GM-11-Khawatir

1102 คำ
Sebenarnya, Di terlalu malas dan tak ingin keluar rumah saat langit kota Argon sedang menggelap sepeti saat ini. Memandang awan gelap yang bergelayutan di langit. Hatinya kembali merasa terluka. Dadanya sesak seolah ada sesuatu yang tak kasat mata sedang mengganjal di sana. Menatap ke luar seraya mendesah pelan. Walau bagaimanapun juga, ia sudah berjanji pada kak Mon untuk membujuk adik bungsu mereka agar mau pulang ke rumah. Apa kata orang, melihat seorang gadis seperti Tri berkeliaran entah menginap di mana. Padahal sebenarnya ia memiliki keluarga. Beberapa menit yang lalu, ia berhasil membujuk gadis keras kepala itu agar mau menemuinya di kafe yang tak jauh dari sekolah si bungsu. Meski sebelumnya ia harus berjanji terlebih dahulu agar nanti saat mereka bertemu, Di tidak menyalahkan Tri seperti yang dilakukan oleh kakak tertuanya, Mono. Tri masih terasa sakit hati setelah pertemuannya dengan kak Mon. Kakak sulungnya itu mengatakan hal yang seolah - olah Tri lah yang salah dan egois. Karena memilih meninggalkan rumah. Siapa yang akan betah berada di rumah yang hening dan sepi layaknya kuburan. Lalu tiba - tiba menjadi kacau saat dua orang dewasa yang bernama orang tua di rumah itu bertengkar dan saling menyalahkan satu sama lain. Mereka menjadi pihak yang paling benar. Tanpa mau bermuhasabah dan bertanya pada diri sendiri. Sudahkah aku melakukan yang terbaik untuk keluarga, untuk anak - anakku? Sepertinya melakukan yang terbaik versi mereka yaitu hanya dengan berkerja keras di luar rumah. Pulang ketika larut malam. Lalu kembali ke siklus yang sama. Gadis yang kini keluar kelas menatap layar ponselnya dengan embusan napas jengah. Rasanya menginap di tempat kak Nisa lebih baik, dibanding ia harus kembali ke rumah. Pikirnya seraya melangkahkan kaki menuju parkiran sekolah dengan langkah yang terasa kurang nyaman. Tri tidak mengatakan pada Di, bahwa ia masih ada di sekolah. Karena ia sudah memasuki semester terakhir di kelas tiga, jadinya ia harus mengikuti serangkaian les tambahan setelah pulang sekolah. Tasnya sekarang bahkan masih berisi pakaian kotor yang ia dapatkan dari kak Nisa. Perempuan cantik itu ternyata lebih baik daripada yang gadis itu duga sebelumnya. Tri bahkan diperbolehkan menginap di sana hingga diantar ke sekolah hari ini. Belum juga sore, namun langit nampaknya sudah semakin gelap dan pekat. Gadis itu menatap langit saat langkahnya mencapai parkiran sokolah. Entah siapa yang ia tunggu di sana. Sepertinya ia tidak sedang halu dengan bepikir bahwa ia membawa sepeda atau sepeda motor ke sekolah. Atau dijemput supir pribadi. Sejurus kemudian, terlihat seorang gadis yang sedari tadi ia tunggu. "Kana?!" panggilnya seraya melambaikan tangam pada gadis yang sedang melangkah ke arahnya. Kana mengernyit sebentar seraya berpikir, mengapa Tri menunggunya di parkiran. "Tri? Kenapa di sini? Nungguin jemputan?" tanya Kana saat langkah kakinya mencapai parkiran sekolah yang sudah mulai terlihat sepi. Banyak dari siswa yang membawa sepada hingga sepeda motor sudah berlalu lalang meninggalkan parkiran sekolah. Tri menggeleng pelan. Ia hanya ingin mengatakan sesuatu pada Kana. "Aku mau bilang sesuatu sama kamu Na," tutur Tri seraya menggigit bibir bawahnya karena gugup. "Bilang aja, memangnya mau bilang apaan, Tri?" Kana makin penasaran saat melihat gelagat gadis yang sebaya denganya yang sedang menggigit bibirnya itu. "A-Aku bocor," ucap Tri ragu. Sedangkan Kana, gadis itu makin tak mengerti maksud Tri apa. Bocor? Apanya? Membuatnya ingat dengan salah satu iklan cat saja. Bocor? Pakai Nod**p! "M-maksudnya?" tanya Kana dengan kening berkerut. "Aku halangan! Datang bintang, ka-kamu punya pembalut eng-gak?" tanyanya terbata - bata seraya menggeliat karena merasa tak nyaman. Tri mana tahu kalau bakalan datang bulan hari ini. Ia bahkan tak ingat kapan dan tanggal berapa tamu bulanan itu bisasa datang menyapa. Alhasil, ketika berjalan ia merasakan sesuatu yang sangat tidak nyaman menggangu langkahnya. Kana ber-o ria setelah membiarkan Tri menyelesaikan kalimatnya barusan. "Syukurlah aku biasa sedia payung sebelum hujan," seru Kana dengan senyuman. Kali ini, Tri yang tidak mengerti apa yang Kana bicarakan. Sedia payung? Bukannya Tri barusan minta pembalut? Bukannya payung? Pikir Tri seraya memperhatikan gerak gerik Kana yang sedang merogoh sesuatu di dalam tasnya. "Ini!" Kana berseru seraya menyodorkan sesuatu berbentuk pipih berwarna putih. Kana bersyukur karena Tri mengerti maksudnya. Meskipun gadis itu sempat mengatakan hal tidak Tri mengerti. Tri berterima kasih berkali - kali pada Kana seraya menggenggam tangan Kana. "Mau aku temenin ke toilet? takutnya nanti ada anak iseng," tawar Kana pada gadis yang kini sedang memasukkan benda yang ia berikan tadi ke dalam tas gadis itu. Tri benar - benar berterima kasih pada Kana karena kabaikan hatinya ini. Tanpa ragu, Tri menarik tangan gadis di samping dan mereka berjalan dengan langkah yang cepat menuju toilet sekolah yang untngnya letaknya tak begitu jauh dari parkiran sekolah. Setelah selesai, mereka kembali menuju gerbang sekolah dan berpisah di sana. Tri mengatakan kalau ia akan menemui kakak perempuannya di sebuah kafe. Lalu Kana akan menunggu jemputan dari sang kakak laki - lakinya. _____ Setelah ucapan 'apa kabar'-- yang dilontarkan oleh Di pada adik bungsunya dan dijawab 'baik' oleh Tri--tak ada pertanyaan sebaliknya yang keluar dari mulut sang adik. Mereka sama - sam diam. Membiarkan keheningan hadir meggantung di antara keduanya. "Adek, udah makan siang?" tanya Di seraya memperhatikan gerakan tangan adik bungsunya itu yang sibuk memaninkan sedotan yang ada di cangkir minuman dingin di hadapannya. "Belum," jawab Tri jujur. Perutnya bahkan sudah terasa perih. Di kosan kak Nisa dia sempat sarapan. Awaknya perempuan cantik dan baik hati itu juga ingin memberikannya beberapa lembar uang, namun Tri menolak. Sudah diizinkan menginap di kosan kak Nisa saja, sudah meruapakan suatu kebaikan yang tak terhingga yang membuat Tri berterima kasih berkali - kali pada perempuan cantik itu. Syukurlah Tri masih memiliki beberapa lembar uang yang ia ambil dari dompetnya sebelum meninggalkan rumah. Iya! Gadis keras kepala itu ingin membuktikan bahwa ia bisa bertahan hidup tanpa membawa uang lebih dari dompetnya. Hal itulah yang semakin membuat Mono dan Di--kedua kakak perempuannya--itu semakin cemas dan mengkhawatirkan adik bungsu mereka. Di menatap gadis di hadapnnya itu dengan tersenyum nanar. Fakta bahwa adiknya kini harus menahan lapar terasa menyakitkan baginya. Perempuan itu buru - buru memanggil seorang palayan dan memilih beberapa menu makan siang yang terkenal enak di kafe ini. Sesaat setelah pelayan membawa dan meletakkan pesanan. Tri, gadis itu tak bisa menahan tangannya untuk segera meraih piring yang berisi sedikit nasi dan banyak lauk pauk di dalamnya itu dengan cepat. Saat gadis di depannya itu sibuk mengunyak makanan, Di malah memperhatikannya dengan kedua sudut bibir yang tertarik ke atas. Tangannya bahkan sudah mendarat di puncak kepala adik bungsunya dan mengusapnya dengan pelan. Tri sempat terdiam sejenak saat mendapat perlakuan manis yang ia rindukan dari seorang kakak. Selanjutnya ia mlanjutkan kegiatan makan siangnya dengan lahap. "Kakak janji, gak akan bikin kamu memilih untuk pergi dan tidak merasakan kelaparan seperti ini lagi." _______
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม