Langit pun kadang begitu gemar menipu. Di pagi hari ia terlihat begitu cerah dengan warna biru dihiasi awan putih asimetris yang indah. Namun siapa sangka jika siangnya ia tiba - tiba saja berubah warna. Kegelapan menggantung dengan begitu beratnya. Kegelapan yang menyimpan hidrogen oksida siap tumpah membasahi tanah sang bumi yang gersang. Segersang hati perempuan yang kini menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong.
Hujan seolah menjadi alarm kesedihan baginya. Melemparkannya kembali pada hari di mana sebagian dari dirinya pergi tanpa jejak.
Menyeka cairan bening yang berjatuhan dari sudut mata dengan pelan. Ia tutup jendela kaca itu dengan keras dan berlalu melangkah ke arah tempat tidur dan menghempaskan dirinya di sana.
Pria jahat! Umpatnya di dalam hati. Tega - teganya, dia meninggalkan Diana tanpa pesan apapun dan tanda apapun.
Apa yang sedang pria itu lakukan saat ini. Apa ia sama terlukanya sepertinya? Atau sebaliknya?
Apa pria itu pernah memikirkannya barang sedetik saja?
Ini sudah masuk tahun kedua setelah kepergian pria itu. Namun bekas luka yang ditorehkannya masih saja menganga dan tak kunjung kering. Bagaimana tidak, Diana atau perempuan yang kerap disapa 'Di' itu mengalami kejadian yang menyakitkan di hari yang seharusnya ia merasakan kebahagian yang tak ternilai di dalam hidupnya.
Bertunangan dengan pria yang dicintainya dan membayangkan hari bahagia mereka. Duduk di atas pelaminan, menjadi raja dan ratu sehari. Diselimuti doa - doa keberkahan dan kebahagiaan serta hadiah - hadiah dari orang terkasih. Namun siapa sangka, dua hari sebelum hari bersejarah itu berlangsung, tiba - tiba saja pria dicintainya hilang tanpa jejak. Tak dapat dihubungi sama sekali dengan cara apapun. Tak ada bekas yang ditinggalkan atau sekadar secarik kerta bertuliskan kata pamit pun tidak.
"Aku gak tau harus bujuk si adek bungsu dengan cara apalagi," keluh perempuan yang kini melenggang memasuki kamarnya.
"Kamu abis nangis?" tanyanya saat melihat mata dan hidung sang adik yang memerah. Jejak - jejak air mata pun masih terlihat jelas di pipinya.
Hatinya ikut hambar saat melihat hujan di luar turun begitu deras. Percikan - percikan kecil dan besar seolah bergantian menampar kaca jendela dengan keras. Jejak - jejaknya terlihat mengalir secara vertikal di di sana.
"Ar mungkin akan lebih sedih kalau dia lihat kamu kayak gini." Adiknya beringsut di balik selimut dan menenggelamkan kepalanya lebih dalam. Sedetik kemudian, tubuhnya bergetar. Isakan terdengar oleh Mono.
Diraihnya tubuh sang adik dan membawanya ke dalam pelukan hangat yang bisa ia sediakan. Mengusap punggungnya dengan lembut seraya melanjutkan kalimatnya.
"Kakak tahu, gak ada yang baik - baik saja setelah perpisahan. Entah itu karena takdir atau karena pilihan. Setiap dari kita pasti akan merasa terluka."
Diana menarik tangannya dan mencoba menegakkan tubuhnya agar dapat duduk dengan baik. Menarik napas kuat dan mengembuskannya dengan pelan.
"Besok, biar Di yang coba bujuk Tri buat pulang. Kak Mon jangan khawatir, ya." Mono tersenyum mendengar penuturan adiknya barusan. Ia mengangguk seraya bangkit dari kasur.
"Kalau butuh apa - apa, chatt kakak aja." Di mengertnyit heran.
"Kakak mau keluar sebentar. Kali aja kamu mau nitip cemilan atau apa," jelas Mono lebih rinci.
Diana mengangguk seraya bangkit dari kasur mengantarkan kakaknya keluar kamar.
"Jangan pulang kemaleman. Hati - hati di jalan," pesan Di seraya melambaikan tangan pada kakaknya yang melangkah menjauhi kamarnya.
Hidup sebagai anak dari seorang ayah yang gila kerja dan ibu yang gila belanja dan sosialita sepertinya membuat mereka menyadari bahwa mereka harus saling menguatkan satu sama lain.
Baik Mono, Di maupun Tri mereka sepertinya faqir kasih sayang semenjak menatap dunia. Begitulah hidup. Ada yang lahir dari keluarga yang kekurangan secara finansial, namun tak sedikitpun kurang kasih sayang. Ada pula yang sebaliknya. Seperti mereka. Bergelimang harta namun miskin kasih sayang dan kebersamaan dengan sosok orang tua.
Siapa yang paling bahagia di antara keduanya?
Tergantung siapa yang paling banyak rasa syukurnya. Kebahagiaan tidak terbatas oleh banyaknya kasih sayang ataupun harta yang bergelimang.
Sebab kebahagiaan yang hakiki diukur dari seberapa banyak kau bersyukur pada yang Maha Pemberi Kehidupan.
______
Semenjak pertemuannya dengan editor bernama Axen itu, Sian tak pernah lagi mendapat kabar apapun.
Sangat wajar jika lelaki itu berpikir kalau sepertinya dia hanya terlalu berharap pada si editor misterius itu.
Ini bahkan sudah sepekan lebih setelah pertemuannya malam itu.
Lelaki itu mulai mengetikkan beberapa kalimat di keyboard laptopnya yang kini menyala.
Angin sepoy - sepoy terasa membelai kulit wajahnya dengan pelan. Saat ini ia berada di bawah sebuah pohon beringin yang ada di belakang salah satu fakultas di kampusnya.
Lima belasenit yang lalu, ia baru saja menghadap kepala bagian laboratorium untuk meminta syarat yang harus dipenuhinya untuk bisa melakukan riset.
Sekarang dia berada di sini untuk mulai melanjutkan naskah ceritanya yang bahkan belum mencapai tiga puluh persen dari keseluruh.
Masa bodo dengan tawaran dari editor misterius itu. Sebab bagi Sian, saat ia memulai suau cerita dan menuliskannya. Maka ia harus menyelesaikan cerita itu hingga akhir. Seolah itu merupakan suatu tanggung jawabnya sebagai seorang penulis.
"Ku lihat sejak kemarin kau hanya mengetikkan kalimat itu - itu saja," Sian terperanjat kaget saat mendengar suara yang entah dari mana asalnya.
Layar laptopnya bahkan tertutup dengan kuat saat ia tiba - tiba bangkit duduknya karena kaget.
Pandangannya menyapu ke seluruh sudut halaman belakang fakultas kampus.
"Ku pikir kau itu anak indih*me. Ternyata kau hanya bisa mendengar namun tak bisa melihatku. Sayang sekali." Suara itu lagi - lagi terdengar di telinga Sian. Begitu jelas. Bahkan decakan mengejek di akhir kalimatnya begitu terasa menyebalkan.
Tak ingin berlama - lama di bawah pohon besar itu. Tangannya meraih tas hitam yang tergeletak di kursi panjang dan memasukkan benda kotak yang bahkan tak sempat Sian tekan shuttdown sebelumnya.
Menutup tasnya dan menyampirkan di bahu kanan. Lelaki itu berjalan tergesa - gesa seraya menoleh sesekali ke belakang.
Apa - apaan yang barusan terjadi. Benar - benar di luar dugaan Sian. Seumur - umur dia tak pernah merasakan apalagi mendengar atau melihat makhluk - makhluk dari alam lain.
Sepertinya dia tadi terlalu lama melamun memikiran naskah ceriyanya. Makanya suara - suara aneh itu seolah mengejeknya. Anggap saja seperti itu.
Langkahnya berhenti di depan sebuah gedung fakultas.
Tidak! tidak!
Ini lebih terlihat seperti tampilan dari belakang sebuah gedung.
Ia kembali menyapukan pandangannya ke sekeliling dan saat itu juga Sian terperanjat kaget bukan main. Bagaimana tidak, tak jauh dari tempat ia berpijak saat ini berdiri sebuah pohon beringin yang rindang dan besar.
Jangan bilang kalau dari tadi Sian hanya mengitari halaman belakang fakultas itu, tanpa bisa keluar dari sana.
Lelaki itu menggeleng. Ia yakin sekali bahwa barusan ia melangkahkan kaki menuju parkiran kampus.
Baiklah! Ia memutuskan untuk berjalan kembali ke arah di mana ia akan keluar dari sana dan menuju parkiran kampus.
Setelah hampir setengah jam. Sian menyerah. Sebab ini sudah kelima kalinya ia berjalan meninggalkan pohon bringin itu, namun hasilnya nihil. Lagi - lagi langkahnya berakhir pada jarak yang tak jauh dari pohon tua yang jika dilihat lebih lama terlihat begitu menyeramkan.
Dada lelaki itu sudah bergemuruh. Detak jantung tak beraturannya seolah alunan musik yang menghiasi kesunyian.
Keringat dingin akibat terlalu banyak berjalan dan berlari itu mulai menetes dari setiap inci wajah tampan itu.
"Habis olahraga sore, ya?"
Arsen terkikik geli saat melihat wajah pucat lelaki yang baru saja ia temui, dan keringat dingin yang menetes dari wajah lelaki yang ada di hadapannya ini membuatnya merasa ada titik terang.
Ya. Akhirnya ada juga seseorang yang dapat mendengar suaranya. Setelah sekian lama ia hanya bermonolog tanpa bisa berkomunikasi dengan siapapun, kecuali makhluk yang satu spesies dengannya.
Kalau gak setan, yah jin.
_______