadapannya itu dengan kedua sudut bibir tertarik ke atas. "Sebagai ganti karena kita gak ke Rumah Sakit Umum kota Argon seperti yang kamu mau," jawab Sian seraya melangkah lebih dekat dengan gadis yang kini berbalik dan menatapnya dengan wajah dingin. Sian tidak sabar ingin bertanya, apa yang membuat gadis itu menghindar dan bersikap ketus padanya? "Kamu senang?" tanya Sian seraya berdiri di samping gadis yang tingginya tidak sampai sebahu pria itu. Tri mengangguk ragu. Apa yang harus ia bicarakan setelah ini? Haruskan ia bertanya, apa yang Sian dan perempuan bernama Nisa itu lakukan di kafe kemarin? Atau, apa ia harus mengatakan kalau ia sudah menyerah untuk mendwkati Sian? Ah, tapi itu terlalu konyol. Kenapa juga ia harus mengatakan tentang perasaannya. Tidakkah ia terlihat bodoh nantinya? "Apa saya ada salah sama kamu?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Sian. Ia sempat memahannya. Namun, pada akhirnya ia tetap membuka suara dan menanyakannya pada gadis yang kini menatapnya dengan gugup. "Gak ada," jawab gadis itu terbata. "Lalu, kenapa kamu berubah? Tidak seperti biasanya?" tanya Sian lebih lanjut karena penasaran. Tri, gadis itu nampak menghela napas berat dan mengembuskannya dengan cepat. Baiklah. Ini saatnya ia mengatakan semuanya. Semua unek - unek yang ia pendam selama beberapa waktu terakhir. "Karena kamu-," "Kenapa panggil saya dengan sebutan 'kamu'?" potong Sian dengan cepat. Membuat gadis di hadapannya nampak berpikir sejenak dengan wajah menatap ke arah lain. "Karena kakak udah punya pacar. Saya harus tau diri untuk tidak mendekati pacar orang," balas gadis itu dengan cepat. Membuat Sian mengrutkan alis bingung. "Pacar?" tanya pria itu tidak percaya. Kenapa gadis ini berkata dimikian? Sian bertanya - tanya dalam hati. "Iya, pacar. Perempuan yang sama kakak di parkiran kafe Uno waktu itu, adalah pacar kakak, kan?" Jelas Tri dengan menggebu. Lihatlah! Pria di hadapannya ini berpura - pura tidak mengerti. Bilang saja Sian hanya tidak ingin kehilangan penggemar seperti Tri. Gadis itu mencebik tanpa sadar. Bibirnya mengerucut sempurna. Sian hampir saja ingin tertawa sata melihat ekpresi wajah sebal maksimal yang ditampilkan oleh gadis kecil di hadapannya ini. Untuk sejenak, Tri melihat ke sekelilingny dengan tatapan aneh. Kenapa jembatan ini begitu sepi? Ke mana orang - orang? "Kenapa?" Tanya Sian saat memdapati Tri yang mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dengan wajah bingung. "Kakak, kenapa kakak bicara dengan bahasa formal ke aku?" tanya Tri seraya menutupi rasa penasarannya akan jembatan ini untuk sejenak. Sian berdehem. Apa yang harus ia katakan? Semua ini bermula dari Arsen, hantu pria itu seringkali menggunakan bahasa formal saat bicara padanya. Seperti pepatah, ala bisa karena terbiasa. Sian sudah terbiasa berbicar bahasa formal saat ia menghabiskan waktu di rumah saat berbicara berdua dengan Arsen. Hingga terbawa saat ia berbicara pada orang rumah dan sahabat - sahabatmya di kampus. Lalu dengan gadis yang ada di hadapannya kini. Awalnya Sian merasa ada yang salah. Akan tetapi. Lama kelamaan Sian merasa tidak ada salahnya berbicara dengan bahasa formal. Bahkan itu terdengar lebih sopan. "Hanya ingin saja." Tri menatap dengan tidak percaya. Apa? Hanya karena ingin? Jawaban apa itu? Gadis itu mendengkus lalu membuang pandangan. "Soal pacar yang kamu bilang tadi," ujar Sian seraya melangkah lebih dekat. "Kamu salah paham. Saya tidak punya pacar." Jawaban Sian barusan sontak membuat Tri mengalihkan tatapannya pada pri itu. "Gak punya pacar?" Tri membeo dengan tatapan skeptis. "Ya. Saya gak punya pacar," ulang Sian seraya menunggu gadis itu memberikan jawaban atas pengakuannya barusan. "Jangan bohong!" tuduh Tri dengan nda bicara dingin. "Untuk apa saya membohongi kamu?" ujar Sian retorik. "Nisa dan saya cuma teman sekelas di kampus." Sian mulai bercerita seraya melangkah mendekati motor yang ia terpikan di sisi jembatan. "Tapi kakak suka sama kak Nisa, kan?" tebak Tri seraya mengekori pria jangkung di hadapannya itu. Sian menoleh ke arah Tri. Ia nampak terdiam sejenak. Membuat gadis di hadapannya itu berpikir bahwa dugaannya itu benar. "Dulu," balas Sian seraya menatap ke pohon - pohon yang rindang berdiri di sisi sungai yang membentang di ujung koga Argon. "Sekarang?" tanya Tri makin penasaran. Sian mengalihkan tatapannya pada gadis yang wajah penasarannya sangat kentara. Lalu tersenyum seraya membenarkan rambut yang tertiup angin yang menutupi wajah gadis itu. "Sekarang saya menyukai seseorang." Tri yang kaget akan perlakuan Sian nampak memalingkan wajah dengan gugup. "Udah sore. Kita pulang sekarang aja," ujar gadis itu dengan terbata. Sian tersenyum saat melihat wajah gadis di hadapannya itu bersemu merah. Tri berjalan dengan cepat menghindari pria itu. Lalu menunggu Sian menaiki motornya dan mereka akan segera pulang. Akan tetapi, Sian malah meraih lengan gadis itu dengan cepat. Membuat Tri kaget setengah mati saat wajahnya menyentuh d**a bidang pria itu. "Kita belum take foto. Udah jauh - jauh ke sini tapi gak ngambil foto, itu sayang banget." Sian berujar seraya mengetuk ikon kamera di ponselnya. Tri, gadis itu menahan kegugupannya lalu tersenyum ke hadapan kamera. Satu Dua Tiga Ckrek!! Setelah mengambil beberapa foto selfie, Sian meminta Tri untuk berdiri di spot yang menarik di sisi jembatan, tengah - tengah jembatan dan di bawah lengkungan besi membentuk hati. "Ayo pulang!" ajak Sian setelah menatap kumpulan foto mereka di layar ponselnya. Tri tergagap hanya bisa mengangguk meng-iyakan. Selama perjalanan, gadis itu tak henti - hentinya menenangkan detak jantungnya yang tak karuan. ***
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม