Sebelum benar - benar pulang. Sian mengajak Tri untuk mampir ke salah satu rumah makan yang berada di pinggir jalan di kawasan ujung kota Argon. Rumah makan yang tak pernah sepi pengunjung, terutama di hari libur.
Untungnya mereka berkunjung saat hari kerja. Jadi, rumah makan ini tidak begitu ramai seperti di hari libur.
Ada beberapa meja kosong yang berada di sisi kanan, dekat dengan pepohonan rindang.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Tri lalu menutup mulutnya karena merasa salah bicara.
"Maksud aku, ... Kakak mau makan apa?" ulang gadis itu seraya membolak balik buku menu yang ada di tangannya saat ini.
Sian tersenyum. Ia senang, karena gadis di hadapannya ini kembali seperti Tri yang sebelumnya.
"Gapapa, panggil 'aku-kamu' aja," ucap Sian seraya tersenyum tipis. Membuat Tri berdehem untuk menetralkan kegugupannya saat ini.
"Aku pesan ini, aja," tunjuk Tri pada menu mie ayam original, "Minumnya, ini." Lalu menunjuk menu es jeruk.
Sian memanggil pelayan di sana. Seorang remaja pria datang dan bertanya dengan ramah.
"Pesan apa, mas, mba?" tanyannya pada Sian dan Tri.
Sian menunjukkan menu yang ingin dipesan Tri.
"Dua porsi ya, mas," ucap Sian yang dibalas dengan anggukan oleh remaja pria itu seraya terseyum dengan ramah.
"Kalau gitu, silahkan tunggu ya mas, mba. Ini ada cemilan gratis," tunjuknya pada sebuah toples yang berisi keripik. "Silahkan dinikmati sebelum pesanannya datang."
Sian dan Tri mengangguk bersamaan, "Terimakasih mas." jawab keduanya dengann kompak.
Keduanya nampak terdiam sejenak. Saling curi - curi pandang satu sama lain. Sebelum akhirnya, Tri memutuskan untuk membuka suara lebih dulu.
"Foto - foto tadi, nanti tolong kirimin ke aku, ya, kak," ucap gadis itu terbta.
Sian tersenyum lalu menganggukkan kepala.
"Aku kirim sekarang aja. Lewat whasapp ya," balas Sian seraya menggulir layar benda berbentuk pipih yang ada di tangannya.
Tri, gadis itu menatap ke arah lain selain ke arah pria yang ada di hadapannya ini. Entah kenapa, rasanya ada yang aneh dengan dirinya.
Semenjak Sian mengatakan kalau pria itu sudah tidak menyukai temannya di kampus, Tri merasa ada sedikit ruang untuknya kembali mendekati Sian.
"Saya menyukai perempuan lain." Kalimat itu tiba - tiba saja kembali terngiang di kepala Tri. Rasa percaya dirinya untuk mendapat hati Sian tiba - tiba terjun bebas.
"Udah." Sian berujar seraya meletakkan ponselnya di meja lalu menatap gadis yang ada di hadapannya.
Sesaat kemudian, pesanan mereka datang. Sian dan Tri menikmati makanan mereka dalam diam. Setelah mie ayam di masing mangkuk yang ada di hadapan mereka habis, dan es jeruk berkurang setengah. Keduanya nampak terdiam sejenak.
Sian memutuskan untuk membanyar pesanan mereka, namun Tri menolak.
"Kali ini, aku aja yang traktir," pinta gadis itu seraya ingin menyerahkan sebuah kartu pada seorang pelayan.
Sian menolak. Lalu menyerahkan beberapa lembar uang dan menyerahkan kembali kartu itu pada gadis yang ada di hadapannya.
"Nanti, traktir saya lain kali aja." Sian berucap seraya merapikan mangkuk mereka berdua. Menumpuknya jadi satu. Mengelap sisa cipratan kuah dan es jeruk yang ada di meja.
"Ayo, kita pulang. Mumpung hujan belum turun," ajak Sian pada gadis yang kini menatapnya tanpa berkedip.
"Kamu gapapa?" tanya Sian seraya mengibaskan telapak tangan di depan wajah Tri yang nampak melamun.
Gadis itu terperanjat lalu menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Gapapa kok," balasnya seraya meringis. Bagaimana bisa ia menatap seorang pria tanpa berkedip? Gadis itu masih saja sulit menutupi rasa ketertarikannya.
Mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Motor matic yang dikendarai Sian perlahan memasuki jantung kota. Bergabung dengn kendarain lain membelah membelah jalanan pusat kota Argon.
Tri masih sibuk dengan pikirannya. Pertanyaan, "Siapakah perempuan yang dimaksud Sian?" kini memenuhi kepalanya. Menari ke sana ke mari di dalam kepala gadia itu. Hingga, sesaat setelah motor Sian berhenti di lampu merah di jalan dekat sekolah Tri. Batin gadis itu mendorongnya untuk membuka suara. Menuntaskan rasa penasarannya.
"Aku boleh nannya sesuatu, gak?" ucap gadis itu di samping telinga Sian.
Sian, pria itu mengangguk meng-iyakan.
"Tanya aja," balasnya seraya memperhatikan lampu lalu lintas.
"Perempuan yang kamu maksud, itu, siapa?" tanya Tri pelan bersamaan dengan suara klakson dari beberapa kendaraan yang ada di belakang mereka.
Sian melajukan motor maticnya kembali stelah lampu lalu lintas di sisi kanan jalan berubah menjadi hijau.
"Apa?!" tanya Sian setengah berteriak karena suara yang keluar saat berkendara akan terdengar lebih kecil kalau ia tidak setengah berteriak.
Tri mengembungkan pipinya. Mengembuskan napas lelah.
"Semua ini gara - gara suara klakson tadi" pikir gadis itu dengan sebal. Sian tidak mendengarmya karena suara bising yang berasal dari suara klakson kendaraan saat di lampu merah.
Tanpa sadar, Sian menatap wajah gadis yang ada di belakangnya lewat kaca spon.
Gadis itu mengembungkan pipinya lalu meniup - niup poni tipisnya sengan wajah kesal yang terlihat lucu dan menggemaskan.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman gadia itu, Sian tak henti - hentinya tersenyum seraya menatap kaca spion motornya sesekali.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih
setengah jam lamanya. Motor matic itu berhenti di depan sebuah rumah megah dan kokoh. Bahkan pagar rumah itu begitu mewah layaknya pagar istana kerajaan.
Tri turun dari motor itu setelah Sian mematikan mesinnya. Membuka pelindung kepala dan menggenggam talinya dengan erat.
"Makasih ya, buat hari ini," ucapnya seraya kedua sudut bibir terangkat sempurna.
Sian mengangguk. "Sama- sama. Aku juga, makasih udah mau aku aja ke sana dengan motor. Panas - panasan di jalan." Sian berujar seraya terekekeh pelan.
Tri menggelengkan kepala dengan cepat.
"Gapapa kok. Malah lebih seru naik motor daripada mobil." Tri tersenyum lalu menyerahkan helm berwarna merah itu pada Sian.
"Beneran, seru?" tanya Sian.
"iya, beneran." Sian hampir saja terkekeh karena melihat ekspresi wajah gadis mungil di hadapannya ini.
"Mama papa kamu, ada di rumah?" tanya Sian seraya menatap pagar yang masih tertutup rapat yang ada di hadapan mereka. Sepertinya pak satpam belum menyadari kedatangan mereka beberapa waktu yang lalu.
"Gak ada," jawab Tri dengan cepat.
Sian mengangguk lalu bertanya untuk kedua kalinya.
"Kakak kamu, ada?" Tri menggeleng.
"Gak ada juga. Lagi kerja." Gadis itu sengaja mengatakan kalau tidak ada orang di rumah. Ia tidak ingin Sian masuk untuk berpamitan. Lalu berakhir diintrogasi oleh mama papanya.
"Yaudah, kalo gitu, aku pamitan sama pak satpam aja," putus Sian seraya menyalakan klakson motor. Agar satpam penjaga rumah membukakan gerbang untuk mereka.
Pintu gerbang itu terbuka dengan lebar. Seorang pria berusia tiga puluhan terlihat berlari kecil mendekati mereka.
"Maaf non, saya ketiduran," ucap satpam itu menyesal seraya membungkuk.
"Gapapa pak. Bapak pasti capek. Wajar kalo ketiduran." Sian menatap gadis yang ada di hadapannya itu dengan kedua sudut bibir terangkat.
Gadis baik.
"Saya mau pamit pak," ucap Sian
"Saya abis ngajak nona ini jalan - jalan ke ujung kota. Karena gak ada siapa- siapa di rumah, saya bilangnya ke bapak aja." Pak satpam mengangguk dengan cepat.
"Ah iya, den. Nanti saya sampaikan ke bapak atau ibu." Tri menatap pak satpam dengan mata mendelik.
Pak satpam yang tidak mengerti maksdunya hanya bisa menatap dengan bingung.
"Aku pulang, ya," pamit Sian seraya menatap Tri. Gadis itu mengangguk.
"Ah iya. Hati - hati di jalan," balasnya dengan terbata.
Sian menaiki motor maticnya. Menyalakan mesin motor, lalu melambaikan tangan sebelum akhirnya melajukan motor pergi meninggalkan perkarangan rumah mewah itu.
Tri menatap punggung Sian yang menghilang ditelan kejauhan. Lalu mengalihkan tatapannya pada pak satpam.
"Bapak jangan bilang apa - apa ke mama atau papa, ya," pinta gadis itu dengn wajah serius.
Pria dengan kumis tipis dan jaggut agak tebal itu mengangguk.
"Baik, non."
"Janji, ya!" desak Tri seraya menatap pak satpam dengan mata tajam.
"Iya, non. Janji." Gadis itu menghela napas lega setelah mendengar jawaban dari pak satpam. Lalu berpamitan memasuki rumah.
Gadis itu tidak tahu saja. Kalau sedari tadi ada empat orang dewasa yang telah menyaksikan semuanya dari balik dinding pos satpam rumah mereka dengan ekspresi wajah yang tidak bisa diartikan.
***
Saat makan malam tiba. Semua orang menatap ke arah Tri. Gadis itu menyantap makanannya dengan lahap. Tanpa menyadari kalau sedari tadi, ia tengah menjadi atensi semua orang yang ada di meja makan.
Papanya berdehem singkat. Membuat gadis itu menatap ke arah sang papa dengn wajah bingung. Lalu beralih menatap ke samping. Mamanya juga menatapnya dengan tatapan aneh. Kemudian ia beralih menatap kedu kakak perempunnya. Gadis itu kini sadar, bahwa semua orang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan.
"Ke-kenapa?" tanyanya dengan terbata seraya menghentikan aktivitas makannya.
Semua orang di sana hanya menggelengkan kepala lalu melanjutkan aktivitas makan malam.
Aneh. Pikir gadis itu tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Setelah makan malam selesai. Papa dan mama meminta mereka berkumpul di ruang keluarga.
***
Lalu, disinilah Tri berada. Di antara dua kakak perempuannya yanga terpaut usia sepuluh dan tujuh tahun dari dirinya.
"Mama mau tanya sesuatu sama kalian," ucap mama membuka pembicaraan.
Ketiga anak perempuannya menunggu. Wanita dengan manik mata kecokelatan itu nampak menatap anak bungsunya dengan hangat.
"Adek, udah punya pacar?" tanyanya dengan lembut.
Tri hampir saja tersedak salivanya saat mendengar pertanyaan yang mamanya lontarkan barusan.
"Pa-car? Enggak punya ma," jawabnya dengan terbata. Membuat sang mama menyipitkan mata, menatapnya dengan tatapan skeptis. Akan tetapi, sejurus kemudian, mamanya ber-o ria.
"Lalu, yang jemput adek sepulang sekolah sama yang nganter pulang ke rumah, tadi, siapa?"
Pada akhirnya, gadis itu benar - benar tersedak. Terbatuk - batuk seraya memukul dadanya dengan pelan.
Apa yang harus ia katakan?
Gadis itu nampak tergagap, antara mau menjawab atau tidak , namun ia bingung kenapa keluarganya bisa tahu. Apa yang harus ia katakan.
"Itu, abangnya temen Tri di sekolah." Akhirnya ia punya jawaban yang masuk akal.
Namun, jawaban itu justru mengantarkannya pada pertanyaan yang menjebak selanjutnya.
"Kayaknya dia suka sama adek. Buktinya, mau repot - repot nganterin." Mama berujar seraya mengedipkan mata ke arah suaminya.
Papa berdehem singkat. Mengalihkan atensi ketiga putrinya.
"Papa gak keberatan kalau kalian punya pacar. Asal, harus dikenalkan ke papa. Biar papa tahu, dan bisa nilai. Mereka pria yang seperti apa." Ketiga putrinya nampak terdiam.
"Adek," panggil papa pada anak bungsunya. Tri menoleh.
"Iya, pa?" jawabnya seraya menatap sang papa.
"Besok kenalkan papa sama siapa tadi namanya?" Papanya sengaja berkata demikian agar gadis kecilnya itu mau mengtakan nama pria yang mengantarnya tadi sore.
"Namanya Sian, pa," balas Tri dengan gugup.
Ini kali pertama ia mengobrol serius dengan mama dan papanya mengenai pria yang disukainya.
"Ya, ajak dia nemuin papa besok."
Tri mangangguk pasrah.
Setelah obrolan dadakan itu. Tri kembali ke kamarnya dengan langkah lemah.
Bagaimana bisa, ia meminta Sian untuk menemui papanya?
Ia tidak punya hubungan khusus, kecuali sebagai sahabat adik pria itu dan mereka pernah bertemu saat Tri masih kecil.
Tri mendesah seraya menutup pintu kamarnya dengan pelan. Lalu menguncinya dengan rapat.
Ditatapnya kasur empuk itu dengan sendu. Lalu melangkah mendekati kasur. Menghempaskan tubuhnya di sana seraya meringis kuat.
Tidak ada cara lain, pikirnya seraya bangkit dan duduk di kasur dengan rambut berantakan sehabis ia jambak karena gemas.
Ia harus membujuk papanya agar tidak bersikeras ingin menemui Sian. Atau ia membuat alasan bahwa Sian tidak bisa menemui sang papa karena satu dan lain hal.
Ya, tidak ada yang perlu ia khawatirkan. Ucap batinnya menenangkan diri sendiri.
Akan tetapi, setelah larut malam. Gadis itu masih terjaga. Ia tidak bisa tidur. Begitu banyak hal - hal yang ia pikirkan.
Padahal, ia berencana untuk tidur lebih cepat. Akan tetapi, saat jarum jam sudah bergerak menuju angka dua belas pun, ia masih overthinking.
***