GM-9-Bad Dream?

1110 คำ
Semenjak hari di mana Sian mengerjakan jurnal seorang diri, semenjak itulah Rian dan Reno, dua lelaki yang merupakan sahabat Sian itu memutuskan untuk was - was. Bukan apa, hanya saja mereka cemas kalau - kalau Sian benar - benar tidak mencantumkan nama mereka berdua sebagai penulis jurnal. "Si Sian ngapain ya, dari tadi ngos - ngosan gitu?!" Reno melirik sahabatnya yang sedang tertidur di kursi lipat berwarna hitam putih itu sekilas. "Mungkin dia mimpi dikejar setan kali," jawabnya asal lalu kembali menoleh pada layar berbentuk kotak berwarna abu - abu di hadapannya saat ini. Pekan kemarin, mereka mendapat kabar duka. Bahwa jurnal kelompok mereka terpaksa dikembalikan karena harus melalui revisi pada beberapa bagian. Siapa lagi, kalau bukan Reno dan Rian, tersangka yang harus melakukan revisi yang entah di bagian mana saja. Pasalnya mereka benar - benar hanya menebeng penelitian dan juga menebeng nama saja di jurnal. Bagaimana tidak, sejak penelitian hingga masuk ke penulisan jurnal, yang mereka lakukan hanya bersantai dan ngangguk - ngangguk serta geleng - geleng saja. Jika mereka setuju dengan Sian dan Nisa, maka mereka akan mengangguk kompak pun sebaliknya. Jika mereka tidak setuju, mereka akan menggeleng - gelengkan kepala. Meski tanpa alasan yang logis kenapa mereka setuju atau kenapa mereka tidak setuju. "Bangunin gih! Gue gak ngerti mau revisi yang mana lagi ini!" titah Reno pada sahabatnya yang kini sibuk menatap cermin dan menyisir rambutnya yang sudah mulai memanjang dengan jari. Meletakkan cermin berukuran sedang--yang ia temukan di kolong salah satu kursi di kelas--dengan asal. Menoleh ke arah Sian yang tarikan napasnya masih saja tak beraturan. "Ian! Bangun! Ini kita berdua mendadak bego, gak ngerti mau revisi yang mana lagi." Tangannya menoel lengan Sian beberapa kali. Akan tetapi, sahabatnya itu tetap tak bereaksi sama sekali. "Ian! Et dah nih anak! Bangun gak lo?" Reno menepuk pundak Rian cukup kuat karena gemas dengan cara sahabatnya itu membangunkan Sian. "Goyangin badanya yang kuat dong! Lo bangunin Sian apa lagi bangunin emak sih? Takut banget Sian bakal bangun dan murka." Rian mengelus pundaknya dengan cepat seraya menatap tajam ke arah sahabatnya yang kejam itu. "Iya!iya! Protes aja lo! Ini gue bangunin nih!" Rian berujar seraya kembali mengoyangkan lengan Sian dengan kuat. Lagi -lagi sahabatnya tak terusik sama sekali. Membuat Rian terpaksa harus melakukan opsi terakhir, yaitu menempelkan kaus kakinya tepat di depan indera penciuman Sian. Kaki jenjangnya ia angkat, lalu menarik kaus kaki--berwarna abu - abu yang hanya sebatas mata kaki--dan mengulungnya membentuk bongkahan. Napas Sian masih terdengar begitu menyedihkan. Bahkan keringat dingin kini sudah bercucuran dari kening dan setiap inci wajahnya. Kaus kaki Reno melesat dengan cepat dan berhenti tepat di depan indera penciuman Sian. Lelaki itu mengendus - ngendus dan sejurus kemudian, Rian tersenyum bahagia karena rencananya yang terakhir berhasil. Sian berhasil terjaga setelah mencium aroma membius yang entah berasal dari mana pikir lelaki itu. Baunya benar - benar tidak sedap lebih tepatnya, baunya benar - benar buruk sampai ia ingin muntah saat ini juga. "Alhamdulillah akhirnya lo bangun juga sob! Kita pikir lo bakal gak bangun - bangun karena serangan jantung," Mendengar itu, Sian menatap kedua sahabatnya itu dengan tajam dan membunuh. Pandangannya beralih pada benda laknat yang telah menodai indera penciumannya tadi. Apalagi kalau bukan kaus kaki laknat Rian yan entah sudah berapa pekan tidak dicuci oleh sahabatnya itu. Benda berbentuk bongkahan itu diambilnya secara paksa dari tangan Reno. Kemudian membekapkannya di indera penciuman sahabat kurang ajarnya itu dengan kuat. "Wueeeeh!!! Cuihhh! Gila! Bauk banget, asem lo Ian!" protes Rian seraya mengais - ngais lidahnya dengan jari tangan dan meludahkan sisa - sisa bau laknat dari kaus kakinya sendiri. "Lo udah gue bangunin, bukannya bilang makasih. Malah mendzolimi gue," imbuh Rian dengan wajah melankolisnya yang terlihat makin menyebalkan di mata Sian. Lelaki itu bercih berkali - kali berharap itu dapat menyingkirkan bekas - bekas bau dan bakteri yang baru saja menempeli wajah, terutama indera penciuman dan mulutnya. "Lo mau bangunin gue, atau mau nemgebunuh gue sih?! Lo gak ingat betapa busuk ya bau kaus kaki laknat lo itu, hah?!" geram Sian seraya mengembuskan napas kasar dengan kuat. Matanya mengerling menatap sekitar. Mereka sedang duduj di dalam kelas di mana tadinya dipakai oleh adik tingkat jurusannya. Tangannya bergerak, menyeka keringat yang masih tertempel di dahi dan sekitar wajahnya. Rasanya tadi benar - benar nyata. Sian duduk di bangku yang ada di belakang fakultas, lalu ia mulai mengetikkan beberapa kalimat di draft naskah ceritanya yang sedang ia kerjakan. Kemudian, ia mendengar suara seorang lelaki, namun ternayata tak ada seorang pun di sana kecuali dia seorang. "Woy!!! Malah melamun... Lo tafi mimpi apaan sih, Ma?" Sian terperanjat kaget saat Reno menepuk bahunya secara tiba - tiba. Matanya mendelik menatap sahabaynya itu dengan tajam. "Ma! Ma! Lo pikir gue Mama lo?! Panggil nama gue yang bener!," protes Sian dengan sengit. Bisa - bisanya sahabatnya itu memanggilnya dengan panggilan yang membuat orang mengira yang tidak - tidak. Mana ada lelaki yang punya nama panggilan atau nama julukan dengan sebuat 'Ma'? Reno terkikik geli seraya menatap Rian di sampingnya. Tapi benar kata Rian, entah apa yang barusan Sian mimpikan. Namun rasanya Sian terlihat begitu takut dan juga tampak linglung. "Iya! Iya! Aa' Si-an... tadi lo mimpi apaan?" tanya Reno dengan penuh penekanan di setiap kata - katanya barusan. "Entahalah, gue juga bingung kenapa tiba - tiba mimpi kayak tadi. Mana mimpinya kayak bener - bener nyata lagi! Astaghfirullah," Lalu, kedua lelaki yang duduk bersisian di samping Sian pun, kini ikut beristighfar ria bersama. _______ Pekatnya malam seolah tak menjadikan matanya tertutup dan menemui alam mimpi. Tangannys masih saja sibuk bergerak di atas keyboard dengan lincah. Kata - demi kata, kalimat demi kalimat hingga membentuk sebuah paragraf sudah berhasil ia ketikkan. Memang menuliskan sesuatu yang sedang kau alami terasa mengalir dan dapat tertuang dengan mudah di dalan sebuah tulisan. Bunyi jam yang menunjukkan pukul dua belas dini hari sudah menggema di apartemennya. Matanya menatap ke arah sosok yang kini sedang berbaring membelakanginya. Sepertinya kekasihnya itu sedang tidur nyenyak. Sebaiknya ia melanjutkan tulisannya keesokan hari saja. Rasanya, kata kekasih kurang tepat untuk seseorang yang tidak mencintainya. Namun, yang penting Gia mencintai pria itu. Sangat. Cinta benar - benar bisa merubah seseorang dan membuat hal yang di luar nalar bisa saja terjadi. Setelah menutup layar laptop berwarna putih itu, tangannya bergerak meletakkan benda kotak itu di ats nakas. Ditariknya selimut yang semula hanya sepinggang, kemudian menaikkan selimut hingga menutupi tububnya dan lelaki di sampingnya sebatas leher saja. Senyuman merekah di wajah perempuan itu sebelum ia memejamkan matanya. Bunyi alat medis yang menopang hidup pria di sampingnya itu, seolah tidak mengusiknya sama sekali. Seakan - akan suara - suara itu hanya sebuah suara pengisi kehiningan yang memenuhi ruangan ditemani dengan suara detak jarum jam. _______
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม