Axen cukup yakin jika Gia sedang begitu murka padanya. Hah! Wanita itu. Mengaku psikopat namun perasaannya begitu sensitif untuk beberapa hal. Seperti jika membahas soal kekasihnya itu.
Lelaki betubuh tegap itu beranjak dari kasurnya. Melangkahkan kaki menuju pantry tangannya bergerak meraih gelas berwarna putih gading dan mulai memasukkan dua sendok gula dan satu lembar teh berbentuk bulatan. Dituangnya air hangat dari dalam termos berwarna yang sama dengan gelas dan mulai mengaduk - aduk dengan sendok hingga butiran - butiran gula larut.
Beranjak menuju sofa berwarna abu - abu yang terletak menghadap tv LED berukuran lebar danendaratkan pantatnya di sana.
Menyesap teh sedikit demi sedikit seraya meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja kaca itu dengan tangan kirinya.
From : Mis Crazy
"Ke apartemenku sekarang juga!"
Lelaki itu mengengkus kuat - kuat saat membaca pesan singkat di layar ponselnya saat ini. Seenaknya saja wanita itu memerintah. Kesal Axen di dalam hati.
Meneguk teh yang ada di tangan kanannya hingga tandas. Bangkit dari posisi duduknya semula dan melangkah menuju wastafel dan meletakkan gelas itu di sana.
Meski kesal, pria itu tetap saja bersiap - siap di kamar dengan setelan pakaian yang nyaman yang biasa ia kenakan jika ke luar rumah.
Setelah siap, ia melangkah ke luar kamar setelah meraih kunci motornya yang tergeletak di atas nakas.
Memasuki lift dan menekan tombol yang menunjukkan lantai dasar. Di dalam lift terdengar bisik - bisik dan krasak - krusuk dari dua orang gadis yang kini sama - sama berdiri di belakangnya. Lelaki itu hanya menyunggingkan senyuman tipis saat terdengar pujian untuknya dari kedua gadis tersebut.
Sayangnya Axen tidak tertarik dengan perempuan belia seperti mereka.
Suara dentingan yang terdengar di telinganya menandakan bahwa pintu lift akan segera terbuka dan ia sudah mencapai lantai dasar dari gedung apartemen yang ia tempati.
Lobi terlihat sepi dan lenggang. Hanya ada receptionis yang berdiri di sana dan satu satpam yang berjaga di pintu masuk.
Lelaki bertubuh tegap itu melangkah hingga ke parkiran motor. Menancapkan kuncinya dan memelin gas hingga sepeda motor berwarna hitam itu membawanya membelah jalanan kota Argon yang cukup padat saat sore menjelang malam hari.
Kendaraan roda dua dan roda empat terlihat berlalu lalang di jalan raya.
Axen mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang.
Sepuluh menit kemudian ia sampai. Menghentikan motornya di parkiran apatemen yang ditempati oleh Mis Crazy.
Melangkah menuju lift dan menekan tombol yang tertera angka sepuluh di sana. Lantai di mana sang Mis Crazy tinggal.
Awas saja jika tak ada yabg begitu penting! Geram lelaki itu saat pintu lift terbuka. Langkahnya berlanjut hingga ia berdiri di depan sebuah pintu apartemen seorang wanita gila yang hampir membuat kepalanya diperban kemarin.
Pintu itu terbuka. Axen melangkah masuk dan mendapati seorang wanita dengan baju tidur berwaran hitam.
Benar - benar wanita gila! Pikirnya. Ini bahkan masih sore. Kenapa juga wanita itu sudah berpakaian seperti itu.
"Kau terlamat satu menit lima belas detik. Perjalan dari apartemenmu ke sini bisa ditempuh dalam waktu delapan menit lewat empat puluh lima detik." Axen mengdesis kuat seraya memutar bola mata dengan malas. Memangnya ia sedang mengikuti ujian? Siapa peduli ia akan sampai dalam berapa menit. Protes lelaki itu dalam hati.
"Ada apa? Aku tahu kau memanggilku bukan hanya untuk mendengar ocehanmu barusan, bukan?" tanya lelaki itu to the point seraya mendaratkan pantatnya di sofa yang sama dengan yang wanita itu duduki saat ini.
Gia menoleh sebentar dan melayangkan tatapan tajam pada lelaki di sampingnya itu. Benda kota yang berada di pangkuannya saat ini ia letakkan di atas meja kaca yang ada di hadapannya.
"Cari tahu latar belakang lelaki bernama Arsen itu lebih banyak. Aku ingin tak ada satupun informasi yang tidak aku ketahui tentangnya." Andai Axen tidak dibayar mahal--untuk melakuakan apa yang diperintahkan wanita di hadapannya ini--sudah dipastikan ia akan menolak mentah - mentah perintah angkuh yang barusan wanita itu sampaikan.
Apa pentingnya mengetahui informasi seorang lelaki miskin seperti Sian. Pikir Axen seraya mengembuskan napas kasar dengan kuat.
"Jangan mendesah seperti itu. Kau dibayar untuk ini, bukan? Jadi, kerjakan saja susuai perintahku seperti biasanya!" Wanita itu bangkit dari posisi duduknya. Melangkahkan kaki mendekati pantry.
"Kau mau secangkir teh hangat?" tanyanya pada Axen seraya meraih gelas dan memasukkan sesendok gula serta teh celup ke dalamnya.
"Tidak usah!" tolak Axen singkat.
Ia bahkan baru saja menghabisan secangkir teh di apartemennya. Lalu wanita ini seenaknya memerintah hingga ia harus berada di sini. Tak bisakan Gia menyampaikan perintahnya barusan lewat via chat saja?
"Kau menyuruhku ke sini dengan cepat hanya untuk mengatakan itu?! tanya Axen seraya menatap wanita itu dengan malas.
"Tentu saja tidak. Kau juga harus pergi ke minimarket untuk membelikan pencukur yang baru untuk Nik." Axen benar - benar tak habis pikir. Bisa - bisa wanita itu mengatakan hal gila barusan.
"Bukankah kau seharusnya mengatakan itu sebelum aku sampai di sini?" Wanita berambut sebahu berwajah agak lonjong itu tertawa.
"Aku sengaja mengatakannya sekarang," balasnya seraya tersenyum puas. Sepertinya ia berhasil membuat lelaki itu kesal bukan main. Rasakan saja! Kemarin lelaki itu membuatnya kesal hingga kemarahannya mencapai ubun - ubun. Hari ini lelaki itu harus merasakan hal yang sama.
Win win!
______
Sian tak habis pikir kenapa ia bisa bertahan--dengan kedua lelaki absurd dan tidak dapat diandalkan seperti Rian dan Reno--selama ini.
"Revisi apaanya? Dari tadi yang kalian benarkan hanya sekadar typo doang!!! Kalian tau gak bagian mana yang harus kita revisi di jurnal ini? geram Sian dengan suara yang meninggi.
"Iya!iya! Sini! Kita baca lagi," sahut Reno seraya meraih bendak kotak yang ada di hadapan Sian saat ini.
Sian. Lelaki itu akan mengomel layaknya emak - emak jika sedang marah seperti saat ini. Reno dan Rian cukup tau dengan itu. Untuk itulah mereka ganya memasang wajah bersalah dan memelas agar Sian berbaik hati dengan tidak menghapus nama mereka di jurnal.
Sian nampak sedang mengetikkan seseuatu di laptop seraya menggeser kursor ke berbagai arah. Entah apa yang sedang dikerjakannya. Kedua sahabatnya itu hanya diam seraya menunggu Sian angkat bicara.
Sejurus kemudian, Sian menyerahkan benda kotak itu kepada kedua sahabatnya.
"Nih! Udah gue warnai bagian yang mana aja yang harus direvisi. Ingat! Revisi bukan hanya memperbaiki kesalahan penulisan, tapi juga soal pengguanaan kata baku dan istilah - istilah serta kesalah penulisan reaksi. Udah gue perbaiki sebagian. Tinggal kalian perbaiki sisanya," jelas Sian dengan penjang seraya meraih tas hitam yang ada di belakangnya.
Reno dan Rian hanya mengangguk kuat seraya mengatakan 'SIAP' dengan kompak.
Sian pamit pulang pada kedua sahabatnya dan berharap revisi jurnal mereka akan segera selesai.
Entah kenapa Sian bisa bersahabat dengan dua cowok dungu itu hampir lebih dari tujuh semester.
Mungkin karena keduanya cukup loyal dan juga tidak banyak protes dengan sikap Sian. Atau, karena keduanya mau menerima Sian apa adanya. Sian yang ketus dan dingin. Sian yang sering mencecar keduanya tanpa segan.
_____