“Njenengan siapa? I-ini di mana? Kenapa saya bisa ada di sini?” Arum bertubi-tubi mengajukan pertanyaan.
Jika benar dirinya masih hidup, ia ingin memastikan bahwa wanita ini bukanlah malaikat pencabut nyawa. Arum mundur selangkah untuk mengantisipasi kalau-kalau wanita itu berniat melakukan hal yang tidak terduga padanya.
“Saya dokter di klinik ini. Kamu tadi pingsan dan mimisan cukup parah. Adikku yang membawamu ke sini. Apa kamu ingat?” terang dokter muda itu dengan sabar tanpa mengalihkan pandangannya dari catatan medis milik Arum di meja kerjanya.
Mimisan? Jadi tadi aku mimisan? Pantas saja kepalaku terasa seperti ini.
“Uhm ... iya, sepertinya saya ingat,” jawabnya kemudian setelah mencoba mengingat kejadian sebelumnya.
Arum memaksakan diri untuk bangun. Ia terduduk dengan satu tangan memegangi kepalanya. Hujaman rasa sakit di kepalanya masih begitu terasa.
“Berbaring saja kalau kepalamu masih terasa berat,” saran dokter muda itu.
“Oh, nggak usah. Saya baik-baik saja. Terima kasih banyak atas bantuan njenengan, Bu…?” katanya menggantung. Arum lupa menanyakan nama dokter itu di awal percakapan.
“Restia. Restia Wida Harjomulyo. Saya masih muda, kok. Panggil Mbak saja,” jawab Restia diselingi senyum ramah.
“Ah, iya. Mbak Restia, saya permisi dulu. Terima kasih banyak sekali lagi.” Arum buru-buru pamit undur diri. Ia berjalan sedikit terhuyung menuju pintu keluar.
“Tunggu, biar saya periksa sekali lagi. Berbaringlah sebentar.”
Walau begitu, Arum menurut. Ia kembali berbaring dengan enggan.
“Bagaimana aku harus memanggilmu?” tanya Restia sembari memeriksa keadaan Arum.
“Panggil saja Arum.”
Restia mengangguk. Kemudian kembali memeriksa keadaan Arum sekali lagi dengan seksama. Memastikan semuanya normal dan baik-baik saja.
“Baiklah, sudah selesai,” pungkasnya setelah semua dirasa normal. “Saya ambilkan dulu resepnya. Apa Arum masih merasa pusing?” Restia berkutat dengan kotak-kotak obat di mejanya.
“Ng-nggak usah, Dok. Eh, maksud saya— Mbak.” Arum canggung. Ia sungguh tak enak hati karena sudah banyak merepotkan.
Restia tergelak. “Santai saja. Panggil saja senyamanmu.”
“Baiklah, ini untuk catatan medismu di klinik ini,” dengan sigap menenteng lembaran kertas catatan medis dan siap mencatat rekaman medis pasiennya.
“Boleh saya tahu nama lengkap Arum?”
Arum menyebutkan nama lengkapnya.
“Tanggal lahir?”
“Dua sembilan Februari, tahun sembilan dua.”
“Wah, spesies langka rupanya?” Restia terkesan, tanpa sama sekali berniat menjatuhkan. “Bercanda,” tambahnya buru-buru guna menghindari salah pengertian. Senyum keibuannya tak pernah ketinggalan.
“Oh, nggak apa-apa, Mbak. Saya ngerti kok.” Arum memaksakan gelak tawa.
“Ngomong-ngomong, tahun 2016 ini kabisat, kan?” kata Restia saat sekilas melirik kalender di klinik itu.
“Oh ya? Ah, begitu rupanya. Saya belum cek kalender, sih,” jawab Arum dengan tawa lelahnya yang sedikit dipaksakan. Sudah sejak lama ia berhenti tertarik mengenai segala hal yang berkaitan dengan hari ulang tahunnya.
“Boleh saya minta nomor telepon dan alamat Arum?”
Arum menyebutkan sederet digit angka yang mengindikasikan nomor ponselnya kemudian diikuti dengan alamat lengkap tempat tinggalnya yang sekarang.
“Baik. Saya kira cukup itu saja. Ingat, minum obatnya sebelum tidur nanti malam. Dan perbanyak minum air putih. Istirahat cukup. Kurangi stres yang berlebihan.” Restia melontarkan saran terakhirnya sebelum Arum beranjak dari tempat tidur. Kemudian memberikan kantong kertas berisikan obat.
“T-tapi, Mbak. Ini—”
“Sudah, kamu nggak usah kuatir soal biaya. Untuk temannya Yudhis, Mbak kasih gratis.” Restia kembali tersenyum.
Teman?
“T-tapi saya bukan—”
“Iya, iya. Saya ngerti. Kamu bukan teman satu kampusnya, kan? Sudah, ini bawalah.”
Arum memilih untuk tidak lagi memperdebatkan kesalahpahaman tadi. Ia terlalu lelah. Energinya serasa dihisap keluar. Akhirnya setelah mengucapkan banyak terima kasih, ia menerima pemberian Restia dengan kikuk.
“Sekali lagi terima kasih, Mbak Restia. Saya permisi dulu.” Arum menunduk sebagai tanda sopan santun sebelum kemudian keluar dari ruangan.
“Oh, iya!” Restia mengeluarkan benda dari saku jaket sebelah kanan. “Aku menemukan ini terjatuh di koridor klinik saat kamu dibopong tadi.”
Restia membentangkan kalung dengan dua buah kunci sebagai liontin tepat di depan wajah Arum. Arum segera menyambar kalung itu. “Aku pikir itu sangat penting bagimu,” tambah Restia.
“Te-terima kasih.” Arum menangis haru. “Ini … saya mencari ini dari tadi. Saya pikir ini sudah hilang entah ke mana.” Serasa habis sudah kata-katanya untuk menjabarkan apa yang tengah ia rasa. Arum tak pernah merasa sekalut ini.
“Jaga baik-baik kalau itu sangat penting. Aku senang kalian sudah saling dipertemukan,” kata Restia kemudian. Tersirat keambiguan dalam nasihatnya.
“Pasti. Saya pasti menjaganya baik-baik.” Arum mengeratkan genggamannya, kemudian kembali mengalungkan benda itu.
“Tolong sampaikan terima kasih saya pada adik Mbak Restia. Saya permisi dulu,” katanya kemudian. Arum berjalan susah payah. Ia sedikit terhuyung-huyung sehingga jalannya tidak stabil. Lengannya bersandar pada tepian almari dekat pintu klinik ketika tubuhnya terasa hendak terjatuh.
“Kamu nggak apa-apa?” Restia panik menghambur memapah Arum. Wajah Arum sangat pucat. Keringat dingin mengucur deras di dahinya yang tertutup poni. Restia khawatir dengan keadaan Arum.
“Biar saya antar. Bahaya kalau kamu dibiarkan pulang sendirian,” tambahnya. Tentu saja Arum tidak bisa menolak tawaran itu. Ia mengangguk pasrah sebagai jawaban.
■♡■
Siang itu panas sekali. Suhu mencapai tigapuluh tiga derajat celsius. Sekarang waktunya jam mata kuliah Linguistic. Arum menghela napas. Ia mengantuk. Berusaha mengalihkan sejenak pandangannya ke luar jendela, namun rasa kantuk itu tak jua sirna.
Penjelasan dosen terasa sangat membosankan. Arum berharap kuliah hari ini bisa segera berakhir. Ingin rasanya segera kembali ke kasurnya yang nyaman. Naskah terbarunya juga sudah menunggu untuk segera diselesaikan.
Kehidupannya sebagai mahasiswi semester akhir dan seorang penulis muda berbakat, tidak lantas membuatnya bahagia. Ia kembali merenungi mengapa dulu Arum mengambil jurusan Sastra Inggris. Semua ini karena ayahnya.
Ayahnya yang tahu benar ambisi anaknya yang berbakat menulis sejak kecil, menghendaki agar buah karya anaknya bisa go international. Ayahnya ingin agar tulisan anaknya kelak bisa masuk pasar media internasional dengan menuangkan tulisan berbahasa Inggris.
Namun harapan itu kemudian pupus begitu saja. Karena lima belas tahun lalu, ayahnya pergi. Entahlah, Arum belum pernah pergi menyusul ke sana, sekalipun hanya untuk sekadar mengetahui kabar ayahnya. Tempat itu bahkan lebih jauh dari Eropa atau Amerika. Bahkan koneksi internet apalagi ponsel pintar juga tak ada di sana. Jadi percuma saja jika Arum ingin menghubungi ayahnya melalui sambungan skype atau video call w******p. Ayahnya pergi ke tempat yang bahkan tidak bisa dijangkau oleh helikopter atau teknologi roket paling mutakhir sekalipun.
Ketika itu, Arum berusia delapan tahun. Ia masih ingat betul kejadiannya. Rasanya seperti mimpi, tetapi nyata. Kenyataan yang terkadang masih sulit ia terima ketika Tuhan sudah berkehendak.
Pahit.
Begitu menyakitkan. Sekelebat masa lalu serasa kembali mampir menyapanya. Seolah menagih janji seraya berkata, ‘Kapan kamu bisa melupakan masa kelam itu dan memilih untuk bahagia? Kapan?’
■♡■