“Jangan terlalu terikat secara emosi pada siapapun kecuali mereka juga merasakan hal yang sama terhadapmu. Karena harapan semu yang kau bangun sendiri dapat menghancurkanmu secara mental.” ~Juna a.k.a Una
■♡■
20 Juli 2016
05:52 WIB
Awan mendung berarak pagi itu. Menghalangi sinar sang surya yang hendak naik dari ufuk. Jalanan sekitar lingkungan desa itu masih sangat lengang di hari Minggu. Kabut tebal menyelubungi bangunan tua rumah kos Bu Umi serta jalan setapak yang masih penuh dengan genangan air. Udara dingin menusuk pori.
Bulir-bulir embun berlomba menyapa tanah yang masih basah akibat hujan lebat semalam suntuk. Tetes bulir embun menyebar di atas permukaan kaca jendela. Angin dari luar berhembus cukup kencang. Mengurungkan niat sang pemilik kos untuk membuka jendela dapur rumah kosnya pagi itu.
“Kamu mimpi buruk lagi to, Nduk, semalam?” tanya Bu Umi membuyarkan lamunan Arum yang tengah membantunya menyiapkan sarapan.
“Mm,” angguknya.
“Pantas aja kamu ketakutan banget dan teriak kencang sekali.”
“Gara-gara Mbok, sih. Apa sih yang Mbok lakukan di tengah malam sambil menerobos paksa seperti itu? Nakut-nakutin aja,” protesnya. Arum menampung lebih banyak udara dalam pipinya. Mukanya masam. Memberengut.
“Iyo, iyo. Maafkan Mbok,” gelak Bu Umi. “Karena Mbok tahu kamu itu takut gelap, jadi Mbok cepat-cepat ke kamarmu untuk naruh lilin,” terangnya kemudian.
Arum diam saja. Tak berniat melontarkan tanggapan lebih lanjut. Ia malas membahas kejadian semalam.
“Nduk, Sekar, mimpi itu kadang ndak cuma sekadar bunga tidur, lho. Bisa jadi itu pertanda sesuatu yang akan segera terjadi,” ujar Bu Umi.
“Aku rasa nggak gitu, Mbok. Karena mimpi semalam persis seperti apa yang sudah aku alami di masa lalu. Masa kecilku lebih tepatnya. Entah kenapa, tapi gambaran-gambaran masa kecilku akhir-akhir ini sering muncul dalam mimpi.”
“Ngomong-ngomong, siapa anak laki-laki yang ada di mimpimu iku24?” Bu Umi menciduk sedikit kuah sayur dalam panci. Menyesapnya sedikit, kemudian mengambil kotak garam di dalam almari. Sayurnya sudah menggelegak dan hampir matang. Aromanya begitu mengundang selera. Sedap.
“Dia teman masa kecilku. Namanya Una,” jawab Arum. Ia membantu memotong-motong daun bawang menjadi potongan kecil-kecil menggunakan gunting dapur.
“Kalian berdua dekat?” tanya Bu Umi. Uap dari masakannya mulai mengepul.
“Iya. Dulu dia tinggal di rumah sebelah, yang sekarang ditinggali oleh Rama. Tapi entahlah sekarang dia ada di mana.” Pandangan Arum menerawang jauh ke luar jendela yang berembun.
“Gitu to ternyata. Jadi, kamu sama anak laki-laki itu dulu tetangga dekat, ya?”
“Ya begitulah, Mbok.”
“Semenjak rumah ini Mbok beli dari keluarga almarhum ayahmu, langsung banyak pemugaran di sana-sini. Termasuk kamarmu yang sekarang ini kamu tempati lagi. Dan sejauh yang Mbok tahu, rumah yang ditinggali Mas Rama yang di sebelah itu dari dulu sampai sekarang tetap ndak berubah. Bangunannya tetap sama. Ya tetap seperti itu,” terang Bu Umi dengan logat medhok khas Jawa Timuran.
Bu Umi ikut-ikutan memanggil Juna dengan nama depannya, yaitu Rama. Seperti ketika Bu Umi telah terbiasa memanggil Arum dengan nama tengahnya, Sekar, sejak dulu.
Orang Kediri memiliki nama lengkap yang cukup panjang, bisa ada tiga hingga lima kata untuk satu nama lengkap. Sehingga muncullah satu kebiasaan di mana satu orang bisa saja memiliki nama panggilan yang berbeda tergantung dari siapa yang memanggil.
Orangtua mereka akan menciptakan sebuah panggilan sayang untuk anak-anaknya —walau terkadang panggilan itu berbeda jauh dari nama lengkap si anak— supaya lebih mudah dipanggil saja, juga supaya terkesan spesial. Seperti Arum yang punya nama kesayangan dari orangtuanya, yaitu Kaka.
Ironisnya, orang awam tidak begitu mau ambil pusing soal nama panggilan. Kebanyakan dari mereka memanggil nama teman sebayanya dengan nama depan saja supaya lebih mudah, karena mereka tidak ingin repot-repot mengingat nama panggilan orang tersebut yang notabene tidak mereka kenal secara personal.
Arum hanya diam mendengarkan Bu Umi bercerita. Sesekali ia memeriksa sayur yang hampir matang.
“Apa mungkin anak laki-laki itu saudaranya Rama?” tanya Bu Umi disela-sela kesibukannya memeriksa bumbu penyedap lain yang ada di almari.
“Entahlah. Aku nggak yakin soal itu, Mbok.”
Berbicara tentang Juna, Arum teringat dengan kunci itu. Kunci yang sama dengan miliknya yang ia temukan dua hari lalu di pelataran rumah kos. Jika yang dikatakan oleh Bu Umi benar, maka mungkinkah kunci itu milik saudara atau kerabat Juna? Tetapi mengapa Juna membawa kunci milik saudaranya?
“Pokoke sampeyan kudu waspada, Nduk. Siap-siap menghadapi kemungkinan terburuk yang bakal terjadi. Mulai sekarang sampeyan juga kudu peka menanggapi sesuatu.” Bu Umi mematikan kompor. Sayurnya sudah matang. Siap disantap.
“Baik, Mbok. Aku mengerti.”
Pandangan Bu Umi beralih pada gunting dapur yang ada di tangan Arum.
“Ya ampun, apa kamu masih takut sama pisau? Sini biar Mbok saja yang potong. Kamu urus piring-piring yang di sana itu.” Bu Umi mengambil alih gunting itu.
Di tengah kesibukan merapikan piring, suara dering ponsel membuat Arum terkesiap. Ia merogoh saku kanan celana jeans-nya yang tertutup celemek. Membaca sekilas tulisan pada layar, sebelum kemudian membukanya.
Dua pesan diterima.
Keduanya dari nomor asing. Pesan singkat yang pertama berisi:
Hai, gimana keadaanmu? Apa mimisanmu sudah baikan?
Pesan yang pertama dikirim pada pukul 06:12 WIB. Artinya sekitar dua puluh menit yang lalu. Arum mengecek pesan kedua. Nomor pengirimnya masih sama. Pesannya berisi:
Kenapa nggak dibalas? Aku menuju rumah kosmu 20 menit lagi. Pastikan kamu bersiap-siap. Bawa juga helm-mu.
[ Tirta ]
Arum sudah bisa menebak siapa pengirim pesan itu. Ia melirik jam di ponselnya. Pukul 06:35. Masih ada waktu sekitar lima belas menit lagi sebelum si pengirim pesan itu datang kemari, pikirnya. Arum telah selesai menata beberapa piring di rak. Tersisa dua piring lagi yang harus ia tata, dan akhirnya selesai sudah.
“Mbok, aku ada janji dengan seseorang. Aku siap-siap dulu di atas. Sampai ketemu nanti, Mbok Um.” Arum terburu-buru berlari menuju tangga. Setelah sebelumnya menggantungkan celemeknya di samping rak piring.
“Lho, kamu mau ke mana? Ndak sarapan dulu, to?” tanya Bu Umi setengah berteriak karena Arum sudah mencapai setengah tangga.
“Makasih, Mbok. Tapi nanti saja,” teriaknya dari atas.
Footnote:
24 itu
■♡■
20 Juli 2016
05:39 WIB
Juna tengah berada dalam perjalanan pulang dari Surabaya. Ia sudah sampai di kota Kediri. Corolla 1991 hitam berplat L yang ia naiki saat ini tengah menuju rumah lamanya. Ia termenung seorang diri di jok belakang.
Emi masih harus berada di rumah sakit di Surabaya untuk menunggui Pak Rudi. Pak Surata, sopir pribadi Juna, fokus pada lalu lintas di depan. Jalanan masih lengang karena masih terlalu pagi. Sehingga tak lama lagi ia bisa segera sampai di rumah.
Ponselnya berdering. Mengalunkan irama piano klasik dengan tempo cepat dan ringan. Juna merogoh saku di balik jasnya. Tertera satu nama yang tidak asing.
“Halo?” Dari suaranya terlihat jelas kalau Juna sangat lelah.
Samar-samar terdengar suara seorang gadis dari seberang telepon.
“Ya, aku hampir sampai di rumah. Mungkin sekitar 30 menit lagi,” kata Juna.
Gadis itu menyuarakan kelegaan.
“Gimana perkembangan Ayah?” tanya Juna kemudian. Kekhawatiran tersirat di sana.
Jawaban Emi dari seberang telepon tidak lantas membuat Juna merasa tenang. Raut wajahnya semakin menyiratkan kelelahan yang sangat.
“Baiklah. Iya, aku ngerti. Nggak usah khawatirkan aku. Tolong jaga Ayah selagi aku di Kediri, ya. Lusa aku balik lagi ke Surabaya.”
“Mm. Jaga diri, ya. Baik-baik di sana.”
Klik!
Juna melemparkan punggungnya di sandaran jok. Berusaha membuat dirinya tenang dengan menarik napas lebih panjang, kemudian membuangnya perlahan. Tekanan pekerjaan terus menghantuinya beberapa hari terakhir. Masalah menumpuk dalam pikirannya, menunggu solusi.
Ia pandangi lalu lintas di luar. Mencoba menghibur dirinya sendiri. Matanya menelusuri keadaan lalu lintas kota Kediri yang masih belum terlalu sibuk pagi itu. Juna merenung dalam diam.
Keadaan ayahnya yang saat ini terbaring kritis di rumah sakit membuat pikirannya kosong selama beberapa hari. Ditambah lagi masalah lain yang berurutan muncul. Satu masalah belum selesai, menumpuk masalah lain. Kepalanya serasa mau pecah saja. Juna memijat pelipisnya. Matanya terpejam. Mungkin tidur sebentar bisa membantunya pulih.
Juna begitu merindukan almarhum ibunya. Hanya ibunya yang bisa memberi solusi terbaik di saat-saat genting. Ponselnya kembali berdering. Terpampang satu nama yang sangat dikenalinya. Wajahnya mendadak cerah semringah.
“Halo, Mbak Rere?” jawabnya antusias.
“Hai, Arjun. Apa kabar nih?” Suara seorang wanita di seberang telepon tak kalah antusias.
“Agak kurang baik, Mbak. Mbak Rere apa kabar? Keluarga sehat?”
“Baik. Semuanya baik-baik saja.”
Juna menyuarakan kelegaan.
“Kenapa nih kok kurang baik kabarnya?”
Juna hanya diam sebagai jawaban. Entah harus dari mana ia menjelaskan masalahnya. Mungkin lebih baik ia simpan sendiri saja. Lagipula itu semua privasinya.
“Aku dengar dari Dokter Leonardi, katanya ayahmu dirawat di RSUD Surabaya. Apa benar?” tanya Restia kemudian setelah beberapa detik tidak terdengar jawaban dari Juna.
“Iya, sekarang ayah sedang dirawat di sana. Dan kebetulan Dokter Leo yang menangani perawatan pribadi ayah. Jadi, Mbak Rere kenal dengan Dokter Leo?”
“Tentu saja. Kami dulu teman satu kampus. Dia seniorku.”
“Jadi begitu.” Juna manggut-manggut.
“Terus, gimana keadaan ayahmu sekarang?”
Bisa Juna rasakan kalau Restia mencemaskannya. “Beliau terbaring koma. Dan masih belum ada perkembangan yang signifikan beberapa hari ini,” terangnya.
“Begitu rupanya. Jadi kamu sekarang ada di Surabaya?”
“Nggak. Aku udah pulang ke Kediri. Ini lagi di jalan.”
“Wah, kebetulan kalau gitu. Bisa kita ketemu sebentar? Sudah lama aku nggak ngobrol sama kamu. Apa kamu sibuk setelah ini?”
“Oke. Aku luang kok hari ini. Ketemu di mana kita?”
“Nggak apa-apa, kan, kalau di sini?” ulang Restia setelah mereka berdua berada di sebuah restoran kecil di salah satu sudut kota. Pawon Jawa.
“Mm,” angguk Juna. “Nggak apa-apa kok, Mbak.”
“Ini restoran milik Yudhis. Meskipun masih calon, sih,” Restia tergelak.
“Jadi, si berandal itu sekarang ada di sini?” Suara Juna tiba-tiba meninggi. Ia tak percaya, sama sekali tak menduga akan bertemu lagi dengan musuh bebuyutannya di restoran ini. Dunia memang sesempit daun kelor. Tak heran jika ia tiba-tiba merasa jengkel setelah mendengar nama itu disebut-sebut.
Restia sudah merasa ada yang tidak beres begitu menyadari raut muka Juna yang berubah masam. Nada bicaranya pun meninggi.
“Apa kalian berdua masih musuhan?” terka Restia disusul gelak tawa.
Juna bungkam. Dari raut wajahnya jelas sekali terlihat kalau dirinya tengah menahan luapan emosi. Ia memalingkan wajahnya ke luar jendela seraya melipat kedua tangannya di depan d a d a. Menolak berkomentar.
“Sudahlah, berdamai itu bisa bikin kalian awet muda, lho,” bujuk Restia disela-sela gelak tawa.
“Jangan mimpi deh, Mbak, kalau kita bakal baikan,” sahut Yudhis yang tiba-tiba muncul membawa nampan berisi dua cangkir kopi panas. Raut wajahnya menyiratkan kejengkelan yang sama dengan Juna. Sinis dan masam.
“Wah, wah, wah, coba lihat siapa yang datang. Si pelayan kebanggaan kita,” sindir Juna melihat penampilan Yudhis dengan seragam khas waiter lengkap dengan celemek hitam menutupi lutut. Tergaris senyum sinis di sudut bibirnya.
Yudhis meletakkan nampan dengan kasar. Menimbulkan bunyi benturan keras yang kurang menyenangkan. Ia kesal disebut sebagai pelayan. Apalagi ejekan itu keluar dari mulut musuh bebuyutannya.
“Tutup mulutmu, Berengsek!” Yudhis membisikkan umpatan. Sorot matanya menyiratkan kemarahan yang siap meledak.
Juna bergeming. Lebih baik jika ia mengabaikan Yudhis. Percuma saja menanggapi amarahnya.
“Bisa tolong hentikan sebentar? Aku lagi nggak mood nonton pertandingan tinju sekarang ini,” keluh Restia. Ia meminta Yudhis kembali ke dapur dengan isyarat tangan.
“Lain kali Mbak Rere jangan ajak lagi dia ke sini. Muka berengseknya itu sama sekali nggak cocok ada di restoran berkelas seperti ini,” tandasnya. Yudhis masih saja merasa kesal. Ia menekankan intonasinya pada kata ‘kelas’ dan ‘berengsek’.
“Aku juga nggak sudi makan di restoran yang dilayani sama pelayan berengsek seperti dia, Mbak. Ditawari gratis pun sudah pasti aku tolak. Mentah-mentah!” Juna tak mau kalah.
Sudah lama sekali ia tak lagi terlibat perdebatan yang menyenangkan dengan Yudhis. Dalam hati rindu juga rasanya. Entah mengapa setelah beradu argumen dengan Yudhis, beban di kepalanya bisa sedikit berkurang. Sakit kepalanya mendadak reda. Tak ada ruginya bertengkar mulut barang sejenak demi membuang toksik-toksik dalam tubuh. Salah satu alternatif olahraga rohani selain yoga.
“Dengar, ya! Asal kamu tahu aja. Aku direktur sekaligus Kepala Chef di sini!” Hilang sudah kesabaran Yudhis. Ia mencengkeram kerah Juna. Siap melayangkan tinju pertamanya pagi itu.
■♡■