“Ikut aku!”
Mereka berdua berlari bersama, saling bergandeng tangan. Senyum tulus mengembang di wajah masing-masing. Anak itu mengajak Kaka ke suatu tempat untuk melihat sesuatu yang belum pernah Kaka lihat sebelumnya.
“Wah, cantik banget!” komentar Kaka pada keindahan mahakarya Tuhan di depan mata.
Bola matanya berkilau diterpa semburat sinar warna jingga kemerahan. Anak laki-laki yang berdiri di sampingnya tersenyum. Kagum melihatnya. Ia sangat lega akhirnya anak manis ini bisa kembali tersenyum. Hanya dengan melihatnya seperti itu saja sudah membuat hatinya berbunga.
“Siapa namamu?” tanya si penyanyi sumbang.
Kaka menatapnya. Wajah lugu itu masih terlihat agak sembab.
“Kaka,” jawabnya. “Kamu siapa?”
“Teman-teman biasa memanggilku Una.” Lagi-lagi Una tersenyum. Senyumnya adalah tipe yang menular. Serupa sakit flu dan batuk.
“Una? Namamu bagus. Aku suka,” kata Kaka. Ia terjangkit virus bahagia yang ditularkan Una. Kaka tersenyum. Manis sekali. Murni bagai air dari pegunungan; tanpa pengawet dan pemanis buatan. Bening, jernih, menyejukkan.
“Ah, senangnya. Kamu punya teman-teman yang memanggilmu Una. Sedangkan aku? Aku nggak punya teman. Semua anak-anak seumuranku di lingkungan ini memanggilku bocah gila.” Kaka sedih. Senyumnya dua detik yang lalu lenyap terbawa angin. Wajah sembabnya kembali mendominasi.
“Kalau begitu, mulai hari ini kamu punya satu teman.”
Una menatap lurus ke arah cahaya senja di ufuk barat. Semburat jingga kemerahan yang perlahan meredup, bersiap digantikan dengan langit pekat. Ia berdiri. Kedua telapak tangannya ditangkupkan pada sisi wajah.
“Kaka! Mau, kan, jadi temanku?” teriak Una dengan lantang kepada langit senja nun jauh di sana.
Kaka terperangah memandang Una. Matanya terbelalak. Ia tidak menyangka akan ada orang yang bertanya seperti itu padanya. Dan bahkan sudi berteman dengan dirinya. Mata Kaka mulai berkaca-kaca. Sebelum setetes air mata mendesak keluar dan merusak suasana haru, ia mengangguk pasti saat Una kembali menatapnya.
“Mau!” Tak butuh banyak kata untuk Kaka berkata iya.
Matahari telah pulang ke peraduan. Bersembunyi di balik tubuh bumi, menanti waktu fajar tiba esok hari. Una tersenyum. Kemudian buru-buru menatap langit senja yang kini berangsur gelap kemerahan. Ia tidak ingin Kaka melihat wajahnya yang sekarang memerah karena terlalu senang.
“Hm?” Kaka mengerjap menatap Una.
“Kenapa?” Una kembali menoleh.
“Kenapa wajahmu jadi merah?” singgung Kaka tanpa sengaja. Matanya mengerjap lucu. Una tertangkap basah. Ia ketahuan.
Una berdeham mencoba menutupi rasa gugup. Agaknya salah tingkah dengan pertanyaan Kaka. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa segala hal tentang Kaka selalu berhasil membuatnya bersemu merah. Semerah pantulan langit senja yang sedang mereka lihat saat ini.
Ia menghindari tatapan mata Kaka yang sekarang sedang meneliti wajahnya dari jarak dekat. Una terpaksa bergeser. Menjauhkan wajahnya dari jangkauan mata Kaka. Karena wajahnya akan bertambah merah jika ia terus menatap Kaka.
“Lih-lihat itu di sana!” Una membersihkan tenggorokkannya. “Bukan wajahku yang merah, tapi wajah langit di sebelah sana itu yang merah,” elaknya. Una menunjuk-nunjuk langit senja yang merah, semerah wajahnya saat ini.
“Iya, benar. Mataharinya cantik, ya,” kata Kaka mengikuti arah pandang Una.
“Jelek,” tukas Una. Pandangannya masih lurus menatap langit.
“Kenapa?” protes Kaka.
“Karena ada yang lebih cantik daripada matahari terbenam,” kata Una memberanikan diri melihat ke dalam mata Kaka. Walau pada akhirnya, rona merah di wajahnya kian kentara. Una gugup setengah mati. Lagi dan lagi, ia buru-buru membuang pandangan. Pura-pura bersikap wajar.
“Apa?” tanya Kaka penasaran. Matanya berbinar. Rona keluguan terasa kian mengental.
Kamu.
“Matahari terbit,” kata Una pada akhirnya. Lain di mulut, lain di hati. Ia malu mengakui itu di depan Kaka.
“Benarkah? Tapi, kenapa? Matahari terbenam juga cantik, kok,” protes Kaka. “Setidaknya sedikit lebih cantik dibanding nyanyianmu yang tadi itu,” tambahnya diiringi gelak tawa.
“Makasih, lho, ya, pujiannya,” jawab Una pura-pura sinis. Detik berikutnya ia kembali terbahak.
“Sama-sama. Ajari aku cara menyanyi seperti itu juga. Ya?” pinta Kaka.
“Buat apa?”
“Biar aku ndak dijahili lagi sama mereka dan yang lainnya. Pasti rasanya menyenangkan bisa mengusir mereka dengan usaha sendiri,” kata Kaka tersenyum getir.
Una sangat mengerti perasaan Kaka. Rasa sakit ketika tidak ada yang memihakmu saat kamu diolok-olok, dicaci-maki dan dibully. Una tahu betul bahwa ayah Kaka baru saja dimakamkan seminggu yang lalu. Dan desas-desus bahwa ibunya mengidap penyakit kejiwaan tak lama setelahnya, sudah tersebar luas dan sampai ke telinga Una. Hampir semua tetangga dan anak tetangga juga sudah mengetahuinya. Itulah mengapa Kaka selalu jadi bulan-bulanan dan selalu ditindas.
“Seharusnya kamu belajar caranya bela diri, bukan menyanyi jelek seperti yang aku lakukan tadi. Aneh kamu,” gelak Una.
“Bela diri?”
“Mm.” Una mengangguk. “Bela diri pakai otak.”
Keningnya berkerut. Kaka tidak mengerti.
“Mau lihat bareng besok pagi?” tanya Una mengalihkan pembicaraan.
“Lihat kamu latihan bela diri?”
“Bukan.”
“Lha terus?”
“Maksudku, matahari terbitnya. Pasti besok pagi kelihatan indah banget dari sini.”
“Mau!” Kaka menyerukan persetujuan tanpa berpikir panjang. Entah mengapa.
“Baiklah. Sekarang ayo kuantar pulang,” kata Una kembali menggandeng tangan Kaka.
“Emang kamu tahu rumahku?” tanya Kaka di sepanjang perjalanan.
“Tentu saja. Kita, kan, tetangga dekat. Kamu ndak tahu?”
Kaka menggeleng.
Una tersenyum. “Kalau begitu, kamu harus tahu mulai sekarang.”
“Besok aku tunggu kamu di depan gerbang rumahku. Kita berangkat sama-sama besok pagi buta. Oke?” pesan Una setelah sampai di depan rumah Kaka. Ia menunjuk gerbang rumahnya sendiri yang tepat berada di samping gerbang rumah Kaka. Kemudian menempelkan ibu jari dan telunjuknya untuk memberi isyarat ‘OK’.
“Oke,” balas Kaka dengan melakukan isyarat yang sama.
Una melambaikan tangan. Kemudian bergegas memasuki gerbang rumahnya sendiri. Kaka sebenarnya tidak ingin pulang hari ini. Ia takut dengan ibunya. Karena semenjak ayahnya meninggal, ia selalu disiksa oleh ibunya. Terkadang ibunya sering berteriak histeris dan entah sudah berapa perabot porselin yang pecah di rumah itu akibat murka ibunya.
Ketika Kaka membuka gerbang, sayup-sayup ia mendengar jeritan ibunya dari dalam. Ia bergegas masuk rumah untuk melihat apa yang terjadi.
Kaka membekap mulutnya. Matanya nanar melihat sekeliling.
Ia melihat ibunya tengah asyik menusukkan pisau berkali-kali pada sebuah boneka beruang besar miliknya. Pecahan porselin lagi-lagi berserakan di lantai. Potongan-potongan kapas yang ada di dalam tubuh boneka beruang besar itu berhamburan ke luar.
Sungguh ngeri!
Kaka begitu ketakutan. Ia menahan suara tangisnya. Ia panik. Kakinya semakin lemas dan seluruh tubuhnya gemetaran. Ia tidak sanggup lagi berlari keluar ketika ibunya mulai mendekat. Sebilah pisau diacungkan ke arahnya.
“Kaka sayang, kamu sudah pulang, Nak? Mama mencarimu dari tadi,” kata Mei menghampiri anaknya yang tengah terduduk lemas di lantai. Kaka tak kuasa berbuat apa-apa selain terisak dalam diam dan membekap mulutnya sendiri. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Sisi wajahnya dibanjiri air mata. Tatapannya nyalang ke arah Mei yang kini tengah memainkan ujung pisau itu di kulit lehernya.
“Kaka, Mama tadi bertemu dengan seorang malaikat. Malaikat itu ingin mengambil nyawa Mama. Mama takut. Mama mencarimu di kamar tapi kamu nggak ada. Sekarang kamu sudah pulang. Ayo temani Mama menemui malaikat itu. Mama takut sekali kalau sendirian. Ayo kita pergi sama-sama. Menyusul ayahmu,” bisik Mei di telinga anaknya. Ia terus saja meracau tentang malaikat pencabut nyawa yang tengah mengincar nyawanya. Kaka bergidik ngeri saat ibunya membisikkan ajakan gila untuk mati bersama. Air matanya kian mengalir deras.
Kaka menggeleng berulang kali, mencoba menepis sentuhan pisau di kulit lehernya. Ia meringkuk memeluk tubuhnya sendiri yang semakin gemetaran. Napasnya putus-putus dan tidak teratur. Berusaha keras untuk tidak terisak. Namun runtuh sudah pertahanannya. Ia tidak sanggup lagi menahan tangis.
“Ka, sudah Mama bilang, kan? Mama nggak suka lihat kamu nangis,” bisik Mei sembari membelai lembut puncak kepala anaknya.
“Ka, Mama nggak punya banyak waktu. Sebentar lagi malaikat itu akan datang lagi untuk menjemput Mama. Kita harus segera ke tempat ayahmu sekarang.”
Pisau di tangan Mei ditodongkan lebih dekat.
Kaka makin ketakutan. Ujung mata pisau itu terasa dingin saat menempel di lehernya. Lagi-lagi ia berusaha menghindar. Histeris. Ia menangis sejadinya. Kaka ingin berteriak minta tolong tetapi seolah tidak ada suara yang keluar. Matanya terpejam erat. Pandangannya semakin kabur dan rasa sakit di kepalanya mulai menghujam. Pisau di tangan Mei siap mengukir sesuatu di leher anaknya.
■♡■
Juli 2016
Arum membuka matanya. Suara gemerisik air terdengar jelas dari kamarnya. Malam itu hujan deras. Arum terbangun lagi di tengah malam. Napasnya terengah. Jantungnya berdebar tidak teratur. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya yang gemetaran. Ia memeriksa lehernya. Tidak terjadi apa-apa.
Cuma mimpi.
Lega rasanya.
Akhir-akhir ini sekelebat gambaran masa kecilnya sering muncul dalam bentuk mimpi. Ruangannya tampak gelap. Tak ada cahaya bulan yang masuk menerobos jendela. Sepertinya ada pemadaman listrik malam ini.
Ia amati telapak tangannya yang basah oleh keringat dingin. Tangan itu gemetar hebat. Kepalanya terasa berat dan sedikit menghujam di bagian kanan.
Arum duduk bersandar di tempat tidur. Ia berusaha menenangkan pikirannya. Achluophobia yang ia derita masih sangat akut. Karena itu Arum tidak pernah mematikan lampunya jelang tidur malam. Ketika berada di tempat atau ruangan gelap, ia selalu bermimpi aneh dan mimpi itu selalu mengerikan.
Terdengar suara langkah kaki yang diseret. Asalnya dari luar pintu kamarnya. Gemercik suara pemantik terdengar seperti suara pisau yang tengah diasah. Bulu kuduknya meremang. Suara langkah kaki itu kian mendekat.
Ada yang ingin membuka kunci kamarnya secara paksa. Gerakannya membuka kunci dari luar sangat tergesa dan kasar sekali. Rasa takut kembali menyergap. Tubuh Arum kembali gemetar. Keringat dingin membanjiri pelipis. Arum meringkuk di bawah selimut. Matanya terpejam rapat. Ia tutup kedua telinganya sembari merapal doa.
Napasnya tercekat.
Arum kesulitan bernapas dalam keadaan gelap. Pintu berhasil dibuka dari luar. Bersamaan dengan itu gelegar suara petir menyambar. Siluet cahaya kilat menembus jendela serupa blitz kamera menyambut sosok yang tengah berdiri di ambang pintu.
Siluet dari sosok itu terlihat menakutkan.
Sedetik kemudian, teriakan histeris dari kamar itu bergaung ke segala arah hingga terdengar dari luar.
■♡■
Footnote:
23 tuli
■♡■