April 2001
Kaka merasa sangat terpukul atas kepergian ayahnya. Ia sering duduk meringkuk di bawah seluncuran di sebuah taman dekat rumahnya. Taman itu berjarak sekitar seratus meter dari rumah. Di sana Kaka menangis seorang diri tanpa suara. Menyembunyikan wajah sembab itu di balik lengan sembari memeluk lutut.
“Hei, coba lihat! Di sebelah sana ada si bocah gila!” seru salah seorang anak laki-laki dari kejauhan.
Bocah laki-laki itu memberitahu ketiga temannya yang lain sembari menunjuk-nunjuk keberadaan Kaka. Mereka berempat tergabung membentuk sebuah geng dan kerap kali mengganggu anak-anak kecil di lingkungan itu. Parahnya, mereka menyebut diri mereka sebagai F4 (baca: F-four). Jelas suatu pencitraan yang sukses mencemarkan nama baik suatu golongan atau oknum tertentu.
“Mana?” sahut salah seorang yang lain.
“Itu! Di bawah perosotan, bodoh!” Si kapten geng menunjuk ke arah yang dimaksud.
“Ayo!” seru si kapten. Gerombolan itu mulai mendekati mangsa setelah aba-aba dari kapten F4.
“Heh, bocah gila! Ini markas kami. Cepat pergi!” perintah si kapten geng mengusir paksa Kaka supaya menyingkir dari tempat persembunyian. Kaka bergeming. Ia mendekap kedua lututnya lebih erat serta menunduk lebih dalam untuk menyembunyikan wajahnya. Ia masih saja terisak tanpa suara dan tak ingin siapapun memergokinya tengah menangis.
“Heh, kamu dengar ndak, sih? Cepat pergi! Tempatmu bukan di sini. Kalau kamu gila, seharusnya pergilah sana ke rumah sakit jiwa!” gelak tawa sinis meledak di antara mereka berempat.
“Udahlah Yud, percuma bicara sama bocah gila,” ejek yang lain disertai gelak tawa.
“Udah gila, budhek23 pula!” ejek Yudhis, si kapten F4. Ia terus saja mengejek Kaka.
“Bo-cah gi-la! Bo-cah gi-la!”
Ketiga anak laki-laki anggota geng terus saja menghujani Kaka dengan sorak ejekan. Yudhis berdiri angkuh dengan kedua lengan terlipat di d a d a. Ia menyeringai. Mendengus sinis melihat korbannya sedang dibully. Hatinya merasa puas dan bangga. Merasa diri paling berkuasa, paling jumawa, paling segala-galanya. Sombong tak tertolong.
“Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya …"
Tiba-tiba terdengar suara nyanyian. Suara sumbang itu menghentikan sorak ejekan ketiga bocah F4. Mereka berempat sontak menengok ke segala arah. Mencari keberadaan sumber suara.
Aha, dari atas seluncuran!
Seorang anak laki-laki tengah berdiri memberi hormat sembari menyanyikan lagu Indonesia Pusaka. Walau suara yang dihasilkannya menyimpang dari nada dasar, namun anak itu tetap bernyanyi dengan lantang dan percaya diri. Menatap lurus ke langit senja di ufuk barat dengan punggung tegak, d a d a membusung dan tetap menekankan ujung jemari tangan kanannya pada pelipis. Memberi hormat pada langit yang mulai berwarna jingga kemerahan, sementara nyanyian sumbang itu masih terus berlanjut.
"Indonesia sejak dulu kala, selalu dipuja-puja bangsa.
Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda …"
Seluruh anggota F4 sibuk menutup telinga, sementara si penyanyi sumbang terus saja menikmati kegiatan tarik suara yang memekakkan telinga. Itu adalah suara terburuk yang pernah mereka dengar dan merupakan suatu penghinaan terhadap telinga mereka. Yudhis menatap nanar ke arah penyanyi sumbang. Sorot matanya memancarkan kebencian yang mendalam. Seolah mampu mengganggu keseimbangan seekor cecak yang tengah menempel pada dinding. Amarahnya siap meledak kapan saja.
“WOI!! Jelek! Bisa diam ndak?!” cerca Yudhis. Ia meneriaki penyanyi sumbang itu dengan kedua telapak tangan yang masih setia menempel menutup kedua telinganya. Sementara si penyanyi sumbang mengabaikan makian itu. Ia terus meneriakkan lirik lagunya hingga akhir.
"Tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata.”
“Kenapa kamu nyuruh aku diam? Aku, kan, cuma nyanyi. Salah, ya?” tanya si pemilik suara sumbang itu dengan santainya sesaat setelah lagunya selesai. Ia menatap para anggota F4 dengan wajah tak berdosa. Pura-pura lugu.
“Jelas salah dong! Suaramu itu jelek banget, bodoh! Dasar bodoh!” Yudhis memuntahkan makian. Sudut bibirnya menyeringai, tawanya mengejek meremehkan lawan bicaranya.
“Bukan, Yud. Suaranya merdu banget kok,” sahut yang lain. Mereka mengatakan ‘merdu’ dalam isyarat tanda kutip.
“Iya MerDu, maksudnya ‘Merusak Dunia’!” sambar Yudhis. Terpingkal detik itu juga diikuti dengan gelak tawa teman-temannya.
“Tahu ndak? Kalian itu lebih buruk lagi daripada aku.” Kali ini penyanyi sumbang yang balas mencerca. Sudut bibirnya terangkat.
“Apa kamu bilang? Berani ngelawan, ya, kamu, HAH!” bentak Yudhis.
“Aku bilang kalian itu lebih jelek daripada aku,” ulang si penyanyi sumbang. Ia menekankan kata ‘jelek’ dengan tajam. Menusuk.
“Yang aku lakukan cuma nyanyi dan itu hanya menyakiti telinga kalian, kan? Sedangkan yang kalian lakukan adalah mengejek dan menindas anak lain dengan sorakan-sorakan jelek seperti itu. Kalian nggak hanya menyakiti telinga, tapi juga menyakiti hati orang lain,” lanjut si penyanyi sumbang dengan tenang. Matanya tak lepas dari tatapan tajam mata Yudhis. Tatapan yang membakar, menyulut emosi.
“Kurang ajar! Sini kalau berani!” Yudhis mengepalkan tinjunya. Siap menyerang.
“Kamu tuh emang hobi nyuruh-nyuruh, ya? Gimana kalau kamu aja yang naik ke atas sini? Sepertinya lebih mengasyikkan berkelahi di atas sini. Lebih menantang. Ya, nggak?” Si penyanyi sumbang tersenyum penuh kemenangan, bahkan sebelum ia menang berkelahi.
“Awas kamu! Ayo kita serbu dia!” perintah Yudhis kepada seluruh anggotanya. Mereka berempat tergopoh-gopoh menaiki tangga seluncuran. Siap menyerbu si penyanyi sumbang yang tengah berkacak pinggang menunggu mereka di atas.
CTEZ! CTAZ! KREK! CTAZ!
Sontak keempat bocah itu berjingkat. Suara itu berasal dari beberapa petasan yang meletus. Mereka menginjak beberapa petasan banting yang tersebar cukup banyak di sekitar tangga seluncuran. Siapa lagi yang menyemai semua petasan itu jika bukan si penyanyi sumbang.
Seketika gumpalan asap mengepul keluar. Cukup untuk mengaburkan pandangan mata. F4 terbatuk. Mereka kesulitan melihat. Mata mereka terasa pedas karena si penyanyi sumbang menabur bubuk cabai di sekitar petasan. Hingga akhirnya seluruh anggota geng itu jatuh bergelimpangan menuruni tangga dengan hidung yang terlebih dahulu menyapa tanah. Tak terbayangkan bagaimana rasanya. Mungkin terasa seperti sakit tapi tak berdarah.
Penyanyi sumbang terbahak. Sebuah kemenangan mutlak baginya. Para berandal kecil itu dengan mudah termakan omongannya dan masuk begitu saja dalam perangkap yang sudah ia siapkan. Layaknya seorang penonton suatu pagelaran lawak dari atas sana, ia terbahak hingga sakit perut. Kapan lagi bisa menikmati tontonan gratis yang cukup menghibur?
“Itu yang baru bisa disebut bersenang-senang.” Si penyanyi sumbang meluncur turun dengan riang. Kemudian berjongkok di samping Kaka. “Pertunjukan yang menghibur. Iya, kan?” tanyanya.
Sesaat setelah Kaka menoleh, anak laki-laki itu melihat sudut bibir Kaka terangkat. Mungkin itu merupakan satu bentuk ekspresi setuju. Terbukti dari raut wajah kusutnya yang menyiratkan kelegaan.
“Wah, apa pertunjukanku barusan terlihat sangat lucu? Kamu tertawa sampai menangis seperti itu,” gelak si penyanyi sumbang.
Kaka hanya diam dan tersenyum saja menanggapinya. Ia malu karena akhirnya kepergok juga wajah sembabnya itu. Ia tidak suka jika orang lain melihatnya menangis. Namun Kaka lega. Kaka sangat senang dengan aksi penyanyi sumbang itu. Anak laki-laki itu, entah siapa namanya, adalah dewa penyelamatnya hari ini. Baginya, anak itu terlihat seperti tokoh superhero di film-film action yang gemar ia tonton di layar televisi.
Kaka dan anak laki-laki itu kembali menonton kesialan beruntun yang tengah dialami personil F4 hingga terpingkal dibuatnya. Hingga tiba-tiba anak laki-laki itu menarik tangan Kaka. Mengajaknya pergi, menjauhi kekacauan yang menimpa geng F4.
“Ayo!”
“Ke— ke mana?” Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Kaka senja itu.
Langit sudah sepenuhnya berwarna jingga kemerahan. Mentari siap tenggelam di ufuk barat.
“Ikut aku!”
Mereka berdua berlari bersama, saling bergandeng tangan. Senyum tulus mengembang di wajah masing-masing. Anak itu mengajak Kaka ke suatu tempat untuk melihat sesuatu yang belum pernah Kaka lihat sebelumnya.
■♡■
Footnote:
23 tuli
■♡■